NovelToon NovelToon
Dekat Namun Jauh

Dekat Namun Jauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

​"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."

​Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.

​Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KILAU BELATI DI BALIK SENYUMAN

Keesokan harinya, koridor SMA Garuda Bangsa dipenuhi desas-desus yang kian memanas. Kabar mengenai keretakan di dalam jajaran direksi muda Mahendra Group telah menyebar luas bagaikan api menyambar jerami kering. Penurunan takhta Zavier dari calon pengurus konsorsium bukan lagi rahasia korporat, melainkan santapan empuk bagi mereka yang menantikan kejatuhan sang Pangeran Mahendra.

Di area kantin yang riuh oleh denting sendok dan gelak tawa siswa, Salmania Rain duduk di meja utama bersama kroninya. Gaun seragamnya yang sangat rapi dan gaya bicaranya yang lantang dengan sengaja menarik perhatian murid-murid di sekitarnya.

Saat Zavier melangkah masuk menyusuri area kantin dengan penampilan sederhana tanpa pengawalan, tanpa mobil mewah yang biasa mengantarnya, Salma menyunggingkan senyum kemenangan yang amat lebar.

"Lihat tuh," bisik Salma cukup keras hingga terdengar oleh meja di sebelahnya. "Orang yang kemarin berakting sok berkuasa, sekarang cuma tinggal nama. Papi Kael saja sudah membuangnya, buat apa masih berlagak tenang di sekolah?"

Gadrian yang duduk di seberang Salma terkekeh pelan, menyesap minumannya seraya menatap Zavier dengan pandangan merendahkan. "Jangan terlalu keras padanya, Salma. Orang yang biasa di atas lalu jatuh ke tanah memang butuh waktu buat sadar kalau posisinya sudah berbeda."

Zavier menghentikan langkahnya di dekat konter minuman. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah meja keluarga Rain. Raut wajahnya datar, memancarkan ketenangan rasional yang justru membuat provokasi Salma terasa mentah dan tak berarti.

Dari arah koridor samping, Nayla melangkah masuk bersama Vanya. Begitu mata Nayla menangkap keberadaan Zavier dan sindiran terang-terangan dari Salma, langkahnya melambat. Kedua pengawal pribadi Alveric yang membuntutinya dari jarak lima meter langsung mengambil posisi siaga di dekat pintu masuk kantin.

Gadrian berdiri dari kursinya, melangkah menghampiri Nayla dengan senyum ramah yang dibuat-buat. "Nayla, bergabunglah di meja kami. Hari ini Papaku mengirimkan makan siang spesial dari chef restoran bintang lima untuk kita."

Nayla menatap Gadrian dingin, menyilangkan tangannya di dada. "Tidak perlu, Gadrian. Aku lebih suka makan siang biasa bersama Vanya."

"Nayla, jangan menolak niat baikku," ujar Gadrian dengan nada menekan yang halus, memajukan tubuhnya. "Setidaknya hargai aliansi yang baru disepakati ayah kita semalam. Kamu tidak mau kan kalau berita penolakanmu ini sampai ke telinga Om Alexander?"

Vanya yang berdiri di sebelah Nayla mendengus kesal. "Kamu ini maksa banget sih, Gadrian? Orang bilang enggak ya enggak!"

Salma ikut berdiri, melangkah mendekati mereka dengan nada suara yang menyengat. "Vanya, kamu tidak usah ikut campur urusan klan besar! Nayla ini calon mitra utama keluarga Rain, beda level denganmu."

Atmosfer di kantin yang tadinya bising mendadak berubah hening. Banyak pasang mata mulai tertuju pada drama yang melibatkan tiga keluarga konglomerat tersebut.

Sebelum ketegangan itu meluap lebih jauh, Zavier melangkah mendekat. Pria Mahendra itu berdiri di samping Nayla, memotong jarak antara Gadrian dan Nayla secara alami.

"Kantin sekolah ini area umum, Rain," suara Zavier mengalun rendah, berat, dan dipenuhi wibawa yang tak berkurang sedikit pun meski fasilitas mewahnya telah dicabut. "Setiap murid punya hak untuk memilih dengan siapa dia ingin makan siang. Jangan bawa-bawa dokumen aliansi orang tuamu ke tempat ini."

Gadrian menyipitkan matanya tajam, rahangnya mengetat melihat Zavier yang masih berani berdiri menghalanginya.

"Kamu masih punya muka untuk bicara soal aliansi, Zavier?" desis Gadrian penuh hinaan. "Kamu itu sudah dibuang oleh Mahendra Group! Kamu cuma anak SMA biasa tanpa hak suara di perusahaan. Sementara aku dan Barito Group adalah pemegang kendali baru di proyek Alveric!"

Zavier menatap Gadrian tanpa berkedip. Manik mata kelamnya begitu tenang, seolah sedang melihat seorang anak kecil yang sedang merajuk.

"Kalau memang Barito Group memegang kendali," sahut Zavier pelan namun tiap katanya terdengar sangat jelas di seluruh penjuru kantin yang sunyi, "kenapa kamu masih butuh nama Nayla dan gertakan ayahmu hanya untuk mengajak seseorang makan siang?"

Beberapa murid di sekitar mereka menahan napas. Sindiran tajam dari Zavier mendarat tepat di ulu hati ego Gadrian. Wajah Gadrian memerah menahan malu dan amarah yang membakar.

"Kamu..." Gadrian mengepalkan tangannya, melangkah maju hendak mencengkeram kerah seragam Zavier.

Namun sebelum tangan Gadrian menyentuh Zavier, dua pengawal Alveric yang bertugas menjaga Nayla melangkah cepat memotong jalan, berdiri di antara Zavier dan Gadrian dengan raut kaku.

"Harap menahan diri, Mas Gadrian," tegas salah satu pengawal Alveric dengan suara berat. "Tuan Alexander memberi perintah agar tidak ada keributan fisik yang melibatkan Mbak Nayla di sekolah."

Gadrian menarik tangannya kembali dengan hentakan kasar, menatap pengawal Alveric dan Zavier secara bergantian dengan kemarahan yang tertahan di balik dadanya.

Nayla menatap Gadrian tanpa rasa takut sedikit pun, lalu berpaling menatap Zavier dengan sudut bibir yang menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman penuh kebanggaan atas ketenangan pria di sampingnya.

"Ayo, Vanya, Zav. Kita cari tempat lain," ujar Nayla halus namun tegas.

Nayla membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari kantin diikuti oleh Zavier dan Vanya. Gadrian dan Salma hanya bisa berdiri mematung di tengah kantin yang dipenuhi bisik-bisik murid lain, menyadari bahwa meski status korporat Zavier telah dilucuti oleh ayahnya sendiri, aura pimpinan dan keberanian yang dimilikinya tak akan pernah bisa dibeli atau direbut oleh kekayaan klan mana pun.

Mereka bertiga melangkah keluar dari area kantin yang bising, menyusuri koridor belakang sekolah yang dinaungi pepohonan rindang menuju taman dekat laboratorium IPA. Tempat itu selalu menjadi tempat paling sepi di area SMA Garuda Bangsa, jauh dari jangkauan kerumunan murid dan pengawasan ketat yang membingungkan.

Dua pengawal Alveric tetap mengikuti dari jarak aman sepuluh meter, berdiri mematung di dekat belokan koridor untuk memastikan pergerakan Nayla tidak lepas dari jangkauan pandang mereka.

Vanya mengembuskan napas lega begitu mereka menduduki bangku semen di bawah pohon bangkirai yang rindang. "Gila ya si Salma sama Gadrian... makin hari makin bertingkah. Berasa sekolah ini punya nenek moyang mereka aja."

Nayla terkekeh tipis, meski ada jejak lelah yang masih membayang di matanya. "Biarkan saja, Vanya. Semakin mereka sibuk pamer kekuasaan, semakin kelihatan kalau mereka sebenarnya cuma panik takut posisinya tidak diakui."

Zavier mendudukkan dirinya di sebelah Nayla, meletakkan botol air mineral yang baru dibelinya ke atas bangku. Matanya menyapu wajah Nayla yang terpapar pendar sinar matahari siang yang menerobos di selat-sela dedaunan.

"Kamu tidak apa-apa, Nay?" tanya Zavier pelan, mengabaikan kehadiran dua pengawal yang terus memperhatikannya dari kejauhan. "Sikap Gadrian tadi pasti bikin kamu tidak nyaman."

Nayla memutar kepalanya, menatap Zavier dengan pandangan yang dalam dan hangat. "Aku justru lebih cemas sama kamu, Zav. Di depan banyak murid tadi, Gadrian secara terbuka merendahkan posisimu di Mahendra Group. Apa hal seperti itu tidak mengganggu pikiranmu?"

Zavier menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat rasional. "Orang yang sibuk menegaskan posisinya di depan orang lain biasanya adalah orang yang paling cemas akan kerapuhan posisinya sendiri, Nay. Gadrian merasa harus berteriak bahwa dia memegang aliansi Barito, karena tanpa aliansi itu, dia sendiri tidak punya daya tawar apa pun di mata babaknya."

Vanya menatap Zavier dengan alis terangkat, bertepuk tangan pelan tanpa suara. "Sumpah ya, Zav... mulutmu itu kalau ngomong adem tapi nusuknya tepat ke ulu hati. Pantas saja Gadrian tadi mukanya langsung merah padam kayak kepiting rebus."

Nayla tersenyum mendengar gurauan Vanya, namun tatapannya tak lepas dari jemari Zavier yang terpaut di atas lututnya. Ada keberanian liar yang tumbuh di dalam dadanya, keberanian yang perlahan mengikis rasa takut yang selama ini ditanamkan oleh ayahnya di Istana Alveric.

"Zav," bisik Nayla lirih, memiringkan tubuhnya mendekati pria Mahendra itu. "Makin hari... aku makin sadar kalau sangkar emas yang dibikin Ayah dan Papi Kael itu sebenarnya cuma dibangun di atas ketakutan mereka sendiri. Ketakutan kalau anak-anak mereka punya pemikiran sendiri yang tidak bisa dijual."

Zavier berpaling, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Nayla. Tatapannya hangat, begitu mengunci hingga kebisingan angin dan langkah kaki pengawal di kejauhan seolah mengabur.

"Dan ketakutan terbesar mereka," balas Zavier dengan suara beratnya yang mantap, "adalah saat tahu bahwa kita sudah tidak bisa diancam lagi pakai nama besar klan. Saat fasilitas dicabut dan ancaman dikeluarkan, yang tersisa cuma kita berdua yang berdiri di atas kaki sendiri."

Vanya yang memperhatikan interaksi kedua sahabatnya itu menyunggingkan senyum tulus, lalu berdeham pelan seraya berdiri. "Oke, berhubung aura di sekitar kalian sudah berubah jadi koridor drama roman premium, aku mau ke koperasi dulu beli es teh. Kalian ngobrol aja, lagian tuh pengawal berdua juga kelihatannya cuma patung bernyawa."

"Vanya!" panggil Nayla tertahan dengan pipi yang mendadak bersemu merah.

Vanya hanya melambaikan tangannya santai seraya melangkah menjauh, menyisakan Zavier dan Nayla di bawah naungan pohon rindang itu.

Zavier mengulurkan tangannya perlahan, menyentuh pergelangan tangan Nayla di atas bangku semen. Sentuhan jari-jarinya yang hangat mengirimkan rasa tenang yang seketika menghapus sisa-sisa amarah Nayla atas perlakuan klan Rain di kantin tadi.

"Sore nanti setelah bel pulang, aku akan ikut mengantarmu sampai gerbang luar," ujar Zavier pelan namun memancarkan janji yang tak tergoyahkan.

Nayla menatap pengawal di kejauhan, lalu kembali menatap Zavier. "Mereka tidak akan membiarkanmu mendekati mobil Alveric, Zav."

"Aku tidak perlu naik ke dalam mobil mereka untuk menjagamu, Nay," pangkas Zavier dengan tatapan mata kelam yang amat tajam. "Aku cuma perlu memastikan kamu tahu... di tiap belokan jalan menuju rumahmu, ada aku yang selalu mengawasimu dari balik kemudi."

1
MULIANA 💦
lama-lama bosan juga nora. gak ada yang bahas kejadian lucu yang mungkin salah satu dari kalian alami
MULIANA 💦
saking dinginnya. bahkan mungkin dia gak ada ekspresi ya 🤭
Three Flowers
padahal lagi seru-serunya membahas tentang nasib mereka di keluarga masing-masing, eh keputus lagi komunikasi nya
Three Flowers
Zavier juga mencintai dalam diam kah?
Three Flowers
Nayla apakah jatuh cinta sama Zavier?
Three Flowers
berarti duduknya bersebelahan ya?
Mingyu gf😘
penasaran banget ada apa dengan nayla dan zaviet
Mingyu gf😘
apa mereka punya kenangan masa lalu yang membuat mereka pura pura tidak saling mengenal
Mingyu gf😘
waoww banyak juga anaknya
Mingyu gf😘
wahh krenn, dia bisa di katakan ahli It kan
Mingyu gf😘
waoww, apakah kehidupan orang kaya memang se menyeramkan itu
Sarifah_Aini97: entahlah kak
total 1 replies
Xlyzy
didikan nya berarti tidak ada yang gagal ya semua anak nyaemiliki karakteristik nya masingasing
Xlyzy
mirip banget Ethan sama bapak e ya sama sama tegas dan dingin
Filan
anggota keluarganya banyak-banyak ya...
Sarifah_Aini97: banyak anaknya
total 1 replies
Filan
ada perasaan apa nih.
Three Flowers
apakah mereka saling tertarik? tapi kelihatannya kedua keluarga bersaing ketat, inikah yang membuat mereka terasa jauh?
Three Flowers: ga sabar pingin lihat romansa mereka
total 2 replies
Three Flowers
karena peran seorang ibu adalah pemberi kesejukan bagi keluarganya
Miu.Nuha
mami tersenyum penuh arti itu tandany mami tahu akan perasaanmu tuh /Chuckle/ ugh! kek bunda maya ke Naru, hihi...
Sarifah_Aini97: Iya yah kak, kok bisa samaaan ya
total 1 replies
Lasa Hardianti
Jadi penasaran sebenarnya hubungan Zavier sma Nayla tuh apasih, apa mereka saling memiliki perasaan yah?😌
Sarifah_Aini97: Halo Kak Lasa! Rasa penasarannya dapet banget nih! 😌 Di antara rasa peduli, persahabatan, dan tekanan klan, perasaan mereka memang terikat sangat dalam. Yuk lanjut ikuti bab-bab berikutnya buat lihat perkembangan hubungan mereka! 🤗
total 1 replies
Miu.Nuha
aku suka yg dingin2 baik tapi
kekny zavier ini tipe aku 🤭
Sarifah_Aini97: bisalah gantiin Nayla 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!