Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kekejaman
Pukul sebelas malam. Rumah besar itu sunyi seperti biasa. Hanya suara detak jarum jam di ruang tamu yang terdengar bergema di setiap sudut.
Lampu-lampu redup hanya menyisakan cahaya temaram dari sconce di dinding, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak seirama hembusan angin malam.
Alya sudah berganti pakaian. Kaus oblong longgar berwarna putih pudar dan celana pendek kain katun yang biasa ia kenakan untuk tidur.
Rambutnya dibiarkan tergerai bebas, masih sedikit basah karena baru saja keramas.
Tubuhnya yang mungil tenggelam di sofa besar ruang keluarga, sebuah buku novel tergeletak di pangkuannya. Matanya lelah, namun ia belum bisa tidur. Entah kenapa, malam itu ada firasat buruk yang menggelayuti hatinya.
Biasanya, pada jam segini, ia sudah berada di kamar. Tapi malam ini ia memilih menunggu.
Bukan menunggu Reza—ia sudah terbiasa suaminya pulang larut atau bahkan tidak pulang sama sekali. Ia hanya merasa tidak nyaman berada di kamar sendirian.
Kamar itu terlalu besar, terlalu sepi, terlalu mengingatkannya bahwa ia adalah istri yang tidak pernah diinginkan.
Pintu depan terbuka dengan suara keras yang membuat Alya tersentak.
Ia menoleh. Reza masuk dengan langkah yang sempoyongan, tubuhnya bersandar pada kusen pintu untuk menjaga keseimbangan.
Kemeja putih lengan panjang yang biasanya rapi kini kusut, kancing di bagian leher terbuka, dasi melorot tidak karuan.
Rambutnya yang biasanya tertata kini berantakan, menutupi sebagian dahinya. Matanya merah, pandangannya kosong namun menyimpan sesuatu yang gelap.
Aroma alkohol menyengat menyebar ke seluruh ruangan begitu pintu terbuka. Campuran wiski dan keringat malam yang melekat di tubuh Reza.
Alya cepat-cepat berdiri, jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia belum pernah melihat Reza dalam keadaan seperti ini. Selama tiga minggu pernikahan mereka, suaminya itu selalu dingin dan terkontrol. Bahkan saat sedang marah pun, intonasi suaranya tidak pernah naik drastis.
Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu di mata Reza yang membuat bulu kuduk Alya meremang.
"Mas... Mas Reza?" suara Alya lirih, ragu. "Mas pulang? Saya... saya ambilkan air putih, ya?"
Ia berbalik hendak ke dapur, tapi belum sempat melangkah, tangan Reza menggenggam pergelangan tangannya dengan keras. Begitu keras hingga Alya mendengar bunyi krek kecil dari persendiannya.
"Aduh!" Alya memekik kesakitan. "Mas, sakit... lepaskan—"
Reza menariknya kasar, memutar tubuh Alya hingga gadis itu terpental dan punggungnya membentur meja marmer di tengah ruangan.
Sebuah vas bunga di atas meja bergetar, hampir jatuh. Nyeri menjalar dari tulang belikatnya, tapi itu belum seberapa dibandingkan ketakutan yang tiba-tiba membanjiri seluruh tubuhnya.
"Mas, kenapa? Aku salah apa?" tanya Alya dengan suara bergetar, matanya mulai basah.
Reza tidak menjawab. Ia berdiri di depan Alya, tubuh tingginya menaungi gadis mungil itu. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.
Matanya yang merah menatap Alya—tapi bukan menatap istrinya. Ia menatap sesuatu yang lain. Sebuah sasaran. Sebuah benda untuk melampiaskan sesuatu yang selama sebulan ini menggerogotinya.
Sejak Gita menolaknya.
Sejak wanita yang ia cintai itu memberinya alasan demi alasan untuk menolak setiap ajakan bercinta. Aku capek. Aku ada rapat besok pagi. Aku lagi tidak mood. Jangan maksa, Reza. Kamu kan sudah punya istri.
Dan Reza, pria bodoh yang terlalu mencintai Gita, hanya bisa menurut. Ia menelan setiap penolakan dengan rasa sakit yang menggerogoti harga dirinya.
Ia memberikan segalanya. Ia menikahi adik Gita. Ia mengurung dirinya dalam pernikahan tanpa cinta. Dan sebagai imbalannya? Gita bahkan tidak mau menyentuhnya.
Tapi malam ini, Gita menolaknya dengan cara yang paling menyakitkan. Ia datang ke apartemen Gita dengan harap-harap cemas, hanya untuk melihat wanita itu keluar dari mobil bersama pria lain. Bukan sembarang pria. Seorang pengusaha muda, lebih muda dari Reza, lebih segar, lebih... baru.
"Kamu jangan cemburu, Reza. Dia hanya teman bisnis. Aku sedang mengembangkan jaringan. Kamu tahu sendiri kan, bisnis properti itu butuh relasi."
Reza tidak percaya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Jika ia marah, Gita akan pergi. Jika ia cemburu, Gita akan menyebutnya kekanakan. Jika ia menuntut, Gita akan mengancam putus.
Jadi ia diam. Dan diam-diam, amarah itu menumpuk. Amarah pada Gita. Amarah pada dirinya sendiri. Amarah pada keputusan bodoh yang ia buat. Amarah pada pernikahan palsu ini.
Dan malam ini, setelah tiga gelas wiski murni tanpa campuran apa pun, amarah itu mencari pelampiasan.
"Mas... Mas Reza, aku takut..." Alya mundur selangkah, lalu selangkah lagi, hingga punggungnya menyentuh dinding dingin. Ia tidak punya tempat pergi.
Reza melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Matanya tidak berkedip, terus menatap Alya dengan tatapan yang membuat gadis itu gemetar hebat.
"Apa kau tahu rasanya dihancurkan oleh orang yang kau cintai?" suara Reza keluar parau, terdengar seperti geraman pelan. Ia tidak sedang bicara pada Alya. Ia bicara pada bayangan Gita yang terus menghantuinya.
Alya menggeleng cepat, air matanya mulai menetes. "Mas, aku tidak tahu Mas bicara apa. Tolong... aku takut. Biarkan aku tidur, ya? Besok pagi kita bicara—"
Tangannya meraih lengan Reza, berusaha melepaskan diri. Tapi gerakan itu justru menjadi pemicu.
Reza membanting tubuh Alya ke lantai.
Kepala Alya membentur lantai marmer dengan suara keras. Dunianya berputar sejenak, pandangannya berkunang-kunang. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari belakang kepalanya, namun belum sempat ia memulihkan diri, Reza sudah berada di atasnya.
"Mas! Mas, jangan! Tolong! Tolong!" teriak Alya sekuat tenaga. Tangannya berusaha mendorong dada Reza yang kokoh, tapi tenaganya tidak sebanding. Reza seperti tembok hidup yang tidak bisa digerakkan.
Tamparan pertama menghantam pipi kirinya.
Alya terperangah. Matanya membelalak, tidak percaya. Tangannya otomatis meraih pipi yang terasa panas dan perih. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya, membasuh bekas tamparan yang mulai meninggalkan bekas merah.
"Mas... kenapa... aku salah apa..." isak Alya, suaranya hancur.
Reza tidak menjawab. Ia justru memukul lagi. Kali ini ke arah bahu, lalu ke lengannya. Bukan pukulan yang terencana, tapi pukulan buta dari seseorang yang kehilangan kendali.
Pukulan yang seharusnya ditujukan pada Gita, pada dunia, pada dirinya sendiri—tapi jatuh pada tubuh mungil Alya.
Setiap pukulan membuat Alya menjerit, tubuhnya bergulung berusaha melindungi wajah dan kepalanya. Ia menangis tersedu-sedu, napasnya terputus-putus di antara jeritan dan isak tangis.
"Aku tidak melakukan apa-apa... tolong... Mas... hentikan... aku mohon..."
Tapi Reza tidak mendengar. Atau mungkin ia mendengar, tapi terlalu mabuk, terlalu marah, terlalu buta oleh rasa sakitnya sendiri untuk peduli.
Setelah beberapa pukulan, amarah Reza berganti wujud. Matanya yang merah kini menyala dengan sesuatu yang lebih gelap—nafsu yang terkekang selama sebulan, yang akhirnya meledak tanpa kendali.
Ia merobek kaus oblong putih yang dikenakan Alya. Kain tipis itu sobek dengan mudah, memperlihatkan tubuh gadis itu yang menggigil ketakutan.
"Tidak! Jangan! Mas, aku istri Mas! Jangan perlakukan aku seperti ini!" Alya berteriak, suaranya serak karena tangis. Tangannya berusaha menutupi tubuhnya yang mulai terbuka, tapi Reza dengan kasar menepis kedua tangannya.
Reza menekan kedua pergelangan tangan Alya di atas kepalanya, mengunci gerakannya. Tubuhnya yang berat menindih tubuh mungil Alya yang terus menggeliat berusaha melepaskan diri.
Gadis itu menendang, menggigit, melakukan apa pun yang bisa ia lakukan. Tapi tubuhnya terlalu lemah, terlalu kecil dibandingkan pria di atasnya.
"Mas... aku mohon... jangan..." Alya menangis, suaranya hancur berantakan. "Aku akan diam... aku tidak akan bilang apa-apa... tolong jangan lakukan ini..."
Tapi tidak ada ampun malam itu.
Reza menyetubuhinya dengan paksa. Tanpa kata-kata. Tanpa perasaan. Tanpa rasa bersalah. Ia melampiaskan semua kekesalan yang tertahan selama berbulan-bulan. Kekecewaan pada Gita, kemarahan pada dirinya sendiri, frustrasi pada pernikahan yang menjeratnya.
Bagi Alya, malam itu adalah malam terpanjang dalam hidupnya.
Setiap detik terasa seperti abad. Rasa sakit fisik menyatu dengan rasa sakit yang jauh lebih dalam—pengkhianatan, kehancuran, perasaan menjadi benda yang tidak berharga.
Ia berhenti berteriak setelah beberapa saat. Suaranya habis. Yang tersisa hanya tangis lirih yang keluar dari sela bibirnya yang tergigit hingga berdarah.
Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Lampu kristal di atasnya berkilauan karena pantulan cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Cantik. Tapi bagi Alya, keindahan itu terasa seperti ejekan.
Ia tidak tahu berapa lama semuanya berlangsung. Yang ia tahu, ketika Reza akhirnya bangkit dari tubuhnya, langit sudah mulai memutih.
Pria itu berdiri dengan langkah sempoyongan, menatap Alya sekilas dengan tatapan yang—untuk sesaat—tampak ada kesadaran.
Ada penyesalan yang sekilas muncul, tapi segera ditenggelamkan oleh sisa alkohol yang masih menguap di kepalanya.
Ia pergi. Meninggalkan Alya di lantai dingin ruang keluarga.
---
Alya tidak bisa bergerak.
Ia terbaring di lantai marmer yang dingin, tubuhnya penuh memar dan luka. Kaus oblongnya robek tidak karuan, celana pendeknya nyaris terlepas. Rambutnya berantakan, bekas air mata mengering di pipi yang masih terasa perih bekas tamparan.
Matanya terbuka, tapi tidak melihat apa pun.
Pikirannya kosong. Rasanya seperti ada yang mati di dalam dirinya malam itu. Sesuatu yang sebelumnya masih bertahan—mungkin harapan, mungkin mimpi, mungkin sisa-sisa kepolosan yang belum sepenuhnya hilang—kini benar-benar padam.
Dia mati rasa.
Tidak ada lagi rasa sakit yang ia rasakan, meskipun tubuhnya terasa seperti dihantam truk. Tidak ada lagi tangis yang tersisa, meskipun hatinya terasa hancur berkeping-keping. Yang ada hanya kekosongan. Kekosongan yang begitu dalam hingga ia merasa dirinya tidak lagi utuh.
Perlahan, dengan sisa tenaga yang ada, Alya meraih sobekan kaus oblongnya dan menutupi tubuhnya. Ia duduk bersandar pada dinding, kedua tangannya memeluk lutut yang ia tarik ke dada. Dalam posisi itu, ia menggigil.
Bukan karena dingin. Tapi karena ia baru saja kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan kembali.
Sinar matahari mulai masuk melalui jendela-jendela besar rumah itu. Cahaya keemasan pagi menyinari ruang keluarga, menerangi setiap sudut—termasuk tubuh mungil Alya yang duduk di lantai, penuh luka.
Seharusnya pagi adalah awal yang baru. Tapi bagi Alya, pagi itu adalah bukti bahwa mimpinya tidak hanya terkubur—mereka dihancurkan dengan kejam oleh orang yang seharusnya menjadi suaminya.
Dan ia tidak punya siapa pun untuk meminta pertolongan.
Kakaknya adalah dalang di balik pernikahan ini. Ibunya terlalu lemah untuk membela. Suaminya sendiri adalah algojonya.
Alya menunduk, dahinya menyentuh lutut. Ia tidak menangis. Matanya kering, tapi hatinya berdarah.
Di dalam kepalanya, satu pertanyaan berputar tanpa henti.
Kenapa aku? Apa salahku?
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya keheningan rumah besar yang kini terasa seperti penjara. Penjara mewah dengan jeruji emas, tempat ia dipaksa tinggal bersama iblis yang menyamar sebagai suami.
Jam di ruang tamu berdentang enam kali. Pagi telah tiba.
Amina, asisten rumah tangga, akan segera datang untuk memulai pekerjaannya. Alya harus bangun. Harus membersihkan dirinya. Harus menyembunyikan semua bukti kekejaman malam ini. Harus tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena itulah yang harus dilakukan boneka. Tersenyum meski hancur. Diam meski sekarat.
Dengan tubuh yang gemetar dan luka yang menganga di hatinya, Alya merangkak menuju kamar mandi. Ia tidak bisa berdiri. Kakinya terasa seperti tak bertulang. Ia merangkak melewati lorong panjang, meninggalkan jejak air mata yang baru saja mulai mengalir lagi.
Di kamar mandi, ia membuka keran air sekencang-kencangnya. Ia ingin suara air itu menenggelamkan isak tangisnya yang mulai pecah kembali. Ia ingin air dingin itu membasuh semua yang terjadi malam ini.
Tapi tidak ada air sedingin apa pun yang bisa membasuh lukanya.
Di cermin, ia melihat pantulan dirinya. Pipi kiri membengkak, bekas tamparan berwarna merah keunguan. Lehernya penuh bekas gigitan dan cengkeraman. Tubuhnya yang mungil dipenuhi memar berwarna ungu kebiruan.
Ia tidak mengenali dirinya sendiri.
Alya memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Ia berharap ini semua mimpi. Tapi lukanya nyata. Rasa sakitnya nyata. Dan ia harus hidup dengan semua ini.
Ia menyalakan shower, membiarkan air dingin membasahi tubuhnya yang terluka. Air itu terasa seperti ribuan jarum menusuk setiap memar yang ada. Tapi ia tidak peduli. Rasa sakit fisik itu justru menjadi pengingat bahwa ia masih hidup.
Meskipun ia tidak lagi yakin itu adalah kabar baik.
---
Di luar, matahari terus naik. Burung-burung berkicau riang di taman. Dunia terus berputar seperti tidak ada yang terjadi.
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam rumah megah itu, seorang gadis berusia delapan belas tahun baru saja kehilangan segalanya.
Dan tidak ada yang akan tahu. Karena ia akan diam. Seperti yang selalu ia lakukan. Seperti yang selalu ia ajarkan.
Diam dan patuh. Itulah satu-satunya cara untuk bertahan.
jangan lupa mampir yaa🤭