NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Langkah Pertama Menuju Takdir

Embun pagi masih menggantung di ujung dedaunan ketika suara lonceng kristal berbunyi dari menara utama kediaman Arvendis. Suara itu bahkan menggema hingga ke seluruh penjuru kastel, namun hari itu terasa sangat berbeda.

Para pelayan terlihat tampak lebih sibuk dari biasanya. Lorong-lorong dipenuhi langkah kaki yang berlalu-lalang membawa peti, pakaian, hingga buku-buku sihir yang telah disiapkan untuk keberangkatan Aurelia menuju Akademi Aetherion dua hari lagi.

Di kamarnya, Aurelia berdiri didepan jendela seraya memandangi hamparan hutan yang membentang dibalik bukit. Angin musim gugur kembali mengibaskan tirai putih yang terjuntai di sisinya. Tanpa sadar, tangannya kembali menggenggam liontion miliknya.

Sudah tiga kali sejak liontin itu memancarkan cahaya aneh. Ia sudah mencoba bertanya pada Selena, tapi sang ibu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mungkin liontin itu bisa bereaksi terhadap perubahan musim. Meski begitu, hati Aurelia mengatakan hal yang berbeda dan merasa bukan itu jawabannya.

“Relia.” Teriakan Rowan terdengar dari bawah. Aurelia menjulurkan kepalanya ke luar jendela dan Rowan melambaikan tangannya seraya memberikan senyum yang lebar. “Cepat turun! Kita akan latihan lagi.” Rowan kembali berteriak.

“Latihan?” Tanya Aurelia bingung.

“Iya. Masa penyihir Akademi Aetherion kalah sama kambing gunung?” Mendengar penuturan itu membuat Aurelia terkekeh.

“Memang ada hubungannya?”

“Ada.”

“Apa hubungannya?”

“Pokoknya ada.” Aurelia menggeleng geli sebelum akhirnya ia bergegas turun.

Halaman belakang kediaman Arvendis sangat luas. Disana terdapat arena latihan keluarga yang dilapisi batu hitam anti sihir sehingga tidak mudah hancur saat digunakan bertarung.

Kael sudah berdiri ditengah arena dengan pedang sihir di pinggangnya, Lucien membawa beberapa gulungan mantra, sedangkan Rowan sedang memutar-mutarkan tongkat kayu di tangannya. Melihat Aurelia datang, Selena yang tengah duduk di gazebo langsung tersenyum lembut.

“Ayahmu yang meminta mereka melatihmu.” Armand mengangguk dari kursinya saat mendengar Selena mengucapkan hal itu pada Aurelia.

“Kau akan masuk akademi terbaik di benua ini. Kami hanya ingin memastikan bahwa kau bisa menjaga dirimu sendiri.” Ucap Armand yang dibalas anggukkan oleh Aurelia.

“Oke. Sekarang kita bisa mulai dari yang paling mudah dulu.” Rowan langsung maju lebih dulu ke arah Aurelia. Ia mengambil sebuah apel dari meja, lalu melemparkannya dengan tinggi ke udara. “Belah apel itu pakai sihirmu.” Pinta Rowan dan membuat Aurelia mengedipkan kedua matanya.

“Kalau mengenai kepalamu bagaimana?”

“Ya jangan sampai kena.” Aurelia langsung tertawa spontan. Lalu, ia mengangkat tangan kanannya, lingkaran sihir kecil berwarna putih muncul tepat dibawah kakinya. Beberapa helai cahaya menyerupai benang melayang dari telapak tangannya.

Slassshhh~

Apel itu terbelah menjadi dua dengan sangat rapi, bukan karena terbakar atau meledak, melainkan seperti dipotong oleh sesuatu yang tak terlihat. Rowan membelalakkan kedua matanya saat menyaksikan itu, Lucien pun tak percaya melihat kejadian tersebut, sedangkan Kael memperhatikannya dengan tatapan yang sangat serius.

“Itu bukan sihir angin.” Lucien mengangguk setuju dengan pernyataan Rowan.

“Bukan juga sihir cahaya.” Ucap Lucien. Aurelia sendiri tampak bingung dengan pernyataan kedua kakaknya.

“Aku hanya membayangkan apelnya terpotong.” Kata Aurelia. Kemudian, Rowan memungut kedua bagian apel tersebut. Terlihat jelas bahwa potongannya sangat halus, bahkan tidak terlihat bekas luka bakar atau pun bekas tebasan disana.

“Relia.” Teriak Rowan yang masih menatapi kedua bagian apel seraya menelan ludah tak percaya.

“Iya?” Aurelia membalas berteriak dan menoleh ke arah Rowan berada.

“Jangan bilang kau sebenarnya monster, ya?” Ucap Rowan yang telah berada didekat Aurelia dan secara spontan gadis itu juga mencubit lengan Rowan, cubitan itu bahkan berhasil membuat Rowan meringis.

“Aku manusia tahu.”

Tawa kecil itu memenuhi halaman kediaman keluarga Arvendis. Armand juga melukiskan sebuah senyuman dibibirnya, namun dibalik senyumnya itu, Armand justru tampak terlihat semakin merasa khawatir.

Latihan kembali dilanjut hingga siang, kini Kael yang mengambil alih medan latihan tersebut. Tanpa pandang bulu, Kael juga segera mengeluarkan pedang panjang berwarna hitam miliknya.

“Serang aku.” Pinta Kael dan membuat Aurelia langsung panik.

“Hah?”

“Serang.” Perintah Kael lagi.

“Tapi nanti kak Kael terluka.” Kael menghela napas mendengar pernyataan tersebut.

“Itu tidak akan terjadi.” Pria itu mencoba meyakinkan gadis yang tengah berdiri dihadapannya.

“Tapi..”

“Percayalah padaku.” Aurelia pun mengangguk dan mulai memasang kuda-kudanya.

Aurelia menarik napas panjang, tangannya kembali memancarkan cahaya putih, namun kali ini berbeda. Cahaya itu perlahan berubah menjadi puluhan serpihan kecil menyerupai bintang. Semua orang yang melihatnya langsung terdiam, karena serpihan-serpihan itu berputar mengelilingi tubuh Aurelia.

Serpihan itu terlihat indah seakan tengah menari-nari di udara, meski terlihat indah, serpihan itu menyimpan kekuatan yang sangat sulit dijelaskan, bahkan udara disekitar mereka ikut terasa berubah.

Burung-burung yang terbang dilangit mendadak berhenti berkicau, angin pun ikut perlahan mereda, seolah alam sedang ikut memperhatikan. Aurelia menggerakkan tangannya pelan, salah satu serpihan cahaya melesat cepat ke arah Kael.

Kael segera menghunuskan pedangnya untuk menahan serangan yang diberikan oleh Aurelia. Kemudian sesuatu yang tidak terduga terjadi saat percikan cahaya memenuhi arena latihan. Kael mundur satu langkah.

Melihat kejadian tersebut kembali membuat mereka yang menyaksikan itu membeku. Kael benar-benar terdorong mundur oleh serangan yang diberikan oleh Aurelia. Padahal tidak ada satu orang pun yang tidak tahu bahwa Kael dikenal sebagai penyihir pedang terbaik di wilayah utara, dan melihat hal itu justru membuat Aurelia sendiri merasa ketakutan.

“Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja.” Tutur Aurelia dengan nada yang penuh dengan penyesalan.

Bukannya menggubris ucapan Aurelia, Kael justru memandangi pedangnya. Terdapat retakan kecil yang muncul pada pedang miliknya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, baru itu pedangnya mengalami kerusakan.

Kael mengangkat wajahnya perlahan, dan tatapannya itu bertemu dengan tatapan sang ayah—Armand. Mengerti dengan tatapan putranya, Armand lekas menunduk pelan, tak ada satu patah kata pun yang ingin ia atau yang lainnya ucapkan. Meski begitu, semua orang disana telah memahami satu hal, kekuatan Aurelia jauh lebih besar dari apa yang mereka bayangkan.

Sore tiba, latihan pun dihentikan. Usai latihan tersebut, Selena mengajak Aurelia berjalan-jalan dikebun bunga. Keduanya berjalan berdampingan tanpa banyak bicara, sesekali kupu-kupu putih berterbangan di sekitar mereka.

“Ibu.” Panggil Aurelia dengan nada yang sedikit lirih. Selena berdeham dan menoleh ke arah putrinya. “Apa aku aneh?” Pertanyaan itu pun lekas membuat Selena menghentikan langkahnya.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Aku tidak tahu sihirku berasal dari mana, padahal semua orang disini punya elemen mereka masing-masing. Kak Kael memiliki elemen api, kak Lucien air, kak Rowan ilusi, sedangkan aku? Aku tidak tahu elemen milikku apa.” Tutur Aurelia dengan kepala yang tertunduk.

“Kau tidak aneh.” Selena menggenggam kedua tangan Aurelia, tatapan yang diberikan begitu lembut.

“Tapi semua orang bilang sihirku berbeda.”

“Berbeda bukan berarti buruk.” Selena melemparkan sebuah senyuman pada putrinya dan itu berhasil membuat Aurelia menatap wajah ibunya. “Kadang, langit menciptakan bunga yang warnanya tidak sama dengan yang lain. Tapi, itu bukan kesalahan bunga, justru itulah yang membuat bunga itu menjadi lebih istimewa.” Mendengar itu membuat Aurelia tersenyum tipis.

Kata-kata yang dikeluarkan oleh Selena selalu berhasil menenangkan hatinya. Namun jauh di dalam dirinya, rasa penasaran itu tetap ada. Siapa dirinya sebenarnya? Kenapa ia tidak memiliki ingatan sebelum tinggal di rumah tersebut? Dan kenapa setiap melihat bintang dadanya selalu terasa sesak?

Malam tiba. Usai makan malam bersama dengan keluarga, Aurelia memutuskan pergi ke perpustakaan. Di dalam perpustakaan terdapat rak-rak tinggi yang memenuhi ruangan, aroma kayu tua dan kertas memenuhi udara. Aurelia mencari buku tentang jenis-jenis sihir.

Ia berjalan perlahan seraya membaca judul buku disana satu per satu. Mulai dari api, air, angin, tanah, petir, es, ilusi, bayangan hingga tentang penyembuhan semuanya ada disana, namun tidak ada satu pun yang terasa cocok dengan sihir yang dimiliki olehnya.

Saat hendak kembali, Aurelia tidak sengaja menyenggol sebuah buku tua yang terselip di sudut rak. Buku itu jatuh ke lantai, debunya pun beterbangan karena mungkin sudah lama tidak dibersihkan atau mungkin karena tidak kelihatan sehingga sulit dibersihkan.

Buku itu menarik perhatiannya, ia menghampirinya dan mengambilnya perlahan. Buku tersebut memiliki sampul yang polos tanpa memiliki judul. Saat dibuka, halamannya kosong, tidak ada satu kalimat pun yang tertulis didalam sana.

“Hah?” Aurelia mencoba membalik lembar demi lembar, semuanya tetap kosong. Namun, saat jemarinya menyentuh halaman terakhir, tiba-tiba sebuah cahaya putih muncul.

Cahaya tersebut kemudian memunculkan tulisan emas yang perlahan bermunculan dengan sendirinya dan hal tersebut berhasil membuat Aurelia membelalakkan kedua matanya. Kemudian tulisan emas itu pun menuliskan satu kalimat dalam halaman terakhir buku tersebut.

Ketika bintang terakhir kembali bersinar, sang pewaris akan pulang.

Belum sempat ia memahami apa arti dari kalimat itu, cahaya itu pun menghilang dan halaman tersebut kembali kosong seperti semula. Suara langkah kaki mendadak terdengar dari balik rak, Aurelia buru-buru menutup buku itu, dan Kael muncul dari ujung lorong.

“Kau belum tidur?”

“Belum.” Aurelia tersenyum gugup dan Kael tampak memperhatikan buku yang berada dalam genggaman adiknya itu.

“Apa yang kau baca?” Aurelia ikut melihat buku itu, dan anehnya, sampul buku itu kini telah berubah menjadi buku sejarah biasa, seolah kejadian yang dilihat oleh Aurelia sebelumnya sama sekali benar-benar tidak pernah terjadi.

“Aku… hanya sedang mencari bacaan sebelum tidur.” Ucap Aurelia membuat alasan dan Kael hanya mengangguk singkat.

“Jangan tidur terlalu malam.” Aurelia mengganggukkan kepalanya, kemudian Kael berbalik pergi.

Sebelum keluar ruangan, Kael menyempatkan diri untuk kembali menoleh ke dalam, tatapannya bukan tertuju pada Aurelia secara langsung, namun pada buku yang masih dipeluk oleh Aurelia. Entah kenapa, Kael memiliki firasat buruk terhadap hal itu.

Sementara itu, dibalik jendela perpustakaan, langit malam kembali dihiasi rasi bintang yang bersinar luar biasa terang, dan jauh dibalik pegunungan utara, seorang pemuda bermata abu-abu menghentikan langkah kudanya, lalu menatap langit malam seraya tersenyum kecil.

“Sudah mulai.”

Perjalanan yang akan mengubah nasib dunia sihir akhirnya sudah mulai bergerak. Tanpa disadari oleh Aurelia, setiap langkah yang ia ambil kini semakin membawanya menuju rahasia yang telah terkubur selama empat belas tahun.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!