NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:776
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Nama Aurora

Kepulangan dari Bali tidak benar-benar mengakhiri kegelisahan Nadira. Di balik senyum yang perlahan kembali menghiasi wajahnya, pikirannya justru semakin dipenuhi pertanyaan tentang Proyek Aurora. Semakin ia mengingat catatan peninggalan ayahnya, semakin kuat keyakinannya bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh seseorang di dalam Wijaya Group.

Sore itu Nadira datang ke ruang kerja Arga sambil membawa map cokelat yang sudah mulai usang. Map itu berisi salinan dokumen peninggalan ayahnya yang beberapa hari terakhir selalu ia simpan dengan hati-hati.

Begitu pintu ruang kerja tertutup, ia langsung meletakkan map tersebut di atas meja Arga tanpa banyak bicara. Tatapan keduanya bertemu sesaat. Mereka sama-sama tahu alasan pertemuan sore itu bukan lagi sekadar rasa penasaran, melainkan keinginan mencari jawaban atas semua kejadian aneh yang mulai mengelilingi mereka.

"Aku rasa kita harus mulai dari perusahaan ini," ucap Nadira pelan.

Arga menutup laptop yang sejak tadi dipakainya memeriksa laporan keuangan. Ia membuka map itu, lalu mengeluarkan beberapa lembar catatan tulisan tangan Hendra Pramesti. Hampir di setiap beberapa halaman terdapat lingkaran merah yang mengelilingi dua kata yang sama.

Proyek Aurora.

"Ayahmu benar-benar memberi perhatian khusus pada proyek ini," gumam Arga sambil membolak-balik halaman.

Nadira mengangguk pelan. "Beliau bukan tipe orang yang suka mencatat hal yang nggak penting. Kalau sampai nama proyek ini muncul berkali-kali, berarti ada sesuatu yang memang ingin beliau simpan."

Arga menggeser kursinya mendekati komputer. Beberapa kali jarinya mengetik kata kunci yang sama ke dalam sistem arsip digital Wijaya Group.

Aurora.

Layar hanya menampilkan satu kalimat singkat.

Data tidak ditemukan.

Ia mencoba lagi dengan berbagai kemungkinan.

Project Aurora.

Kode Aurora.

AUR.

Semua hasilnya tetap sama.

"Tidak ada?" tanya Nadira.

Arga menggeleng pelan. "Bukan cuma nggak ada. Seolah nama proyek ini memang tidak pernah tercatat."

Mereka memastikan dan mengecek lebih jauh berdasarkan tahun ketika Hendra Pramesti masih bekerja di perusahaan. Puluhan folder digital bermunculan di layar. Laporan demi laporan masih tersimpan rapi, tetapi ketika Arga memperhatikan nomor dokumennya, ada sesuatu yang terasa janggal.

"Lihat ini." Nadira mendekat ke sisi meja. "Laporan audit nomor 118 ada. Nomor 119 hilang. Langsung lompat ke 120."

Ia kembali membuka folder lain. "Di sini juga sama."

Beberapa nomor dokumen hilang tanpa penjelasan. Kalau hanya satu atau dua berkas, mungkin bisa dianggap rusak. Namun pola itu terus berulang di beberapa tahun berbeda.

Nadira mengernyit. "Berarti memang ada yang sengaja menghapus sebagian arsip."

"Bukan orang biasa yang bisa melakukan ini," jawab Arga serius. "Akses untuk menghapus data audit lama cuma dimiliki beberapa orang."

Keheningan menyelimuti ruangan beberapa saat. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Nadira kembali membuka buku catatan ayahnya. Kali ini ia membaca lebih teliti setiap baris yang sebelumnya hanya ia lewati sekilas.

"Aku baru sadar sesuatu."

Arga menoleh.

"Selama ini aku selalu mengira Ayah cuma auditor di kantor cabang. Itu yang beliau ceritakan ke aku dan Ibu."

Ia menarik surat pengangkatan kerja dari dalam map. "Memang benar beliau ditempatkan di cabang. Tapi ternyata tugasnya jauh lebih besar."

Arga memperhatikan dokumen itu.

"Di sini tertulis beliau bagian Auditor Internal Regional. Tapi dari catatan ini..." Nadira menunjuk beberapa halaman. "...Ayah juga menerima salinan data audit dari kantor pusat. Jadi setiap proyek besar yang nilainya melewati batas tertentu tetap harus melewati pemeriksaan beliau."

"Termasuk Aurora," tambah Arga.

Nadira mengangguk. "Kalau aku nggak salah memahami catatan ini, Ayah bukan orang yang menjalankan proyeknya. Beliau justru orang yang memeriksa apakah semua laporan keuangannya sesuai atau tidak."

Arga mulai memahami arah pembicaraan itu. "Artinya kalau memang ada penyimpangan, Ayah pasti orang pertama yang mengetahuinya."

Kalau Hendra benar menemukan sesuatu yang tidak beres, bukan tidak mungkin itulah alasan mengapa semua catatannya kini seolah menjadi incaran seseorang.

"Aku jadi berpikir..." ucap Nadira lirih. "Mungkin selama ini Ayah sengaja menyembunyikan semua dokumen itu di toko buku karena beliau tahu suatu hari akan ada orang yang mencarinya."

Arga menatap Nadira cukup lama. Ia melihat kecemasan yang selama ini berusaha disembunyikan perempuan itu.

Tanpa sadar, ia meraih tangan Nadira yang sejak tadi menggenggam ujung map dengan erat.

"Kita akan cari tahu semuanya."

Nadira mengangkat wajah. "Bareng?"

Arga mengangguk mantap. "Bareng."

Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Nadira. Meski belum menemukan jawaban apa pun, setidaknya kali ini ia tidak lagi merasa harus memikul semuanya sendirian.

Menjelang sore, Arga mengajak Nadira turun ke ruang arsip fisik yang berada di lantai bawah gedung audit Wijaya Group. Ruangan itu dipenuhi rak-rak besi tinggi dengan ribuan map yang disusun berdasarkan tahun dan divisi. Aroma kertas tua langsung menyambut begitu pintu dibuka.

Petugas arsip membantu mengambil beberapa kotak dokumen sesuai permintaan Arga. Mereka membuka satu per satu laporan proyek pembangunan, audit keuangan, hingga dokumen pengadaan barang yang usianya sudah lebih dari dua puluh tahun.

Namun semakin lama mereka mencari, hasilnya justru semakin membingungkan. Semua proyek besar tercatat lengkap. Semua laporan memiliki lampiran.

Hanya satu nama yang benar-benar tidak pernah muncul.

Aurora.

Seolah proyek itu sengaja dihapus dari sejarah Wijaya Group.

"Mas..." Nadira menutup map terakhir dengan pelan. "Menurutmu... mungkin nggak sebuah proyek sebesar ini bisa hilang begitu saja?"

Arga mengembalikan map ke atas meja. "Kalau semua jejaknya hilang, berarti ada seseorang yang menghapusnya."

"Bukan karena proyek itu kecil tapi karena proyek itu terlalu besar."

Saat keduanya keluar dari gedung audit, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat dari ujung koridor.

Ratih Wijaya muncul bersama Kevin. Tatapannya langsung jatuh kepada Nadira, lalu beralih kepada map yang masih dibawa perempuan itu.

Ratih tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak terasa ramah. "Wah... rajin sekali." Tatapannya berpindah kepada Arga. "Baru pulang liburan dari Bali, sekarang langsung sibuk keliling ruang audit."

Nadira hanya membalas dengan senyum sopan tanpa berkata apa-apa.

Ratih melanjutkan ucapannya, kali ini dengan nada yang sengaja dibuat lebih keras agar beberapa karyawan yang melintas ikut mendengar. "Atau jangan-jangan sekarang istri kamu sudah ikut campur urusan perusahaan?"

Arga melangkah setengah langkah ke depan, berdiri di sisi Nadira. "Nadira bukan orang luar. Dia istriku. Kalau dia ingin mengetahui sejarah perusahaan ini, aku yang mengizinkannya."

Ratih terkekeh pelan. "Kamu berubah sejak menikah."

"Mungkin. Dan aku nggak melihat itu sebagai sesuatu yang buruk."

Untuk sesaat senyum Ratih memudar. Tatapan perempuan itu berganti menjadi dingin sebelum akhirnya berlalu begitu saja bersama Kevin.

Setelah mereka pergi, Nadira masih memperhatikan punggung Ratih yang semakin menjauh.

"Mas..."

"Hm?"

"Menurutku... Tante Ratih tahu sesuatu."

Arga tidak langsung menjawab. Ia juga sempat menangkap perubahan ekspresi Ratih saat melihat map di tangan Nadira.

"Kita belum punya bukti."

"Tapi naluriku bilang… beliau menyembunyikan sesuatu."

Arga membuka pintu mobil untuk Nadira. Setelah keduanya duduk dan mobil mulai meninggalkan area kantor pusat, suasana kembali hening.

Beberapa menit kemudian Arga berkata pelan, "Mulai sekarang… kita jangan mudah percaya kepada siapa pun. Termasuk keluarga sendiri."

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Tanpa mereka sadari, dugaan yang kini mengarah kepada Ratih justru merupakan langkah pertama dari permainan seseorang yang selama ini berhasil bersembunyi di balik bayang-bayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!