Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
Amuk Jiwa Tanpa Raga
Runtuhnya wadah fisik Lord Malakor ternyata bukanlah akhir dari petaka yang mengintai benua, melainkan
awal dari bencana yang jauh lebih dahsyat dan mematikan. Gerbang Jurang Maut yang kini terbuka lebar di tengah Ruang Altar Utama memuntahkan badai kegelapan murni. Tanpa raga fana yang mengikatnya, entitas Raja Iblis Kuno memanifestasikan wujud aslinya: sebuah pusaran energi raksasa berbentuk naga hitam dengan ribuan mata merah menyala yang memancar dari balik awan api abadi.
Auman entitas tersebut mengguncang hingga ke dasar pondasi Pegunungan Kelam. Reruntuhan langit-langit basalt hancur berkeping-keping, terhisap masuk ke dalam lubang hitam dimensi yang kian meluas bagaikan mulut raksasa yang lapar. Tekanan gravitasinya begitu membendung hingga membuat tanah yang dipijak Cassian dan Aurelia meretak hebat, terangkat sepotong demi sepotong ke hampa udara.
"Makhluk itu berusaha memutarkan inti dimensi agar seluruh benua tersedot masuk ke Jurang Maut!" jerit Aurelia dengan suara parau yang tertelan gemuruh angin. Darah segar terus menetes dari bibirnya, menandakan
batas vitalitas jiwanya telah terlampaui setelah merapalkan sihir tingkat tinggi berturut-turut. Namun, di balik penderitaan fisiknya, pandangan matanya tetap memancarkan tekad yang tak terkoyak sedikit pun.
Cassian menancapkan pedang besarnya dalam-dalam ke retakan lantai basalt untuk menahan tubuh mereka berdua dari serotan hampa udara yang membakar. Bahunya membeku, diselimuti kristal es dari sihir elemennya sendiri yang mulai tidak terkendali akibat gejolak mana di atmosfer. "Apakah benar-benar tidak ada cara lain
selain menyegelnya dari dalam, Aurelia? Harus ada cara untuk menutup gerbang itu tanpa mengorbankan jiwamu!" Aurelia menatap wajah Cassian dengan kelembutan yang menyayat hati. Di tengah kepungan badai api hitam dan aura kematian yang mengepul rapat, ia tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kehangatan yang kontras dengan kehancuran di sekitar mereka. "Sihir Segel Kebenasaan Kitab Mawar Emas membutuhkan inti kehidupan murni dari seorang penyihir untuk mengunci celah dimensi secara permanen. Jika tidak ada yang
mengalihkan fokus jiwanya dan menahan inti Raja Iblis dari dalam gerbang, kuncinya tidak akan pernah terpasang dari luar. Gerbang itu akan selalu terbuka kembali."
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
Dilema Sang Pelindung
Mendengar penjelasan itu, Cassian menggeleng tegas dengan mata memerah menahan amarah dan ketakutan.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan dirimu sendirian! Kita telah berjanji untuk melewati semua ini bersama-sama, Aurelia! Jika harus ada yang masuk ke gerbang itu, biarkan aku yang melakukannya!"
"Sihir Es milikmu adalah benteng pelindung dunia ini, Cassian," balas Aurelia seraya merayap mendekat dan menggenggam erat jemari Cassian yang dingin dan membeku. "Sihir Mawar Emas milikku adalah satu-satunya racun sekaligus penawar bagi kegelapan Raja Iblis. Inilah takdir yang dipilihkan oleh Mawar Emas
untukku sejak awal... dan takdirmu adalah menjadi pelindung yang akan membimbing dan membawa kedamaian bagi orang-orang yang tersisa."
Cassian mencoba menarik Aurelia ke dalam pelukannya, bermaksud menahannya dengan seluruh kekuatan fisik yang ia miliki. Namun sebelum Cassian sempat merengkuhnya, Aurelia menggerakkan jari telunjuknya, merapalkan mantra terlarang pemisah jiwa dalam bisikan singkat. Cahaya emas berkilau membungkus tubuh Cassian secara mendadak. Sebuah jaring sihir pelindung yang tak tertembus melingkupi raga Cassian, membentuk ikatan pembeku yang menghentikan seluruh pergerakan fisiknya di tempat. Cassian terbelalak saat merasakan seluruh otot dan persendiannya membeku kaku tak dapat digerakkan, hanya matanya yang dapat bergerak memandang Aurelia dengan kepanikan dan rasa putus asa yang luar biasa.
"Aurelia! Jangan! Hentikan ini!" teriak Cassian, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan oleh sihirpelindung tersebut.
"Maafkan aku, Cassian... ini adalah keputusan yang harus kuambil demi masa depan kita semua," bisik Aurelia lembut.
*•*
*•*
Langkah Terakhir Menuju Kegelapan
Dengan sisa-sisa kekuatan vitalitasnya yang kian memudar, Aurelia bangkit berdiri tegak. Ia menggenggamtongkat sihir Mawar Emasnya dengan kedua tangan, lalu melangkah perlahan namun pasti menuju bibir pusaran Gerbang Jurang Maut yang menganga lebar. Setiap pijakan kakinya di atas tanah terbakar meninggalkan jejak bunga mawar emas yang mekar seketika, mengusir aura kejahatan yang mencoba mendekatinya.
Tongkat sihirnya memancarkan siluet cahaya paling terang yang pernah tercipta dalam sejarah sihir pemurni. Gelombang energi emas itu bergulung-gulung, menembus ketebalan awan hitam dan menciptakan koridor cahaya di tengah lautan kegelapan.Merasakan ancaman pemusnahan, entitas Raja Iblis Kuno meraung murka. Ia merangsek maju,
menjulurkan ribuan tentakel kegelapan dan lidah api abadi untuk mencengkeram serta meremukkan raga Aurelia. Namun, dengan senyuman tenang yang memancarkan kedamaian sejati, Aurelia melepaskan seluruh
benteng pertahanan jiwanya. Ia mengubah seluruh inti kehidupan dan mana yang tersisa di dalam tubuhnya menjadi gelombang cahaya keemasan murni yang membakar.
"*Sihir Terlarang Mawar Emas: Segel Abadi Jiwa Suci!*" jerit Aurelia, menyuarakan mantra pemungkas yang menggema di seluruh pelosok benua. Cahaya emas meledak secara aksial dari tubuh Aurelia, melingkupi seluruh wujud raksasa entitas RajanIblis. Gelombang cahaya itu mengikat sang naga hitam dengan ribuan rantai mawar keemasan, menariknya secara paksa kembali ke dalam pusaran Jurang Maut. Retakan gerbang dimensi bergetar hebat, terdorong oleh
tekanan sihir yang dahsyat dan perlahan-lahan mulai menguncup rapat. Tepat sebelum bibir gerbang tertutup sepenuhnya dan menelan tubuhnya ke dalam hampa dimensi, Aurelia
memutar tubuhnya. Ia menoleh ke arah Cassian untuk terakhir kalinya, memberikan senyuman terindah yang pernah ada, dan membisikkan kata-kata tanpa suara yang terukir abadi di dalam sanubari Cassian: *'Hiduplah
dan jagalah dunia yang telah kita selamatkan.'*
Dengan dentuman pemungkas yang merobek angkasa dan menghentikan seluruh waktu, Gerbang Jurang Maut terpasang rapat dan musnah tanpa sisa, menyisakan keheningan mencekam di atas panggung benteng yang telah hancur total.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"