Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Ucapan-ucapan itu menghunjam hati Mida. Padahal keputusan pembongkaran makam bukan lahir dari kebencian, melainkan dari harapan terakhir seorang ibu untuk mengetahui penyebab kematian anaknya. Mida tidak ingin mengusik ketenangan Harapan. Ia justru ingin memastikan bahwa jika putranya memang menjadi korban kejahatan, kebenaran itu tidak ikut terkubur bersama jasadnya.
Namun, di tengah derasnya fitnah dan tudingan, hanya sedikit orang yang mau memahami alasan tersebut. Bagi Mida, setiap langkah menuju kebenaran ternyata harus dibayar dengan kehilangan nama baiknya sendiri.
***
Menjelang sore, suasana di depan gubuk Mida mendadak ramai. Joni datang bersama beberapa anggota keluarganya. Wajah mereka tampak tegang, seolah sudah menahan amarah sejak lama.
Begitu melihat Mida keluar rumah, Joni langsung bersuara dengan nada tinggi. "Kau ini maunya apa lagi, Mida? Anak sudah meninggal, sudah dikuburkan. Sekarang makamnya dibongkar. Sebenarnya apa yang kau cari?"
Mida menatap mantan suaminya tanpa berkedip. Meski matanya sembap karena terlalu banyak menangis, suaranya terdengar tegas. "Aku mau keadilan untuk anakku."
Jawaban itu membuat ibu Joni maju selangkah. "Keadilan? Keadilan apa yang kau maksud? Jangan bikin malu keluarga!"
Mida menggenggam ujung kerudungnya erat-erat. "Kalau kalian ingin tahu keadilan apa yang kumaksud, bantulah aku mencari jawabannya. Kematian Harapan itu janggal. Itu bukan kecelakaan seperti yang selama ini orang-orang katakan."
Suasana seketika menjadi hening. Lalu adik Joni tertawa sinis. "Kau sudah gila!"
Kalimat itu seolah memutus kesabaran Mida. Ia melangkah maju. Untuk pertama kalinya sejak Harapan meninggal, suaranya terdengar lantang. "Bukan aku yang gila!" Air matanya kembali mengalir. "Kalian yang gila!" teriaknya. "Kalian bisa tidur nyenyak, sementara anakku mati dengan penuh tanda tanya. Kalian memilih diam tanpa mau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi! Padahal Harapan itu juga darah daging kalian. Dasar gila kalian semua, tak punya hati!"
Tak seorang pun menyela.
Mida melanjutkan dengan napas yang tersengal. "Harapan bukan cuma anakku. Dia juga darah daging keluarga kalian. Tapi tak seorang pun mau berdiri di sampingku. Tak seorang pun peduli bagaimana dia mengembuskan napas terakhirnya." Ia mengulangi d Ngan suara lebih tinggi. Tangannya menunjuk ke arah jalan. "Pergi..." Suaranya bergetar, tetapi penuh ketegasan. "Pergi dari rumahku! Kalau kalian datang hanya untuk menghentikan perjuanganku, lebih baik kalian pergi. Aku tidak butuh orang yang menyuruhku melupakan anakku. Aku hanya butuh orang yang mau membantuku menemukan kebenaran."
Suasana berubah sunyi. Keluarga Joni saling berpandangan. Tak ada lagi yang mereka katakan. Dengan wajah kesal, mereka akhirnya berbalik meninggalkan halaman gubuk.
Mida berdiri seorang diri di ambang pintu. Dadanya naik turun menahan emosi. Ia sadar, mulai hari itu, perjuangannya bukan hanya menghadapi orang-orang yang diduga terlibat dalam kematian Harapan, tetapi juga menghadapi mereka yang memilih menutup mata terhadap kemungkinan bahwa Harapan bukan meninggal karena kecelakaan, melainkan karena sebuah kejahatan.
Jangan pernah menantang seorang ibu yang sedang memperjuangkan anaknya. Perempuan yang selama ini tampak lembut, sabar, dan memilih diam, bisa berubah menjadi sosok yang tak lagi gentar menghadapi siapa pun ketika anaknya disakiti. Bukan karena ia haus pertengkaran, melainkan karena cinta seorang ibu sering kali melampaui rasa takutnya sendiri.
Mida mungkin hanya seorang buruh pabrik tahu. Ia tak memiliki harta, jabatan, ataupun orang-orang berpengaruh di belakangnya. Namun, sejak mengetahui bahwa kematian Harapan menyimpan begitu banyak kejanggalan, hatinya berubah.
Ia tak lagi takut dicaci. Tak lagi takut difitnah. Tak lagi takut ditinggalkan. Yang ia takutkan hanyalah satu, kebenaran tentang Harapan ikut terkubur selamanya.
Boleh saja orang menganggapnya keras kepala. Boleh saja mereka menyebutnya gila. Tetapi bagi Mida, semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan kewajibannya sebagai seorang ibu untuk memperjuangkan anaknya hingga titik terakhir. Karena cinta seorang ibu tak mengenal kata menyerah. Dan ketika cinta itu dipertemukan dengan ketidakadilan, ia dapat menjelma menjadi keberanian yang tak mudah dipatahkan.
Hampir seluruh orang di kampung tahu bahwa sebelum tinggal di gubuk reyot itu, Mida pernah hidup berkecukupan. Ia adalah anak tunggal dari keluarga yang berada di kampung tersebut. Orang tuanya memiliki rumah yang luas, kebun, dan sejumlah harta yang cukup untuk menjamin masa depannya. Sebab ayah dan ibunya dahulu punya usaha jual beli emas. Namun, takdir mengubah semuanya dalam sekejap.
Saat Mida masih remaja, kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil. Dalam semalam, ia kehilangan tempat bersandar. Sejak saat itu, Mida diasuh oleh bibinya, yang tak lain adalah ibu dari Joni. Sebagai keluarga dekat, bibinya merawat Mida hingga menyelesaikan pendidikan SMA.
Mida tumbuh sebagai gadis yang penurut. Ketika bibinya mengusulkan agar ia menikah dengan Joni, sepupunya sendiri, Mida tidak banyak bertanya. Ia percaya bahwa bibinya menginginkan yang terbaik untuk dirinya.
Pernikahan itu pun berlangsung sederhana. Namun, kebahagiaan yang diharapkannya tak pernah benar-benar datang. Belum genap sebulan menjadi suami istri, Mida mengetahui bahwa Joni berselingkuh. Ia memilih memaafkan. Ia berharap suaminya berubah. Tetapi perselingkuhan itu terus berulang. Setiap kali Mida menangis dan mengadu kepada mertuanya, yang ia terima justru tuduhan.
"Kalau suamimu cari perempuan lain, berarti ada yang kurang dari dirimu."
"Jadi istri itu harus bisa melayani suami."
"Jangan salahkan Joni terus. Introspeksi dirimu sendiri."
Kalimat-kalimat itu terus menghantam batin Mida. Apa pun yang dilakukan Joni, kesalahan selalu dibebankan kepadanya.
Puncaknya terjadi ketika Joni menghamili perempuan lain. Tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Pernikahan yang bahkan belum lama dibangun itu akhirnya berakhir di meja perceraian. Ironisnya, saat perceraian itu terjadi, Mida sedang mengandung Harapan. Ia harus menerima kenyataan menjadi ibu hamil sekaligus perempuan yang ditinggalkan suaminya.
Setelah perceraian, Mida tidak lagi merasa memiliki tempat di rumah yang dahulu dibangun oleh kedua orang tuanya. Rumah itu perlahan dikuasai oleh keluarga bibinya. Tanpa pertengkaran besar dan tanpa kata-kata kasar, Mida dibuat merasa bahwa ia bukan lagi bagian dari rumah tersebut.
Akhirnya, ia memilih pergi. Di atas sebidang tanah bekas kebun milik almarhum orang tuanya, tak jauh dari rumah besar yang dulu menjadi tempat ia dibesarkan, Mida mendirikan sebuah gubuk sederhana. Di sanalah ia melahirkan Harapan. Di sanalah ia membesarkan putra semata wayangnya dengan bekerja sebagai buruh pabrik tahu. Dan di sanalah pula, bertahun-tahun kemudian, ia menangisi kehilangan anak yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Tak ada yang tersisa dari kekayaan masa lalunya selain sebidang tanah kecil dan kenangan. Tetapi satu hal yang tak pernah bisa dirampas siapa pun darinya adalah kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.