NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18 jalan ketiga

Pena hitam itu melayang tepat di depan Alea ujungnya meneteskan tinta merah ke atas halaman kosong.

Tik...

Tik...

Setiap tetes tinta yang jatuh membentuk bayangan wajah Maya, Rio, dan korban-korban lainnya.

Semuanya memandang Alea.Menunggu.

"Lea... jangan..." bisik Naya sambil menggenggam tangannya.

"Kalau kamu tanda tangan..."

"Kamu nggak akan bisa keluar dari sini."

Keanu mengangguk.

"Kita cari cara lain."

Namun Rio justru menggeleng pelan.

"Ada."

Semua langsung menoleh kepadanya.

"Ada satu cara lagi."

Harapan kembali muncul di wajah mereka.

"Cara apa?" tanya Alea cepat.

Rio menatap Buku Perjanjian.

"Dulu... sebelum perjanjian dibuat..."

"...ada tiga pilihan."

"Pilihan pertama."

"Menyerahkan enam jiwa."

"Itulah yang dilakukan Surya Adinata."

"Pilihan kedua."

"Menjadi Penjaga."

"Itu sebabnya perjanjian bisa terus berlangsung."

Rio menarik napas panjang.

"Lalu..."

"...ada pilihan ketiga."

Semua menunggu dengan tegang Rio menatap langsung ke arah Alea.

«"Semua nama yang tertulis harus menolak perjanjian bersama."»

Alea mengernyit.

"Maksudnya?"

"Satu orang saja menerima perjanjian..."

"...kutukan tetap hidup."

"Tapi kalau semua orang yang namanya tertulis menolak..."

"...perjanjian akan kehilangan kekuatannya."

Pak Bima membelalak.

"Selama ini..."

"...aku tidak pernah tahu ada aturan itu."

Rio tersenyum tipis.

"Karena halaman terakhir buku ini disembunyikan."

Mira segera membalik halaman paling belakang

Benar saja Ada satu lembar yang saling menempel Saat dibuka perlahan, muncul tulisan yang sudah hampir pudar.

«'Kutukan hanya hidup karena manusia memilih takut. Jika semua yang dipilih menolak menjadi korban, maka Penjaga akan kehilangan haknya.'»

Resepsionis tua yang sejak tadi diam mendadak berteriak.

"TIDAK!"

Wajahnya berubah penuh amarah.

"Asal kalian tahu..."

"...belum pernah ada yang berani menolak!"

Makhluk bermata merah yang berdiri di sudut ruangan mulai bergerak.Bayangan hitam memenuhi seluruh ruang fondasi.

Suara beratnya menggema.

«**"Pilih..."»

«"Atau..."»

«"Musnah..."»

Jam hitung mundur di Buku Hitam berbunyi.

00:09:59Tinggal sepuluh menit.

Keanu melangkah maju.

"Aku menolak."

Naya menyusul.

"Aku juga."

Dimas mengangkat kepalanya.

"Aku nggak mau hidup dengan mengorbankan orang lain."

Liora tersenyum meski air matanya jatuh.

"Aku ikut."

Raka memandang nama Rio yang masih tertulis di buku.

"Kak..."

"Aku akan menyelesaikan apa yang dulu gagal kamu lakukan."

Ia menatap makhluk bermata merah.

"Aku menolak."

Kini hanya tersisa Alea Semua mata tertuju padanya.Makhluk itu mengulurkan tangan hitamnya Pena tua masih melayang di hadapan Alea.

Ruangan menjadi sunyi.Alea menarik napas panjang.

Lalu...

Ia mengambil pena itu.

Namun bukan untuk menandatangani.

Melainkan menuliskan satu kata besar tepat di atas halaman perjanjian.

"MENOLAK."

Begitu tinta itu selesai ditulis...

Seluruh Hotel Karunia berguncang hebat.

Retakan muncul di setiap dinding.

Patung tanpa wajah di belakang mereka mulai hancur berkeping-keping.

Makhluk bermata merah mengeluarkan raungan yang menggetarkan seluruh ruangan.

«"KALIAN MELANGGAR PERJANJIAN!"»

Dan untuk pertama kalinya...

Rasa takut terlihat di mata makhluk itu.

Raungan makhluk bermata merah mengguncang seluruh Ruang Fondasi.

Dum!

Langit-langit mulai runtuh. Batu-batu besar berjatuhan di segala arah.

Namun, berbeda dari sebelumnya...

Kali ini yang hancur bukan hanya ruangan itu.

Seluruh Hotel Karunia ikut bergetar.

Lampu-lampu padam.

Koridor berubah retak.

Jam tua yang selalu berhenti di pukul 00.13 akhirnya kembali berdetak.

Tik...

Tik...

Tik...

Mira menatap jam itu dengan mata berkaca-kaca.

"...Berhasil."

Makhluk bermata merah mengangkat kedua tangannya.

Bayangan hitam menyelimuti seluruh ruangan.

«"Perjanjian... tidak... bisa... dihancurkan..."»

«"Aku... akan... memilih... lagi..."»

Namun sebelum bayangan itu mencapai mereka, Rio melangkah maju.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tubuhnya tidak lagi dipenuhi luka bakar.

Seragamnya kembali bersih.

Wajahnya tampak damai.

"Sudah cukup."

Maya, Doni, Sinta, Arga, Niko, dan Mira berdiri di samping Rio.

Mereka saling menggenggam tangan.

Cahaya putih mulai memancar dari tubuh mereka.

Resepsionis tua memandang mereka dengan mata berkaca-kaca.

"Akhirnya..."

"...aku bisa berhenti."

Alea terkejut.

"Bukannya kamu ingin mengorbankan kami?"

Resepsionis menggeleng pelan.

"Aku memang terlihat seperti musuh."

"Tapi tugasku hanyalah menjaga agar perjanjian tetap berjalan."

"Selama puluhan tahun..."

"...aku juga terjebak."

Ia tersenyum untuk pertama kalinya tanpa rasa menyeramkan.

"Terima kasih..."

"...karena berani melakukan apa yang tidak pernah bisa kami lakukan."

Tubuh resepsionis perlahan berubah menjadi cahaya.

Lalu menghilang bersama hembusan angin.

Makhluk bermata merah meraung marah.

«"PENGKHIANAT!"»

Namun tubuhnya mulai retak.

Satu demi satu.

Seperti patung yang kehilangan kekuatan.

Retakan itu memancarkan cahaya putih dari dalam.

Rio menoleh kepada Raka.

Adiknya.

Meski mereka tak pernah benar-benar hidup bersama.

Raka tersenyum dengan mata yang basah.

"Kak..."

Rio membalas senyum itu.

"Terima kasih..."

"...karena sudah menyelesaikan apa yang tidak bisa aku selesaikan."

Rio mengulurkan tangannya.

Raka menggenggamnya.

Untuk sesaat...

Ia benar-benar merasakan kehangatan tangan sang kakak.

Bukan dingin seperti arwah.

Melainkan hangat...

Seperti keluarga yang akhirnya bertemu.

Rio melepaskan genggamannya.

"Ayah pasti bangga padamu."

Air mata Raka jatuh tanpa bisa ditahan.

Perlahan, tubuh Rio berubah menjadi ribuan cahaya kecil.

Maya dan teman-temannya ikut tersenyum.

"Selamat tinggal..."

bisik Maya kepada Alea.

"Terima kasih karena sudah mendengarkan kami."

Satu per satu mereka menghilang.

Bersama cahaya yang memenuhi seluruh Ruang Fondasi.

Makhluk bermata merah mengeluarkan raungan terakhirnya.

Lalu...

PRANG!

Tubuhnya hancur menjadi debu hitam yang tersapu cahaya.

Keheningan pun menyelimuti ruangan.

Hotel berhenti berguncang.

Jam kembali menunjukkan waktu yang sebenarnya.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...

Tidak ada lagi bisikan.

Tidak ada lagi langkah kaki misterius.

Dan tidak ada lagi suara lift yang berbunyi sendiri.

Kutukan Hotel Karunia...

Akhirnya runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!