Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Sore di Markas Komando EOD Pusat tidak pernah benar-benar hening. Di tanah seluas puluhan hektar yang dikelilingi pagar kawat bertekanan tinggi dan benteng beton tebal itu, udara selalu beraroma khas: perpaduan antara tanah basah sisa hujan, residu oli mesin kendaraan taktis, oli pelumas senjata, serta aroma samar belerang yang seolah telah menyatu dengan debu lapangan.
"Satu! Dua! Tiga! Empat!"
Hitungan bersahut-sahutan memecah keheningan sore di lapangan apel utama.
Suara itu lantang, keluar dari tenggorokan belasan personel berpakaian dinas lapangan (PDL) taktikal yang basah kuyup oleh keringat.
Di samping mereka, beberapa ekor anjing pelacak jenis Belgian Malinois dan German Shepherd berlari sejajar dengan tali penuntun yang terentang tegang. Derap langkah sepatu bot tempur yang menghantam tanah keras berpadu simetris dengan hembusan napas berat para personel dan gonggongan tegas para satwa pelacak yang terlatih mendeteksi material peledak.
Dari tribun kayu beratap seng di pinggir lapangan—posisi favoritnya untuk mengamati dinamika markas—Cherry duduk bersandar. Kakinya yang mengenakan bot hitam disilangkan santai, sementara tangannya menggenggam sebungkus minuman dingin yang berembun. Matanya yang tajam dan terlatih menyapu setiap jengkal area markas.
Markas Komando EOD Pusat sore ini terasa sangat hidup dan berdenyut penuh realitas.
Di seberang lapangan, dua unit kendaraan khusus antipeluru berspesifikasi penjinak bom bertuliskan EOD Unit sedang terparkir dengan pintu belakang terbuka, memperlihatkan para teknisi yang sedang melakukan kalibrasi rutin pada lengan robot pemotong kabel.
Di sudut lain, beberapa prajurit muda tampak sibuk memindahkan peti-peti kayu berlabel bahaya ledakan menuju gudang amunisi bawah tanah, sementara sirene penguji sirkuit keamanan meraung singkat tiga kali di kejauhan sebelum akhirnya kembali senyap.
Bagi orang awam, tempat ini mungkin tampak intimidatif dan penuh ketegangan. Namun bagi Cherry, tempat ini adalah rumah second-nature di mana setiap detail memiliki prosedur operasional standar yang pasti.
"Perhatian! Seluruh regu... BERKUMPUL!"
Suara bariton yang membahana menggelegar dari tengah lapangan. Kapten yang memimpin latihan fisik sore itu berdiri tegak dengan peluit berkilat tergantung di lehernya.
Senja mulai mengikis warna biru langit, menggantinya dengan semburat oranye tua yang menimpa wajah-wajah tegas para prajurit.
Dengan sigap, belasan personel berpakaian taktikal bersama anjing pelacak mereka langsung membentuk barisan bersaf yang presisi hanya dalam hitungan detik. Napas mereka masih memburu, tetapi postur tubuh mereka berdiri tegak lurus bagai tiang baja.
Kapten melangkah maju dua langkah, menyapu pandangannya ke seluruh barisan sebelum akhirnya mengarahkan pandangan sesaat ke arah tribun tempat Cherry duduk, memberi anggukan kecil penuh hormat yang dibalas Cherry dengan sentuhan jari manis ke ujung alisnya secara informal.
"Dengar semuanya!" Kapten memulai instruksi dengan nada suara mantap yang bergema di seluruh penjuru lapangan. "Mulai besok pagi-pagi sekali, markas ini akan membuka gerbangnya. Kita akan menyambut 35 orang warga sipil terpilih yang telah lolos seleksi ketat untuk mengikuti Program Pelatihan Tanggap Darurat dan Pengenalan Ancaman Bahan Peledak!"
Beberapa prajurit di barisan tampak menegakkan bahu mereka lebih tinggi.
"Selama dua bulan ke depan, kalian bukan hanya prajurit lapangan, tapi juga bertindak sebagai pengawas, mentor, dan pelindung mereka!" lanjut Sang Kapten, menyusuri barisan.
"Ingat prinsip dasar yang harus ditancapkan ke kepala mereka sejak detik pertama mereka melangkah melewati gerbang utama: KENALI, JAUHI, LAPORKAN UNTUK EVAKUASI! Tiga kata itu adalah doktrin hidup mati bagi warga awam di medan konflik maupun situasi darurat sipil."
Cherry yang mendengarkan dengan seksama dari tempat duduknya tersenyum tipis. Setiap tahun, Markas Komando EOD Pusat memang selalu menyelenggarakan simulasi dan pelatihan darurat ini.
Ini adalah agenda tahunan yang krusial untuk menjembatani protokol militer dengan kesadaran masyarakat awam. Dan biasanya, Cherry adalah salah satu figur kunci yang sangat andil dalam penyusunan kurikulum simulasi, pengujian skenario lapangan, hingga menjadi penanggung jawab taktis pengawasan materi pelatihan.
Membayangkan 35 warga sipil berpakaian seragam khusus yang akan kebingungan menghadapi disiplin militer besok pagi selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Cherry.
Warga sipil biasanya terdiri dari perwakilan akademisi, jurnalis lapangan, relawan kemanusiaan, atau pejabat dinas pemadam kebakaran yang membutuhkan sertifikasi keselamatan tingkat tinggi.
Kapten masih melanjutkan penjelasannya di lapangan, merinci divisi kerja untuk penyambutan besok pagi, saat tiba-tiba—
BZZZZT... BZZZZT... BZZZZT...
Saku celana taktikal Cherry bergetar tajam. Berulang kali tanpa henti.
Cherry mengernyitkan alis. Jarang sekali ada yang menghubunginya berkali-kali secara beruntun di jam-jam seperti ini, kecuali jika ada panggilan darurat atau... pesan dari seseorang yang terlalu bersemangat sampai lupa tata krama pengiriman pesan.
Cherry merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel pintarnya. Layar ponsel yang menyala terang memperlihatkan puluhan notifikasi masuk dari satu nama yang sangat ia kenal: Svea.
Svea: CHERRY!!!!!!
Svea: CHERRY BUKA PESAN INI SEKARANG JUGA OMFG!!!!
Svea: AKU NGGAK BISA NAPASSS!!!
Svea: KAU HARUS TAHU APA YANG BARU SAJA TERJADI!!!!
Svea: EMAIL PENGUMUMANNYA UDAH MASUK!!!!! 😭😭😭🔥🔥🔥
Cherry menggelengkan kepala melihat deretan huruf kapital dan emoji yang memenuhi layarnya. Ia menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sandaran tribun kayu, menempelkan ponsel ke telinganya ketika panggilan telepon dari Svea langsung masuk sebelum ia sempat membalas satu pun pesan teks tersebut.
"Cherry!" Suara jeritan penuh kehebohan langsung menyengat gendang telinga Cherry bahkan sebelum ia sempat mengucapkan kata 'Halo'.
"Svea, pelankan suaramu. Aku sedang di tribun lapangan markas," tegur Cherry santai, walau sudut bibirnya terangkat geli. "Ada apa? Kau berteriak seperti baru saja memenangkan lotere sepuluh juta dolar."
"Ini lebih dari lotere, Cher! Lebih dari segalanya!" dengus Svea di ujung telepon, terdengar suara napasnya yang memburu karena terlalu heboh. "Coba tebak siapa yang baru saja dapat email konfirmasi penerimaan untuk Program Pelatihan Tanggap Darurat EOD Pusat buat 35 warga sipil besok pagi?!"
Cherry terpaku sejenak. Tangannya yang memegang ponsel berhenti bergerak. Matanya otomatis terlempar kembali ke arah Kapten di tengah lapangan yang baru saja menyelesaikan kalimatnya tentang 35 warga sipil.
"Tunggu..." Cherry mengarahkan pandangannya ke langit sore. "...kau mendaftar program itu?"
"BUKAN CUMA GUE, CHER! BUKAN CUMA GUE!" jerit Svea makin histeris dari balik telepon. Suara latar belakang di telepon Svea terdengar riuh, diselingi suara helatan napas panjang dan erangan frustrasi seseorang yang sangat familiar bagi Cherry.
"Jangan bilang..." Cherry mulai bisa menebak arah kekacauan ini.
"IYA! GUE DAFTARIN ALESSIA JUGA!" seru Svea penuh kemenangan. "Gue berhasil nyelipin nama kita berdua di menit-menit terakhir pendaftaran! Dan tadi jam lima sore email resminya masuk! Nama kita berdua ada di daftar 35 peserta terpilih dari Seratusan pendaftar! KITA MASUK, CHER! BISA IMAGINE NGGAK sih, dua bulan ke depan gue bakal latihan di markas militer tempat kau bertugas?!"
Di balik sambungan telepon, Cherry bisa mendengar suara latar yang samar namun jelas—suara Alessia yang terdengar sangat murung dan putus asa.
"Svea... tolong katakan ini cuma mimpi buruk..." terdengar suara Alessia yang lemas di latar belakang. "Dua bulan di markas militer? Bangun jam empat pagi? Latihan fisik di bawah terik matahari? Svea, aku ini desainer, bukan calon tentara! Kenapa kamu tega menyeretku ke tempat seperti itu..."
"Diem deh, Ale!" balas Svea di telepon, suaranya agak menjauh sebentar dari mikrofon saat berbicara pada Alessia. "Ini demi pengalaman hidup! Demi kesehatan jasmani dan rohani! Lagipula ada Cherry di sana! Kita bakal aman dan keren banget kalau punya sertifikasi tanggap darurat militer!"
Cherry tidak bisa menahan tawa kecilnya yang akhirnya pecah. Ia memijat pangkal hidungnya, membayangkan wajah Alessia yang pastinya sedang pucat pasrah dengan mata sembab karena terus-menerus dirayu dan dipaksa oleh Svea yang berenergi tanpa batas.
Alessia—sosok yang anggun, lebih suka duduk di studio ber-AC dengan segelas teh chamomile sambil merancang sketsa kain—kini harus bersiap menghadapi debu markas, lari pagi di bawah instruksi pelatih berwajah garang, dan belajar membedakan kabel detonator di bawah terik matahari sore.
"Svea," panggil Cherry dengan nada suara yang mencoba terdengar tegas meski rasa geli menguasai dirinya. "Kau tahu kan pelatihan ini bukan sekadar kemah musim panas? Kapten dan tim pengawas tidak akan membedakan kalian dari peserta lain. Kalian akan lari di lapangan yang sedang kukandangi ini, merayap di lumpur, dan mendengarkan sirene simulasi pukul tiga pagi."
"I know, I know! Dan itu bakal seru banget!" sahut Svea tanpa keraguan sedikit pun. "Lagipula, Alessia butuh keluar dari zona nyamannya. Dia terlalu banyak mengurung diri di studio akhir-akhir ini. Anggap saja ini retreat ekstrem buat kita bertiga!"
Dari seberang telepon, suara Alessia terdengar lagi, kali ini lebih dekat karena tampaknya ia merebut ponsel dari tangan Svea.
"Cherry..." panggil Alessia dengan nada suara yang begitu pasrah, lirih, dan dipenuhi permohonan kemurahan hati. "Tolong katakan padaku kalau kamu bisa membatalkan kelulusanku... Atau setidaknya beritahu aku kalau di sana ada fasilitas AC dan spa..."
Cherry terkekeh pelan. "Tidak ada AC di barak peserta, Ale. Yang ada hanya kipas angin gantung tua yang berdecit dan tempat tidur lipat lapangan. Dan fasilitas spa terbaik di sini adalah mandi air dingin dari padasan setelah lari lima kilometer."
Terdengar helaan napas berat dan erangan dramatis dari Alessia. "Svea benar-benar ingin membunuhku secara perlahan..." gumamnya murung.
"Tapi," lanjut Cherry dengan nada suara yang melembut, menyuntikkan rasa hangat di tengah lelucon mereka, "kalian berdua akan baik-baik saja. Aku yang akan memastikan kalian tidak pingsan di hari pertama. Tapi ingat, di lapangan nanti, aku adalah instruktur kalian. Tidak ada perlakuan khusus di depan peserta lain."
"Siap, Komandan!" jawab Svea yang kembali merebut teleponnya dari Alessia, terdengar sangat bangga dan antusias. "Sampai ketemu besok pagi jam enam tepat di gerbang utama Markas EOD Pusat! Jangan lupa siapkan sarapan terbaik buat sahabat-sahabat tersayangmu ini!"
"Datanglah tepat waktu. Kalau terlambat satu menit saja, Kapten akan menyuruh kalian melakukan push-up lima puluh kali di atas tanah berdebu ini," ancam Cherry bercanda.
...°°°...
Panggilan telepon akhirnya terputus setelah Svea memberikan jeritan antusias terakhirnya dan Alessia yang kembali meratapi nasibnya di latar belakang.
Cherry menurunkan ponselnya, menggenggamnya erat sembari menatap ke arah lapangan utama. Di sana, Kapten baru saja membubarkan barisan prajurit. Para personel mulai melangkah bubar, beberapa menuntun anjing pelacak mereka menuju kandang khusus, sementara yang lain saling menepuk bahu sembari tertawa kecil menyapu keringat di dahi.
Matahari kini telah tenggelam sepenuhnya di balik garis cakrawala, meninggalkan bayangan panjang di atas tanah markas EOD yang luas. Angin sore berhembus cukup kencang, menerbangkan sedikit debu di lapangan dan mengibarkan bendera lambang Komando EOD yang berkibar gagah di tiang utama.
Cherry tersenyum tipis, menatap lapangan kosong tempat derap langkah dan hitungan ketat baru saja bergemuruh.
Besok pagi, suasana tempat ini tidak akan lagi sama. Kehadiran 35 warga sipil—terutama dengan adanya kehebohan tak terduga dari Svea dan kepasrahan murung dari Alessia—akan membawa warna yang benar-benar baru di tengah kerasnya dinding-dinding beton dan benteng baja Markas Komando EOD Pusat.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, menghabiskan sisa minuman dingin di tangannya, lalu berdiri tegak. Dua bulan ke depan dipastikan tidak akan pernah membosankan.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua