Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roti Keju dan Perut yang Berkhianat
Rama tidak menunjukkan riak wajah terkejut yang berlebihan. Dia menatap buku bersampul kulit itu, lalu mendongak menatap Naira dengan tatapan yang tak kalah datar dan lempeng.
"Ya. Oke," jawab Rama singkat, lalu kembali menatap buku catatannya sendiri.
Naira melotot kecil. Rahangnya agak mengeras."Cuma 'ya, oke'?" Dia sudah membuang gengsinya untuk datang ke meja cowok ini duluan, dan respons yang dia dapat cuma dua kata kaku seperti robot?
"Cuma 'ya, oke'?" tagih Naira, suaranya naik satu oktav, membuat satu-dua anak kelas yang baru masuk langsung menoleh kepo.
Rama mendongak lagi, dahi sebelah kirinya terangkat. "Terus? Kamu maunya aku bilang apa? Terima kasih?"
Naira mendengus sebal, tangannya terlipat di dada. "Di dalam buku itu, aku sudah tulis sanggahan untuk analisis Bab 3-mu. Dan asal kamu tahu, aku pakai referensi dari jurnal ekonomi berbayar milik kampus kakakku. Jadi data kamu yang katanya 'riil lapangan' itu, bisa jadi sudah kedaluwarsa."
Rama terdiam sejenak. Dia menarik buku hitam milik Naira, membukanya perlahan. Di lembar pertama, dia menemukan tulisan tangan yang sangat rapi, menggunakan pulpen gel berwarna gelatik. Memang ada kritik tajam di sana, tapi di bawahnya, Naira menambahkan tabel data baru yang sangat akurat.
Melihat itu, sudut bibir Rama tanpa sadar berkedut. Ada binar ketertarikan di matanya yang mengantuk. "Analisis yang bagus. Ternyata kamu gak cuma jago bayar orang."
"Kamu—" Kalimat tajam Naira terputus saat tiba-tiba perut Rama mengeluarkan suara yang sangat nyaring.
Kruuuuukkk~
Suara itu bergema cukup jelas di sudut meja mereka yang sepi. Suasana mendadak hening.
Rama langsung terdiam kaku. Wajahnya yang biasanya tenang dan sedingin es, perlahan berubah warna jadi merah padam sampai ke telinga. Dia refleks memegang perutnya yang mendadak berkhianat di momen paling tidak tepat.
Naira paku di tempat. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, menatap perut Rama, lalu menatap wajah cowok itu yang sekarang kelihatan super salah tingkah. Detik berikutnya, sudut bibir Naira berkedut, menahan tawa yang hampir meledak.
"Kamu... belum sarapan?" tanya Naira, nadanya berubah dari ketus jadi setengah geli.
Rama berdeham berat, mencoba mengembalikan harga dirinya yang baru saja runtuh berkeping-keping di depan anak kasta atas. "Motor saya mogok tadi subuh. Harus dorong dua ratus meter sampai bengkel. Gak sempat."
Naira menahan senyumnya, tapi matanya gak bisa bohong kalau dia merasa adegan ini lucu sekaligus ajaib. Cowok yang semalam mengiriminya analisis ekonomi super jenius dan sok keren, sekarang kelaparan sampai perutnya konser di depannya.
Namun, rasa geli di hati Naira perlahan surut, digantikan oleh jepitan kecil yang menyentuh hatinya saat melihat seragam Rama yang agak lecek di bagian lengan bekas keringat mendorong motor. Di saat dia sendiri melewatkan sarapan mewah di rumahnya karena malas melihat orang tuanya adu mulut, cowok di depannya ini melewatkan sarapan karena benar-benar harus berjuang fisik demi bisa sampai ke sekolah tepat waktu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Naira berbalik menuju mejanya. Rama mengira gadis itu pergi karena ilfil atau mau menertawakannya di depan gengnya. Rama hanya bisa mengembus napas pasrah, merutuki perutnya sendiri.
Tapi dua menit kemudian, sebotol susu kotak rasa cokelat dingin dan sebuah roti isi keju premium yang masih terbungkus rapi mendarat di atas meja Rama. Di samping buku hitam tadi.
Rama mendongak, bingung.
Naira sudah kembali berdiri di sana, mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis, berpura-pura tidak peduli dengan pipi yang agak merona merah.
"Gak usah geer," potong Naira cepat sebelum Rama sempat membuka mulut. "Aku cuma gak mau nilai kelompok kita jelek gara-gara otak kamu gak berfungsi karena kelaparan. Makan aja, itu... tadi kelebihan dibeliin sama supirku."
Rama memandangi roti mahal itu, lalu menatap Naira. Di balik sikap ketus dan tameng dinding es yang dipasang gadis itu, Rama tahu, ini adalah cara Naira berterima kasih dengan caranya sendiri. Cara anak kaya yang gengsian, tapi punya hati.
Rama menarik makanan itu, lalu mengangguk tipis dengan senyum kecil yang tulus senyum pertama yang Naira lihat dari cowok itu.
"Makasih. Nanti jam istirahat, aku ganti uang rotinya."
"Gak usah!" sahut Naira ketus, berbalik cepat menuju bangkunya sendiri.
Rama menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, membuka bungkus roti itu dengan perasaan yang mendadak terasa sedikit lebih ringan daripada tadi subuh. Di barisan depan, Naira duduk sambil menyembunyikan wajahnya di balik buku paket, merutuki jantungnya yang mendadak berdegup kencang. "Ihh, apaan sih, Naira! Kenapa juga harus ngasih roti ke dia?!"