NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

****

Tiga purnama sejak panen raya berlalu, namun gema dari pendopo agung masih membekas di benak setiap jalma di perbukitan Joglo. Posisi Larasati sebagai seorang permaisuri telah dikukuhkan oleh wibawa mutlak Raden Mas Baskoro. Kendati demikian, desas-desus jahat tidak pernah benar-benar mati; mereka hanya mengendap seperti lumpur di dasar kolam, menunggu pusaran air untuk naik kembali ke permukaan.

Pagi itu, langit distrik kota tampak benderang, menghalau hawa dingin yang biasanya mencengkeram pegunungan. Deretan pedati yang membawa karung-karung beras kualitas terbaik dari lumbung joglo berbaris rapi di depan los pasar utama. Untuk pertama kalinya, Baskoro mempercayakan Larasati untuk mengawal langsung distribusi hasil bumi ke saudagar besar kota distrik, didampingi oleh Mbok Sum serta dua pengawal setianya, Sentot dan darmo.

Larasati melangkah anggun di selasar los pasar yang riuh. Kebaya katun halus sewarna madu dan kain jarik latar putih membuatnya tampak menonjol di antara hiruk-pikuk kuli dan pedagang. Gelang emas pahat melati di pergelangan tangannya berkilau diterpa cahaya matahari pagi, menjadi penanda kasta yang tak terbantahkan.

"Gusti Nyai, urusan timbangan dengan saudagar tiongkok sudah selesai," lapor Sentot sambil membungkuk takzim. "Apakah Anda ingin beristirahat di kereta, atau membeli beberapa rempah wewangian terlebih dahulu?"

Larasati tersenyum lembut. "Kita berjalan-jalan sebentar di los gerabah, Sentot. Aku ingin melihat tempayan baru untuk menyimpan beras di dapur dalam."

"Sendika dawuh, Gusti," jawab Sentot, sementara matanya dan mata Darmo tetap awas mengamati sekeliling.

Namun, jagat sedemikian sempit bagi masa lalu. Saat Larasati sedang memilah cawan dan tempayan tanah liat di sebuah los yang agak sepi di sudut pasar, sebuah bayangan melangkah memotong jalannya. Seorang pemuda bertubuh tegap dengan pakaian lurik lusuh khas pengrajin desa berdiri mematung di depannya. Tangan pemuda itu kotor oleh bekas tanah liat kering, dan di pundaknya tergantung sebuah bakul jinjing.

Jantung Larasati serasa berhenti berdetak selama satu ketukan. Pria itu adalah Bagus.

Sepasang mata pemuda itu menatap Larasati dengan campuran rasa rindu yang teramat dalam, perih, dan ketidakpercayaan yang membakar. Selama berbulan-bulan, Bagus mengira gadis yang dicintainya hidup menderita di bawah cengkeraman juragan kaku penguasa bukit. Namun melihat Larasati yang kini begitu mulia, dibalut kain sutra halus dengan perhiasan emas, hati Bagus teriris oleh kenyataan yang membingungkan.

"Laras..." bisik Bagus. Suaranya bergetar, parau, dan sarat akan luka lama yang mendadak terkoyak kembali. "Apakah ini benar-benar kamu, Nduk?"

Larasati refleks mundur satu langkah, mencengkeram selendang sutranya. Kehadiran Bagus membangkitkan ingatan tentang selendang hijau yang telah terbakar menjadi abu kelabu, namun tidak ada lagi getaran asmara di dadanya. Yang tersisa hanyalah rasa canggung dan rasa sungkan yang besar.

"Kang Bagus..." ucap Larasati. Suaranya diusahakan tetap tenang, datar, dan menjaga jarak. "Apa yang kamu lakukan di kota distrik?"

Sebelum Bagus sempat menjawab, Sentot dan Darmo langsung melangkah maju, meletakkan tangan mereka di atas hulu keris di pinggang masing-masing. "Gusti Nyai, siapa pemuda lancang ini? Menjauhlah darinya," tegur Sentot dengan tatapan mata yang menghunus tajam ke arah Bagus.

"Tunggu, Sentot, Darmo. Jangan kasar," potong Larasati cepat, menahan kedua pengawalnya. "Dia... dia hanya warga dari desaku dulu. Biarkan aku berbicara dengannya sebentar."

Bagus menatap kedua pengawal itu dengan tatapan menantang, sebelum kembali menatap Larasati. Ia melangkah maju satu tindakan, mengabaikan peringatan. "Laras, ikut aku sekarang. Gubuk di desa masih menantimu. Aku tahu kamu dipaksa... aku tahu kamu dijadikan tebusan oleh juragan tua itu! Rumah besar di atas bukit itu adalah penjara untukmu, Laras. Kembalilah bersamaku, kita bisa pergi jauh dari distrik ini!"

Mendengar ajakan yang berani itu, wajah Larasati berubah serius. Ia tidak lagi melihat Bagus sebagai masa lalunya yang indah, melainkan sebagai ancaman nyata bagi kedamaian rumah tangga yang baru saja ia bangun dengan Mas Baskoro.

"Cukup, Kang Bagus!" ucap Larasati tegas, suaranya meninggi satu nada, penuh dengan wibawa seorang Nyai yang sesungguhnya. "Jangan melontarkan kalimat yang bisa mencelakai dirimu sendiri. Aku bukan lagi Laras kecil yang bermain di sungai desa. Tempatku adalah di rumah joglo, di sisi suamiku, Raden Mas Baskoro."

Bagus tertegun, matanya menatap tak percaya ke arah gelang melati di tangan Larasati. "Kamu... kamu sudah melupakanku, Laras? Hanya karena kemewahan sutra dan emas ini? Apakah juragan tua itu telah membeli hatimu juga?"

"Mas Baskoro tidak pernah membeli hatiku, Kang!" balas Larasati dengan tatapan mata yang lurus dan berani. "Dia melindungiku, menghormatiku, dan memberikan kedudukan yang mulia. Hatiku sudah berada di sana, di bawah atap jati yang sah. Pulanglah ke desa, Kang. Carilah kehidupanmu sendiri, dan jangan pernah temui aku lagi."

Larasati berbalik dengan cepat, mengibaskan selendangnya. "Sentot, Darmo, mari kita kembali ke kereta. Urusan kita di sini sudah selesai."

Bagus hanya bisa berdiri mematung di tengah lorong los gerabah yang sepi, menatap punggung Larasati yang berjalan menjauh tanpa menoleh lagi sedikit pun. Namun, di sudut pilar kayu los pasar, mata Darmo berkilat aneh. Darmo adalah pengawal yang diam-diam berkerabat dengan mendiang Mandor Suro yang telah diusir Baskoro. Sebuah niat busuk mendadak melintas di benak Darmo untuk membalas dendam dengan menggunakan momen ini.

Malam harinya, hujan badai kembali mengguyur perbukitan Joglo. Di dalam ruang kerja utama yang luas, Raden Mas Baskoro duduk di belakang meja jati besarnya. Di bawah temaram lampu teplok, wajah kaku juragan itu tampak sangat mengerikan. Rahangnya mengeras sekeras batu, dan tangannya mencengkeram hulu keris pusakanya hingga buku jarinya memutih.

Darmo berdiri setengah bersujud di depan meja, memberikan laporan dengan bibir yang diracik penuh racun hasutan.

"Nyuwun sewu, Raden Mas... hamba terpaksa melaporkan ini demi kehormatan Anda," ucap Darmo dengan suara yang dibuat-buat gemetar ketakutan. "Sore tadi di pasar distrik, Gusti Nyai Larasati diam-diam menemui pemuda desa bernama Bagus di los terpencil. Pemuda itu memegang tangan Gusti Nyai, dan... dan hamba mendengar mereka berbisik-bisik merencanakan sesuatu untuk melarikan diri dari joglo ini. Gusti Nyai bahkan melarang kami mendekat."

BRAKKK!

Baskoro menghantam meja jati dengan telapak tangannya yang besar hingga cangkir kuningan di atasnya berdenting keras. Amarah yang luar biasa pekat membakar matanya. Luka masa kecilnya tentang pengkhianatan dan ketakutan akan kehilangan apa yang sudah menjadi miliknya mendadak bangkit kembali. Ego kelaki-lakiannya tercabik.

"Keluar!" bentak Baskoro dengan suara bariton yang menggelegar mengalahkan suara guntur di luar. "Jangan biarkan siapa pun masuk ke selasar ini!"

Darmo menjura dalam-dalam, menyembunyikan senyum liciknya, lalu mundur teratur dari ruangan.

Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja diketuk perlahan. Larasati masuk dengan membawa nampan berisi wedang jahe hangat, persis seperti kebiasaan barunya. Ia belum tahu tentang badai tersembunyi yang sedang menantinya. Namun begitu melangkah masuk, ia merasakan atmosfer ruangan yang begitu dingin dan mencekam, mengingatkannya pada malam pertama perkawinan mereka.

Baskoro tidak bangkit dari duduknya. Ia menatap Larasati dengan sorot mata yang menghunus tajam, sedingin es yang membekukan darah.

"Taruh wedang itu di sana, Larasati," ucap Baskoro. Suaranya teramat rendah, datar, namun sarat akan ancaman yang mematikan.

Larasati menaruh nampan itu dengan tangan yang mulai gemetar samar. "Mas Baskoro... ada apa? Wajah Anda tampak sangat lelah."

"Siapa yang kamu temui di pasar distrik sore tadi, Nyai Larasati?" tanya Baskoro langsung, tanpa basa-basi. Ia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Larasati dengan langkah lebar yang mengintimidasi, mengikis jarak di antara mereka hingga tubuh tinggi besarnya seolah menelan siluet kecil istrinya.

Larasati tertegun. Ia menyadari dari mana arah pembicaraan ini berasal. "Kulo... kulo mboten sengaja berpapasan dengan Kang Bagus di los gerabah, Mas. Hanya sebatas itu."

"Hanya sebatas itu?!" suara Baskoro naik satu nada, matanya berkilat murka. "Pengawal mendengarmu melarang mereka mendekat! Pemuda itu memegang tanganmu, dan kamu mendengarkan ajakannya untuk melarikan diri dari rumah ini! Apakah jiwamu masih tertinggal di sungai desa, Laras?! Apakah semua kelembutan dan penyatuan kita di ranjang jati semalam hanya sandiwara untuk menipuku?!"

Mendengar tuduhan keji itu, dada Larasati serasa dihantam sembilu. Namun, ia tidak lagi menangis ketakutan di sudut ranjang. Keberanian sebagai seorang Nyai yang sah kini telah mengalir di darahnya. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata Baskoro yang membara, menolak untuk tunduk pada fitnah.

"Mas Baskoro! Demi Gusti Allah dan demi abu selendang yang telah Anda bakar, demi noda merah di seprai sutra kita, kulo mboten pernah mengkhianati Anda!" ucap Larasati dengan suara yang lantang dan tegas, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya. "Kulo melarang pengawal mendekat karena kulo tidak ingin ada pertumpahan darah yang tidak perlu di pasar! Kulo menolaknya dengan keras, Mas! Kulo katakan padanya bahwa tempat kulo adalah di sini, di sisi Anda, sebagai istri sah dari Raden Mas Baskoro!"

Baskoro tertegun sesaat mendengar bantahan yang begitu berani dan sarat akan ketulusan yang murni dari bibir istrinya. Namun egonya masih terlanjur terbakar oleh hasutan Darmo. "Lalu kenapa Darmo mengatakan bahwa kamu merencanakan pelarian?!"

"Darmo berbohong, Mas!" Larasati melangkah maju, meraih tangan besar Baskoro yang kasar, lalu menempelkannya ke dadanya sendiri yang berdegup kencang. "Rasakan detak jantung kulo, Mas Baskoro. Apakah ini detak jantung seorang pengkhianat? Darmo adalah kerabat dari Mandor Suro yang Anda permalukan di pesta panen! Dia menggunakan masa lalu kulo untuk menghancurkan wibawa Anda dan memecah belah kita!"

Kalimat Larasati bagai siraman air es yang seketika memadamkan api murka di dada Baskoro. Pria paruh baya itu terpaku. Dipandanginya mata Larasati yang basah namun memancarkan kejujuran mutlak tanpa ada celah kebohongan. Akal sehatnya kembali pulih. Ia menyadari betapa bodohnya ia yang hampir kembali menjadi monster kejam karena hasutan picik dari luar.

Baskoro menarik napas dalam-dalam, lalu tangan besarnya berbalik menggenggam erat tangan kecil Larasati. Ia menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan dadanya yang bidang dengan teramat erat, seolah takut melepaskannya.

"Maafkan aku, Laras... maafkan aku..." bisik Baskoro parau di atas rambut Larasati, suaranya bergetar hebat oleh penyesalan yang mendalam. "Luka masa kecilku... ketakutanku akan kehilanganmu... membuatku buta sejenak."

Larasati membenamkan wajahnya di dada Baskoro, menangis pelan meluapkan seluruh sesak di dadanya. "Kulo sudah memilih Anda, Mas. Jangan pernah ragukan kulo lagi di rumah ini."

Baskoro melepaskan pelukannya sedikit, menatap tajam ke arah pintu luar. "Sentot! Seret Darmo ke pendopo dalam sekarang juga! Hukumlah dia sesuai hukum adat tanah joglo karena telah menebar fitnah keji pada Nyai!"

"Sendika dawuh, Raden Mas!" sahut suara Sentot dari balik selasar luar dengan tegas.

Malam itu, di tengah gemuruh badai yang mulai mereda di luar dinding jati, Baskoro menuntun Larasati kembali ke kamar utama mereka. Jalinan jemari mereka kian mengunci erat, membuktikan bahwa badai fitnah dari masa lalu tidak akan pernah bisa lagi meruntuhkan mahkota melati yang kini telah tertanam kokoh di atas bukit Joglo.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!