Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jimat yang Tak Pernah Dipercaya
...PEMBUKAAN...
Kereta lokal yang ditumpangi Keiko melaju pelan meninggalkan hiruk-pikuk Tokyo. Dari balik jendela, gedung-gedung tinggi yang saling berhimpitan perlahan berganti menjadi rumah-rumah pinggiran kota.
Semakin jauh perjalanan, pemandangan berubah menjadi hamparan sawah yang mulai menguning, aliran sungai kecil yang berkelok, dan pegunungan hijau yang seolah tak berujung.
Keiko menyandarkan kepala pada kaca jendela yang terasa dingin. Sudah hampir delapan tahun ia tidak kembali ke desa tempat ibunya dibesarkan.
Desa Tsukimori.
Sebuah desa kecil di kaki pegunungan Prefektur Nagano yang bahkan sulit ditemukan di peta jika tidak benar-benar mencarinya. Kereta hanya berhenti beberapa kali dalam sehari. Di musim dingin, salju dapat menutup hampir seluruh jalan desa, sementara saat musim semi bunga sakura memenuhi tepian sungai yang membelah pemukiman.
Tempat ini terkenal karena kuil-kuil kunonya, hutan cemara yang lebat, dan kepercayaan masyarakatnya terhadap Dewa Kucing. Bagi Keiko, semua itu tidak lebih dari cerita lama yang sengaja dipertahankan demi menarik wisatawan.
Ia menghela napas sambil memandangi pemandangan di balik jendela. "Kampung tetap saja kampung."
Dari balik jendela, Keiko melihat gerbang torii merah berdiri di tepi hutan. Tak jauh dari sana, sebuah patung kucing batu mengenakan kain merah di lehernya. Beberapa wisatawan berhenti untuk berfoto, sementara seorang pendeta tua menyapu halaman kuil.
Di kursi seberang, ibunya melirik tajam. "Jangan meremehkannya. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika."
Keiko hanya tersenyum tipis. Kalimat itu sudah terlalu sering didengarnya sejak kecil hingga tak lagi terdengar istimewa.
"Kamu masih membawa jimatnya, kan?"
Pertanyaan itu membuat Keiko mengerutkan dahi. "Ibu... serius?"
"Tentu serius."
Ibunya membuka tas tangan, lalu mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berwarna merah
"Pakai."
Keiko menerima jimat itu sambil memutar-mutarnya di antara jari. Kain merah tua itu terasa hangat karena baru saja keluar dari genggaman ibunya.
Sulaman benang emas berbentuk kepala kucing tampak sudah mulai memudar dimakan usia.
"Masih disimpan juga?"Keiko menerimanya dengan wajah enggan. "Ibu masih percaya benda begini bisa mengusir roh?"
"Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Simpan saja."
"Aku sudah dua puluh enam tahun. Masa masih harus pakai jimat?"
"Kau mau membantah terus atau mendengarkan ibumu sekali saja?" Keiko mendesah pelan. Daripada memperpanjang perdebatan, ia memasukkan jimat itu ke dalam saku jaket.
"Nah, begitu." Ibunya tampak sedikit lega.
"Beberapa hari lagi Festival Dewa Kucing dimulai. Selama berada di Tsukimori, jangan pernah melepas jimat itu."
Keiko terkekeh. "Festival yang menceritakan Bakeneko itu?"
Ibunya mengangguk pelan.
"Keluarga kita punya hubungan dengan legenda itu."
Keiko menopang dagunya pada sisi jendela,mengalihkan pandangan ke arah luar tidak melirik ibu nya yang sedang mengoceh "Lagi-lagi cerita leluhur?"
"Ini bukan sekadar cerita, Nenekmu dulu selalu bilang, perempuan dari keluarga kita pernah membuat pilihan yang tidak pernah bisa diterima desa."
Keiko memutar bola mata. "Nah mulai lagi...! "
Sejak kecil ia sudah hafal kisah itu. Konon, berabad-abad yang lalu seorang perempuan dari garis keturunan keluarganya membuat perjanjian kepada makhluk legenda yang mampu berubah menjadi manusia. Tak seorang pun mengetahui akhir kisah mereka. Yang tersisa hanya pesan turun-temurun agar setiap keturunan perempuan keluarga mereka selalu memakai jimat pelindung saat mengunjungi Tsukimori.
Baginya, semua itu terdengar seperti dongeng pengantar tidur.
"Kalau memang ada Bakeneko," ujarnya sambil terkekeh, "aku malah penasaran seperti apa wajahnya. Siapa tahu tampan."
"Keiko." Suara ibu seketika sedikit meninggi
"Nah, kalau benar tampan..." Ia menahan tawa. "Aku juga tidak keberatan menikah dengannya."
Wajah ibunya langsung berubah pucat. "Jangan pernah mengucapkan hal seperti itu."
"Lho? Aku cuma bercanda." keiko menaikan kedua bahunya sambil terkekeh menggoda sang ibu
"Di Tsukimori, tidak semua candaan berhenti menjadi candaan." Nada suara ibunya begitu serius hingga Keiko akhirnya memilih bungkam hanya menyisakan Bunyi gesekan logam yang memekakkan telinga mereda sebelum akhirnya kereta berhenti dengan sentakan pelan.
Suara speaker tua yang berdengung nyaring memecah suasana kabin.
"Stasiun Tsukimori... Tsukimori. Mohon periksa barang bawaan Anda. Berhati-hatilah saat melangkah keluar, celah antara kereta dan peron cukup lebar."
Keiko bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk roknya yang sedikit kusut. "Akhirnya sampai juga," gumamnya.
Mereka berdua beranjak menuju pintu keluar. Begitu melangkah turun ke peron, udara pegunungan yang dingin langsung menyambut, membawa aroma kayu basah dan dedaunan yang pekat.
Di kejauhan, deretan lampion merah mulai digantung di sepanjang jalan utama desa. Anak-anak berlarian mengenakan topeng kucing, sementara para pedagang sibuk menata stan makanan.
Keiko memperhatikan suasana di luar dengan heran. "Wah... ramai sekali." Ia menoleh kepada ibunya yang berjalan di sampingnya. "Memangnya ada acara apa?"
Ibunya mengikuti arah pandang Keiko, lalu tersenyum tipis. "Kamu lupa?"
"Lupa apa?"
"Festival Dewa Kucing"
"Oh..." Keiko mengangguk pelan. "Pantas saja." Ia kembali menatap sekeliling. "Ramai sekali ya."
Ibunya terkekeh kecil. "Acaranya setahun sekali, beruntung kita datang saat festival, Justru sekarang lebih ramai. Banyak wisatawan yang datang setiap tahunnya."
"Wisatawan?" tanya Keiko heran.
Ibu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Yah, tak semuanya wisatawan, sih."
Keiko hanya mengangguk pelan tanpa banyak bertanya lagi, meski ia merasakan ada sesuatu yang tersirat dari nada bicara ibunya.
Keiko tersenyum kecil. Setidaknya desa ini masih seindah yang ia ingat. Keiko berhenti di sebuah jembatan kecil, Di bawahnya sungai mengalir sangat jernih. Seekor capung merah hinggap di pagar kayu. "Coba lihat keiko, Disini Masih ada capung..." gumam ibunya.
Tanpa disadari, jimat merah di dalam saku jaketnya bergoyang pelan.
Ting.
Lonceng kecil yang terikat di ujungnya berbunyi lirih.