SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makam Sang Kaisar Bayangan
Bab 26: Makam Sang Kaisar Bayangan
Angin dingin berembus melewati reruntuhan alun-alun Kota Laut Kabut.
Debu batu berputar di antara patung-patung naga yang mulai retak. Langit masih terbelah oleh retakan ruang raksasa, sementara tangan bersisik hitam yang menjulur dari dalamnya terus memancarkan tekanan mengerikan. Bahkan udara terasa lebih berat, seolah dunia sedang menolak kehadiran makhluk itu.
Namun perhatian Ethan justru tertuju ke bawah.
Di balik lantai istana, Pecahan Inti Dunia memancarkan cahaya ungu yang semakin terang. Garis-garis cahaya membentuk peta tiga dimensi yang perlahan berputar di udara.
Di tengah peta itu hanya ada satu tujuan.
Makam Kaisar Bayangan.
Tatapan Ethan tetap tenang, tetapi pikirannya bekerja cepat.
"Mereka menyerang Kota Laut Kabut bukan untuk menghancurkannya."
"Mereka menunggu segel pertama terbuka."
"Berarti mereka tidak memiliki cara untuk membuka makam itu sendiri."
Kesimpulan itu membuatnya sedikit lega.
Artinya, masih ada sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh pewaris Dao Bayangan.
"Yang Mulia..."
Suara berat makhluk di balik retakan kembali menggema.
"Apakah kau akan melarikan diri lagi?"
Ethan mendongak.
Sosok itu belum sepenuhnya keluar dari retakan ruang. Baru sebagian lengan dan bahunya yang terlihat. Sisik hitamnya memantulkan kilatan petir ungu, sementara mata merahnya memandang rendah seluruh kota.
Ia terlalu kuat.
Bahkan dari auranya saja Ethan dapat memperkirakan bahwa makhluk itu berada jauh di atas Alam Inti Emas.
Dengan kultivasinya saat ini, menghadapi makhluk itu secara langsung sama saja mencari kematian.
Namun wajah Ethan tidak berubah sedikit pun.
"Aku tidak mengenalmu."
Makhluk itu tertawa rendah.
"Tentu saja."
"Karena saat kau membunuhku..."
"...aku bahkan tidak sempat menyebutkan namaku."
Kalimat itu membuat Jenderal Rong dan Lina saling berpandangan.
Mereka tidak memahami maksudnya.
Tetapi Ethan mengerti.
Makhluk itu bukan sedang berbicara kepada Ethan yang sekarang.
Melainkan kepada dirinya lima ratus tahun yang lalu.
Di sisi lain medan pertempuran, Yue Ling masih berdiri dengan tombaknya. Tatapan emasnya berpindah dari Ethan ke makhluk di langit.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya menunjukkan sedikit keraguan.
Ia berlutut hormat kepada makhluk itu, tetapi sorot matanya tidak sepenuhnya tunduk.
Perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Ethan.
"Dia memiliki tujuan sendiri."
"Kesetiaannya kepada Gerbang Hitam tidak mutlak."
Itu adalah celah.
Dan Ethan selalu memanfaatkan celah sekecil apa pun.
Di bawah tanah, cahaya dari Pecahan Inti Dunia semakin kuat.
Tiba-tiba terdengar suara retakan.
Bukan dari langit.
Melainkan dari bawah singgasana putih.
Lantai batu bergeser perlahan.
Sebuah tangga kuno muncul, menurun ke dalam kegelapan.
Aura kuno yang sangat murni mengalir keluar dari sana.
Jenderal Rong langsung membungkuk.
"Gerbang warisan..."
"Akhirnya terbuka."
Namun belum sempat siapa pun bergerak—
"Masuk!"
teriak makhluk di langit.
Puluhan kultivator Gerbang Hitam langsung menerjang menuju tangga bawah tanah.
"Jangan biarkan mereka!"
Jenderal Rong mengangkat pedangnya.
Penjaga Batu Naga bergerak serempak.
Ledakan demi ledakan kembali memenuhi kota.
Ethan tidak ikut menyerbu.
Sebaliknya, ia justru mengamati seluruh medan perang.
Sepuluh napas.
Itu saja waktu yang ia butuhkan.
Dalam sepuluh napas, ia menemukan sesuatu yang ganjil.
Para kultivator Gerbang Hitam tidak berusaha membunuh Penjaga Batu Naga.
Mereka hanya menahan.
Target mereka tetap tangga bawah tanah.
Berarti...
Apa yang berada di dalam makam jauh lebih penting daripada kota ini.
"Ethan!"
Lina menangkis sebuah serangan sebelum berteriak.
"Mereka hampir masuk!"
"Aku tahu."
Jawabannya tetap tenang.
Lina sempat kesal.
"Kalau tahu, kenapa diam saja?"
Ethan meliriknya singkat.
"Karena mereka memang harus masuk."
Lina membeku.
"Apa?"
Beberapa saat sebelumnya, ketika semua perhatian tertuju pada langit, Ethan diam-diam telah melepaskan sehelai benang Qi ke dalam tangga kuno.
Benang itu hampir tak terlihat.
Namun cukup baginya untuk membaca struktur formasi di bawah tanah.
Dan hasilnya membuatnya yakin.
Makam itu bukan tempat menerima tamu.
Melainkan tempat menghakimi.
Siapa pun yang masuk tanpa pengakuan warisan akan langsung memicu formasi kuno.
Semakin banyak orang yang masuk...
Semakin kuat formasi bekerja.
Karena itulah Ethan tidak menghentikan mereka.
Ia membiarkan musuh membuka jalan bagi dirinya.
Benar saja.
Belasan kultivator Gerbang Hitam baru saja menghilang ke dalam lorong.
Tiga detik kemudian—
AAAAAAAAA!!
Jeritan mengerikan menggema dari bawah tanah.
Ledakan energi hitam meledak keluar dari pintu masuk.
Beberapa tubuh terpental ke udara.
Sebagian berubah menjadi abu bahkan sebelum sempat menyentuh tanah.
Yue Ling langsung memucat.
"Formasi Pemusnahan?"
Jenderal Rong ikut tercengang.
"Itu... masih aktif?"
Ethan menjawab pelan,
"Tidak."
"Baru saja aktif kembali."
Ia sengaja mengaktifkannya menggunakan benang Qi yang dikirim beberapa saat sebelumnya.
Namun tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
Makhluk di langit menggeram marah.
"Limbah!"
Suara itu mengguncang udara.
Aura hitam turun seperti gunung.
Puluhan Penjaga Batu Naga langsung retak.
Jenderal Rong memuntahkan darah.
Lina terpaksa menusukkan pedangnya ke tanah agar tidak terlempar.
Hanya Ethan yang masih berdiri tegak.
Bukan karena lebih kuat.
Melainkan karena ia sudah mempersiapkan lapisan Qi tipis yang menyebarkan tekanan ke tanah di bawah kakinya.
Teknik sederhana.
Namun sangat efektif.
Makhluk itu memperhatikan Ethan.
"Kau..."
"...masih penuh akal."
Tiba-tiba Yue Ling bergerak.
Ia muncul tepat di depan Ethan.
Tombaknya mengarah lurus ke leher pemuda itu.
Namun tidak menusuk.
"Kau sengaja."
katanya lirih.
"Ya."
"Kenapa?"
Ethan menatap mata emas wanita itu.
"Karena makam itu memilih pewaris."
"Bukan pencuri."
Mata Yue Ling sedikit bergetar.
Kalimat itu...
Persis seperti salah satu kalimat dalam kitab rahasia gurunya.
"Siapa sebenarnya kau?"
tanyanya.
Ethan tidak menjawab.
Sebaliknya, ia bertanya balik.
"Gurumu..."
"Masih hidup?"
Yue Ling terdiam.
Beberapa saat kemudian ia menggeleng perlahan.
"Beliau meninggal lima puluh tahun lalu."
"Sebelum wafat..."
"...beliau hanya meninggalkan satu pesan."
Ethan menunggu.
Yue Ling menarik napas.
"'Jika suatu hari Dao Bayangan kembali memilih tuannya...'"
"'Jangan menjadi musuhnya.'"
Tatapan Ethan berubah sedikit.
Ini pertama kalinya ia menemukan seseorang yang benar-benar memiliki hubungan dengan masa lalunya.
Namun saat itu juga—
BOOOOM!
Retakan ruang membesar.
Makhluk bersisik hitam akhirnya berhasil mengeluarkan separuh tubuhnya.
Tekanan yang muncul kali ini berkali-kali lipat lebih kuat.
Bahkan langit Kota Laut Kabut mulai retak.
Di bawah tanah, peta ungu tiba-tiba berubah.
Jalur menuju Makam Kaisar Bayangan perlahan bergeser.
Lalu muncul satu titik cahaya baru.
Bukan di dalam kota.
Melainkan ribuan kilometer jauhnya.
Di sebuah pegunungan yang tidak dikenal.
Di samping titik itu muncul tulisan kuno.
"Kunci Kedua."
Belum sempat Ethan mencerna maknanya, seluruh Pecahan Inti Dunia bergetar hebat.
Sebuah suara tua bergema langsung di dalam kesadarannya.
"Pewaris Dao Bayangan telah ditemukan..."
"Protokol Kebangkitan dimulai..."
"Memberitahukan seluruh penjaga yang masih hidup..."
"Lindungi Sang Pewaris..."
Pada saat yang sama, di berbagai belahan dunia modern yang tersembunyi dari mata manusia—
Di sebuah kuil tua di Himalaya, seorang biksu membuka matanya.
Di bawah gurun Afrika, sebuah patung batu raksasa mulai bergerak.
Di kedalaman hutan Amazon, seorang wanita tua menghentikan meditasinya.
Dan di ruang bawah tanah sebuah perusahaan teknologi multinasional yang diam-diam merupakan sekte kultivasi terselubung, puluhan layar kuno menyala bersamaan.
Di semua tempat itu, hanya muncul satu simbol.
Lambang Bayangan.
Sementara itu, jauh di dalam kegelapan makam yang belum dimasuki siapa pun, sepasang mata berwarna ungu perlahan terbuka.
Sesosok pria berjubah hitam yang telah membatu selama ribuan tahun mengangkat kepalanya.
Lalu ia berbisik dengan suara serak yang menggema di seluruh ruang makam.
"Yang Mulia..."
"Anda akhirnya kembali..."