"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi harinya Arash bangun seperti biasa untuk salat subuh. Tubuhnya terasa agak pegal dan lehernya kaku.
Wajar saja, semalam Arash sama sekali tidak berani tidur di kamarnya sendiri karena masih dibayangi rasa takut akibat teror instan dari si roh cegil.
Alih-alih menguji nyali di kamar abu-abunya, Arash memilih mengungsi, menyeret bantal dan gulingnya ke kamar adik laki-lakinya.
"Kakak kenapa di sini?" Fajar kaget bukan main.
Saat pertama kali membuka mata dan mengumpulkan nyawanya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah abangnya yang tidur tepat di sebelahnya.
"Numpang semalem doang dek," kata Arash parau sambil mengucek matanya yang masih terasa berat.
Dia mendudukkan diri di tepi kasur, berusaha mengusir sisa-sisa kantuk yang menggelayuti kesadarannya.
"Ada yang ganggu lagi ya?"
Arash menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan rambut acak-acakannya. Dia melirik Fajar sejenak, lalu mengangguk pasrah.
"Begitulah. Panjang ceritanya. Ayo ke masjid, keburu Qomat!"
Di antara semua anggota keluarga, memang hanya Fajar yang tahu soal kemampuan indigo Arash. Arash sengaja merahasiakannya dari Ayah, Bunda, apalagi si bungsu Alin demi menjaga ketenangan rumah.
Tapi Fajar adalah pengecualian. Usia mereka memang berbeda lima tahun saat ini Arash sudah kelas 3 SMA, sedangkan Fajar baru kelas 2 SMP.
Namun, meski statusnya sebagai adik, Fajar adalah pendengar setia sekaligus satu-satunya "brankas" tempat Arash bisa menumpahkan segala keluh kesahnya tentang dunia tak kasat mata tanpa perlu takut dihakimi atau dianggap gila.
Selesai melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid pondok pesantren keduanya bergegas pulang. Mereka langsung berganti baju seragam dan bersiap untuk pergi ke sekolah masing-masing.
Langit Surabaya pagi itu sudah mulai memancarkan kecerahannya. Semburat warna jingga dan biru muda berpadu indah di ufuk timur, membawa hawa hangat yang perlahan mengusir sisa-sisa dinginnya teror mistis semalam.
Aromanya harum masakan nasi goreng dari arah dapur langsung menyambut penciuman begitu kedua anak laki-laki itu menginjakkan kaki di lantai bawah.
"Selamat pagi Bunda, Ayah!" sapa Fajar dengan ceria, langsung mengambil posisi duduk di salah satu kursi kayu meja makan.
"Pagi sayang. Loh, mana kakak kamu?" tanya Fatimah yang sedang sibuk menata piring-piring di atas meja.
Dia mengedarkan pandangan, mencari anak sulungnya.
"Kakak masih jadwal katanya, Bun. Tadi lagi nyari dasi sama kaos kaki di kamar," jawab Fajar memberi tahu.
Fatimah mengangguk paham. Dengan telaten, dia menyiapkan porsi sarapan nasi goreng hangat untuk putra keduanya itu.
"Bunda, Alin mau roti strawberry aja!" celetuk sebuah suara cempreng dari ujung meja.
Seorang anak gadis kecil dengan seragam SD yang masih sangat rapi dan bersih sudah duduk manis di sana.
Rambut hitamnya dikuncir dua dengan sangat menggemaskan, lengkap dengan jepitan warna-warni yang memenuhi bagian depan kepalanya.
"Ini sayang, habiskan susunya juga ya," kata Fatimah lembut sambil menyodorkan sepotong roti tebal dengan selai strawberry yang melimpah, berdampingan dengan segelas susu putih hangat.
"Ahhhh Alin gak suka susu, Bunda! Buat Kak Fajar saja yang minum," gadis kecil itu memberengut, memajukan bibir mungilnya sambil menjauhkan gelas susu itu dengan ujung jarinya.
"Habiskan, sayang!" tekan Fatimah, masih dengan senyuman manis di wajah ibunya.
Namun, walau Fatimah tersenyum sangat manis, jika nada suaranya sudah ditekan seperti itu, tidak akan ada satu pun orang di rumah ini yang berani melawan. Alin langsung menciut.
Dengan wajah pasrah yang dibuat-buat, bocah SD itu menarik kembali gelas susunya sambil mendengus pelan.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah tangga.
Arash turun ke bawah, sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya yang disetrika rapi, lengkap dengan tas ransel yang dicangklong di bahu kanan. Dia langsung bergabung di meja makan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Arash lembut.
Dia berjalan memutar, mencium punggung tangan Ayah dan Bundanya dengan takzim sebagai ritual wajib sebelum berangkat sekolah. Setelah itu, dia mengambil posisi duduk di samping kursi Alin.
Melihat adiknya yang masih cemberut memandangi gelas susu, jiwa jahil Arash mendadak bergejolak.
"Pagi, jelek," sapa Arash iseng, sambil mencolek hidung mungil adiknya.
Alin langsung menoleh dengan mata membulat galak, tidak terima.
"Kakak ihhh, Alin cantik loh hari ini! Lihat nih, rambut aku banyak jepitnya! Bagus tau!"
pamer gadis kecil itu sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menunjukkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu, bintang, dan loli yang berderet heboh di rambutnya.
Arash menahan tawa, menatap kepala adiknya dengan pandangan dramatis.
"MasyaAllah, Alin... kamu ini mau sekolah atau mau jualan jepit di kelas? Kenapa semua stok jepit rambut di toko kamu pasang semua di kepala? Gak berat itu kepala nya?"
"Ayahhhhh! Kakak nakal tuh! Alin dibilang tukang jepit!" adu Alin langsung berteriak, wajahnya memerah karena kesal.
Dia mengguncang-guncang lengan Arfin yang sedang asyik membaca berita di ponselnya.
Arfin hanya terkekeh pelan, melirik anak sulungnya dengan pandangan memperingatkan yang jenaka.
Suara cempreng lucu dan omelan dari Alin selalu berhasil mencairkan suasana pagi hari di rumah itu menjadi begitu hangat dan penuh tawa. Arash tersenyum lebar, menyuap nasi gorengnya dengan tenang.
**
Setibanya di sekolah, Arash sudah disambut oleh tiga sahabatnya di parkiran.
Suasana area parkir khusus siswa SMA itu tampak ramai oleh deru mesin kendaraan dan canda tawa khas remaja.
Di sudut dekat pohon peneduh, tiga cowok dengan seragam putih abu-abu yang sengaja dikeluarkan dari celana sudah berdiri bersandar di pembatas beton.
Reno, Alvaro, dan Mike. Mereka adalah lingkaran pertemanan terdekat Arash sejak kelas satu, yang selalu tahu bagaimana cara meramaikan hari-hari sekolah.
"Tumben cepet, Rash," kata Reno membuka obrolan, melirik jam tangan digitalnya sebelum menepuk pundak Arash yang baru saja turun dari atas jok motornya.
"Iya dong, si ijo udah selesai servis. Jadi makin mantep banget jalannya," sahut Arash sambil melepas helm full-face hitamnya, meletakkannya di atas tangki bensin.
Dia menghela napas panjang, merasa lega karena sepanjang perjalanan dari rumah tadi dia sukses menahan diri untuk tidak berteriak akibat celotehan rusuh roh cewek yang memeluk pinggangnya erat-erat sepanjang jalan.
"Wuihhh, body-nya baru nih kayaknya," kata Alvaro, memutari motor sport hijau itu dengan pandangan kagum, sesekali mengetuk pelan bagian fairing depan yang mengilat mulus tanpa cacat.
"Gimana gak baru, yang kemarin aja ringseknya kebangetan begitu!" sambung Mike, mengingatkan semua orang pada insiden seminggu lalu saat motor Arash tergelincir parah di dekat area proyek kota.
"Gue malah heran lu gak lecet sama sekali, Rash. Padahal motor lu udah kayak kerupuk diremes."
Arash hanya terkekeh pelan menanggapi komentar Mike. Dia tentu tidak bisa jujur mengatakan bahwa saat kecelakaan itu terjadi, ada "sesuatu" yang menahan tubuhnya hingga dia mendarat dengan aman di atas rumput pembatas jalan, sementara motornya meluncur bebas menghantam beton.
"Udah ah, ayo buruan masuk! Keburu bel, entar dihukum Pak Bambang bersihin koridor lagi," potong Arash, mengalihkan pembicaraan agar sahabat-sahabatnya tidak mengulik lebih dalam tentang kejadian mistis itu.
Mereka berempat akhirnya berjalan beriringan meninggalkan area parkiran menuju gedung utama sekolah. Seperti biasa, formasi berjalan mereka selalu menempatkan Arash di posisi paling belakang karena langkah kakinya yang cenderung lebih santai dan lempeng.
Namun, baru beberapa langkah melewati gerbang koridor utama, sebuah suara aneh di belakangnya mendadak menghentikan langkah kaki Arash.
"Ini sekolah kamu ya? Kok rasanya kayak familiar ya...?"
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
bisa kan,,,sapa,,
Assalamualaikum dlu😅😅😅