NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 TURNAMEN DIMULAI

Sorak 10.000 murid mengguncang langit Akademi Valthera.

Bendera 4 fakultas berkibar. Di tengah lapangan, arena sihir seluas 2 lapangan bola dilapisi rune anti-ledakan. Di tribun paling atas, Dewan Akademi duduk dengan jubah emas. Di tengah mereka, kursi kosong. Kursi Ketua Akademi.

Prof. Selene berdiri di atas panggung melayang. Suaranya menggema ke seluruh penjuru.

"Selamat datang di Turnamen Kelas Tahunan! Di sini, yang lemah akan tersingkir. Yang kuat akan naik!"

Dia mengangkat tongkatnya. "Hadiah utama: Akses 7 Hari ke Perpustakaan Terlarang + 1000 Poin Akademi!"

Sorakan meledak.

Kael berdiri di barisan Kelas D. Topeng peraknya dingin. Jubahnya sudah diganti yang baru, tapi masih abu-abu murid biasa. Di dadanya pin nama: *NOEL*.

"Peserta 10 Besar Kelas D, maju!"

Nama pertama yang disebut: "NOEL!"

Bisik-bisik langsung pecah.

"Itu dia? Yang ngalahin 3 orang?"

"Topeng aneh. Sok misterius."

Di tribun, Elara duduk tegak. Lencana bintang tiga berkilau. Di sebelahnya Aldric dengan perban di lengan. Matanya merah menatap Kael.

"Gue sumpahin lu mati di arena," desis Aldric.

Kael tidak menoleh. Dia hanya melangkah maju.

`[Ding!]`

`[Misi Turnamen: Menang 3x. Hadiah: Pecahan Api Kedua]`

`[Gagal: Mana disegel 1 bulan]`

*PERTARUNGAN 1: NOEL VS BORO - 1000 KATA*

Arena 3. Lawannya monster.

Boro. Tinggi 2 meter. Berat 150kg. Kulitnya dilapisi sihir batu. Julukannya "Tembok Kelas C".

"Heh topeng," Boro meludah. "Dulu gue yang paling sering injek si Kael sampah. Bau dia masih keinget. Sekarang giliran lu."

Penonton Kelas C tertawa. "Injak dia Boro!"

Wasit mengangkat bendera. "Mulai!"

_DUAR!_

Boro langsung maju seperti banteng. Tinjunya menghantam tanah. Retakan menjalar ke arah Kael.

Kael melompat. Mendarat 3 meter di belakang.

Boro tertawa. "Kabur terus? Pengecut!"

Dia menyerang lagi. Dan lagi. Dan lagi.

5 menit. Kael belum sekali pun nyerang balik. Hanya menghindar, menangkis, melompat.

Napanya Boro mulai ngos-ngosan. Keringat bercucuran.

"Kau... capek ya?" kata Kael pelan. Suaranya sengaja pelan.

"DIAM!" Boro meraung dan melompat. Seluruh badannya menghantam ke bawah. "Hantaman Gunung!"

Debu menutup seluruh arena.

"Menang Boro!" teriak penonton.

Saat debu menghilang... Kael berdiri di atas bahu Boro. Telapak tangannya menempel di tengkuk Boro.

"Teknik Dasar: Tekanan Titik."

_JLEB!_

Mana Kael masuk ke titik saraf Boro.

Boro langsung lemas. Lututnya jatuh. _DUG!_

"Aku... aku nyerah..." gumamnya pingsan.

Hening 3 detik.

"PEMENANG: NOEL!"

Setengah stadion tepuk tangan. Setengah lagi bingung.

"Dia menang tanpa nyerang sekali pun?"

"Teknik apa itu?"

Kael turun dengan tenang. Bahunya tidak ada luka. Napasnya stabil.

Di balik topeng, dia tersenyum. `20%. Itu baru 20%.`

*PERTARUNGAN 2: ELARA VS VICTORIA - 1000 KATA*

Arena 1. Pertarungan utama hari pertama.

"Peserta: ELARA VEYN - TOP 3 AKADEMI vs VICTORIA BLAZE - TOP 5 KELAS A!"

Elara masuk. Gaun biru es. Rambut perak tergerai. Aura dingin 2 meter di sekitarnya membuat bangku penonton berembun.

Lawan Victoria, rambut merah menyala. Cambuk lava melingkar di lengannya.

"Kak Elara! Bantai dia!" sorak fans.

Victoria menyeringai. "Ratu Es. Aku sudah latihan 1 tahun buat ngalahinmu."

Wasit: "Mulai!"

_SHOOO!_

10 cambuk lava melesat bersamaan. Membakar udara.

Elara tidak bergerak. Dia hanya mengangkat jari.

"Es: Dinding Nol Mutlak."

_KRISTAL!_

Dinding es transparan setebal 1 meter muncul. Semua cambuk meleleh saat menyentuh.

Victoria mundur. "Omong kosong!"

Dia berputar. "Lava: Hujan Meteor!"

Ratusan bola lava jatuh dari langit.

Elara menutup mata.

"Es: Taman Beku Abadi."

_CREETTT..._

Seluruh arena 50x50 meter membeku dalam 2 detik. Bola lava padam sebelum menyentuh tanah.

Victoria terpeleset. Jatuh duduk.

"A... aku..."

"Menyerah," kata Elara datar. Bukan pertanyaan.

Victoria menunduk. "Aku menyerah..."

"PEMENANG: ELARA!"

Sorakan "RATU ES! RATU ES!" menggema.

Elara berbalik mau turun. Tapi langkahnya terhenti.

Matanya menatap ke Arena 3. Ke arah Kael yang baru menang.

Alisnya berkerut. `Mana dasarnya... kaku. Terkendali. Mirip...`

Dia menggeleng dan pergi.

Jantung Kael berdetak kencang. `Hampir. Dia hampir ngeh.`

*AKT 4: FINAL KELAS D - NOEL VS ALDRIC - 1800 KATA*

Pengumuman menggema: "FINAL KELAS D! PERTARUNGAN TERAKHIR HARI INI!

NOEL VS ALDRIC VON RHEIN!"

Stadion meledak. Ini pertarungan yang ditunggu.

Aldric masuk dengan gaya. Jubah biru bangsawan. Tongkat kristal rare grade. Luka di wajahnya sudah disembuhkan, tapi matanya merah.

"Noel! Hari ini aku akan buka topeng sialanmu dan nunjukin ke semua orang kalau kau sampah!"

Kael hanya berjalan. Diam.

Wasit: "Aturan terakhir: Tidak ada batasan. Menyerah atau tidak sadar."

Dia menatap keduanya. "Mulai!"

_BOOM!_

Aldric tidak basa-basi. "Tiga Mantra Sekaligus! Bola Api! Tombak Petir! Rantai Baja!"

Serangan menghujani Kael.

Kael bergerak. Kecepatan 2x lipat. Api kecil `Nyala Pertama` muncul di telapaknya untuk menepis.

_DUG! DUG! DUG!_

Asap dan debu menutup arena.

"Dia menghindar?!" teriak penonton.

Aldric frustasi. "Berhenti lari, pengecut!"

Dia menginjak tanah. "Arena: Zona Gravitasi!"

Tubuh Kael terasa berat 3x lipat.

Kael tersandung. Bahunya kena goresan petir. Darah menetes.

"HA!" Aldric tertawa. "Itu saja?! Ini kekuatan murid baru?"

Penonton mulai mencemooh. "Noel lemah!"

"Turunkan dia Aldric!"

Kael terpojok di sudut arena. Napasnya terengah. Sengaja.

Aldric mengangkat tongkatnya tinggi. Mana berkumpul di ujungnya.

Ini dia. "Jurus pamungkasku! Mete-"

" meteor Api!"

Sebuah bola api sebesar gubuk melayang di atas Kael. Panasnya membuat rambut penonton di baris depan mengkeriting.

Elara berdiri. "Itu... berbahaya."

Prof. Selene menyipitkan mata.

Kael menunduk. Di dalam dirinya, `Warisan Api 30%` mengaum.

`Maaf. Aku harus menang.`

Dia mengepalkan tangan. Luka di bahunya berhenti berdarah.

"Nyala Pertama."

Bukan bola. Bukan tembakan.

Tanah di bawah Kael retak.

_GRUUUNG..._

Seekor naga api kecil, sepanjang 4 meter, meledak dari tanah. Menghantam Meteor Api Aldric dari bawah.

_BOOOOOOM!!!_

Ledakan mengguncang seluruh stadion. Perisai rune bergetar.

Saat asap menghilang...

Aldric terbaring. Bajunya gosong. Tongkatnya patah. Mulutnya berdarah.

Kael berdiri. Topengnya retak setengah. Memperlihatkan rahangnya.

"Pe...Pemenang: NOEL! JUARA KELAS D!"

Stadion hening. Lalu... tepuk tangan paling keras hari itu.

"Siapa dia?!"

"Teknik Api kuno?!"

Dari tribun, Prof. Selene berbisik: "Tidak mungkin... hanya 1 orang di dunia ini yang bisa naga api itu..."

*PLOT TWIST: KEBANGKITAN WADAH*

Saat tim medis lari ke Aldric, tanah tiba-tiba bergetar.

_WUU WUU WUU_

Alarm merah menyala.

`[Ding! PERINGATAN DARURAT SISTEM]`

`[DETEKSI: ENERGI IBLIS LEVEL S]`

`[4 RAJA IBLIS TELAH MEMILIH WADAH]`

Dari tengah arena, tempat Aldric terbaring, retakan hitam menjalar.

Sebuah tangan. Hitam. Bertanduk. Mencuat dari tanah dan mencengkeram Aldric.

"APAAN ITU?!" teriak murid.

Tangan itu menarik Aldric ke bawah... lalu mendorongnya naik.

Aldric melayang. Matanya terbuka. Hitam total. Tidak ada pupil.

Di dahinya muncul simbol: Tanduk melingkar.

Dia tertawa. Suaranya bukan Aldric lagi. Serak. Bergema.

"Akhirnya... setelah 1000 tahun. Tubuh yang cocok."

Dia menatap ke seluruh stadion. "Manusia... rasa takut kalian... lezat."

Panik. Jeritan. Murid berhamburan.

Dewan Akademi berdiri. "Ini serangan! Lindungi murid!"

Aldric - tidak, Wadah - mengangkat tangan.

"Gerakan pertama: Pembantaian."

Tanah meledak. Puluhan monster kecil bertanduk merangkak keluar.

Kael berdiri paling depan. Api di tangannya menyala.

`[Ding!]`

`[Misi Turnamen GAGAL]`

`[Misi BARU: Selamatkan Akademi. Kalahkan Wadah Raja Iblis]`

`[Hadiah: Pecahan Api Ketiga + Judul "Pahlawan"]`

Dia menatap Wadah Aldric. Mengepalkan tangan.

"Jadi kau pilih dia..." bisik Kael. "Kalau begitu..."

Api di tubuhnya meledak. Membakar setengah topengnya.

"...aku pilih diriku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!