NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: JEBAKAN TENGAH HUTAN

Malam semakin dalam, namun langkah kaki pasukan Belanda tak pernah berhenti. Udara menjadi makin dingin dan lembap, membuat rambut dan pakaian mereka basah oleh embun yang turun dari dedaunan tinggi. Suasana di antara barisan bukan lagi sekadar lelah, melainkan mulai dipenuhi oleh rasa curiga dan ketakutan yang perlahan merayap masuk ke dalam hati setiap prajurit.

Kapten De Vries berjalan di depan, wajahnya dipenuhi garis ketegangan. Ia terus-menerus memeriksa peta yang diterangi cahaya lentera, namun garis-garis di atas kertas itu terasa semakin tidak berguna dibandingkan pengetahuan yang dimiliki oleh tanah di bawah kaki mereka.

" Kapten, lihat ini! " seru Sersan Van der Velde yang berjalan di sisinya, menunjuk ke arah tanah yang terlihat baru saja diinjak oleh banyak kaki.

" Jejak ini banyak sekali. Bukan hanya satu atau dua orang. Ini seperti ratusan orang baru saja lewat di sini. "

De Vries membungkuk, mengamati jejak itu dengan teliti. Tanah di sana memang memiliki bekas tapak kaki yang jelas, dan jika dilihat dari arahnya, menunjuk langsung menuju lembah kecil yang terbuka sedikit di kejauhan.

" Ini pasti mereka, " gumam De Vries.

" Akhirnya kita menemukan jalan yang benar. "

Di belakang mereka, terdengar percakapan di antara sekelompok prajurit yang mulai bersemangat kembali, meski masih ada rasa waspada.

" Hore! Akhirnya ada jejak yang jelas! " seru Kopral Jansen sambil mengusap wajahnya yang kotor debu.

" Aku pikir kita akan berjalan tanpa tujuan selamanya di hutan ini. "

" Jangan terlalu yakin, Jansen, " potong temannya, Kopral Meijer.

" Ingat apa yang terjadi tadi. Jejak yang terlalu sempurna seringkali itu jebakan. Di negeriku sendiri, kami juga belajar itu. "

" Bodoh saja kau, Meijer! Kita sudah lelah! Biarkan aku percaya ini adalah jalan keluar! " balas Jansen dengan nada kesal.

De Vries mendengar percakapan itu dan mengangkat suaranya agar terdengar oleh seluruh pasukan.

"Dengar semua orang!" teriaknya.

"Kita telah menemukan tanda yang jelas. Itu adalah jejak kelompok musuh. Mereka tidak bisa lagi menyembunyikan diri dari kita. Kita akan maju perlahan tapi pasti. Hati-hati, tapi jangan takut! Mereka hanya sekelompok pengecut yang bersembunyi!"

" JA! MAJU! " teriak sebagian besar prajurit, mencoba membakar semangat sendiri.

Mereka mulai bergerak mendekati lembah itu. Semakin dekat, suara aliran air dan suara jangkrik terdengar makin jelas. Namun saat mereka memasuki area itu, suasana tiba-tiba menjadi aneh. Lembah itu terlihat sunyi, seolah tidak ada tanda kehidupan manusia selama berhari-hari.

" Aneh... " bisik Sersan Van der Velde.

" Jejak kaki banyak sekali, tapi tidak ada sisa api, tidak ada sisa makanan, tidak ada sampah apapun. Seolah-olah mereka membersihkan semuanya sebelum pergi. "

" Mungkin mereka bergerak cepat, " jawab De Vries, meski matanya juga mulai menyipit.

" Maju terus. Kita lihat sampai di mana. "

Tiba-tiba, salah satu prajurit yang berjalan di depan berteriak ketakutan.

" KAPTEEN! TUNGGU! JANGAN LANGKAH KE DEPAN! "

Semua orang berhenti seketika. De Vries berjalan cepat mendekat dan melihat apa yang menjadi sumber teriakan itu. Di depan mereka, jalan setapak yang tampak datar dan aman, ternyata tertutup oleh daun-daun kering yang disusun rapi di atas sebuah lubang besar.

Itu adalah jebakan raksasa. Di dalamnya terlihat paku-paku besi dan bambu yang diasah sangat tajam, tersusun rapi dan menunggu siapa saja yang berani melangkah masuk.

" SLECHTE MENSEN! " umpat De Vries dengan keras, hingga suaranya menggema.

" Mereka memang ahli! Mereka tidak hanya meninggalkan jejak, tapi mereka menyusun jebakan seolah sedang menunggu kita datang! "

" Kapten, bagaimana kita melewatinya? " tanya seorang sersan dengan suara gemetar.

" Jalan lain terhalang oleh tebing curam dan semak yang sangat lebat. "

De Vries menatap sekeliling dengan marah. Ia tahu mereka terperangkap. Jalan depan ditutup jebakan, dan jalan lain tidak bisa dilalui.

" BANGSAT KOWE INLANDER! " teriaknya lagi, memukul batu di dekatnya hingga pecah.

"Kita tidak akan dikendalikan oleh mereka! Kita akan cari jalan lain!"

Mereka mulai menyisir sisi tebing, mencari jalan yang bisa dilalui. Namun setiap kali mereka menemukan jalan yang tampak mudah, ternyata itu juga merupakan jebakan tersembunyi. Ada tali yang tersangkut di dahan pohon yang akan menjatuhkan batu besar, ada lubang kecil yang jika terinjak akan memancarkan air yang membuat licin, bahkan ada lubang yang diisi racak serangga.

Setiap langkah yang mereka ambil penuh dengan ketegangan. Rasa percaya diri yang sempat muncul tadi perlahan hilang, digantikan oleh rasa frustrasi yang makin membuncah.

" Ini tidak adil! " keluh Jansen sambil memeriksa sepatunya yang hampir terinjak lubang jebakan.

" Kita membawa senjata yang jauh lebih baik, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Mereka bermain sesuai aturan mereka sendiri! "

" Itu sebabnya mereka berbahaya, Jansen, " jawab Meijer dengan nada serius.

" Mereka hidup di sini sejak lahir. Hutan ini adalah rumah mereka, sementara bagi kita, ini hanya tempat sementara. Kita tidak bisa mengalahkan tuan rumahnya dengan cara yang sama. "

De Vries mendengar percakapan itu dan merasa semakin kesal. Ia tahu apa yang dikatakan Meijer benar, namun egonya sebagai perwira militer tidak membiarkannya mengakui kekalahan.

" CUKUP! " teriak De Vries.

" Jangan bicara seperti orang yang sudah menyerah! Kita akan terus mencari! Kita akan sampai di sana! "

Namun, saat mereka terus bergerak, tiba-tiba suara yang tidak mereka inginkan kembali terdengar. Dari atas tebing yang tinggi dan rimbun, terdengar suara teriakan yang jelas, namun tidak berasal dari musuh. Itu adalah suara mereka sendiri, tapi diucapkan dengan cara yang diubah oleh gema dan pantulan suara di dalam hutan.

" MEREKA ADA DI SINI! TANGKAP MEREKA! "

Suara itu terdengar persis seperti suara Bayu.

" INI BAYU! AKU DENGAR SUARANYA! " seru salah satu prajurit.

De Vries segera menoleh ke atas, mencoba melihat ke arah suara itu datang.

" Di mana? Tunjukkan ke mana! "

Namun tak seorang pun terlihat. Hanya ada dedaunan yang lebat dan kegelapan yang pekat.

" Itu tipu daya! " seru Sersan Van der Velde.

" Mereka mengubah suara mereka, membuatnya terdengar seperti ada di dekat kita, padahal mungkin mereka sudah jauh di depan atau bahkan di belakang kita! "

" JANGAN PERCAYA! ITU HANYA MUSUH KITA YANG INGIN MEMBUAT KITA GILA! " teriak De Vries, meski di dalam hatinya ia juga mulai ragu.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, namun ketidakpastian itu membuat langkah mereka menjadi sangat lambat. Setiap kali mereka melewati sebuah pohon besar, mereka takut akan ada batu yang jatuh. Setiap kali mendengar suara angin, mereka takut akan ada panah yang melesat.

Setelah berjam-jam berjuang melewati jebakan demi jebakan, mereka akhirnya berhasil keluar dari area jebakan itu dan sampai di sebuah dataran kecil yang agak terbuka. Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama.

Saat mereka menyalakan lebih banyak lentera, mereka melihat di tanah, terukir dengan kapak dan batu, sebuah kalimat besar yang ditulis dengan tanah dan arang.

"KAMU TIDAK BISA MENANGKAP KITA DI SINI. HUTAN INI ADALAH MILIK KITA."

De Vries membaca tulisan itu dengan mata yang membelalak. Ia merasakan darahnya mendidih hingga hampir meledak.

" MEREKA MENGAKU BISA MENGATUR KITA?! " teriaknya, tangannya mengepal kuat hingga kuku masuk ke dalam telapak tangan.

" BANGSAT KOWE! EXTREMIS! KALIAN AKAN MENYESAL! AKAN KUBAKAR SETIAP POHON DI SINI! AKAN KUJADIKAN HUTAN INI TANAH GUNDUL YANG TIDAK AKAN PERNAH TUMBUH LAGI! "

" Kapten, tenanglah, " kata Sersan Kooijman, mencoba menenangkan.

" Mereka ingin membuat marah kita. Kalau kita marah, kita akan membuat kesalahan. "

" Kesalahan? Aku tidak peduli! " jawab De Vries dengan suara gemuruh, namun perlahan ia mulai menyadari bahwa apa yang dikatakan sersannya benar. Musuh mereka memang sedang memanfaatkan emosi mereka. Semakin marah mereka, semakin mudah mereka dimanipulasi.

Di antara barisan, Kopral Hans berbisik kepada temannya.

" Ik geloof niet dat we dit zullen halen, Pieter. (Aku tidak yakin kita akan berhasil menaklukkan ini, Pieter.) "

" Ik ook niet. Mayor sudah marah, Kapten juga tegang. Jika ini terus berlanjut, kita semua akan mati kelaparan atau terluka sebelum bertemu musuh yang sebenarnya. (Aku juga tidak. Mayor sudah marah, Kapten juga tegang. Jika ini terus berlanjut, kita semua akan mati kelaparan atau terluka sebelum bertemu musuh yang sebenarnya.) " jawab Sersan itu.

De Vries mendengar gumaman itu dan menatap tajam ke arah mereka. Namun ia tidak menghukum mereka. Ia tahu mereka berbicara dari hati yang sama.

"Dengar semua," ucapnya dengan nada yang jauh lebih tenang, meski masih penuh ketegangan.

"Mereka ingin kita putus asa. Mereka ingin kita berhenti. Tapi kita tidak akan memberi mereka kepuasan itu. Kita akan terus maju. Kita akan sampai di Cikadu. Dan di sana, kita akan selesaikan ini sekali dan untuk semua."

Ia menunjuk ke arah peta lagi, kali ini dengan lebih hati-hati.

"Jarak ke Cikadu tidak terlalu jauh lagi. Sekitar lima kilometer lagi. Jika kita bergerak dengan hati-hati dan tetap waspada, kita bisa sampai sebelum fajar menyingsing."

Meskipun semangat mereka sudah terkoyak oleh jebakan dan tipu daya, kata-kata Kapten De Vries masih cukup untuk membuat mereka terus bergerak. Mereka tahu, tujuan akhir itu sudah ada di depan mata. Sekali mereka sampai di Cikadu, tempat di mana warga berkumpul, mereka berharap akan lebih mudah menemukan jejak Bayu dan teman-temannya.

Namun apa yang mereka ketahui, perjalanan lima kilometer itu akan menjadi perjalanan terpanjang dan paling menyiksa dalam hidup mereka. Setiap langkah masih saja penuh bahaya, setiap pohon seolah menyimpan rahasia, dan setiap suara di malam itu seolah menjadi ancaman.

Sementara itu, di sebuah bukit tinggi yang tidak jauh dari sana, Bayu dan kelompoknya sedang mengamati pergerakan pasukan Belanda dari balik semak yang lebat.

"Mereka sudah lelah," kata Karta sambil tersenyum tipis, melihat pasukan yang bergerak lambat dan sering berhenti untuk memeriksa sekeliling.

"Dan mereka masih marah," tambah Sukria.

"Semakin marah mereka, semakin mudah mereka membuat kesalahan."

"Jangan biarkan mereka beristirahat terlalu lama," ucap Bayu, matanya tajam mengawasi mereka.

"Kita sudah memberi mereka rasa sakit dan kebingungan malam ini. Tapi perang ini baru separuh jalan. Saat mereka sampai di Cikadu, itu akan menjadi ujian yang jauh lebih besar."

Embek Gombloh memegang tongkat besinya, matanya berkilat penuh semangat.

"Biarkan mereka datang. Di tanah orang lain ini, kita tahu cara bertarung lebih baik daripada siapa pun."

Jaka Kelitik yang sedang memeriksa peluru senapannya mengangguk setuju. "Mereka membawa kekuatan, tapi mereka tidak membawa pemahaman. Hutan ini tidak akan pernah menjadi milik mereka."

Bayu menatap ke arah gelap di mana pasukan Belanda sedang berjuang melewati rintangan yang mereka buat. Ia tahu, mereka belum menang. Namun ia juga tahu satu hal: Semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan Rancagaok, semakin kecil kemungkinan mereka akan kembali dengan kemenangan.

Dan di bawah langit malam yang mulai memudar menuju fajar, perburuan itu terus berlanjut. Bukan lagi sekadar mengejar jejak kaki, melainkan perang saraf, kecerdikan, dan cinta terhadap tanah yang mereka pertahankan.

Di kejauhan, suara langkah kaki Belanda masih terdengar, melewati jebakan demi jebakan, terus berjalan menuju takdir mereka sendiri.

 

PESAN PENULIS :

Untuk dialog indonesia yang di ucapkan kompeni sengaja di bikin belepotan.

Bagi yang fasih bahasa Kompeni, mohon koreksi jika ada yang keliru. Semua terjemahan ini murni dari Google Translate 🙏

Catatan buat editor

Ini bab yang loncat kemaren saya susun ulang biar beurutan.

Kalo emang ga bisa ya udah tinggal tolak aja lagi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!