NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BIBIR EMBER IKUT BEKERJA

Aku mengembalikan uang Mak Nursiah sebelum meninggalkan rumahnya.

“Yang salah bukan menantu atau rice cooker,” kataku cukup keras agar Maya ikut mendengar. “Yang salah jalur lama yang menanggung terlalu banyak beban.”

Mak Nursiah memasukkan uang itu kembali ke saku dengan wajah masam. Maya tersenyum seperti baru memenangkan perkara, lalu Liza langsung memotong sebelum kemenangan itu berubah menjadi perang baru.

“Jalurnya sudah diperbaiki karena biaya dibayar bersama,” katanya. “Tidak ada pihak yang perlu dipermalukan.”

Di perjalanan pulang, Fadli berkata tindakanku menolak uang tadi cukup terhormat. Aku menyuruhnya tidak membesar-besarkan. Ia menjawab ia hanya heran karena biasanya uanglah yang menolakku.

Pagi berikutnya, Binsar datang ke bengkel membawa map plastik biru, satu pas foto ukuran tiga kali empat, dan selembar sertifikat pelatihan fotokopi. Ia meletakkan semuanya di meja seperti pelamar kerja yang percaya jumlah kertas dapat menggantikan isi kepala.

“Aku mau ikut resmi,” katanya.

Liza membaca sertifikat. “Nama siapa ini?”

“Namaku.”

“Tertulis Binsal Togar Simombing.”

Binsar mengambil kertas itu dan memeriksa. “Salah ketik sikit.”

“Nama depan, tengah, dan marga salah.”

“Yang penting fotonya aku.”

Foto di sudut sertifikat memang mirip Binsar, meski kumisnya lebih tipis dan rambutnya lebih banyak. Tanggal pelatihan dua tahun lalu. Di bagian bawah tidak ada nomor registrasi, hanya stempel yang tintanya kabur.

“Bengkel tempatku kerja tutup,” katanya. “Aku perlu kerja. Kelen juga perlu orang.”

Aku memang perlu bantuan. Pesanan mulai masuk lebih sering sejak video kafe diunggah Rani. Ada kipas, pompa air, dua lampu teras, dan satu kulkas yang menunggu pemeriksaan. Fadli tidak bisa terus membawaku ke semua tempat, sementara Pak Tor hanya membantu ketika tangannya cukup stabil.

“Dia keluarga,” kataku kepada Liza.

“Itu informasi silsilah, bukan kompetensi.”

Binsar meletakkan tangan di dada. “Aku darah daging usaha ini.”

Mak Mina menyahut dari warung, “Darah daging siapa? Kau bayar kopi tiga hari belum.”

Pak Tor keluar dari belakang bengkel sambil membawa tespen merah dan gulungan kabel pendek. Ia tidak melihat sertifikat. Ia hanya menarik kursi, duduk, lalu berkata, “Tiga pertanyaan.”

Binsar langsung berdiri tegak. “Siap, Uwak.”

“Kalau MCB jatuh berulang, apa yang kau lakukan?”

Binsar menarik napas panjang. “Pertama kita lihat situasi secara menyeluruh, karena listrik itu seperti kehidupan—”

“Jawab.”

“Naikkan lagi.”

Pak Tor menggeleng. “Salah.”

“Maksudku setelah diperiksa.”

“Kau tadi tidak bilang diperiksa.”

Pertanyaan kedua tentang memilih ukuran kabel sesuai beban. Binsar menjawab dengan cerita mengenai rumah tetangganya yang pernah memakai kabel speaker untuk lampu. Setelah tiga menit, tidak ada satu angka atau prinsip yang keluar.

Pertanyaan ketiga paling sederhana. Pak Tor meletakkan dua obeng di meja dan bertanya mana yang aman dipakai pada pekerjaan listrik.

Binsar memilih obeng dengan gagang retak karena warnanya lebih cerah.

Pak Tor menutup mata sebentar. “Kau jangan sentuh panel siapa pun.”

Binsar menoleh kepadaku dengan wajah orang yang baru dikhianati oleh sistem keluarga. “Jef, kau tahu aku bisa kerja.”

“Aku tahu kau bisa bicara.”

“Bicara itu penting di lapangan.”

“Kalau kabel terbakar, kau mau ceramahi apinya?”

Liza membuka buku perjanjian. “Tidak ada nepotisme tanpa kemampuan. Kalau mau ikut, masa percobaan. Tugas awal: merapikan kabel, mencatat alat, menyiapkan material, dan belajar prosedur dari Pak Tor.”

Binsar memandang daftar itu. “Tidak ada bagian teknisi?”

“Ada setelah lulus tes.”

“Berapa lama?”

Pak Tor menjawab, “Tergantung seberapa cepat kau berhenti merasa sudah tahu.”

Binsar menghela napas seperti baru menerima hukuman negara, tetapi akhirnya setuju. Kami memberinya label kosong, spidol, dan daftar inventaris. Tugas pertama terlihat sederhana: pisahkan kabel berdasarkan jenis dan ukuran, beri tanda pada kotak alat, lalu catat barang yang keluar masuk.

Dua jam pertama, bengkel berubah lebih rapi daripada biasanya. Gulungan kabel disusun di rak. Obeng dipisahkan. Tang potong diletakkan dalam kotak sendiri. Binsar bahkan membersihkan debu dari kaleng sekrup yang sejak lama kami kira berwarna abu-abu, padahal sebenarnya biru.

Masalah mulai muncul ketika ia terlalu menikmati kekuasaan memberi nama.

Kotak berisi sekring diberi label JANGAN DIMAKAN. Kabel bekas diberi label MASA LALU. Tang kombinasi diberi label BISA MENCUBIT. Kotak alatku ditempeli tulisan MILIK BANG JEPOT - KEMBALIKAN SEBELUM DIMAKI.

“Hapus yang tidak perlu,” kata Liza.

“Label harus komunikatif.”

“Label harus akurat.”

Mak Mina masuk membawa termos teh. Binsar mengambil satu stiker merah dan menempelkannya di badan termos: BERBAHAYA - PANAS DAN BANYAK OMONG.

Warung menjadi sunyi.

Mak Mina membaca label itu sekali. Lalu dua kali.

Binsar mundur. “Yang banyak omong termosnya, Mak.”

Sendok nasi terangkat.

Ia lari mengelilingi meja kerja, sementara Fadli tertawa sampai harus bersandar pada motor. Aku mencabut label dari termos sebelum Mak Mina mengubah masa percobaan menjadi masa pemulihan tulang.

Di balik kekacauan itu, Binsar bekerja cukup teliti. Ia mencatat jumlah terminal, selotip, konektor, dan kabel baru. Beberapa angka salah, tetapi ia mau mengulang setelah Liza menunjukkan perbedaannya. Pak Tor mengajarinya menggulung kabel tanpa merusak inti dan memeriksa gagang alat sebelum disimpan.

Menjelang sore, kami mendapat pekerjaan kecil memperbaiki lampu teras. Aku hendak mengajak Binsar, tetapi Liza menunjuk aturan. “Hari pertama. Ia tetap di bengkel.”

Binsar protes. “Aku bisa jadi pengamat.”

“Kau bisa mengamati rak.”

Ia akhirnya tinggal bersama Pak Tor dan Mak Mina. Saat aku kembali satu jam kemudian, semua kotak sudah tersusun, lantai disapu, dan Binsar duduk menulis daftar inventaris dengan lidah sedikit menjulur karena serius.

“Bagus,” kataku.

Ia pura-pura tidak terkejut mendengar pujian. “Memang.”

Liza memeriksa daftar. “Besok kita ulang tes dasar.”

“Besok aku lulus.”

“Belajar dulu.”

“Aku belajar sambil yakin.”

“Yakinmu itu yang paling perlu diperbaiki.”

Kami menutup bengkel setelah magrib. Fadli mengikat kotak alat ke motor. Tia mengambil foto rak yang sudah rapi dengan izin. Mak Mina menghitung sisa nasi. Binsar mencabut semua label lucu setelah dipaksa, kecuali satu di kotak sampah yang bertuliskan TEMPAT IDE JEFRI.

Aku membiarkannya karena beberapa lelucon tidak perlu dilawan.

Sebelum mengunci rak material, Liza mencocokkan daftar dengan isi. Ia menghitung konektor, terminal, kabel pendek, lalu berhenti pada ruang kosong di rak paling bawah.

“Jef,” katanya.

Nada suaranya membuat semua orang menoleh.

Ia menunjuk rak yang tadi diatur Binsar. “Gulungan kabel tembaga yang kita beli dari pembayaran kafe ada di sini siang tadi, kan?”

Aku melihat ruang kosong itu. Nilainya cukup untuk menutup beberapa hari biaya bengkel.

Binsar berdiri paling dekat dengan rak, masih memegang spidol inventaris.

“Ada,” kataku. “Aku sendiri yang taruh.”

Liza memeriksa daftar sekali lagi, lalu mengangkat wajah.

“Sekarang hilang.”

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!