NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar

Sorak-sorai dari ribuan pedagang dan pengunjung pasar induk perlahan mereda, menyisakan keheningan penuh antisipasi di lapangan barat. Barong masih terduduk lemas di tanah dengan tubuh bergetar kaku akibat efek totokan saraf, sementara dua puluh orang anak buahnya masih mengerang kesakitan di sekeliling lapangan dengan kondisi tangan dan kaki yang patah atau bergeser dari sendinya.

Bumi menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mendekati Barong yang masih menundukkan kepala dengan pasrah.

"Bang Barong, gua pegang omongan lu hari ini di depan semua warga pasar. Karena lu udah nyatain takluk secara sukarela, gua gak bakal biarin lu sama anak buah lu menderita kayak begini," ujar Bumi dengan nada suara yang santai namun berwibawa.

Barong mendongak dengan susah payah, matanya memancarkan rasa tidak berdaya. "T-tolong, Bos Bumi... tubuh gua bener-bener gak bisa digerakin sama sekali. Seluruh badan gua kesemutan hebat."

"Tenang, lu jangan tegang. Lemesin aja badannya," sahut Bumi tenang.

Bumi mengulurkan tangan kanannya, lalu dengan gerakan telapak tangan yang sangat cepat dan presisi, ia mengetuk kembali tiga titik saraf di pundak dan dada Barong secara berurutan. Tuk! Tuk! Tuk!

Seketika itu juga, aliran darah di dalam tubuh Barong yang semula tersumbat mendadak mengalir lancar kembali. Rasa kaku dan kesemutan yang menyiksa langsung lenyap tanpa bekas. Barong menarik napas lega secara rakus, lalu langsung berdiri tegak dan melompat kecil untuk memastikan seluruh fungsi tubuhnya telah kembali normal seratus persen.

"Astaga... langsung sembuh total, Bos! Tenaga gua udah balik lagi!" seru Barong dengan mata terbelalak takjub, tidak bisa menyembunyikan rasa herannya atas keajaiban medis yang baru saja ia alami.

Bumi hanya tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah belasan anak buah Barong yang masih bergulingan di tanah sambil memegangi lengan dan kaki mereka yang patah. "Nah, sekarang giliran anak buah lu. Sini, gua beresin satu-satu biar gak jadi cacat."

Bumi berjalan mendekati salah satu preman berbadan besar yang tadi lengannya diputar hingga patah sendi. Bumi berjongkok di sampingnya. Sebenarnya, teknik urut tradisional dan pembetulan tulang sudah dikuasai Bumi sejak masih tinggal di desa asal karena sering membantu mendiang kakeknya yang merupakan tabib kampung. Namun sekarang, keahlian alami tersebut telah disempurnakan berkali-kali lipat oleh kepekaan indra supranatural dan kekuatan meluap yang bersumber dari ramuan herbal ajaib peninggalan leluhurnya.

"Mas, ini bakal agak ngilu dikit ya. Tahan napas lu," kata Bumi santai sambil memegang lengan sang preman.

"A-aduh, Bos Bumi, pelan-pelan, Bos... ampun—"

Krak!

Belum sempat preman itu menyelesaikan kalimatnya, Bumi sudah menyentak dan memutar sendi lengan tersebut dengan perhitungan posisi yang sangat akurat. Jeritan ngeri yang dibayangkan penonton tidak pernah terjadi. Preman itu justru terdiam, berkedip beberapa kali, lalu perlahan menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah tanpa ada rasa sakit sedikit pun.

"Lho? Kok... kok udah gak sakit, Bos?! Tulang gua udah nyambung lagi!" teriak preman itu girang setengah mati, langsung bersujud di depan kaki Bumi.

Bumi bergerak dengan sangat cepat dari satu preman ke preman lainnya. Dengan kombinasi urutan lembut yang menyalurkan kehangatan ramuan leluhur serta sentakan taktis, ia memperbaiki patah tulang, dislokasi sendi, hingga memar parah yang diderita oleh dua puluh orang anak buah Barong. Proses luar biasa itu diselesaikan Bumi hanya dalam sekejap saja, seolah-olah cedera parah tersebut hanyalah mainan belaka.

Alya yang berdiri tidak jauh di samping ibunya menyaksikan seluruh proses penyembuhan itu dengan mulut sedikit terbuka. Matanya berbinar-binar penuh ketakutan yang kini berubah total menjadi kekaguman yang tiada tara.

"Mas Bumi... kamu bener-bener luar biasa," bisik Alya lirih, dadanya berdegup kencang karena rasa hormat dan cinta yang makin membuncah.

Orang-orang di pinggir lapangan, termasuk Kang Bendot dan Mandor Badrun, juga ikut melongo menyasikan pemandangan supranatural tersebut. Mereka semakin menghormati dan mengagumi sosok Bumi. Bumi bukan lagi sekadar pemuda yang jago berkelahi, melainkan sosok pemimpin yang memiliki hati mulia serta kemampuan menyembuhkan yang sakti.

"Gila... si Bumi ini bener-bener titisan orang suci apa ya, Pak Mandor?" bisik Kang Bendot sambil geleng-geleng kepala kagum.

Mandor Badrun mengangguk mantap dengan sisa keterpukauannya. "Iya, Bendot. Luar biasa. Beruntung bener kita kenal sama ini anak sejak awal dia dateng ke pasar."

Semenjak kejadian pertarungan besar di lapangan barat sore itu, peta kehidupan di seluruh kawasan pasar induk berubah secara drastis. Bumi secara de facto diangkat dan diakui sebagai ketua atau penguasa baru oleh seluruh elemen pasar, mulai dari kalangan kuli, pedagang, hingga kelompok preman bawaan Barong yang kini sepenuhnya tunduk di bawah perintahnya.

Di bawah kendali Bumi yang bijaksana, suasana pasar induk kini menjadi jauh lebih tertib, damai, dan aman dari sebelumnya. Praktis, tindak pemerasan liar, komplotan copet, maupun aksi premanisme yang meresahkan kini hilang total dari peredaran.

Suatu pagi, Bumi tampak sedang berkumpul bersama Barong dan beberapa perwakilan pedagang di sebuah pos keamanan yang baru direnovasi di area tengah pasar.

"Bos Bumi, gua mau nanya soal setoran mingguan pedagang nih," buka Barong dengan sikap yang sangat sopan dan patuh, sangat kontras dengan pembawaannya yang garang seminggu lalu. "Anak-anak udah mulai keliling, tapi mereka bingung tarifnya mau disamain kayak dulu apa gimana, Bos?"

Bumi yang sedang memeriksa catatan kebersihan pasar langsung menaruh pulpennya. "Gini, Bang Barong. Masalah biaya keamanan dan retribusi pasar itu emang harus tetep ada, karena kita butuh dana buat operasional perbaikan fasilitas. Tapi, aturannya wajib diubah. Biayanya gak boleh terlalu mencekik kayak zaman lu dulu sampai bikin pedagang kecil nangis."

Seorang perwakilan pedagang sayur bernama Pak Joko ikut angkat bicara dengan wajah lega. "Betul, Mas Bumi. Dulu zaman aturan Barong yang lama, potongan upeti harian kami bisa sampai tiga puluh persen dari keuntungan bersih. Kami bener-bener nombok terus."

"Nah, mulai hari ini, semua biaya retribusi kita potong jadi flat dan murah banget, Pak Joko," jawab Bumi tersenyum ramah. "Cuma buat iuran kebersihan sama jaga malam yang sewajarnya aja. Yang penting, para pedagang gak ngerasa terbebani lagi."

"Alhamdulillah... terima kasih banyak, Mas Bumi. Kebijakan ini bener-bener penyelamat buat kelangsungan dapur kami di rumah," kata Pak Joko penuh syukur sambil menyalami tangan Bumi dengan erat.

Setelah Pak Joko pergi, Barong menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah agak ragu. "Tapi, Bos... kalau iuran retribusinya dipotong drastis begitu, nasib anak buah gua gimana, Bos? Anggota gua kan total ada dua puluh orang lebih. Kalau duit upetinya dikit, mereka mau makan apa nanti? Gua takut mereka malah balik lagi jadi rampok jalanan di luar pasar karena gak ada pemasukan."

Bumi menepuk pundak Barong sambil tertawa kecil, ia sudah mengalkulasikan solusi ini di dalam otaknya yang jenius sejak awal. "Lu tenang aja, Bang Barong. Gua gak bakal biarin anak buah lu kelaparan. Gua ketua baru di sini, artinya gua juga bertanggung jawab sama isi piring mereka. Semua preman anak buah lu yang jumlahnya dua puluh orang itu bakal gua tertibkan dan gua kasih pekerjaan resmi yang legal di dalam pasar ini."

"Pekerjaan resmi gimana maksudnya, Bos?" tanya Barong penasaran.

"Mulai besok, sebagian anak buah lu bakal gua sebar di area parkir depan dan belakang ruko buat jadi tukang parkir resmi pasar," urai Bumi taktis. "Pemasukan dari parkir kendaraan pengunjung itu lumayan gede kalau dikelola dengan jujur tanpa korupsi. Terus, sisa anak buah lu yang berbadan paling gede, bakal gua tugasin secara bergilir buat bantu menjaga keamanan pasar pada malam hari sampai subuh, jadi sistem ronda malam berbayar. Dengan cara kayak begini, pengelolaan pasar jadi teratur, dan para preman itu juga masih ada pemasukan tetap yang halal setiap bulannya tanpa perlu malak orang lagi."

Mata Barong langsung berbinar mendengar penjelasan Bumi yang sangat solutif. "Wah! Ide Bos Bumi bener-bener brilian! Gua gak kepikiran sampai ke sana. Anak-anak pasti seneng banget denger kabar ini, karena mereka gak perlu dikejar-kejar polisi lagi kalau kerjanya udah legal begini."

"Nah, itu dia intinya, Bang," sahut Bumi mantap. "Satu lagi yang paling penting, mulai besok semua titik sampah di pasar induk ini harus dibersihkan secara berkala. Gua mau mengatur semua keadaan pasar induk ini dari akar sampai ke atas, mulai dari tingkat kebersihan sistem pembuangan limbah sayur sampai keamanannya."

Kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan Bumi dalam hitungan hari langsung membuahkan hasil yang nyata dan signifikan. Pasar induk yang tadinya terkenal kumuh, becek, bau busuk, dan rawan kejahatan, kini perlahan-lahan berubah menjadi kawasan perbelanjaan grosir yang sangat bersih, rapi, gersang dari sampah, dan sangat kondusif.

Suasana baru ini tentu saja membuat sangat nyaman para pengunjung yang datang berbelanja, serta membuat para penjual bisa berdagang dengan tenang tanpa rasa cemas akan diperas lagi oleh preman. Omzet penjualan pasar induk bahkan melonjak drastis karena makin banyak warga kota yang betah berbelanja di sana.

Sore itu, Alya mendatangi Bumi yang sedang duduk bersantai di depan warung nasi ibunya. Alya membawa secangkir kopi hangat kesukaan Bumi dan meletakkannya di atas meja dengan senyuman termanisnya.

"Gimana rasanya jadi ketua penguasa pasar yang baru, Mas Bumi sang ketua preman pasar?" canda Alya sambil duduk di hadapan Bumi, matanya memandang lekat wajah Bumi yang kini makin berseri dan memikat karena sudah tidak perlu lagi memikul keranjang sayur.

Bumi terkekeh pelan sambil menyeruput kopinya. "Ah, Mbak Alya bisa aja ngeledeknya. Saya mah bukan ketua preman, Mbak. Saya cuma kuli yang kebetulan dapet amanah buat beresin kekacauan di sini aja kok."

"Ih, tapi beneran tahu, Mas. Semua pedagang di blok barat sampai timur dari kemarin gak berhenti-berhentinya muji nama kamu," kata Alya dengan wajah penuh rasa bangga yang amat sangat kentara. "Mereka bilang, semenjak pasar ini dipegang sama kamu, dagangan mereka jadi makin laris karena pasarnya bersih dan gak ada lagi preman yang pasang muka seram di pojokan kios. Ibu juga seneng banget, warung kita jadi makin rame pengunjung."

Bumi menatap pemandangan pasar yang tertib di depannya dengan perasaan lega yang amat mendalam. "Alhamdulillah, Mbak Alya. Ini semua berkat pertolongan Gusti Allah dan amanah dari leluhur yang harus saya jaga. Gua cuma berharap, kedepannya tempat ini bisa terus jadi ladang rezeki yang berkah buat semua orang kecil yang mau berusaha dengan jujur."

Alya mengangguk setuju, hatinya dipenuhi kedamaian luar biasa berada di samping Bumi. Langkah besar Bumi menaklukkan kegelapan pasar kini telah berbuah manis menjadi sebuah tatanan baru yang membawa kesejahteraan bagi ribuan nyawa di pasar induk tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!