NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Waktu berlalu dengan sangat cepat dan sesi penjualan hari itu kembali ditutup dengan rekor omset yang fantastis.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan lampu-lampu di area pujasera mulai dimatikan oleh petugas keamanan.

"Nisa, kamu pulanglah duluan hari ini, biar aku yang membersihkan sisa piring kotornya." Ucap Arka menyuruh asistennya pulang lebih awal.

"Benaran tidak apa-apa Mas? Biasanya kan kita bersihkan sama-sama." Nisa bertanya dengan nada ragu.

"Tidak apa-apa, kamu kelihatan sangat lelah, cepat pulang dan istirahat." Arka tersenyum meyakinkan.

Setelah Nisa pulang, Arka sengaja berlama-lama di konternya sambil mengelap meja dengan santai.

Pujasera itu kini benar-benar sepi dan gelap, hanya menyisakan lampu dari dalam kios Arka yang masih menyala terang.

Tap tap tap.

Suara derap langkah sepatu bot yang sangat berat dan bergerombol memecah keheningan malam di lantai tiga.

Enam orang pria bertubuh kekar mengenakan jaket kulit hitam dan masker penutup wajah berjalan mendekati kios Arka.

Mereka semua memegang tongkat bisbol baja dan linggis besi di tangan masing-masing.

"Hei koki sombong, waktu main-mainmu sudah habis." Ucap pria paling depan yang merupakan pemimpin kelompok itu dengan suara serak.

"Tuan Hendra menitipkan salam untukmu karena berani menolak tawaran baiknya tadi pagi." Tambah preman itu sambil memukul-mukulkan tongkat bisbol ke telapak tangannya.

Arka sama sekali tidak menghentikan kegiatannya mengelap meja, ia bahkan tidak menoleh sedikit pun.

"Kalian merusak ketenangan malamku, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan kaki kalian semua." Arka memperingatkan dengan suara yang sangat tenang.

Para preman itu saling berpandangan dan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman dari seorang koki bertubuh kurus.

"Hancurkan gerobak norak ini sampai jadi rongsokan, jangan sisakan kaca yang utuh!" Teriak pemimpin preman itu memberikan komando.

Dua orang preman langsung berlari maju dan mengayunkan tongkat bisbol baja mereka sekuat tenaga ke arah etalase kaca gerobak Arka.

Brak!

Alih-alih terdengar suara kaca pecah, yang terjadi justru sebuah pemandangan yang sangat tidak masuk akal.

Ngiing! Wush!

Sebuah gelombang energi transparan yang menyala biru sekilas muncul tepat di permukaan kaca etalase.

Daya kinetik dari pukulan tongkat baja itu diserap dan dipantulkan kembali dengan kekuatan dua kali lipat.

Bugh!

Tongkat bisbol baja itu menghantam keras wajah kedua preman itu sendiri hingga mereka terpental ke belakang.

Tubuh mereka melayang beberapa meter di udara sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai marmer dengan suara berdentum yang keras.

Kedua preman itu langsung pingsan di tempat dengan hidung yang patah dan darah segar mengalir dari mulut mereka.

Pemimpin preman dan tiga anak buahnya yang tersisa membelalakkan mata mereka dengan wajah pucat pasi.

"I-ilmu hitam macam apa itu? Kenapa pukulan mereka memantul?" Pemimpin preman itu mundur selangkah dengan lutut gemetar.

Arka meletakkan kain lapnya dan berjalan keluar dari balik konter dengan langkah yang sangat pelan.

"Aku sudah bilang untuk pergi, tapi kalian memilih untuk menguji kesabaranku." Arka menatap mereka dengan aura membunuh yang sangat pekat.

"Serang dia bersama-sama, dia cuma sendirian!" Teriak pemimpin preman itu mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

Tiga preman itu nekat berlari maju menerjang Arka dengan linggis besi yang diayunkan tinggi-tinggi.

Arka tidak mundur sedikit pun, ia justru maju menyambut serangan itu dengan sangat tenang.

Sring!

Sebuah linggis besi diayunkan ke arah kepala Arka dengan kecepatan penuh.

Berkat Keterampilan Bela Diri Praktis tingkat menengah, gerakan preman itu terlihat sangat lambat di mata Arka.

Arka menunduk sedikit untuk menghindari serangan itu, lalu tangan kanannya melesat cepat seperti kilat.

Bugh!

Satu pukulan keras mendarat tepat di ulu hati preman pertama hingga membuat pria besar itu memuntahkan air liur dan jatuh berlutut.

Preman kedua mencoba memukul Arka dari arah samping kiri.

Krak!

Arka menangkis pukulan itu dengan lengan kirinya yang kini sekeras baja, lalu kaki kanannya menendang lutut preman itu hingga terdengar suara tulang patah.

"Aaargh!" Preman kedua berteriak kesakitan dan tumbang ke lantai memegangi kakinya.

Pemimpin preman yang tersisa kini berdiri sendirian dengan tubuh bergetar hebat hingga linggis di tangannya terjatuh.

Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, kelima anak buahnya telah dihabisi oleh seorang koki tanpa Arka mengeluarkan setetes keringat pun.

Arka berjalan mendekati pemimpin preman itu dengan tatapan mata yang lebih dingin dari es.

"J-jangan bunuh aku, aku cuma disuruh!" Preman itu memohon ampun sambil mengangkat kedua tangannya.

Arka mencengkeram kerah jaket kulit pria itu dan mengangkat tubuhnya sedikit ke udara dengan satu tangan.

"Kembali ke majikanmu, katakan pada si tua Hendra itu bahwa Dapur Arka Absolute tidak bisa disentuh oleh siapa pun." Arka berbisik dengan nada rendah yang sangat menakutkan.

"Dan bilang juga pada anaknya, Kevin, bahwa penderitaannya baru saja akan dimulai."

Arka kemudian melempar tubuh preman berbadan besar itu ke lantai layaknya membuang karung beras yang ringan.

Bruk!

"Bawa sampah-sampah ini keluar dari pandanganku sekarang juga." Perintah Arka dengan tajam.

Pemimpin preman itu langsung merangkak bangun dengan panik.

Ia membangunkan anak buahnya yang masih setengah sadar dan memapah mereka pergi meninggalkan pujasera dengan berlari terbirit-birit.

Arka menatap kepergian mereka sambil menghela napas pelan.

Poin kepuasannya memang terkuras habis malam ini, namun sistem telah membuktikan nilainya yang tidak terhingga untuk kesekian kalinya.

"Urusan bisnis selalu berujung pada pertarungan kekuasaan, dan aku harus siap menjadi raja di jalur ini." Arka mengepalkan tangannya menatap lampu kota dari balik kaca mal.

Pertempuran sesungguhnya antara sistem tingkat dewa melawan mafia bisnis kota ini akhirnya resmi dimulai.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!