Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah sakit
Malam pertama di griya tawang Keluarga Vasillo berjalan dengan keheningan yang pekat. Setelah konfrontasi kecil di balkon sore tadi, Adrian langsung pergi meninggalkan rumah dengan setelan jasnya yang kembali rapi—Malik menyebut ada pertemuan darurat dengan dewan komisaris Vasillo Group yang tidak bisa ditunda. Alya sendiri merasa lega. Setidaknya, ketidakhadiran pria itu memberinya ruang untuk bernapas bebas tanpa perlu merasa diawasi oleh sepasang mata elang yang mengintimidasi.
Alya menghabiskan sisa malamnya di kamar bermain, menemani Leon dan Lulu yang mendadak tidak mau tidur jika Alya tidak berada di antara mereka. Kedua bocah kembar itu tidur dengan posisi posesif; Leon memeluk lengan kiri Alya, sementara Lulu menjadikan lengan kanan Alya sebagai bantalnya.
Menatap langit-langit kamar yang temaram, Alya menyentuh cincin berlian di jari manisnya dengan ibu jari. “Mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan untuk tidak menginginkan apa pun dariku.” Kata-kata Adrian kembali terngiang. Alya mendengus pelan dalam kegelapan. Pria itu terlalu percaya diri dengan pesona dan kekayaannya. Dia tidak tahu bahwa bagi Alya, satu-satunya hal yang berharga di dunia ini adalah helai napas ibunya yang kini tersambung oleh mesin rumah sakit.
Keesokan paginya, rutinitas baru Alya resmi dimulai. Sesuai janji Adrian, sebuah mobil sedan mewah hitam beserta seorang sopir pribadi bernama Pak Joko sudah bersiap di lobi bawah sejak pukul tujuh pagi. Hari ini adalah jadwal pertama Alya untuk mengunjungi ibunya di Rumah Sakit Pusat.
"Nyonya Alya, Tuan Adrian berpesan agar saya memastikan Nyonya kembali sebelum pukul satu siang," ujar Pak Joko dengan sangat sopan saat membukakan pintu mobil untuk Alya.
Alya tersenyum tipis, merasa agak risih dipanggil dengan sebutan 'Nyonya'. "Baik, Pak Joko. Kita langsung ke rumah sakit saja."
Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit akibat kemacetan Jakarta yang padat. Begitu sampai di rumah sakit, Alya segera melangkah menuju ruang ICU lantai lima. Jantungnya berdesir haru saat melihat plang nama ibunya masih tertera di sana, dan yang paling penting, seluruh peralatan medis terbaik kini terpasang rapi di tubuh ibunya yang kurus.
"Mbak Alya?" seorang dokter spesialis yang biasanya menangani ibunya berjalan mendekat dengan senyum cerah. "Luar biasa, Mbak. Kemarin sore seluruh administrasi pelunasan dan dana deposit untuk operasi tahap kedua ibu Mbak sudah masuk. Kami bahkan sudah menjadwalkan operasinya untuk akhir pekan ini."
Air mata Alya hampir menetes. Ia membungkuk dalam-dalam kepada sang dokter. "Terima kasih, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya."
Alya menghabiskan waktu dua jam di dalam ruang ICU, duduk di samping bangsal ibunya, menggenggam tangan wanita paruh baya yang masih belum sadarkan diri itu sambil membisikkan kata-kata penguat.
"Ibu... Alya sudah menemukan jalan keluar. Ibu tidak perlu khawatir lagi tentang biaya," bisik Alya lirih, mencium punggung tangan ibunya yang terasa dingin. "Alya sekarang bekerja di tempat yang baik. Anak-anak di sana sangat lucu. Ibu harus cepat bangun untuk melihat mereka, ya?"
Tepat pukul sebelas lewat tiga puluh menit, ponsel baru yang diberikan Malik di saku gaun Alya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar. Alya mengernyit, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo?"
"Di mana kamu?" suara bariton yang berat, dingin, dan sangat akrab langsung terdengar dari seberang telepon. Itu Adrian.
Alya menjauhkan ponselnya sesaat, memastikan pendengarannya tidak salah. "Saya masih di rumah sakit, Tuan—maksudku, Adrian. Ada apa?"
"Pulang sekarang," perintah Adrian tanpa basa-basi, nadanya terdengar ketat dan tidak sabaran. "Ada situasi di rumah. Si kembar tidak mau makan siang dan mereka mulai mengamuk karena mencarimu. Malik sudah dalam perjalanan menjemputmu bersama Pak Joko."
Alya langsung berdiri dari kursinya, rasa panik mendadak menyerang dadanya. "Mengamuk? Apa yang terjadi? Mengapa mereka tidak mau makan?"
"Mereka mengira kamu melarikan diri seperti..." Adrian menghentikan kalimatnya sesaat, ada jeda berat yang sarat akan kemarahan di seberang telepon sebelum ia melanjutkan dengan desisan rendah, "...seperti wanita itu. Pulang sekarang, Alya. Jangan membuatku menjemputmu dengan paksa."
Klik. Sambungan telepon diputus sepihak.
Alya menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ketakutan si kembar akan kehilangan sosok ibu ternyata jauh lebih parah dari yang ia duga. Tanpa membuang waktu, Alya berpamitan cepat pada perawat jaga dan berlari menuju lift. Di lobi bawah, mobil Pak Joko sudah menunggu dengan pintu yang terbuka.
Begitu lift griya tawang terbuka di lantai atas, suara tangisan histeris dan bunyi barang pecah langsung menyambut pendengaran Alya. Ia bergegas berlari menuju ruang tengah dan mendapati pemandangan yang kacau balau.
Mangkuk berisi sup sayur sudah tumpah mengotori lantai marmer putih. Lulu sedang duduk di atas karpet sambil menangis sejadi-jadinya, wajahnya merah padam dan napasnya tersengal-sengal. Sementara Leon berdiri di dekat sofa, memegang sebuah mainan robot dengan tatapan mata yang penuh amarah dan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Bik Sum dan beberapa pelayan lain tampak kebingungan dan ketakutan, berdiri agak jauh tanpa berani mendekat. Di tengah ruangan, Adrian sedang berdiri dengan rahang mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menahan emosinya agar tidak membentak anak-anaknya sendiri.
"Leon, Lulu!" panggil Alya dengan suara yang sedikit terengah karena berlari.
Mendengar suara itu, tangisan Lulu mendadak berhenti sesaat. Kedua bocah kembar itu menoleh serempak ke arah sumber suara. Begitu melihat sosok Alya yang berdiri di dekat koridor dengan napas memburu, mata mereka langsung melebar.
"Mama?!" seru Lulu histeris. Ia langsung bangkit berdiri dan berlari sekencang mungkin, menghambur ke pelukan Alya yang langsung berlutut di lantai untuk menyambutnya.
"Mama! Mama tidak pergi! Mama tidak bohong!" tangis Lulu kembali pecah di dada Alya, tangan kecilnya mencengkeram kuat kerah gaun krem Alya seolah takut jika ia melepaskannya, Alya akan menguap menjadi asap.
Leon berjalan mendekat dengan langkah yang lebih lambat, namun bahunya naik turun menahan isak tangis. Ia menjatuhkan robot di tangannya ke lantai, lalu ikut memeluk leher Alya dari belakang. "Leon kira... Leon kira Mama pergi bersama paman lain seperti kata..." Leon tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menyembunyikan wajahnya di bahu Alya, menangis sesenggukan.
Jantung Alya berdenyut nyeri mendengar kalimat polos dari mulut Leon. Pergi bersama paman lain? Jadi anak sekecil Leon sebenarnya tahu alasan mengapa ibu kandung mereka pergi?
Alya mendekap kedua tubuh mungil itu dengan erat, mengusap punggung mereka bergantian dengan penuh kasih sayang. "Ssst... maafkan Mama, Sayang. Mama tidak pergi. Mama hanya pergi sebentar untuk menengok nenek di rumah sakit. Mama sudah berjanji tidak akan meninggalkan Leon dan Lulu, kan? Mama selalu menepati janji."
Adrian yang menyaksikan adegan itu dari jarak beberapa langkah perlahan merilekskan kepalan tangannya. Guratan amarah di dahinya sedikit memudar, digantikan oleh tatapan mata yang rumit dan dalam saat melihat bagaimana kedua putranya langsung tenang hanya dalam waktu beberapa detik setelah menyentuh Alya.
"Bik Sum, bersihkan lantai ini," perintah Adrian dengan suara rendah, mengabaikan suasana emosional di depannya. Pria itu kemudian menatap Alya. "Bawa mereka ke kamar. Pastikan mereka makan setelah emosinya stabil."
Alya mendongak, menatap Adrian dengan pandangan yang sarat akan teguran. Ia tidak suka bagaimana pria itu memperlakukan anak-anaknya dengan begitu kaku dan penuh perintah seperti di lingkungan militer, padahal yang mereka butuhkan saat ini hanyalah kelembutan. Namun Alya memilih untuk tidak mendebatnya sekarang.
"Ayo, Leon, Lulu. Kita ke kamar, ya? Mama punya cerita bagus tentang robot pahlawan untuk kalian," ajak Alya lembut.
Kedua bocah itu mengangguk patuh, membiarkan Alya menuntun tangan mereka menjauh dari ruang tengah menuju kamar bermain mereka.
Butuh waktu hampir satu jam bagi Alya untuk benar-benar menenangkan si kembar. Setelah menyuapi mereka kembali dengan bubur baru yang dibuatkan Bik Sum dan memastikan mereka tertidur karena kelelahan menangis, Alya akhirnya bisa keluar dari kamar.
Ia menutup pintu kamar bermain dengan sangat perlahan, lalu membalikkan tubuhnya. Langkahnya mendadak terhenti ketika melihat Adrian sedang berdiri bersandar di dinding lorong yang gelap, tidak jauh dari pintu kamar anak-anak. Pria itu tampaknya sengaja menunggunya keluar.
Jas tiga potongnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan frustrasi yang jarang ia tunjukkan di hadapan publik.
"Mereka sudah tidur?" tanya Adrian, suaranya terdengar sedikit serak.
"Sudah," jawab Alya pendek. Ia melangkah melewati Adrian, bermaksud kembali ke kamarnya sendiri, namun gerakan tangan Adrian yang cepat langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Lepaskan, Adrian. Saya lelah," ujar Alya tanpa menoleh, suaranya terdengar dingin.
Adrian tidak melepaskannya. Ia justru menarik pergelangan tangan Alya, memaksa wanita itu berbalik menghadapi tubuh tegapnya. Jarak mereka kembali mengikis, membuat Alya bisa merasakan aura menekan dari sang CEO.
"Kamu mendengar apa yang dikatakan Leon tadi, bukan?" tanya Adrian, mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Alya dengan intensitas yang tajam.
Alya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ya. Leon bilang dia mengira saya pergi bersama 'paman lain'. Apa maksudnya, Adrian? Apakah... apakah anak sekecil itu tahu tentang masalah ibunya?"
Adrian mendengus sinis, sebuah senyuman pahit terukir di bibirnya yang dingin. Ia melepaskan cengkeramannya di tangan Alya, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Empat tahun lalu, ketika wanita itu memilih pergi dengan selingkuhannya, dia tidak hanya meninggalkanku, Alya. Dia meninggalkan Leon dan Lulu yang saat itu masih berusia beberapa bulan di dalam boks bayi mereka, hanya untuk mengejar pria kaya lain yang dia kira bisa memberikan kehidupan lebih mewah dari apa yang kuberi saat itu."
Napas Alya tertahan. Ia tidak menyangka cerita di balik ketidakhadiran ibu si kembar akan se-kejam ini.
"Leon memiliki ingatan yang sangat tajam untuk anak seusianya," lanjut Adrian, suaranya merendah, penuh dengan getaran kemarahan masa lalu yang belum usai. "Dia merekam semua pertengkaran kami, semua tangisan, dan kata-kata terakhir wanita itu sebelum melangkah keluar dari pintu rumah ini. Itulah alasan mengapa mereka mengalami trauma berat terhadap wanita asing. Mereka mengira setiap wanita yang mendekati mereka pada akhirnya akan pergi dan membuang mereka seperti yang dilakukan ibu kandung mereka sendiri."
Mendengar penjelasan itu, rasa kesal Alya terhadap sikap kaku Adrian perlahan mencair, digantikan oleh rasa empati yang mendalam. Di balik dinding es dan kekuasaan mutlak pria ini, ternyata ada seorang ayah yang hancur, yang berusaha mati-matian melindungi sisa-sisa hati anak-anaknya dari kerasnya kenyataan dunia.
Alya melangkah maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka. Ia menatap Adrian dengan pandangan mata yang kini melembut, tanpa ada lagi kilat perlawanan.
"Jika itu masalahnya, maka cara Anda memperlakukan mereka selama ini salah, Adrian," ucap Alya lembut namun tegas.
Adrian mengernyitkan dahinya, tidak suka dikritik. "Apa maksudmu?"
"Anda mendidik mereka seperti prajurit. Anda memberi mereka perintah, aturan ketat, dan jarak yang dingin karena Anda takut mereka akan menjadi lemah atau terluka lagi," jelas Alya, menunjuk dada Adrian dengan jari telunjuknya yang lentik. "Tapi mereka bukan prajurit perusahaan Anda, Adrian. Mereka anak-anak berusia empat tahun yang membutuhkan pelukan, ciuman, dan kepastian bahwa mereka dicintai. Ketakutan mereka tidak akan hilang dengan aturan, melainkan dengan kehadiran."
Adrian terpaku menatap jari tangan Alya yang menyentuh dadanya, tepat di atas jantungnya yang kini berdetak sedikit lebih cepat. Kata-kata Alya seolah meruntuhkan dinding pertahanan yang telah ia bangun dengan susah payah selama empat tahun ini. Tidak ada seorang pun yang berani mengajarinya cara menjadi seorang ayah, namun wanita di hadapannya ini melakukannya dengan begitu berani dan tulus.
"Kamu... benar-benar berpikir bisa mengubah cara hidup di rumah ini, Alya?" bisik Adrian, suaranya terdengar serak dan dalam, matanya menatap lekat ke arah bibir Alya yang bergerak saat berbicara tadi.
Alya menarik tangannya kembali, tersenyum tipis dengan binar tekad di matanya. "Saya tidak berniat mengubah hidup Anda, Tuan CEO. Tapi selama saya memegang kontrak sebagai 'Mama' dari Leon dan Lulu, saya akan memastikan mereka mendapatkan seluruh kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan. Dan jika itu artinya saya harus menentang aturan kaku Anda... maka saya akan melakukannya."
Adrian menatap intens wajah Alya selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Keheningan di lorong itu mendadak terasa dipenuhi oleh ketegangan aneh yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata—sebuah tarikan magnetis di antara dua jiwa yang memiliki tujuan berbeda namun kini terikat oleh takdir yang sama.
"Kalau begitu, buktikan ucapanmu, Nyonya Vasillo," bisik Adrian dengan seringai tipis yang sarat akan tantangan tersembunyi, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Alya yang kembali berdiri sendirian di bawah temaram lampu lorong dengan jantung yang berdegup kencang.