Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Amarta sendiri yang melihat situasi semakin tidak kondusif dan tidak terkendali, lantas buru-buru melerai pertengkaran yang dilakukan oleh Romeo dan Felix.
"Sudah ... Sudah, berhenti! Ini ruang makan, kalian berdua itu saudara. Bahkan darahku juga mengalir dalam tubuh kalian berdua, tapi kenapa kalian berdua ini selalu tidak akur!" kata Amarta dengan suara meninggi.
Baik Felix maupun Romeo sama-sama memalingkan pandangannya ke arah lain.
Keduanya tentu saja sama-sama tidak mau melawan orang yang sudah sepuh seperti Amarta.
Lantas suasana di ruang makan langsung berubah hening, hanya ada suara dentingan sendok.
Violet yang baru saja mendapatkan penghinaan yang lumayan parah dari Felix, orang yang sebelumnya sangat dia cintai langsung tidak selera makan.
Sebenarnya dia ingin meninggalkan ruang makan, tapi dia merasa kalau itu bukanlah hal yang sopan.
Jadi Violet meletakkan sendok dan menyudahi makan, dia masih menundukkan kepalanya.
Hatinya berdenyut sakit, kepingan potongan masa-masa indah pacaran bersama Felix berputar didalam otaknya.
Dan sekarang, Felix malah menghinanya dengan kata-kata yang begitu parah.
Tiba- tiba tangan dingin Romeo menggenggam erat tangan Violet.
Violet lantas menoleh dan pandangannya langsung beradu dengan Romeo.
Bahkan keduanya merasakan hembusan nafas keduanya saling bertautan.
Wajah Violet sekarang ini memerah seperti tomat.
"Nenek aku dan Violet sudah selesai makan, aku akan mengantar Violet ke sekolah!" Kata Romeo seraya melepaskan genggaman tangannya perlahan.
"Kakimu masih pemulihan, biarkan Violet diantar oleh Yasa," ucap Amarta khawatir menimpali Romeo.
Romeo menggeleng, "kakiku sudah sangat sembuh. Biar aku saja yang mengantarnya pergi ke sekolah!"
Melihat keteguhan yang ditunjukkan oleh Romeo, Amarta tidak bisa berbuat lebih.
Dia hanya bisa menekan rasa khawatirnya.
Amarta pun mengangguk.
"Ayo Vio!" Titah Romeo dengan panggilan yang lebih akrab.
Sementara Felix sendiri, mati-matian menahan rasa cemburunya.
Apalagi mendengar Romeo yang memanggil nama Violet dengan panggilan akrab, dada Felix terasa seperti dibakar.
Violet pun mengangguk.
Kini keduanya berjalan menjauh dari ruang makan.
"Apakah kamu pernah dekat Violet, Felix?" tanya Amarta pada cicitnya.
Dengan ekspresi yakin, Felix langsung menggeleng.
Sementara Amarta yang melihat gelengan cicitnya hanya bisa menghembuskan nafas kasar kecewa.
Dia tidak menyangka kalau Felix cicitnya memang pandai berbohong seperti ayahnya.
Romeo dan Violet pun berjalan bersama, tapi ada hal aneh yang membuat Violet bingung.
"Tu - tuan kita mau kemana?" tanya Violet gugup.
Romeo dengan cepat menarik tangan Violet, yang gemetar karena ketakutan dan kebingungan, menuju sebuah kamar yang sepi dan sunyi.
Romeo memilih tidak membawa Violet ke kamarnya, karena dia tadi sudah pamit mengantar Violet ke sekolah.
Kalau ke kamarnya takut akan membuat Felix curiga.
Gerakan Romeo begitu cepat dan penuh keputusasaan.
Ketika mereka memasuki kamar, Violet hanya bisa pasrah saat Romeo mulai berbicara dengan suara yang serak,
"Tuan ...," coba Violet berbicara namun terputus oleh desakan Romeo.
"Aku harus menghisap ASImu dulu! Biar bertenaga, nanti kalau kutukan ini sudah hilang, aku gak akan mengganggu mu lagi," ucap Romeo dengan nada yang mendesak, seolah-olah tiap detik sangat berharga bagi kelangsungan hidupnya.
Dia mulai membuka baju seragam sekolah Violet, gerakannya lembut namun tergesa-gesa, seakan-akan dia berlomba dengan waktu.
Violet, yang merasa terpojok, hanya bisa mengangguk pasrah.
Matanya berkaca-kaca, menahan segala emosi yang bercampur aduk; takut, sedih, dan rasa tidak berdaya. Namun, di tengah keputusasaan itu, dia masih mencoba mencari celah untuk menyelesaikan masalah lain yang membebani pikirannya.
Violet mengigit bibir bawahnya, kala lidah Romeo sekarang ini sudah menyapu bagian dadanya.
Saat dalam keadaan yang intim itu yaitu menyusui bayi besar.
Violet memberanikan diri untuk mengajukan sebuah permintaan.
"Tapi Tuan, bisakah Anda menolong saya untuk mencari tahu keberadaan bayi saya," kata Violet dengan suara yang ragu dan penuh harap, mencoba mengadakan negosiasi meski dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Romeo, yang sedang fokus pada tujuannya, sejenak terhenti.
Matanya yang tadinya penuh dengan kegilaan, sekarang menunjukkan sedikit tanda pertimbangan.
Violet melihat ini sebagai kesempatan, meski kecil, untuk mungkin mendapatkan bantuan dari Romeo, yang meski dalam keadaan terdesak, mungkin masih memiliki rasa kemanusiaan di dalam dirinya.
Sementara itu, diluar ruangan kosong itu.
Felix berjalan mendekat ke arah ruangan Romeo dan Violet.
"Ternyata benar ucapanku. Kau menggoda pamanku Romeo dengan tubuhmu, kalian berdua berada didalam kamar yang sama, padahal sebelumnya kamu sangat sulit menurutiku Violet," gumam Felix dengan amarah dan kekecewaan yang mendalam.
Felix teringat, walaupun sudah hamil anaknya pun, sebelumnya Violet tetap sangat sulit kalau untuk diajak berhubungan secara intim.
Tapi kenapa dengan Romeo, Violet malah menyerahkan tubuhnya secara sukarela?" Sebuah pertanyaan mengganjal dalam diri Felix, tanpa sadar kedua tangannya juga terkepal.
Felix memegang kenop pintu dan berniat untuk membukanya.
Violet merasakan detak jantungnya berpacu ketika melihat kenop pintu bergerak perlahan.
Ia masih menyusui Romeo yang sedang terbaring di ranjang, mencoba menenangkan diri dari ketakutan yang melanda.
ASI yang ia berikan bukan sekadar nutrisi, namun obat penting untuk mengatasi kutukan yang diderita Romeo.
"Tuan, bagaimana ini? Soalnya dari aku melihat keponakan Tuan Romeo mengikuti kita," bisik Violet dengan suara gemetar, matanya tak lepas dari pintu yang sepertinya akan terbuka.
Romeo, dengan senyum yang menghangatkan hati dan tatapan yang lembut, memegang tangan Violet.
Bahkan Romeo juga terlihat tidak berhenti untuk menghisap sari-sari kehidupannya dari tubuh Violet.
"Tenanglah, gak lama lagi kita juga akan menikah. Apakah kamu takut kalau Felix, mantanmu, mengetahui hubungan kita?" ucapnya, mencoba meredakan kecemasan yang terasa mencekam.
Violet tertegun, lalu dia menatap Romeo dengan tatapan begitu dalam.
"Tuan ... Bukankah menikah ... ?"
Sebelum Violet bisa melanjutkan ucapannya, Romeo buru-buru berkata dengan nada kecewa.
"Aku tahu, kalau kamu gak mau menikah denganku. Dan apa yang aku katakan barusan itu bercanda," sela Romeo yang sepertinya salah paham dengan maksud Violet.
Violet hanya bisa mengangguk.
Violet, yang sejak tadi cemas, kini bingung.
Perasaannya campur aduk; di satu sisi ia merasa terancam oleh kehadiran orang yang mungkin saja Felix, di sisi lain ia terbuai oleh ketenangan yang Romeo coba pancarkan.
Namun, ketakutannya tidak semata-mata tentang Felix, melainkan juga apa yang akan terjadi jika kutukan Romeo tidak kunjung terlepas.
Di balik pintu, langkah kaki terdengar semakin mendekat, menambah ketegangan yang sudah terasa.
Violet menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian, sementara Romeo tetap terbaring, menatapnya dengan penuh kepercayaan bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja.
Ceklek ... Tak berselang lama pintu kamar pun terbuka.
Violet nampak menatap bayangan tinggi yang sekarang ini berdiri ditengah -tengah pintu.