Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Aman Di Tengah Kota
"Eh? Kamu mau ke sini sekarang?!" Naomy langsung terduduk tegak di kasurnya. Rasa kantuk dan lelah setelah bersih-bersih kosan seketika menguap tanpa bekas, digantikan oleh kepanikan yang mendebarkan.
"Iya, Sayang. Ini aku sudah mau jalan. Kamu jangan ke mana-mana, ya," sahut Raka santai di seberang telepon sebelum akhirnya memutuskan sambungan dengan kekehan lembut.
Naomy menatap layar ponselnya yang sudah menggelap dengan panik. Ia melirik jam dinding—waktunya tidak banyak! Raka mengendarai mobil, dan jalanan hari Minggu pagi biasanya cukup lengang.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Naomy langsung menyambar handuknya dan bergegas menuju kamar mandi di dalam kosannya. Ia mandi dengan gerakan secepat kilat, mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang segar untuk meredakan debar jantung yang belum juga mereda sejak menerima telepon tadi.
Sepuluh menit kemudian, Naomy kembali ke kamar dengan rambut yang masih setengah basah. Ia segera membuka lemari pakaian, mencari baju yang nyaman namun tetap terlihat rapi di depan pacar barunya.
Setelah menimbang-nimbang beberapa pilihan, Naomy akhirnya memutuskan untuk memakai pakaian santai andalannya ketika sedang bersantai di kos: sebuah kaus lengan pendek berwarna pastel yang longgar dan celana pendek kain kesukaannya yang sangat nyaman. Gaya kasual yang sederhana, namun entah kenapa membuat Naomy merasa sangat menjadi dirinya sendiri.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding, menyisir rambutnya dengan rapi dan membiarkannya terurai alami. Naomy juga memoleskan sedikit pelembap bibir agar wajahnya tidak terlihat pucat.
Baru saja ia meletakkan kembali sisirnya ke atas meja, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat familier berhenti di depan area parkir kosan, disusul dengan ketukan pelan di pintu kamarnya.
Naomy menarik napas dalam-dalam, menata debar jantungnya yang mendadak melompat liar, lalu perlahan memutar kunci dan membuka pintu kamarnya.
Di ambang pintu, Raka sudah berdiri dengan gagah. Ia mengenakan kaus polo kasual berwarna abu-abu yang pas di tubuh atletisnya, dengan satu tangan menjinjing kantong plastik besar berisi aroma harum bubur ayam dan dimsum hangat. Namun, begitu pintu terbuka sepenuhnya, gerakan Raka seketika terkunci.
Pria itu tertegun. Pandangannya terpaku pada sosok Naomy yang berdiri di depannya.
Raka terbiasa melihat Naomy di kantor dengan kemeja rapi, blazer, atau celana bahan panjang yang formal. Bahkan semalam, gadis itu memakai celana panjang karena udara malam yang dingin. Tapi pagi ini, melihat Naomy mengenakan kaus longgar pastel dan celana pendek kain di atas lutut yang memperlihatkan kaki putih bersihnya, Raka benar-benar dibuat bengong.
Rambut Naomy yang setengah basah terurai alami, membingkai wajah polosnya tanpa riasan tebal yang tampak begitu segar dan... luar biasa imut.
Naomy yang ditatap intens seperti itu langsung merasa salah tingkah. Ia meremas ujung kausnya, menggeser kaki kanannya ke belakang kaki kirinya dengan canggung.
"R-Raka... kenapa bengong gitu?" tanya Naomy gugup, pipinya mulai bersemu merah muda. "Penampilan aku aneh, ya? Apa aku ganti celana panjang aja?"
Mendengar suara cicitan manis itu, kesadaran Raka langsung ditarik kembali ke bumi. Ia berdeham pelan, mencoba menetralkan kegugupannya sendiri, lalu tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit jenaka.
"Jangan diganti," potong Raka cepat, suaranya terdengar sedikit serak. Ia melangkah masuk tanpa diundang, lalu menutup pintu kosan dengan tumit kakinya. "Gak ada yang aneh. Justru pacar aku ini imut banget kalau penampilannya begini. Bikin gemas, rasanya pengen aku kantongin biar gak dilihat orang lain."
Naomy memukul pelan lengan Raka dengan wajah yang semakin memerah. "Ih, gombal pagi-pagi! Sini, mana sarapannya? Aku udah laper tahu!"
Raka terkekeh geli melihat respons salah tingkah Naomy. Ia mengangkat kantong makanan di tangannya tinggi-tinggi. "Iya, ini sarapan buat tuan putri yang imut. Yuk, kita makan."
Setelah perdebatan kecil yang menggemaskan tentang celana pendek Naomy, keduanya akhirnya duduk lesehan di atas karpet bulu yang hangat. Raka dengan telaten membuka satu per satu wadah makanan yang ia bawa—bubur ayam hangat dengan taburan cakwe yang melimpah, lengkap dengan beberapa porsi dimsum kukus yang masih mengepulkan uap panas.
"Ayo makan, Sayang. Harus dihabiskan ya," ujar Raka lembut sambil menyodorkan sendok ke arah Naomy.
"Siap, Pak CEO! Eh... maksudnya, Sayang," ralat Naomy cepat dengan nada setengah berbisik, membuat Raka tertawa renyah mendengar kepatuhan manis pacarnya itu.
Mereka pun menghabiskan sarapan pagi itu dengan diselingi obrolan ringan dan tawa kecil. Sesekali Raka menyuapkan dimsum ke mulut Naomy, dan begitu pula sebaliknya. Suasana terasa begitu hangat, intim, dan jauh dari hiruk-pikuk tuntutan dunia luar.
Sambil mengunyah makanannya, Raka sesekali melirik ke arah jendela luar yang terbuka sedikit. Dari posisinya, terdengar sayup-sayup suara kicau burung dan angin pagi yang tenang.
Area kos-kosan tempat Naomy tinggal ini memang terletak di dalam gang yang cukup tenang. Lingkungannya tidak begitu padat, dan yang paling penting, tipe penghuni kos di sini adalah tipe masyarakat urban yang sibuk dengan urusan masing-masing. Tetangga kanan-kiri tidak ada yang terlalu kepo atau suka bergosip di depan teras. Semua orang menghargai privasi satu sama lain.
Kenyataan ini membuat Raka mengembuskan napas lega. Ada rasa hangat dan aman yang menjalar di dadanya.
"Pilihan kamu buat tetap tinggal di sini ternyata nggak salah, Sayang," ucap Raka tiba-tiba sambil merapikan helai rambut Naomy yang sempat turun menghalangi wajahnya.
"Hmm? Kenapa emangnya?" tanya Naomy dengan mulut yang masih sedikit penuh.
"Di sini tenang banget. Orang-orangnya juga nggak ada yang kepo," jawab Raka sambil tersenyum tulus. Ia menyandarkan punggungnya ke tepi tempat tidur Naomy dengan rileks. "Aku jadi merasa aman kapan pun aku mau datang ke kos pacar aku ini. Nggak perlu khawatir ada mata-mata yang memperhatikan."
Naomy tersenyum lebar, menelan makanannya lalu menatap Raka dengan binar mata jenaka. "Tuh, kan! Apa aku bilang. Kosan aku ini walaupun kecil, tapi punya sejuta kedamaian tahu. Jadi, kamu bakal sering-sering ke sini, nih?"
Raka mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata bulat Naomy dengan senyuman penuh arti. "Bukan sering lagi, Sayang. Kalau bisa, setiap hari setelah pulang kantor aku mau mampir ke sini. Gimana, boleh?"
Naomy seketika mengerucutkan bibirnya, lalu mendorong pelan bahu tegap Raka dengan kedua tangannya yang masih memegang tisu.
"Jangan keseringan, ihh!" ucap Naomy setengah merajuk, wajahnya kembali bersemu merah akibat godaan pria itu.
Raka yang mendapat dorongan kecil itu justru terkekeh geli. Ia tidak bergeser sedikit pun, malah sengaja menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi pura-pura kecewa yang sangat dibuat-buat. "Loh, kenapa? Kan pacarnya sendiri yang datang. Memangnya kamu nggak kangen kalau nggak ketemu aku sehari aja?"
"Bukan begitu, Raka... eh, Sayang," Naomy meralat panggilannya dengan cepat saat melihat sorot mata Raka yang langsung menuntut. "Masalahnya, kamu itu CEO di kantor aku. Kalau tiap hari mobil mewah kamu parkir di depan kosan ini, lama-lama tetangga juga bakal curiga. Terus, apa kata anak-anak kantor kalau sampai tahu bos besarnya hobi nongkrong di kosan karyawan junior?"
Naomy melipat kedua tangannya di dada, mencoba memasang wajah serius meskipun binar matanya tidak bisa berbohong kalau ia sebenarnya sangat senang.
"Lagian, kita kan juga butuh waktu masing-masing. Aku butuh me-time, kamu juga pasti sibuk sama urusan bisnis kamu yang padat itu. Jadi, dijadwalkan aja, nggak boleh setiap hari!" lanjut Naomy tegas, menetapkan batas aman bagi mereka berdua.
Raka menatap Naomy yang sedang mengomel kecil dengan tatapan yang sangat memanjakan. Alih-alih kesal karena ditolak, ia justru merasa sikap protektif dan realistis Naomy inilah yang membuatnya semakin jatuh hati. Gadis ini tidak silau oleh statusnya, dan selalu memikirkan segala sesuatunya dengan matang.
"Iya, iya, Tuan Putri," sahut Raka mengalah sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku turuti aturan kamu. Dua atau tiga kali seminggu cukup?"
Naomy tampak menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Hmm... boleh. Asal kamu kabari dulu sebelum ke sini, biar aku bisa siap-siap dan nggak pas lagi berantakan."
"Kesepakatan tercapai," Raka tersenyum lebar, lalu dengan gemas mencubit pelan hidung mungil Naomy. "Tapi sebagai gantinya, kalau kita nggak ketemu, kamu harus rajin balas chat aku. Nggak ada alasan sibuk gambar sampai lupa ngabarin pacar, mengerti?"
"iyaa sayang, ucap naomy.