"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 | Permainan Dimulai
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela apartemen Ayla. Namun, semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Kalimat dari panggilan misterius itu terus terngiang di kepalanya.
"Kalau kau ingin tetap hidup... jauhi Arsen Mahendra."
Beberapa kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah ulah orang iseng. Tetapi rasa takut yang muncul setiap kali mengingat suara pria itu sulit diabaikan.
Ponselnya bergetar.
Pak Arsen
"Rapat dimajukan pukul delapan. Jangan terlambat."
Pesan itu singkat seperti biasanya.
Tanpa sadar Ayla tersenyum tipis.
"Masih sempat mengingatkan soal rapat... berarti semalam dia baik-baik saja."
Ia segera bersiap menuju kantor.
__________________________________________
Suasana Mahendra Group kembali sibuk. Para karyawan berlalu-lalang membawa dokumen, sementara suara mesin pemindai dan telepon memenuhi setiap sudut ruangan.
Begitu Ayla tiba di lantai utama, beberapa karyawan menyapanya dengan ramah.
"Selamat pagi, Mbak Ayla."
"Pagi."
Namun sebelum sempat masuk ke ruang kerja Arsen, langkahnya terhenti.
Di atas mejanya tergeletak sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Tak ada nama pengirim.
Tak ada kartu ucapan.
Ayla mengernyit.
"Ini siapa yang taruh?"
Resepsionis menggeleng.
"Tadi pagi sudah ada di situ, Mbak."
Perlahan Ayla membuka kotak itu.
Di dalamnya hanya ada sebuah bunga mawar putih yang telah layu.
Dan secarik kertas.
Tangannya mulai gemetar ketika membaca isi tulisan tersebut.
"Peringatan pertama sudah diberikan."
Wajah Ayla langsung memucat.
Kotak itu hampir terlepas dari tangannya.
"Ayla."
Suara Arsen membuatnya tersentak.
Pria itu baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Ada apa?"
Ayla buru-buru menyembunyikan secarik kertas itu.
"Tidak... tidak apa-apa."
Tatapan Arsen justru semakin tajam.
"Ayla."
Nada suaranya berubah lebih serius.
"Kau buruk sekali kalau sedang berbohong."
Kalimat itu membuat Ayla terdiam.
Akhirnya ia menyerahkan kotak beserta isi surat tersebut kepada Arsen.
Begitu membaca tulisan di dalamnya, ekspresi Arsen seketika berubah dingin.
"Siapa yang mengantarkan ini?"
"Tidak ada yang tahu."
Arsen menoleh kepada kepala keamanan yang baru datang.
"Periksa seluruh rekaman CCTV dari pukul enam pagi."
"Baik, Pak."
"Jangan sampai satu sudut pun terlewat."
"Siap."
Ayla memandang Arsen dengan bingung.
"Pak... sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Untuk beberapa detik, Arsen tidak menjawab.
Ia menatap bunga mawar layu itu cukup lama.
Lalu berkata pelan,
"Orang-orang itu mulai kehilangan kesabaran."
"Orang-orang?"
Arsen menggeleng.
"Bukan saatnya kau tahu."
Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Ayla semakin besar.
__________________________________________
Siang harinya...
Kepala keamanan datang membawa hasil pemeriksaan.
"Pak Arsen."
"Bagaimana?"
"Pelaku memakai topi, masker, dan sarung tangan. Wajahnya sama sekali tidak terlihat."
"Lalu?"
"Dia masuk melalui pintu samping yang sedang digunakan vendor. Semua gerakannya seperti sudah mengenal gedung ini."
Arsen terdiam.
Kalimat terakhir itulah yang paling mengganggunya.
"Sudah mengenal gedung ini..."
Artinya...
Kemungkinan besar pelaku bukan orang asing.
Seseorang dari dalam.
__________________________________________
Malam harinya.
Setelah semua karyawan pulang, Arsen masih berada di ruang kerjanya.
Ia membuka kembali amplop berisi foto kecelakaan tahun 2019.
Tatapannya jatuh pada bagian pojok foto yang semalam luput ia perhatikan.
Ada pantulan kecil di kaca mobil.
Seseorang berdiri di sana.
Wajahnya buram.
Tetapi siluet tubuhnya terasa sangat familiar.
Arsen segera mengambil kaca pembesar dari laci meja.
Semakin diperhatikan...
Semakin ia yakin.
"Mustahil..."
Untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, jantungnya berdetak tidak beraturan.
Kalau dugaannya benar...
Berarti selama ini orang itu...
Masih hidup.
__________________________________________
Di tempat lain.
Pria bertopeng duduk santai di dalam sebuah ruangan gelap.
Di hadapannya, layar monitor menampilkan rekaman CCTV Mahendra Group.
Ia tersenyum puas.
"Pancingannya berhasil."
Tak lama kemudian, seseorang masuk ke ruangan itu
Wajahnya tetap tidak terlihat karena cahaya yang minim.
"Apa langkah berikutnya?"
Pria bertopeng menyandarkan tubuhnya.
"Belum."
"Biarkan Arsen mulai curiga."
"Semakin dekat dia pada kebenaran..."
"...semakin menyakitkan saat semuanya runtuh."
Orang itu mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana dengan Ayla?"
Pria bertopeng tersenyum tipis.
"Dia..."
"...adalah kelemahan yang bahkan belum disadari Arsen."
Kalimat itu menggantung di udara.
Sementara di luar jendela, hujan mulai turun membasahi kota.
Tak seorang pun menyadari...
Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung...