Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
Hening Sebelum Badai
Keheningan yang mencekam merayap di antara pilar-pilar Katedral Langit. Jeritan panik dari para bangsawan wanita dan bisikan cemas para tetua kerajaan seolah teredam oleh aura dingin yang tiba-tiba menguar dari tubuh Pangeran Cassian. Pria itu masih berdiri tegak di atas altar, tidak bergerak seinci pun. Tatapan matanya yang sewarna badai menatap lurus ke arah pintu gerbang yang hancur, namun sorot matanya kosong—sebuah kekosongan yang menandakan bahwa otak taktisnya sedang bekerja dengan kecepatan luar biasa, memetakan setiap kemungkinan di atas papan catur kematian yang baru saja digelar oleh Duke Valerius.
Aurelia bisa merasakan jemari Cassian yang awalnya hangat kini perlahan mendingin. Cengkeraman tangan Aurelia pada jubah hitam suaminya semakin mengerat, mencari kepastian di tengah badai informasi yang menghantam jantungnya.
“Pamanku... dia benar-benar melakukannya,” bisik Aurelia dalam hati, suaranya bergetar oleh kombinasi rasa bersalah, amarah, dan ketakutan yang membuncah. “Dia menghancurkan kedamaian ini demi ambisinya.”
Raja Valerius, sang penguasa purba Valenica, melangkah maju dengan helaan napas berat yang terdengar seperti geraman serigala tua. Tongkat kebesarannya dihentakkan ke lantai marmer kristal, menciptakan dentum gema yang seketika membungkam seluruh kepanikan di dalam ruangan.
"Tenang semuanya!" suara sang Raja menggelegar, memotong histeria massa. "Pengawal, amankan para undangan ke ruang bawah tanah benteng! Blokade seluruh akses masuk Katedral. Dan kau, Prajurit..." Pandangan tajam Raja jatuh pada pengintai yang bersimbah darah. "Berapa jarak mereka dari gerbang terluar Frosthelm?"
"K-kurang dari setengah hari perjalanan, Yang Mulia," jawab prajurit itu dengan suara parau sebelum akhirnya tak sadarkan diri akibat pendarahan hebat.
Cassian akhirnya bergerak. Ia menoleh perlahan ke arah Aurelia, menatap mata safir istrinya yang digenangi kecemasan. Alih-alih kepanikan, Aurelia menemukan sepasang mata yang kini dipenuhi oleh tekad baja. Cassian mengangkat tangan, mengusap lembut pipi Aurelia dengan punggung jarinya, sebuah gestur penenang yang teramat kontras dengan situasi di sekitar mereka.
"Pernikahan kita sudah sah di hadapan para dewa dan hukum," ucap Cassian, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mutlak. "Kau adalah Putri Mahkota Valenica sekarang, Aurelia. Dan aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuh selembar pun rambut di kepalamu."
*•*
*•*
*•*
Dewan Perang di Ruang Obsidian
Satu jam setelah kekacauan di Katedral Langit, atmosfer berganti menjadi ketegangan militer yang pekat. Aula utama Istana Frosthelm—yang dikenal sebagai Ruang Obsidian karena seluruh dindingnya terbuat dari batu hitam pekat yang memantulkan cahaya obor—kini dipenuhi oleh para jenderal berbaju zirah lengkap. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu ek besar membentang, menampilkan peta topografi wilayah Utara dan perbatasan Selatan yang terperinci.
Aurelia duduk di sebelah Cassian. Ia belum sempat mengganti gaun pengantinnya, hanya melapisi gaun sutra dan brokat peraknya dengan jubah bulu serigala hitam tebal milik Cassian untuk menghalau dingin. Di hadapan para jenderal pria yang berwajah sangar, Aurelia menolak untuk terlihat lemah. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus pada peta pertempuran.
"Duke Valerius membawa tiga divisi kavaleri berat dan dua batalion pemanah panah api," Jenderal Boros, panglima veteran berwajah penuh luka parut, membuka suara sambil meletakkan beberapa pion kayu merah di atas perbatasan bawah. "Mereka bergerak menggunakan jalur tikus di Lembah Meratap yang biasanya tertutup salju. Seseorang dari dalam wilayah kita pasti telah membocorkan jalur aman atau mencairkan mantra pelindung alami lembah tersebut."
"Pengkhianat dari dalam," desis Cassian, matanya menyipit. "Kita akan urus tikus-tikus itu nanti. Fokus kita sekarang adalah menahan laju pasukan Valerius sebelum mereka mengepung benteng utama."
"Tapi Pangeran," sela seorang jenderal muda dengan nada ragu. "Pasukan kita sebagian besar sedang berada di pos barat untuk mengantisipasi serangan monster musim dingin. Kita kekurangan jumlah personel di gerbang depan. Menghadapi tiga divisi kavaleri berat di dataran terbuka sama saja dengan bunuh diri."
Ruangan kembali hening. Risiko kekalahan terpampang nyata di depan mata mereka. Keuntungan medan yang biasanya dimiliki Valenica berupa badai salju ekstrem tampaknya tidak berjalan maksimal karena taktik Valerius yang bergerak cepat di luar perkiraan.
*•*
*•*
*•*
Strategi Mawar dan Serigala
Di tengah keputusasaan para jenderal, Aurelia berdiri dari kursinya. Tindakannya menarik perhatian seluruh orang di ruangan, termasuk Raja Valerius yang mengamatinya dari kursi kebesaran di ujung meja.
"Boleh saya menyampaikan sesuatu?" suara Aurelia terdengar jernih dan stabil, menghilangkan keraguan yang sempat merayap di benak para petinggi militer.
Cassian mengangguk, memberikan panggung sepenuhnya kepada sang istri. "Bicaralah, Ratu-ku."
Aurelia melangkah mendekati meja, jemari lentiknya menunjuk ke sebuah titik sempit di peta, beberapa mil sebelum gerbang utama Frosthelm—sebuah celah ngarai yang dikenal sebagai Gigi Naga.
"Pamanku, Duke Valerius, adalah orang yang sangat arogan namun metodis," awal Aurelia, menganalisis psikologi pria yang telah meracuni ayahnya. "Dia mengibarkan spanduk hitam bukan hanya untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menunjukkan dominasi. Dia tahu jumlah pasukan kalian di Frosthelm sedang menipis, dan dia berekspektasi kita akan bertahan di dalam benteng menanti bantuan dari pos barat."
"Lalu, apa rencana Anda, Putri?" tanya Jenderal Boros, mulai tertarik.
"Kita jangan bertahan. Kita pancing mereka masuk lebih dalam," jawab Aurelia dengan binar kecerdasan di matanya. "Kavaleri berat Oakhaven sangat mematikan di dataran datar, tetapi mereka tidak berguna di celah sempit seperti Gigi Naga. Berat zirah kuda dan manusia akan menjadi kutukan bagi mereka sendiri jika berada di atas lapisan es yang tipis."
Aurelia menoleh ke arah Cassian. "Di bawah celah Gigi Naga, terdapat danau bawah tanah yang membeku, bukan? Jika kita menempatkan pasukan tiruan di ujung ngarai untuk memancing seluruh kavaleri mereka masuk, kita bisa meledakkan dinding tebing atas menggunakan sihir api atau mesiu. Runtuhan batu akan menghancurkan lapisan es dan menenggelamkan separuh pasukan mereka ke dalam air sedingin es."
Cassian menatap peta, lalu beralih menatap Aurelia dengan senyum tipis yang mematikan. Pikiran istrinya ternyata jauh lebih tajam dari yang ia duga. Dia bukan sekadar mawar yang perlu dilindungi; dia adalah duri yang siap menusuk jantung musuh.
"Taktik yang brilian," puji Cassian. "Namun, Valerius tidak bodoh. Dia tidak akan membiarkan pasukannya masuk ke celah sempit itu kecuali dia melihat umpan yang terlalu berharga untuk dilewatkan."
Aurelia menarik napas dalam, memantapkan hatinya untuk taruhan terbesar dalam hidupnya. "Umpan itu adalah aku. Aku akan berdiri di ujung ngarai, mengenakan gaun pengantin ini agar dia bisa melihatku dengan jelas dari kejauhan. Dia menginginkanku mati atau tertangkap untuk melegitimasi tahtanya di Oakhaven. Ketika dia melihatku, rasionalitasnya akan tergantikan oleh keserakahan."
"Tidak!" Cassian membentak, tangannya menggebrak meja hingga pion-pion kayu bergetar. "Aku tidak akan menjadikan istriku sebagai umpan hidup di garis depan! Itu terlalu berbahaya, Aurelia!"
Aurelia tidak gentar menghadapi kemarahan Cassian. Ia melangkah mendekati suaminya, menggenggam kedua tangan kokoh itu dan menatapnya lekat-lekat.
"Cassian, lihat aku," ucap Aurelia dengan kelembutan yang menyembunyikan ketegasan luar biasa. "Kau berjanji bahwa pedangmu adalah perisai bagiku. Aku mempercayai janjimu. Aku tidak akan berdiri sendirian di sana; aku tahu kau dan pasukan serigalamu akan mengawasi dari balik tebing, siap menerkam sebelum ada satu pun prajurit Oakhaven yang berhasil menyentuhku. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghancurkan pasukan intinya secara instan dan menyelamatkan Valenica."
Cassian terdiam. Rahangnya mengeras saat ia menimbang bahaya dari rencana ini. Di satu sisi, insting protektifnya menolak keras membiarkan Aurelia berada dalam bahaya. Namun di sisi lain, sebagai seorang panglima, ia tahu ini adalah strategi dengan persentase kemenangan tertinggi.
Dari ujung meja, Raja Valerius terkekeh rendah, suara batuknya yang berat memecah ketegangan di antara pasangan baru itu.
"Demi para dewa Utara... Cassian, kau benar-benar memilih wanita yang tepat," ujar sang Raja tua dengan binar kekaguman di matanya. "Dia memiliki keberanian berdarah dingin yang bahkan jarang dimiliki oleh wanita asli Valenica. Lakukan rencana itu. Bersiaplah, para jenderal! Kita akan menyambut para tamu dari Selatan dengan pesta kematian di Gigi Naga!"
*•*
*•*
Janji di Bawah Langit Malam
Malam itu, beberapa jam sebelum fajar menyingsing dan pertempuran dimulai, Aurelia berdiri di balkon kamar mereka, menatap salju yang mulai turun perlahan membasahi bumi Frosthelm. Angin malam berembus kencang, menerbangkan rambut pirangnya.
Sebuah jubah bulu hangat kembali disampirkan di bahunya dari belakang. Sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya, menarik tubuh mungil Aurelia ke dalam dada bidang yang hangat. Cassian menyandarkan dagunya di bahu Aurelia, menghirup aroma aroma pinus dan mawar yang menguar dari tubuh istrinya.
"Aku takut," bisik Cassian dengan suara yang sangat rendah, sebuah pengakuan yang tidak akan pernah ia ucapkan di depan orang lain. "Aku telah memenangkan ratusan pertempuran, Aurelia. Tapi memikirkanmu berada di arena itu... membuat jantungku rasanya berhenti berdetak."
Aurelia berbalik dalam pelukan Cassian, mengalungkan tangannya di leher sang Pangeran. "Jangan takut. Ketakutan akan membuat pedangmu tumpul. Ingatlah apa yang kita sumpahkah di altar tadi pagi. Kita adalah satu darah dan satu takhta. Kekaisaran pamanku dibangun di atas darah ayahku dan kebohongan. Kita akan meruntuhkannya bersama, dimulai dari ngarai itu."
Cassian menatap bibir Aurelia, lalu mengecupnya dengan kelembutan yang protektif, seolah menyegel janji tak tertulis di antara mereka.
"Besok, setelah badai ini mereda dan pasukan Valerius hancur," janji Cassian, matanya berkilat di kegelapan malam, "kita akan membawa pasukan Utara berbaris menuju Oakhaven. Aku akan merebut kembali tahta ayahmu, dan aku sendiri yang akan memenggal kepala Duke Valerius di depan matamu."
Aurelia mengangguk, senyum dingin namun penuh kepuasan terukir di wajah cantiknya. Fajar akan segera tiba, dan bersama dengan terbitnya matahari musim dingin, genderang perang bertalu-talu di kejauhan, menandai dimulainya awal dari pembalasan dendam sang Putri Mawar Selatan dan Pangeran Serigala Utara.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"