NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Aroma hangat minyak aromaterapi yang menenangkan di dalam kamar hotel menyambut Luna begitu ia melangkah keluar dari kamar mandi.

Rambutnya yang basah terbungkus handuk kecil, sementara tubuhnya kini dibalut sehelai kimono handuk putih yang longgar.

Sisa-sisa hawa dingin dari air shower masih terasa di kulitnya, berpadu dengan mata yang sembap akibat tangis yang tumpah di bawah kucuran air tadi.

Luna menghentikan langkahnya di dekat nakas. Matanya langsung tertuju pada ranjang king size di tengah ruangan.

Di sana, Mahendra sudah bersandar santai pada kepala ranjang, mengenakan kaos santai hitam yang mencetak jelas bahunya yang tegap.

Sebuah tablet pintar berada di tangannya, namun fokus pria itu langsung teralih sepenuhnya begitu mendengar derit pintu kamar mandi terbuka.

Mahendra menurunkan tabletnya, lalu menatap Luna lekat-lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Tatapan matanya yang tajam seolah bisa membaca setiap inci kesedihan yang masih tertinggal di wajah istrinya.

"Lama sekali mandinya. Apakah kamu menangisi lelaki itu?" tanya Mahendra sambil menatap wajah istrinya.

Luna hanya diam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan menguliti dari pria paruh baya itu.

Jemarinya meremas tali kimono handuknya dengan erat.

Pertanyaan Mahendra laksana sembilu yang kembali menggores luka baru di hatinya yang belum kering.

Bagaimana mungkin ia tidak menangis ketika Pria yang paling ia percayai telah menghempaskannya ke dasar jurang di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya.

"Pa..." gumam Luna lirih, mencoba memecah keheningan yang mendadak mencekam.

"Sshhh..."

Sebelum Luna sempat melanjutkan kalimatnya, Mahendra sudah meletakkan telunjuknya di depan bibir.

Pria berusia setengah abad itu bangkit dari tempat tidur.

Gerakannya begitu tenang namun penuh wibawa, memangkas jarak di antara mereka hingga Luna bisa merasakan aura dominan yang begitu kuat mendekat ke arahnya.

"Mulai sekarang lebih baik panggil Mas, jangan Papa. Aku bukan Papa kamu," ucap Mahendra.

Luna menelan salivanya dengan susah payah. Panggilan itu terasa begitu asing dan berat di lidahnya.

Selama ini, ia selalu menghormati pria di hadapannya sebagai calon ayah mertua—sosok orang tua yang disegani.

Mengubah sebutan itu dalam sekejap mata seperti memaksanya melompati batas takdir yang sangat jauh.

Mahendra tidak memberikan waktu bagi Luna untuk mendebat.

Ia berbalik dan menunjuk ke arah meja makan kecil di sudut ruangan yang menghadap langsung ke jendela besar berlatar pemandangan lampu-lampu kota.

Di atas meja, sudah tersaji dua piring wagyu steak yang masih mengepulkan asap tipis, lengkap dengan aroma saus lada hitam yang menggugah selera.

"Ayo makan malam dulu. Kamu butuh energi untuk menghadapi hari esok," ajak Mahendra sembari menarikkan salah satu kursi untuk Luna.

Luna melangkah dengan ragu, lalu mendudukkan dirinya di kursi tersebut.

Mahendra mengambil posisi di kursi seberangnya.

Keheningan kembali merayap di antara mereka, hanya menyisakan denting garpu dan pisau saat Mahendra mulai memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat rapi dan terlatih.

Luna menatap piringnya dengan pandangan kosong.

Perutnya memang lapar, tetapi tenggorokannya terasa begitu sempit untuk menelan makanan.

Pikirannya masih berputar-putar pada kegilaan status baru mereka.

"Pa..." Luna kembali keceplosan.

Mahendra langsung menghentikan gerakan tangannya.

Ia melirik tajam dari balik alisnya yang tebal, mengingatkan Luna akan tegurannya beberapa menit lalu.

Luna tersentak, wajahnya mendadak terasa panas.

"M-mas..." ralatnya dengan suara super lirih, hampir menyerupai bisikan.

"Mas, ini rasanya aneh. Pernikahan ini seperti..."

"Seperti pernikahan lainnya," potong Mahendra cepat, memutus keraguan yang membayang di wajah cantik istrinya.

Pria itu tiba-tiba menggeser kursinya mendekat ke arah Luna.

Tanpa diduga, Mahendra menusuk sepotong daging steak yang sudah dipotong rapi dengan garpunya, lalu mengarahkannya tepat di depan bibir Luna.

"Buka mulutmu," titah Mahendra lembut namun tak terbantahkan.

Luna tertegun, menatap potongan daging dan wajah matang Mahendra bergantian.

Merasa tidak memiliki kekuatan untuk menolak, ia akhirnya membuka mulutnya perlahan.

Mahendra dengan telaten menyuapi steak itu ke dalam mulut istrinya.

Sembari memperhatikan Luna yang mulai mengunyah pelan, Mahendra meletakkan garpunya kembali.

Sorot matanya yang tadi sedingin es, kini perlahan melembut, menyiratkan kedewasaan seorang pria yang tahu benar cara menenangkan badai di dalam hati seorang wanita.

"Jangan khawatir, Luna. Malam ini aku tidak akan meminta hakku dan mungkin lain hari," ucap Mahendra dengan nada tenang tanpa keraguan sedikit pun.

Luna menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar perkataan dari suaminya.

Kalimat itu terdengar seperti sebuah jaminan keamanan yang sangat besar baginya, namun di sisi lain, ada sensasi aneh yang mendebarkan di dadanya.

Kata-kata "mungkin lain hari" yang diucapkan Mahendra seolah menjadi penanda mutlak bahwa cepat atau lambat, ia harus bersiap untuk menjadi istri seutuhnya bagi sang Don Juan.

Selesai makan malam, keheningan kembali merayap di antara mereka.

Mahendra bangkit berdiri, merapikan letak kursinya, lalu mengulurkan tangan kekarnya ke arah Luna.

"Ayo, ke atas tempat tidur," ajak Mahendra santai, menatap istrinya yang masih tampak tegang di kursinya.

Luna menyambut uluran tangan itu dengan ragu. Langkah kaki mereka beriringan menuju ranjang king size yang tampak begitu luas dan intimidatif bagi Luna.

Mahendra menuntun Luna untuk duduk di tepi kasur, sementara ia sendiri berdiri di hadapan gadis itu dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya.

Raut wajahnya berubah serius, aura pemimpin yang mutlak kembali terpancar dari pembawaannya.

"Besok berita pernikahan kita pasti heboh dan aku mau kamu siap dengan semuanya," ucap Mahendra, suaranya berat dan penuh penekanan.

Luna mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya yang tajam.

Jantungnya berdesir menyadari badai besar yang sedang menanti mereka di luar sana begitu matahari terbit.

"Mulai besok, kamu akan bertemu dengan Ema, adikku yang paling cerewet. Dan..." Mahendra jeda sejenak, sorot matanya mengeras, "Fauzan, putraku sekaligus mantan calon suamimu. Kamu juga akan bertemu dengan Mila, istri Fauzan."

Mendengar nama kedua orang yang telah menghancurkan hidupnya disebut, dada Luna seketika berdenyut nyeri.

Tangannya otomatis meremas sprei kasur dengan erat, membayangkan bagaimana pasang mata di luar sana akan menghakimi dan menertawakan takdirnya yang luar biasa rumit ini.

Menjadi ibu tiri dari pria yang hampir menjadi suaminya sendiri adalah sebuah kenyataan yang terlalu gila untuk dicerna.

Seolah tahu apa yang bergolak di dalam kepala istrinya, Mahendra memajukan tubuhnya.

Ia sedikit merunduk, mengikis jarak hingga aroma parfum maskulinnya kembali mengunci indra penciuman Luna.

"Tidak usah takut atau pingsan. Karena aku di sini sebagai suamimu," tegas Mahendra tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

Untaian kalimat itu mengalir bagai perisai kokoh yang mendadak membentengi tubuh ringkih Luna.

"Sekarang istirahatlah dan kemarilah, aku ingin mencium keningmu sebelum tidur," lanjut Mahendra dengan suara yang melembut.

Luna tertegun, namun tubuhnya seolah bergerak otomatis mengikuti perintah pria matang di hadapannya.

Ia memajukan sedikit tubuhnya. Mahendra mengulurkan tangan, mengusap lembut puncak kepala Luna yang masih tertutup handuk kecil, lalu mendaratkan kecupan hangat yang cukup lama di kening istrinya.

Sensasi aneh kembali menggelitik dada Luna—hangat, aman, namun di saat yang sama juga mendebarkan.

Setelah menjauhkan wajahnya, Mahendra berbalik arah menuju meja nakas, mengambil ponsel dan kunci mobilnya.

"Aku keluar dulu mencari angin segar."

Melihat Mahendra yang bersiap pergi di malam pertama mereka, entah keberanian dari mana, sebuah sindiran mendadak lolos begitu saja dari bibir Luna.

Rasa canggung dan sisa-sisa sesak di dadanya mendadak berubah menjadi letupan sarkasme.

"Angin segar atau wanita lain? Bukankah Mas sang Don Juan, jadi aku nggak kaget kalau Mas selalu..."

Luna menggantung kalimatnya, memutar bola matanya jengah sembari melipat kedua tangan di dada.

Mendengar perkataan spontan dari istri kecilnya, langkah kaki Mahendra seketika terhenti tepat di depan pintu kamar.

Ia berbalik badan. Alih-alih marah karena disindir, seulas senyum geli justru terukir di wajah matangnya.

Sedetik kemudian, Mahendra langsung tertawa terbahak-bahak.

Suara tawa baritonnya yang renyah dan seksi menggema di seluruh penjuru kamar penthouse yang mewah itu, memperlihatkan deretan giginya yang rapi serta karisma pria dewasa yang begitu memikat.

Luna sampai terpesona sesaat melihat tawa lepas suaminya.

"Baiklah sayang. Malam ini Sang Don Juan tidak akan kemana-mana," sahut Mahendra diselingi sisa kekehannya.

Ia melempar kembali kunci mobil dan ponselnya ke atas nakas dengan gerakan santai.

Tanpa membuang waktu, Mahendra memutar langkahnya kembali ke arah ranjang.

Ia pun naik ke atas tempat tidur, menyusup di balik selimut tebal yang sama dengan Luna.

Mahendra memiringkan tubuhnya, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menatap lekat-lekat wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat.

Sudut bibirnya masih menyisakan lengkungan senyum tipis yang penuh pesona maskulin.

"Puas, Nyonya Dirgantara? Sekarang, tidurlah," bisik Mahendra rendah, mengunci pandangan Luna yang mendadak salah tingkah dan tak bisa berkutik lagi di bawah tatapannya yang begitu intens.

Dalam hitungan detik mata Luna tertutup perlahan-lahan.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!