Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Suasana di dalam mobil SUV mewah itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk stadion yang baru saja mereka tinggalkan. Begitu pintu tertutup rapat, suara bising ribuan orang di luar sana langsung teredam, menyisakan keheningan yang mendadak terasa berat dan bermuatan listrik.
Arunika menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, napasnya masih sedikit terengah. Rambutnya agak berantakan, dan aroma parfum viral yang tadi pagi ia semprotkan kini bercampur dengan aroma keringat tipis yang manis. Thomas tidak segera menjalankan mobilnya. Ia hanya menyalakan mesin agar AC mendinginkan suhu kabin yang mulai terasa gerah.
"Capek banget, Mas... tapi seru parah!" gumam Arunika sambil memejamkan mata, menikmati hembusan udara dingin yang menerpa wajahnya.
Thomas melirik ke samping. Cahaya lampu dari tiang parkiran yang masuk ke dalam mobil memberikan siluet tajam pada wajah Arunika. Thomas bisa melihat bagaimana dada istrinya naik turun dengan cepat, serta sisa-sisa binar kebahagiaan di wajahnya. Adrenalin dari konser tadi rupanya belum sepenuhnya surut, justru kini bermutasi menjadi sesuatu yang lain di dalam kabin yang sempit itu.
"Nika," panggil Thomas pelan. Suaranya terdengar lebih dalam dan serak dari biasanya.
Arunika menoleh, matanya sayu karena kelelahan namun tetap jernih. "Ya, Mas?"
Thomas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepaskan sabuk pengamannya, lalu sedikit menggeser posisi duduknya menghadap Arunika. Tangan kanannya terulur, jemarinya membelai lembut rahang Arunika, lalu ibu jarinya mengusap sudut bibir gadis itu dengan gerakan yang sangat lambat.
"Kamu tahu..." Thomas menjeda kalimatnya, matanya menatap intens ke arah bibir Arunika yang sedikit terbuka. "Melihatmu begitu bahagia di tengah kerumunan tadi... membuatku merasa sangat posesif. Aku hampir tidak tahan saat pria-pria di sana menatapmu."
Arunika menelan ludah. Hawa panas mulai menjalar dari sentuhan tangan Thomas ke seluruh syarafnya. "Kan aku... aku cuma liat Mas terus tadi."
"Aku tahu," bisik Thomas. Ia memajukan tubuhnya, memperpendek jarak di antara mereka hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Tapi adrenalin ini... sepertinya menular padaku."
Thomas menempelkan bibirnya di dahi Arunika, lalu turun ke kelopak matanya yang terpejam, dan akhirnya berhenti di puncak hidungnya. Arunika merasa jemarinya meremas pinggiran kursi mobil. Ia bisa merasakan detak jantung Thomas yang berdentum kuat melawan dadanya sendiri.
Tanpa peringatan, Thomas meraih tengkuk Arunika, menariknya lembut dan menyatukan bibir mereka. Ciuman kali ini tidak seperti biasanya; tidak ada keraguan, tidak ada batasan 'akting'. Ciuman itu terasa lapar, penuh tuntutan, dan sarat akan gairah yang selama ini mereka simpan di balik tembok kesabaran.
"Mmph..." Arunika mengerang pelan, tangannya yang gemetar merayap naik ke leher Thomas, menarik pria itu agar semakin merapat.
Thomas melepaskan ciumannya sejenak hanya untuk mengambil napas, namun ia tidak menjauh. Ia justru memindahkan ciumannya ke leher Arunika, menghisap lembut kulit sensitif di sana yang membuat Arunika mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih luas.
"Mas... kita... kita di parkiran," bisik Arunika dengan suara yang nyaris hilang, napasnya memburu.
"Kacanya gelap, Nika. Tidak ada yang bisa lihat," sahut Thomas di sela kegiatannya. Tangan Thomas yang lain mulai bergerak nakal, merayap masuk ke bawah kaos merchandise yang dipakai Arunika, menyentuh kulit pinggangnya yang hangat dan halus.
Sentuhan kulit ke kulit itu seolah menjadi pemicu ledakan di dalam kepala Arunika. Ia merasa seluruh tubuhnya mencair. Kelelahan setelah konser tadi seolah berubah menjadi energi yang membakar. Ia membalas setiap sentuhan Thomas dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Thomas mengangkat tubuh Arunika sedikit, menariknya agar duduk di atas pangkuannya—sebuah posisi yang sangat intim di ruang terbatas kemudi mobil. Arunika melingkarkan kakinya di pinggang Thomas, wajah mereka kembali bertemu dalam ciuman yang semakin panas dan dalam. Tangan Thomas dengan posesif meremas pinggul Arunika, memastikan tidak ada jarak sedikit pun di antara mereka.
"Kamu benar-benar ingin membuatku gila, ya?" gumam Thomas di sela ciumannya, suaranya sangat serak, menandakan pria itu sudah berada di batas pertahanannya.
Arunika tidak menjawab, ia justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Thomas, menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulin yang kini tercampur dengan aroma gairah. Ia bisa merasakan betapa kerasnya otot-otot tubuh Thomas yang menegang di bawah pelukannya.
Namun, di saat suasana sudah mencapai titik didih, Thomas tiba-tiba berhenti. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arunika, napasnya tersengal-sengal. Ia memejamkan mata kuat-kuat, mencoba menarik kembali sisa-sisa logika yang hampir terbang.
"Mas?" tanya Arunika bingung, suaranya masih bergetar.
Thomas mengusap rambut Arunika yang berantakan dengan penuh kasih sayang, meski tangannya masih sedikit gemetar. "Aku tidak mau... pertama kalinya kita dilakukan di tempat seperti ini, Nika. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada jok mobil di tempat parkir."
Thomas menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Arunika yang tampak berkaca-kaca karena luapan emosi. Ia mengecup kening istrinya dengan sangat lembut. "Kita pulang sekarang. Aku akan menyetir secepat yang aku bisa sebelum aku berubah pikiran."
Arunika tertawa kecil di tengah napasnya yang belum teratur. Ia merasa sangat dihargai, namun di saat yang sama, ia juga merasa gemas dengan ketegasan Thomas pada prinsipnya sendiri. Ia mengecup bibir Thomas sekali lagi, singkat namun manis.
"Oke, Mas CEO yang sangat disiplin. Ayo pulang," goda Arunika sambil merosot kembali ke kursinya sendiri.
Thomas kembali memasang sabuk pengamannya dengan tangan yang masih sedikit kaku. Ia melirik Arunika yang sedang merapikan kaosnya yang berantakan. "Jangan menatapku seperti itu kalau kamu tidak mau kita menginap di sini malam ini."
"Hahaha! Iya, iya! Aku liat ke jendela aja!"
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil tidak lagi canggung. Justru ada sebuah benang merah yang semakin kuat mengikat mereka. Mereka saling berpegangan tangan di atas console box, jari-jari yang saling bertautan, memberikan janji tanpa kata bahwa malam ini—setelah pintu apartemen tertutup—batas itu benar-benar akan runtuh untuk selamanya.
Begitu sampai di depan pintu apartemen, Thomas tidak langsung membuka pintu. Ia menyandarkan Arunika di daun pintu kayu yang besar itu, menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Siap untuk menjadi istriku yang sebenarnya, Nika? Tanpa kertas kontrak, tanpa akting?" tanya Thomas.
Arunika tersenyum, ia meraih kunci apartemen di tangan Thomas dan membukanya. "Mas Thomas terlalu banyak tanya. Ayo masuk!"
Arunika menarik Thomas masuk, dan begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang mantap, Mochi yang biasanya menyambut mereka justru hanya melihat dari jauh, seolah tahu bahwa malam ini, dunianya kedua majikannya sedang tidak bisa diganggu oleh siapa pun.
***
Hayoloh mau ngapain nih berdua 🤣🤣
gagal
coba lagi dong 🤭