Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.
Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Namun di saat yang sama, rasa harga dirinya berteriak keras. Apakah ia sanggup tidur satu atap dengan laki-laki yang membencinya? Apakah ia sanggup melayani suami yang justru memuji wanita lain? Apakah ia sanggup menelan rasa sakit itu setiap hari, hanya demi menjaga nama baik semata?
Ani menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah berusaha mengeluarkan semua rasa sakit, kecewa, dan cinta yang tersisa di dadanya. Ia menegakkan tubuhnya, menyeka sisa air mata di pipinya dengan kasar. Matanya yang tadinya sayu kini berubah tajam dan tegas.
"Baiklah," ucap Ani pelan namun jelas, suara itu terdengar asing bahkan bagi telinganya sendiri. "Kalau itu keputusanmu, aku tidak akan menahan mu. Aku tidak mau memelihara laki-laki yang hatinya sudah tidak ada di sini. Pergilah."
Dimas tampak terkejut mendengar jawaban itu. Ia seolah berharap Ani akan menangis, memohon, atau marah besar, tapi bukan menerima keputusan itu dengan ketenangan yang mengerikan seperti ini.
"Kamu... kamu serius, Ani?" tanya Dimas ragu.
Ani mengangguk perlahan, menatap lurus ke manik mata suaminya. "Aku serius. Tapi ingat satu hal, Mas. Aku melepaskan mu bukan karena aku kalah, bukan karena aku mengaku salah. Aku melepaskan mu karena aku masih punya harga diri sebagai wanita. Aku tidak mau menjadi istri yang diremehkan dan dikhianati di bawah atap yang sama."
Ia berjalan mendekat ke meja rias, mengambil ponsel Dimas yang menjadi awal dari semua kehancuran ini, lalu menyodorkannya ke depan dada suaminya.
"Ambil ini. Bawalah semua milikmu, termasuk rasa cintamu yang sudah mati itu. Mulai detik ini, kita berjalan di jalan yang berbeda. Kamu bebas bersama wanita pilihanmu, dan aku bebas... untuk menyembuhkan luka ini sendirian."
Dimas menerima ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu mungkin kata maaf, atau kata penyesalan namun tak ada satu pun suara yang keluar. Di hadapan ketegaran istrinya, Dimas justru terlihat kecil dan kerdil, penuh dosa dan kepalsuan.
"Kamu... tidak perlu khawatir soal kebutuhanmu," akhirnya Dimas berbicara pelan, memecah keheningan. "Aku akan tetap bertanggung jawab, aku akan kirimkan uang bulanan sampai kamu bisa berdiri sendiri."
Ani tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan dan kekecewaan.
"Simpan saja uangmu, Mas. Aku masih punya dua tangan dan tenaga. Aku bisa bekerja, aku bisa menghidupi diriku sendiri. Aku tidak butuh uang hasil pengkhianatan mu itu. Satu-satunya hal yang aku minta... jangan pernah kau muncul lagi di depanku, dan jangan pernah kau sebut nama kita pernah saling mengenal."
Dimas menunduk dalam. Ia tahu, jembatan yang menghubungkan dirinya dengan Ani sudah ia bakar sendiri hingga menjadi abu. Tak ada lagi jalan kembali.
"Baiklah," jawab Dimas lirih. Ia berbalik perlahan, melangkah menuju pintu kamar, lalu berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh sekilas ke arah Ani yang masih berdiri tegak di tengah ruangan, meski hatinya sedang hancur berkeping-keping. "Maafkan aku, Ani. Benar-benar maafkan aku."
Ani tidak menjawab. Ia hanya diam, membiarkan kata maaf itu menggantung di udara, kata-kata yang sudah terlambat dan tak lagi berarti. Ia menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh, berjalan keluar dari kamar, keluar dari rumah ini, dan keluar dari hidupnya selamanya.
Suara pintu depan tertutup rapat. Bunyi itu terdengar begitu nyaring dan terakhir, menandakan berakhirnya sebuah kisah bahagia yang palsu, dan dimulainya perjalanan baru yang berat namun penuh kebebasan bagi Ani.
Kini ia sendirian di dalam rumah yang dulu penuh tawa dan cinta, namun kini terasa begitu sunyi dan kosong. Namun di tengah kesepian itu, Ani merasa ada beban berat yang terangkat dari pundaknya. Ia mungkin kehilangan suami, kehilangan masa depan yang diimpikannya, dan kehilangan kepercayaannya pada cinta. Tapi satu hal yang pasti: ia tidak kehilangan dirinya sendiri. Dan itu adalah awal yang baru.
Hening masih menyelimuti seluruh penjuru rumah sejak kepergian Dimas. Ani duduk bersandar di dinding ruang tamu, pandangannya kosong menatap pintu depan yang baru saja ditutup rapat oleh suaminya atau mungkin sebaiknya disebut mantan suaminya mulai saat ini. Rasanya tubuhnya terasa berat sekali, seolah semua tenaga yang ia kumpulkan untuk bersikap tegar tadi seketika menguap begitu saja. Air mata sudah tak lagi mengalir, digantikan oleh rasa hampa yang menyiksa. Di dalam kepalanya, ribuan kenangan indah dan pahit berseliweran tanpa henti, membuatnya hampir tak sanggup berpikir.
Ia tak tahu sudah berapa lama ia diam di sana, hingga akhirnya suara ketukan pintu yang berirama memecah keheningan itu. Tok, tok, tok...
Ani tersentak kaget. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang. Siapa yang datang berkunjung di jam seperti ini? Biasanya tak ada tamu yang datang tanpa kabar lebih dulu, apalagi di tengah suasana hatinya yang berantakan seperti ini. Dengan langkah gontai dan kaki yang masih terasa lemas, Ani bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu.
Saat ia membuka daun pintu, napasnya seakan tertahan di kerongkongan. Di sana, berdiri seorang wanita tua yang wajahnya sangat ia kenal dan ia hormati selama ini Ibunya Dimas, Ibu Siti. Wanita itu tersenyum ramah saat melihat Ani, namun senyum itu seketika berubah menjadi ragu saat melihat wajah menantunya yang pucat, mata bengkak, dan sorot mata yang penuh kesedihan.
"Ya Allah, Nak Ani... kamu kenapa, Nak? Wajahmu pucat sekali, matamu juga bengkak begitu. Kamu habis menangis?" tanya Ibu Siti khawatir, langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu dipersilakan. Ia meletakkan tas anyamannya di meja, lalu segera memegang bahu Ani, menatapnya lekat-lekat.
Ani berusaha mengatur napasnya, berusaha menyusun kata-kata yang tepat. Ia tak pernah membayangkan bahwa orang pertama yang datang ke rumahnya setelah perpisahan itu justru adalah ibunya Dimas. Wanita yang selama lima tahun ini selalu bersikap baik, penuh kasih sayang, dan selalu memujinya sebagai menantu yang paling berbakti. Bagaimana mungkin ia harus menceritakan kenyataan pahit ini kepada wanita tua yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri?
"Tidak apa-apa, Bu..." jawab Ani lirih, berusaha tersenyum tipis meski terasa sangat berat. "Ani cuma... agak kurang enak badan saja tadi. Ibu datang sendirian? Ada perlu apa ya?"
Ibu Siti menggeleng pelan, tatapannya tak percaya. Ia duduk di sofa, lalu menarik tangan Ani agar duduk di sampingnya.
"Jangan bohong sama Ibu, Nak. Ibu ini sudah tua, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Cuma lihat dari raut wajahmu saja, Ibu sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres. Lagi pula... tadi Ibu bertemu Dimas di jalan, tak jauh dari sini. Dia berjalan tergesa-gesa, wajahnya kacau sekali, dan saat Ibu panggil, dia malah buru-buru pergi seolah tak mendengar. Itu bukan kebiasaan dia. Ada apa sebenarnya? Kalian bertengkar?" suara Ibu Siti terdengar lembut namun penuh kekhawatiran.
bersambung ,,,,