NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Jalan Tanpa Kembali

Hujan gerimis menyelimuti Jakarta sore itu, membuat jalanan ibukota semakin padat, licin, dan berdebu. Kabut tipis menyelimuti gedung-gedung tinggi, seolah menutupi segala rahasia dan kepahitan yang tersembunyi di balik kemegahan kota ini. Di sebuah warung kopi sederhana yang terletak di sudut jalan, jauh dari hiruk pikuk pusat kota, Raka Pratama duduk sendirian di pojok ruangan, menatap kosong ke arah tetesan air yang meluncur turun membelah kaca jendela yang sudah agak kusam.

Di atas meja kayu yang sudah usang, secangkir kopi hitam yang ia pesan sudah dingin, sama dinginnya dengan perasaannya saat ini. Asap tipis yang semula mengepul kini sudah lenyap, persis seperti harapan dan mimpi yang dulu pernah ia miliki.

Usianya baru menginjak dua puluh delapan tahun, namun jika dilihat dari raut wajahnya, orang mungkin akan mengira ia sudah melewati usia tiga puluh lima atau empat puluh. Garis-garis lelah dan ketegangan sudah mulai terlihat jelas di dahi dan sekitar matanya. Tubuhnya yang tinggi tegap, bahu yang lebar, serta otot-otot yang keras dan padat adalah sisa-sisa nyata dari masa lalunya sebagai prajurit elit Pasukan Khusus – Kopassus. Selama tujuh tahun lamanya, ia mengabdi pada negara, menempuh pelatihan yang mematikan, berjuang di hutan belantara yang tak bertepi, menembus garis pertahanan musuh, dan mempertaruhkan nyawanya berkali-kali demi satu kata yang dulu sangat ia pegang teguh: Tugas.

Namun semua kemuliaan itu berakhir mendadak tepat satu tahun yang lalu.

Sebuah operasi rahasia di perbatasan yang seharusnya berjalan mulus, berubah menjadi bencana besar yang memalukan. Sebuah kesalahan yang bukan murni berasal dari dirinya, sebuah keputusan atasan yang keliru, namun dialah yang akhirnya dipilih menjadi kambing hitam. Tanpa persidangan yang adil, tanpa kesempatan membela diri, dan tanpa penjelasan yang jelas kepada publik, ia diberhentikan dengan tidak hormat. Karir gemilang yang ia bangun dengan darah, keringat, dan air mata selama bertahun-tahun hancur lebur hanya dalam semalam. Dan yang lebih menyakitkan dari segalanya, nama baik yang selama ini ia jaga sekuat tenaga ternoda dan dicap buruk oleh banyak orang.

“Sudah satu tahun berlalu… tapi rasanya seperti seumur hidup,” gumam Raka pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara suara rintik hujan dan obrolan pengunjung lain. Tangannya yang besar dan kasar meremas secarik kertas surat pemberhentian yang sudah ia lipat berkali-kali hingga kertas itu hampir robek. Setiap kali ia melihat tulisan resmi di atas kertas itu, rasa pahit dan marah kembali menyeruak memenuhi dadanya.

Setelah keluar dari militer, dunia luar yang dulu ia lindungi tiba-tiba terasa asing, kejam, dan tidak ramah. Keahlian yang ia miliki hanya satu: berperang, bertarung, membunuh, dan bertahan hidup dalam situasi paling berbahaya sekalipun. Keahlian itu sangat berharga, bahkan sangat dicari di medan tempur, tapi sama sekali tidak berguna dan bahkan menjadi beban saat ia harus melamar pekerjaan biasa sebagai satpam, buruh pabrik, atau pun kuli bangunan.

“Kami tidak butuh mantan tentara yang bermasalah dan dicap buruk. Kami butuh orang yang bisa dipercaya,” kalimat itu adalah jawaban yang paling sering ia dengar setiap kali mencoba melamar pekerjaan. Ditolak di sana-sini, dikucilkan oleh teman-teman seperjuangan yang dulu pernah bersumpah setia, namun kini takut terlibat masalah hanya karena berhubungan dengannya, hingga akhirnya ia terperangkap dalam lubang masalah yang semakin dalam.

Masalah terbesarnya saat ini bukan lagi tentang harga diri atau kehormatan yang hilang, melainkan soal hidup dan mati. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, kini terbaring lemah di rumah sakit karena penyakit jantung yang kian memburuk. Biaya pengobatan dan perawatan yang sangat mahal membuat Raka harus berhutang ke sana kemari, bahkan kepada rentenir yang dikenal sangat kejam dan tidak kenal ampun. Hutang yang terus menumpuk seolah menjadi gunung yang siap menimpanya kapan saja.

Raka menunduk, menatap telapak tangannya yang penuh bekas luka gores dan sayatan. Tangan ini pernah memegang senjata demi membela negara, kini tangan ini tidak mampu bahkan untuk membelikan obat bagi ibunya sendiri. Rasa tidak berdaya itu jauh lebih menyakitkan daripada luka tembak manapun yang pernah ia terima di medan perang.

Pintu kayu warung kopi itu terbuka lebar, bunyi engsel yang berdecit memecah kesunyian yang menyelimuti Raka. Seorang pria paruh baya melangkah masuk, menghapus tetesan air hujan di bahu jasnya. Pria itu mengenakan jas berwarna abu-abu sederhana namun terlihat mahal dan rapi, penampilannya bersih dan terawat, sangat kontras dengan suasana warung yang sederhana ini. Wajahnya datar, namun sepasang matanya tajam, menatap sekeliling ruangan seolah bisa melihat langsung ke dalam pikiran setiap orang yang ada di sana.

Tanpa ragu sedikitpun, pandangan mata pria itu langsung tertuju ke arah Raka, seolah ia sudah tahu persis di mana orang yang ia cari berada. Ia melangkah tegap dan tenang menyusuri meja-meja pengunjung, lalu berhenti tepat di hadapan Raka.

“Raka Pratama?” tanyanya singkat, suaranya rendah namun tegas, penuh keyakinan.

Raka mendongak perlahan, menatap pria asing itu dengan pandangan waspada. Insting tempurnya yang tajam langsung terbangun. Ia bisa merasakan bahwa pria di hadapannya ini bukan orang biasa, bukan juga penagih hutang yang selama ini mengganggunya. Ada sesuatu yang berbeda, aura kekuasaan dan rahasia yang samar terasa dari dirinya.

“Siapa Anda? Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Raka dingin, tidak menyembunyikan kewaspadaannya.

Pria itu tersenyum tipis, lalu menarik kursi di hadapan Raka dan duduk tanpa diminta. Gerakannya tenang, terlatih, dan penuh kendali. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam pekat, polos, tanpa nama, tanpa alamat, dan tanpa nomor telepon apapun. Satu-satunya tanda yang ada hanyalah sebuah lambang kecil berupa elang emas yang mengepakkan sayap lebar, sambil mencengkeram erat dua bilah pedang yang disilangkan di bawah cakarnya. Lambang itu terlihat megah, namun sekaligus mengintimidasi. Pria itu meletakkan kartu nama itu perlahan di atas meja, tepat di depan mata Raka.

“Namaku Adrian. Aku datang membawa tawaran, Raka. Sebuah tawaran yang mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar dari semua masalah yang sedang menimpamu saat ini,” ucap Adrian tenang, matanya menatap lurus ke dalam mata Raka seolah mencoba membaca isi hati pemuda itu.

Raka menatap kartu hitam itu dengan bingung dan rasa penasaran yang bercampur curiga. Ia mendorong kartu itu sedikit menjauh, lalu kembali menatap wajah Adrian.

“Tawaran apa? Saya sudah berkali-kali mendengar hal seperti ini, dan saya sudah menjawabnya sejak lama. Saya tidak mau terlibat dalam urusan ilegal, perampokan, penyelundupan, atau hal semacam itu. Meski hidup saya saat ini sangat susah dan menderita, saya masih punya harga diri dan batasan yang tidak akan saya langgar,” jawab Raka tegas, berusaha menunjukkan bahwa meski terpuruk, ia bukan orang yang mudah dibeli.

Adrian tidak marah, ia justru tertawa kecil, senyum yang terasa dingin dan penuh perhitungan. “Tenang saja, Raka. Saya bukan penjahat, dan saya juga bukan perantara bisnis kotor seperti yang kamu bayangkan. Saya justru datang sebagai seseorang yang mengerti posisimu, seseorang yang datang untuk menawarkan jalan baru. Jalan yang akan memanfaatkan keahlian hebatmu yang selama ini terbuang sia-sia begitu saja.”

“Kamu tidak perlu menyembunyikan apapun dariku,” lanjut Adrian, nadanya serius kembali. “Saya tahu segalanya tentangmu. Rekam jejakmu yang gemilang saat masih aktif di militer, keahlian tempurmu yang luar biasa, keberanianmu yang tak tertandingi, hingga kejadian naas setahun lalu yang membuatmu jatuh ke dasar jurang. Saya juga tahu berapa besar hutangmu, siapa saja orang yang kamu pinjam uang, kondisi ibumu yang terbaring sakit, dan seberapa putus asanya kamu saat ini.”

Wajah Raka perlahan memerah menahan amarah yang mulai meluap. Ia sangat benci dipermalukan, apalagi oleh orang asing yang tiba-tiba datang dan seolah tahu seluruh isi hidupnya.

“Jangan mencampuri urusan pribadi saya! Dan jangan berpikir kamu bisa mengancam saya dengan hal-hal itu! Sekarang pergilah sebelum saya membuatmu menyesal sudah datang ke sini dan mengganggu waktu istirahat saya!” bentaknya rendah, namun ancaman di dalam suaranya sangat jelas. Otot-otot lengannya menegang, siap bertindak seandainya pria di hadapannya ini melakukan hal yang berbahaya.

Namun Adrian sama sekali tidak bergeming, tidak sedikit pun terlihat takut atau terancam. Ia hanya menatap Raka dengan pandangan tenang, seolah sedang melihat anak kecil yang sedang merajuk.

“Katakan padaku, Raka… sampai kapan kamu akan bertahan dengan harga diri kosong itu? Sampai ibumu tidak tertolong lagi karena kamu tidak mampu membayar biaya rumah sakit? Sampai penagih hutang datang dan menghancurkan sisa hidupmu yang sudah hancur ini?” tanya Adrian pelan namun tajam, kalimatnya menembus langsung ke hati nurani Raka.

Raka terdiam, amarahnya perlahan mereda digantikan oleh rasa sakit yang dalam. Ia tidak bisa menyangkal kata-kata itu, karena semuanya adalah kenyataan pahit yang harus ia hadapi setiap hari.

Adrian melihat perubahan ekspresi wajah Raka, ia tahu ucapannya mulai sampai pada sasaran. Ia kembali merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat, lalu mendorongnya perlahan ke arah Raka. Amplop itu terasa sangat berat, bahkan suara gesekan kertas di dalamnya sudah cukup memberi petunjuk isinya apa.

“Di dalam sini ada uang tunai, jumlahnya cukup besar untuk melunasi semua hutangmu hingga bersih, serta cukup untuk membiayai seluruh pengobatan dan perawatan ibumu sampai ia sembuh total. Dan ingat baik-baik, Raka… ini baru sekadar uang muka. Bayaran awal sebelum kamu mulai bekerja,” ucap Adrian pelan namun tegas.

Raka tertegun hebat, matanya terpaku menatap amplop tebal itu seolah benda itu adalah ular berbisa yang siap menggigitnya kapan saja. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara keterkejutan, keraguan, dan godaan yang sangat kuat. Jumlah uang di dalam sana pasti sangat besar, jumlah yang selama ini hanya bisa ia impikan namun tak pernah ia miliki.

“Apa maksud semua ini? Apa yang sebenarnya harus saya lakukan sebagai gantinya?” tanya Raka, suaranya bergetar, menahan gejolak batin yang hebat. Ia tahu, tidak ada hal di dunia ini yang benar-benar gratis. Uang sebanyak ini pasti meminta bayaran yang setimpal, bahkan mungkin nyawanya sendiri.

Adrian tersenyum lebar, kali ini senyum yang terasa lebih tulus. Ia bersandar sedikit ke kursi, menatap Raka dengan pandangan yang serius.

“Bergabunglah bersama kami,” jawabnya singkat namun berat. “Garuda Security International. Kami adalah Perusahaan Militer Swasta terbesar, terkuat, dan paling dihormati di seluruh dunia. Kami merekrut prajurit-prajurit terbaik dari seluruh penjuru dunia: mantan tentara, pasukan khusus, penembak jitu, ahli strategi, orang-orang yang memiliki nyali baja dan keahlian luar biasa seperti kamu.”

“Kami disewa oleh pemerintah berbagai negara, perusahaan raksasa internasional, hingga organisasi keamanan dunia. Tugas kami bermacam-macam: melindungi aset berharga, mengawal konvoi logistik yang melintasi zona berbahaya, misi penyelamatan sandera, hingga melakukan operasi tempur rahasia yang terlalu berisiko atau terlalu sensitif jika dilakukan oleh militer resmi negara,” lanjut Adrian menjelaskan.

Hati Raka berdebar semakin kencang. Ia pernah mendengar bisikan dan kabar angin tentang organisasi seperti ini, namun baginya itu hanyalah cerita fiksi atau hal yang jauh dari jangkauan. Perusahaan yang menjual kekuatan militer demi uang, tempat di mana perang bukan lagi tugas suci negara, melainkan sebuah pekerjaan biasa dengan bayaran yang sangat tinggi. Tempat di mana nyawa manusia dihargai dengan mata uang.

“Kami membayar sangat mahal, Raka. Jauh lebih mahal daripada gaji seorang jenderal militer sekalipun. Di sana, statusmu tidak lagi dicap sebagai mantan prajurit yang dipecat dengan tidak hormat, tidak ada lagi orang yang memandangmu rendah atau meremehkanmu. Kamu akan kembali menjadi seorang prajurit elit, dihormati, ditakuti, dan diandalkan. Di sana, aturannya sangat sederhana: kekuatan, kesetiaan, dan kemenangan. Uang bukan lagi masalah bagimu, dan nama baikmu bisa kembali bersinar, bahkan jauh lebih terang dan berkilau daripada saat kamu masih mengabdi pada negara dulu,” lanjut Adrian, matanya menatap tajam lurus ke dalam mata Raka, seolah sedang memasukkan harapan baru ke dalam benak pemuda itu.

“Tapi… itu berarti saya akan berperang demi uang. Membunuh orang asing yang mungkin tidak pernah saya kenal, mungkin orang yang tidak bersalah, hanya demi kepentingan dan keuntungan orang lain,” gumam Raka pelan, keraguan yang mendalam kembali menghantui pikirannya. Prinsip hidup yang selama ini ia pegang teguh mulai berguncang hebat. Selama ini ia berperang demi negara, demi rakyat, demi sesuatu yang ia yakini benar dan mulia. Namun sekarang? Semua itu akan berubah menjadi sekadar transaksi bisnis yang dingin.

Adrian mengangguk pelan, seolah ia sudah menduga keraguan itu akan muncul. “Memang benar. Itulah jalannya dunia kami. Tapi coba pikirkan baik-baik, Raka… apa yang kamu lakukan dulu pun pada dasarnya sama saja. Negara berperang juga demi kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan. Bedanya hanya satu: dulu kamu melakukannya dengan bayaran yang sangat murah dan pengorbanan yang besar, namun sekarang kamu akan mendapatkan imbalan yang setimpal dengan nyawa yang kamu pertaruhkan.”

Adrian mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya rendah namun menancap kuat di hati Raka. “Dan ingat satu hal yang paling penting: dunia kejam ini tidak akan pernah peduli pada harga dirimu yang kosong itu jika kamu tidak punya kekuatan dan uang untuk bertahan hidup. Ibumu sedang terbaring lemah, menunggu bantuanmu, menunggu kesembuhannya… ia tidak butuh prinsipmu, ia butuh obat, perawatan, dan keselamatan yang hanya bisa kamu berikan jika kamu memiliki uang dan kekuatan.”

Kalimat terakhir itu seperti pukulan telak yang menghantam dada Raka dengan sangat keras. Ia terdiam kaku, pikirannya melayang kembali ke wajah ibunya yang lemah, pucat, dan penuh penderitaan. Ia teringat tatapan orang-orang yang memandangnya dengan pandangan meremehkan dan kasihan. Ia teringat betapa pahit dan menyedihkannya rasanya menjadi orang yang tidak berguna, tidak berdaya, dan terbuang.

Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, selain rasa ragu dan takut, ternyata masih ada rasa rindu yang sangat besar. Rindu akan medan tempur, rindu akan sensasi bertarung, rindu menjadi seseorang yang berarti lagi, rindu pada masa di mana ia merasa hidup dan berguna.

Perlahan namun pasti, rasa ragu itu kalah oleh kenyataan pahit yang ia hadapi. Ia menatap kembali amplop tebal di atas meja, lalu menatap lambang elang emas pada kartu nama hitam itu. Lambang yang seolah menjanjikan kekuatan, kekayaan, dan jalan keluar.

“Kapan saya harus berangkat?” tanya Raka pelan, suaranya bergetar hebat namun penuh keputusan. Kalimat itu keluar dari mulutnya, menandakan bahwa ia sudah memilih jalannya, tidak peduli seberapa berbahaya atau kelam jalan itu nantinya.

Adrian tersenyum lebar, kali ini senyum kemenangan yang nyata terlihat jelas di wajahnya. “Bagus sekali. Keputusan yang sangat bijak, Raka. Segera ambilkan barang-barangmu, selesaikan segala urusanmu di sini secepat mungkin. Besok pagi buta, pesawat khusus kami sudah menunggumu di landasan terbang pribadi di pinggiran kota.”

Ia berhenti sejenak, menatap mata Raka dalam-dalam. “Dan ingatlah baik-baik… mulai detik ini juga, Raka Pratama yang dulu, prajurit negara yang berprinsip itu, sudah mati. Yang tersisa hanyalah seorang prajurit bayaran elit milik Garuda Security International. Kamu sekarang hidup di bawah aturan baru, dunia baru, di mana kekuatan adalah segalanya.”

Raka hanya mengangguk pelan, tangannya perlahan namun pasti meraih amplop tebal itu. Saat jari-jarinya menyentuh kertas tebal yang berisi harapan dan nasib barunya itu, ia tahu sepenuhnya bahwa ia baru saja melewati sebuah gerbang besar yang tidak akan pernah bisa ia lewati kembali lagi. Jalannya sudah ditentukan, sebuah jalan panjang yang berdarah, penuh bahaya, kekuasaan, intrik, serta rahasia-rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat di balik layar dunia.

Perjalanan panjangnya sebagai bagian dari dunia bayangan besi baru saja dimulai, dan ia tahu betul bahwa tidak akan ada jalan untuk berhenti atau kembali ke belakang.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!