"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Pertemuan Pertama dengan Zaviar dan Calista
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang makan utama mansion Ravindra. Suara denting garpu dan pisau milik Zaviar yang mendadak berhenti terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang sidang. Udara di sekitar meja makan panjang itu mendadak terasa tipis dan mendingin. Namun, penyebab ketegangan itu sama sekali tidak peduli.
Arumi Razetha dengan santai meraih serbet kain putih di atas meja, mengibaskannya sekali, lalu meletakkannya di atas pangkuan. Matanya melirik ke arah potongan steak daging wagyu yang masih mengepulkan asap tipis di atas piring saji di depannya. Aroma gurih mentega dan bawang putih langsung merangsang indra penciumannya, membuat perutnya yang kosong selama dua minggu berteriak histeris minta diisi.
"Zaviar..." Suara lembut dan agak gemetar milik Calista memecah keheningan. Wanita bergaun putih itu meremas ujung lengan jas Zaviar, matanya yang berkaca-kick menatap Arumi dengan kombinasi rasa syok dan tidak percaya. "Itu... Kak Arumi?" Tanyanya masih dengan nada lembutnya.
Zaviar tidak menjawab. Jangankan menjawab Calista, untuk berkedip pun pria itu seolah lupa caranya. Sepasang manik mata sehitam obsidian milik Zaviar terkunci rapat pada wajah wanita di seberangnya. Otaknya yang biasanya bekerja secepat komputer super dalam mengeksekusi musuh bisnis, mendadak mengalami blank total.
"Siapa wanita ini? Di mana lapisan bedak setebal tiga sentimeter yang biasanya membuat wajah Arumi tampak sekaku topeng porselen murahan? Di mana lipstik merah menyala yang meluber dan wewangian parfum menyengat yang selalu sukses membuat indra penciuman ku mual setiap kali melihatnya." Batinnya berbisik dingin.
Di depannya kini, duduk seorang wanita dengan kulit seputih pualam yang tampak bercahaya alami di bawah pendar lampu kristal. Tanpa pulasan eyeliner tebal, sepasang mata berbentuk almond itu terlihat begitu hidup, dalam, dan dipenuhi binar kepintaran yang belum pernah Zaviar lihat sebelumnya. Dan bibir itu... bibir merah muda alami berbentuk cupid's bow tanpa pulasan lipstik tebal, tampak basah dan penuh.
Zaviar menelan ludah tanpa sadar. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Namun, yang membuat bulu kuduknya meremang bukan sekadar perubahan visual luar biasa itu, melainkan sesuatu yang terjadi jauh di bawah sana, di balik celana kain formalnya.
Sebuah letupan panas yang asing menjalar dari tulang belakangnya, berkumpul di satu titik yang selama bertahun-tahun ini mati rasa, dingin, dan tidak pernah merespons rangsangan apa pun. Organ intimnya—kejantanannya yang divonis mati oleh dokter terbaik di dunia akibat trauma psikologis masa kecil—mendadak berkedut hebat. Ada aliran darah panas yang mendesak masuk ke sana, menciptakan sensasi tegang yang begitu mendadak hingga membuat otot paha Zaviar mengetat kaku.
Sialan, apa-apaan ini?! batin Zaviar berteriak frustrasi. Wajahnya yang tampan tetap mempertahankan ekspresi sedingin es, namun tangan kirinya yang berada di bawah meja kini mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Hanya karena melihat wajah istri pertamanya yang bersih, tubuhnya yang cacat mendadak memberikan reaksi seksual yang begitu masif! Sementara pada Calista, istri kedua yang diklaim sangat dicintainya, tubuhnya tidak pernah bereaksi sedikit pun!
"Ehem." Arumi berdehem kecil, memotong perang batin suaminya dengan wajah tanpa dosa. Ia menatap steak di depannya, lalu mendongak menatap Zaviar. "Ini pisaunya tajam, kan? Soalnya kalau tumpul kayak otak orang-orang di rumah ini, mending saya pakai jurus tangan kosong saja buat motong dagingnya." Ucapnya dengan nada santai tanpa rasa takut.
"Uhuk!" Albert yang berdiri di sudut ruangan mendadak tersedak ludahnya sendiri mendengar ceplat-ceplos Nyonya Besarnya yang berubah dari segi penampilan dan ucapan.
Zaviar menyipitkan matanya, menekan gejolak aneh di bawah sana dengan sekuat tenaga. "Arumi. Jaga bicaramu. Aku menyuruhmu ke sini bukan untuk melawak, tapi untuk meminta maaf pada Calista, istri keduaku, atas perbuatan beracunmu dua minggu lalu."
Calista langsung menundukkan kepalanya, memasang wajah paling melankolis yang ia miliki. "Kak Arumi, aku sudah memaafkan Kakak sejak awal... Aku tahu Kakak melakukan itu karena terlalu mencintai Zaviar. Meskipun aku statusnya istri kedua, aku tidak bermaksud merebut segalanya dari Kakak. Aku tidak akan menuntut apa pun, asalkan Kakak tidak marah lagi pada hubungan kami."
Arumi menghentikan pisaunya yang baru saja memotong daging. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Callista dengan pandangan geli yang sangat kentara. Sifat bar-bar dan mulut tajamnya sebagai pelatih silat jalanan di dunia nyata mendadak meronta-ronta ingin keluar.
"Sebentar, Dek Calista," panggil Arumi dengan nada suara yang sengaja dibuat manis namun terdengar sangat mengejek. "Kamu bilang kamu jatuh dari tangga karena saya dorong, kan? Tangga mansion ini kan dilapisi karpet bulu domba tebal impor yang harganya setara harga ginjal pengawal di luar. Terus, kamu jatuhnya cuma tiga anak tangga, tingginya kagak seberapa, tapi dramanya kayak habis digulung ombak tsunami."
"Kak Arumi... apa maksud Kakak?" Air mata Callista mulai menetes, seolah-olah kata-kata Arumi adalah pisau yang mengiris hatinya.
"Maksud saya? Ya logis saja, Dek. Tubuh saya waktu itu lemas, kurang gizi karena mikirin suami kaku yang hobi pasang muka tripleks," kata Arumi sambil menunjuk Zaviar dengan garpunya tanpa rasa takut sedikit pun. "Tenaga saya seberapa, sih, sampai bisa bikin kamu guling-guling estetik kayak adegan Bollywood? Lagian, kalau saya niat dorong kamu beneran pakai tenaga silat saya, kamu enggak bakal berakhir di kamar rumah sakit mewah dengan perban imut di dahi. Kamu bakal langsung pindah alamat ke ruang ICU dengan tulang rusuk patah tiga biji!"
"Arumi Razetha!" bentak Zaviar, suaranya menggelegar rendah, sarat akan ancaman yang bisa membuat nyali pria dewasa sekalipun menciut.
Namun, Arumi hanya menaikkan satu alisnya. Ia sama sekali tidak gemetar. Ia justru menusuk potongan daging wagyu yang tebal, memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya dengan ekspresi sangat menikmati. "Hmm... enak banget. Chef di rumah ini pinter masak, sayang banget majikannya pinter nyari masalah."
Zaviar merasakan rahangnya mengeras. Amarahnya memuncak, tetapi anehnya, kemarahan itu berbanding lurus dengan gairah gelap yang semakin mengamuk di dalam tubuhnya. Setiap kali bibir seksi Arumi yang kemerahan itu bergerak memotong kata, mengunyah daging, atau mengeluarkan sindiran-sindiran tajam yang kurang ajar, mata Zaviar tidak bisa beralih dari sana.
Bibir itu... tampak begitu kenyal. Zaviar mendadak memiliki pikiran gila untuk membungkam mulut lancang itu menggunakan bibirnya sendiri. Ia ingin menciumnya dengan kasar, menggigitnya hingga wanita bar-bar ini tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata ejekan, melainkan erangan pasrah di bawah kungkungannya.
Contoh Visual
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.