NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Santapan Pertama

Angin di padang rumput berhembus pelan, membuat ujung kaus lusuh yang gua pakai sedikit berkibar.

Anehnya, baju yang tadinya kotor, bau, dan terasa sempit di badan sekarang justru terasa agak longgar di bagian bahu. Saat gua meraba perut dan lengan sendiri, gua jelas bisa merasakan guratan otot yang mulai terbentuk.

Tubuh gua benar-benar diubah oleh sistem — sekarang terasa lebih kuat, lebih kokoh, lebih sehat. Tidak ada lagi rasa lemas, tidak ada lagi sisa-sisa tubuh yang lemah karena kelaparan hebat seperti saat gua meringkuk di gang kota Jakarta semalam.

Dua matahari di atas kepala memberikan kehangatan yang asing tapi nyaman sekali di kulit.

Bukan panas terik yang bikin gerah dan lengket seperti di terminal bus atau jalanan kota, melainkan kehangatan yang lembut, seolah-olah tubuh gua dipulihkan pelan-pelan dari dalam ke luar.

Gua menarik napas dalam-dalam. Udara di sini luar biasa bersih. Tidak ada bau asap kendaraan, tidak ada bau sampah atau polusi, dan entah kenapa, setiap kali gua menghirup udara ini, ada rasa manis samar yang tertinggal di hidung dan tenggorokan.

"Gluttony’s Sight," bisik gua pelan, memanggil kemampuan yang sudah tertanam kuat di ingatan gua.

...Wusss!...

Dunia yang tadinya cuma terlihat seperti padang rumput biasa, seketika berubah total di mata gua.

Seluruh pemandangan sekarang dipenuhi cahaya dan aura warna-warni yang berpendar lembut. Di dalam jangkauan lima puluh meter di sekitar sini, beberapa jenis tanaman kecil di dekat kaki gua memancarkan cahaya hijau pudar.

Bahkan tanah di bawah kaki pun mengeluarkan cahaya kuning kecokelatan yang redup, seolah memberi tahu kalau ada sesuatu yang tertimbun di sana.

Di atas sebatang tanaman berdaun lebar yang tumbuh di dekat gua, muncul sebuah kotak informasi yang terlihat transparan dan jelas:

...[Nama Objek: Rumput Manis Liar (Tingkat 0)]...

...[Keterangan: Tanaman biasa yang banyak tumbuh di daerah dataran rendah. Mengandung gula alami dan serat yang mudah dicerna.]...

...[Efek jika dikonsumsi: Memulihkan 0,5 poin tenaga tubuh.]...

Gua berlutut, lalu tanpa ragu sedikit pun mencabut tanaman itu sampai ke akarnya.

Di dunia lama, memakan rumput atau tanaman liar seperti ini adalah tanda kalau seseorang sudah benar-benar putus asa, sudah tidak punya harga diri lagi, sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.

Tapi di sini? Ini adalah langkah pertama gua untuk menepati janji — tidak akan pernah lagi kelaparan, tidak akan pernah lagi jadi orang lemah yang bisa diinjak-injak siapa saja.

Gua masukkan tanaman itu ke mulut dan mengunyahnya dengan cepat. Krak.

Rasa manis yang segar langsung meledak di lidah gua. Rasanya jauh lebih enak, jauh lebih segar dibandingkan sayuran atau buah mahal yang dulu hanya bisa gua lihat dari balik kaca etalase toko.

Saat bagian terakhir itu tertelan turun ke perut, suara pemberitahuan sistem langsung terdengar jelas di dalam pikiran gua.

...Tring!...

...[Kemampuan Pasif Aktif: Makan Segalanya & Mengambil Milik.]...

...[Berhasil mencerna: 'Rumput Manis Liar'.]...

[Kondisi tubuh bertambah: +0,01 Kekuatan Otot — berlAku selamanya, tidak akan hilang.]

Gua sempat tertegun sebentar. Angkanya memang sangat kecil, hampir tidak terasa bedanya sekarang. Tapi satu kata di sana bikin jantung gua berdebar kencang: selamanya.

Artinya, setiap makanan, setiap benda, setiap tenaga yang berhasil gua masukkan ke tubuh gua akan berubah menjadi kekuatan nyata yang melekat terus pada gua. Tidak akan hilang, tidak akan berkurang.

Di dunia lama gua harus bekerja keras, mengemis, menahan malu demi sesuap nasi yang habis dimakan lalu tidak ada sisanya. Di sini? Gua cuma perlu makan, dan apa yang masuk ke tubuh gua akan menjadi bagian dari diri gua selamanya.

... Krosak!...

Suara ranting patah dan semak bergerak di tempat sekitar tiga puluh meter di depan gua langsung memecah pikiran gua.

Secara otomatis gua langsung siap siaga, tubuh gua bergerak lebih dulu sebelum pikiran sempat memberi perintah.

Lewat pandangan khusus gua bisa melihat ada titik cahaya berwarna merah menyala yang bergerak cepat di balik semak-semak itu. Warna merah berarti bahaya, berarti makhluk yang kuat dan berpotensi menyerang — tapi buat gua, itu bukan ancaman. Itu adalah sumber tenaga yang sudah tersedia, tinggal gua ambil saja.

Sesaat kemudian, keluar seekor makhluk aneh dari balik rimbunnya dedaunan.

Bentuknya mirip kelinci, tapi ukurannya sebesar anjing ras besar. Bulunya hitam legam seperti arang yang sudah terbakar habis, dan di bagian dahinya tumbuh sepasang tanduk kecil yang runcing dan keras.

Matanya berwarna merah terang, menatap gua seolah-olah gua adalah mangsa yang sudah masuk ke wilayah berburunya.

...[Nama Makhluk: Kelinci Bertanduk (Tingkat 2)]...

...[Kondisi: Agresif / Sedang Kelaparan.]...

...[Nilai Kandungan Energi: Tinggi. Dagingnya penuh zat gizi, mengandung Inti Energi Tingkat 1.]...

"Lu juga sedang lapar?" gua tersenyum tipis, senyum yang dingin dan sama sekali tidak ramah.

"Kebetulan sekali. Jujur saja, rasa lapar gua jauh lebih besar, jauh lebih kuat daripada Lu. Dan hari ini, gua tidak berniat menunda keinginan gua sedikit pun."

...Wush!...

Tanpa peringatan lagi, kelinci bertanduk itu langsung melesat maju secepat anak panah yang dilepaskan dari busur.

Tujuannya jelas — leher gua, bagian tubuh yang paling mudah dilukai dan bisa membuat musuh langsung jatuh.

Kalau ini tubuh gua yang lama, gua pasti sudah roboh, mungkin sudah mati seketika saat terkena serangan itu. Tapi tubuh baru ini punya kekuatan dan kecepatan yang jauh melebihi apa yang pernah gua bayangkan.

Saat makhluk itu hampir menyentuh gua, gua cuma perlu merunduk sedikit saja. Tubuh besar itu melesat tepat di atas pundak gua, tidak kena sedikit pun.

Begitu ia mendarat di tanah di belakang gua, gua langsung berbalik dan menerjangnya dengan seluruh tenaga yang ada di tubuh gua.

...Bugh!...

Gua berhasil menindih tubuh makhluk itu sampai tidak bisa bergerak naik.

Makhluk itu berontak dengan keras, cakarnya yang tajam menggores kulit lengan gua sampai keluar darah. Rasanya perih, panas, sakit.

Tapi anehnya, rasa sakit itu justru bikin darah gua mengalir lebih cepat, bikin semangat gua makin menyala.

Rasa takut gua hilang sama sekali, digantikan oleh perasaan yang sudah lama gua pendam — perasaan marah, perasaan ingin menang, perasaan tidak mau lagi dikalahkan siapa pun.

Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa lapar, rasa malu, rasa tidak berdaya yang dulu hampir membunuh gua perlahan-lahan.

"Gua sudah selesai menjadi mangsa orang lain," bisik gua, suaranya tenang, datar, tapi terdengar sangat berat dan mencekam.

"Mulai detik ini, tidak ada lagi kata kalah, tidak ada lagi kata menyerah dalam hidup gua."

Gua mengangkat tangan lalu memukulkan kepalan tangan gua ke kepala makhluk itu berulang kali, sekuat tenaga. Bugh! Bugh! Krak!

Gua tidak peduli kalau tangan gua sendiri ikut sakit, ikut terluka, ikut memar.

Setelah pukulan kelima yang langsung menghantam bagian tulang tengkoraknya, gerakan tubuh makhluk itu berhenti sama sekali. Ia masih bernapas, tapi sudah tidak bisa bergerak, tidak bisa melawan lagi.

Gua terengah-engah, napas gua terasa berat tapi dada gua justru terasa penuh dan puas. Tangan gua penuh dengan darah dan cairan tubuh makhluk itu.

Layar pemberitahuan sistem langsung muncul di depan mata gua.

...[Target berhasil dikalahkan. Memulai proses pengambilan energi...]...

...[Apakah Anda ingin mengambil dan mengonsumsi Inti Energi milik Kelinci Bertanduk (Tingkat 1)?]...

Tepat di atas dada makhluk itu, melayang keluar sebutir kristal kecil berwarna merah terang, sebesar biji kelereng.

Kristal itu memancarkan cahaya lembut sekaligus hawa hangat yang terasa sangat menggoda, seolah memanggil gua untuk segera mengambilnya.

Gua langsung menangkap benda itu, lalu memasukkan ke mulut dan menelannya sekaligus.

Begitu benda itu masuk ke tubuh gua, rasa panas yang luar biasa kuat langsung menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh.

Panas itu mengalir lewat setiap pembuluh darah, masuk ke setiap tulang dan otot, sampai terasa seperti ada sesuatu yang dipaksa berubah, dipaksa tumbuh menjadi lebih besar dan lebih kuat.

Gua hampir tidak bisa menahan rasa itu, tapi di dalam hati gua tahu — ini adalah rasa menjadi lebih kuat, rasa yang akan gua rasakan berkali-kali lagi ke depannya.

...Tring! Tring!...

...[Inti Energi Kelinci Bertanduk (Tingkat 1) berhasil dicerna dan diserap sepenuhnya.]...

...[Kondisi tubuh meningkat secara nyata:]...

...[Kekuatan: +2 | Kecepatan & Kelenturan: +1,5 | Ketahanan Tubuh: +2]...

...[Tingkat kemampuan Anda sekarang: naik menjadi Tingkat 2!]...

Gua berdiri tegak, merasakan perubahan di tubuh gua sendiri.

Kekosongan, rasa hampa yang selama ini ada di dalam hati dan tubuh gua perlahan terisi oleh kekuatan nyata yang bisa gua rasakan, bisa gua pegang, bisa gua pakai.

Gua menatap sisa tubuh makhluk itu di bawah kaki gua, dan senyum tipis muncul lagi di wajah gua.

Tempat ini memang penuh bahaya, penuh makhluk yang bisa menyerang, penuh hal yang belum gua ketahui. Tapi buat gua, ini bukan tempat yang menakutkan.

Tempat ini adalah meja makan raksasa yang terbentang luas, semua tersedia hanya untuk gua ambil, hanya untuk gua pakai supaya gua bisa terus naik, terus menjadi lebih kuat sampai ke puncak.

Gua tidak akan membiarkan siapa pun, apa pun, menghalangi jalan gua.

Kalau ada yang tidak bisa menjaga diri sendiri, kalau ada yang lemah sampai tersingkir atau terluka, itu bukan urusan gua. Itu adalah konsekuensi yang harus mereka terima.

Karena gua tidak akan berhenti, tidak akan mundur selangkah pun, dan akan melewati siapa saja yang berani berdiri di jalan gua menuju puncak rantai makanan.

 

[Apa langkah selanjutnya bagi Yudha? Apakah dia akan mulai menjelajahi wilayah yang lebih dalam dan lebih berbahaya, atau tetap tinggal di sini dulu untuk berburu lebih banyak makhluk demi menambah kekuatannya? Tulis pendapat kalian di bawah ya!]

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!