Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKRAR YANG MENGIKAT DUA HATI
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai apartemen Ardiah, menandakan dimulainya hari yang akan mengubah seluruh hidupnya. Sesuai janji Roni semalam, tim makeup artist profesional sudah menunggu di ruang tamu sejak pukul tujuh pagi. Ardiah awalnya ingin riasan yang sangat minimalis, namun para penata rias itu bekerja dengan keajaiban tangan mereka. Mereka tidak mendandani Ardiah seperti boneka plastik, melainkan menonjolkan kecantikan alami wanita itu.
“Selesai, Nona,” kata salah satu penata rias sambil menyodorkan cermin.
Ardiah tertegun. Wajahnya tampak segar, bersih, dan bersinar. Eyeliner tipis membuat matanya terlihat lebih besar dan hidup, sementara lipstik berwarna nude memberikan kesan lembut. Saat ia mengenakan gamis putih sutra dan hijab yang telah disiapkan, Ardiah benar-benar terlihat seperti putri dalam dongeng. Mahkota kecil berbahan mutiara menghiasi kepalaannya, menambah kesan elegan tanpa berlebihan. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena antisipasi terhadap langkah besar yang akan ia ambil.
Haikal menjemputnya tepat waktu. Mobil hitam mewah itu sudah terparkir di lobi. Saat Ardiah turun, Haikal sudah menunggu di sana. Pria itu mengenakan jas putih gading yang senada dengan gaun Ardiah, dipadukan dengan kemeja putih dan dasi abu-abu muda. Ia terlihat gagah, berwibawa, dan jauh lebih dewasa dari usianya yang hanya terpaut tiga tahun lebih muda dari Ardiah. Namun, saat mata mereka bertemu, kesenjangan usia itu seolah lenyap, digantikan oleh ketegangan manis antara dua insan yang baru saja mengikat janji.
Perjalanan ke Kantor Urusan Agama (KUA) hanya memakan waktu tiga puluh menit. Suasana di dalam mobil hening, namun nyaman. Haikal sesekali melirik Ardiah, memastikan wanita itu baik-baik saja. Sesampainya di KUA, proses administrasi berjalan lancar karena Haikal telah menyiapkan segala dokumen sebelumnya. Karena orang tua Ardiah sudah tiada, ia menggunakan wali hakim untuk akad nikahnya.
Mereka duduk bersanding di depan meja akad. Ardiah merasakan tangannya gemetar sedikit. Ini nyata. Sangat nyata. Wali hakim mulai membacakan ijab kabul. Suara pria tua itu bergema tenang di ruangan sederhana tersebut.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Haikal Akram bin Safrizal, dengan, saudari Ardiah Ardilla dengan mas kawin berupa cincin berlian dan seperangkat alat salat dibayar tunai!"
Dengan semangat yang membara, Haikal menarik napas dalam-dalam. Matanya terkunci pada Ardiah, penuh dengan emosi yang selama ini ia pendam selama tujuh tahun.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ardiah Ardilla binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" seru Haikal dalam satu tarikan nafas yang lantang dan tegas. Suaranya bergetar sedikit, bukan karena gugup, tapi karena rasa syukur yang luar biasa. Akhirnya, wanita pujaannya resmi menjadi miliknya.
Penghulu menoleh kepada para saksi yang disiapkan Haikal, Roni dan seorang rekan bisnis terpercaya. “Apakah sah?”
“Sah!” jawab mereka serentak.
Penghulu tersenyum, lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. “Mari kita panjatkan doa agar pasangan ini menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Semoga Allah memberkahi union suci ini.”
“Aamiin,” ucap Ardiah dan Haikal bersamaan. Doa itu terasa berat di hati Ardiah. Sakinah, mawadah, warahmah. Kata-kata indah yang pernah ia dengar di pernikahannya dulu, namun kini terasa berbeda. Ada harapan baru yang tumbuh di sana.
Setelah akad selesai, penghulu menyarankan mereka berfoto di backdrop sederhana yang disediakan KUA. Ardiah awalnya menolak, merasa canggung.
“Foto ini penting, Diah,” bisik Haikal, mendekatkan wajahnya. “Untuk Kakek. Biar beliau semangat sembuh melihat cucunya sudah menikah.”
Alasan itu melunakkan hati Ardiah. Ia menurut. Saat fotografer mengarahkan pose, setiap kali Ardiah mencoba berdiri agak jauh, Haikal dengan sigap merangkul pinggangnya atau menggenggam tangannya dengan mesra. Sentuhan itu hangat dan melindungi. Ardiah hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pelukan Haikal untuk sesaat.
Setelah urusan administrasi dan penyerahan buku nikah selesai, mereka langsung menuju rumah orang tua Haikal. Ardiah mengira akan ada sambutan sederhana sesuai perjanjian "acara kecil-kecilan". Namun, saat mobil mereka memasuki gerbang vila mewah itu, Ardiah hampir terjatuh dari kursinya.
Halaman rumah dipenuhi dekorasi bunga putih dan krem. Sebuah pelaminan sederhana namun anggun didirikan di teras belakang. Puluhan kerabat dan keluarga besar Haikal sudah berkumpul, mengenakan pakaian rapi dan wajah-wajah bahagia.
“Inikan katanya acara kecil-kecilan?” bisik Ardiah panik, menatap Haikal dengan mata membelalak. “Kenapa ada pelaminan? Kenapa banyak sekali orang?”
Belum sempat Haikal menjawab, pintu mobil dibuka oleh Bu Astuti. Wanita itu langsung menarik tangan Ardiah keluar dengan penuh semangat.
“Ayo, Sayang Mama! Ikut Mama sebentar, Mama mau perkenalkan kamu dengan keluarga besar Mama!” seru Bu Astuti gembira.
Ardiah diseret masuk ke tengah kerumunan. Ia menoleh mencari Haikal, namun pria itu hanya berdiri di samping mobil, tersenyum puas sambil melambaikan tangan. Senyum kemenangan yang menyebalkan. Ardiah terpaksa menghadapi lautan wajah asing yang menyambutnya.
Yang mengejutkan Ardiah bukanlah kemewahan pesta itu, melainkan kehangatan yang ia rasakan. Tidak ada tatapan sinis. Tidak ada pertanyaan menyakitkan tentang latar belakang keluarganya, harta, atau status sosialnya. Semua orang tersenyum tulus, menjabat tangannya, dan mendoakan kebahagiaannya.
“Selamat ya, Nak Ardiah. Kamu cantik sekali,” kata seorang bibi Haikal sambil memeluknya.
“Terima kasih, Tante,” jawab Ardiah kikuk, masih belum percaya.
Ini sangat berbeda dengan pengalaman pertamanya menikah dengan Ferdi. Dulu, meski keluarga Ferdi tidak terlalu kaya, sikap mereka arogan. Mereka selalu menyelidiki "bibit dan bobot" Ardiah, dan ketika tahu Ardiah berasal dari keluarga biasa, mereka memandang rendah, seolah Ardiah adalah noda dalam silsilah mereka. Setiap tatapan mereka menusuk, setiap kata-kata mereka merendahkan.
Namun di sini, di tengah keluarga Haikal yang jelas-jelas berada di puncak strata sosial, Ardiah justru diterima sebagai manusia, bukan sebagai aset atau aib. Hatinya yang selama ini keras karena trauma, perlahan mulai luluh.
Di sudut ruangan, Kakek Haikal duduk di kursi roda, ditemani Pak Rizal. Melihat Ardiah mendekat, wajah tua itu bersinar cerah.
“Nak Ardiah,” sapa Kakek dengan suara parau namun penuh kasih sayang. Ia meraih tangan Ardiah dengan tangan keriputnya. “Terima kasih sudah mau menerima cucu kakek yang nakal ini. Sekarang Kakek tenang. Kakek mau segera operasi besok. Kakek ingin cepat sembuh, biar bisa melihat cicit dari kalian berdua.”
Ardiah terkejut. Cicit? Itu terlalu cepat. Ia menoleh tajam ke arah Haikal yang sedang asik berbicara dengan pamannya. Haikal menangkap tatapan Ardiah, lalu hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi polos, seolah berkata, Aku juga tidak tahu, dia tiba-tiba bilang begitu.
Ardiah menghela napas panjang, namun kali ini disertai senyuman tipis. Mungkin, pernikahan kontrak ini bukan sekadar transaksi bisnis. tapi ini adalah awal dari sesuatu yang lebih indah. Di tengah riuh rendah ucapan selamat, Ardiah merasakan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar dihargai. Dan pria yang berdiri beberapa meter darinya, dengan jas putihnya yang elegan, ternyata bukan hanya bos yang tengil, tapi pria yang telah memberikannya rumah, bukan sekadar bangunan, tapi tempat di mana hatinya bisa istirahat.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...