Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Aturan Besi dan Cengkeraman Darah
Debu pekat beraroma belerang perlahan mengendap seiring berhentinya ayunan beliung Lin Tian. Di hadapannya, dinding batu tambang yang terkenal sekeras baja biasa telah runtuh, menyisakan lubang menganga yang dipenuhi bongkahan Batu Hitam berkualitas tinggi.
Lin Chen masih duduk mematung di tanah. Mulutnya terbuka setengah, matanya menatap bergantian antara bongkahan batu yang berserakan dan beliung karatan di tangan kakak sepupunya.
"Kak Tian... ini... bagaimana mungkin?" suara Lin Chen bergetar. "Tanpa menggunakan energi Qi sedikit pun, kau menghancurkan urat batu utama? Bahkan Mandor Tie membutuhkan Seni Peledak Batu tingkat dasar untuk melakukan ini!"
Lin Tian mengusap debu dari wajahnya, menyembunyikan kilau keperakan samar yang sempat memancar dari kulitnya sesaat setelah benturan terjadi. Seni Pedang Sembilan Kematian memang mengerikan. Hanya menembus ambang batas tahap pertama, Besi Penempa Daging, otot dan tulang fana miliknya kini memadatkan kekuatan yang setara dengan monster buas tingkat rendah.
"Jangan banyak bertanya untuk saat ini, Chen," potong Lin Tian dengan nada tenang namun tegas. "Kekuatan ini adalah rahasia kita. Di tempat di mana nyawa lebih murah dari lumpur, kartu truf yang tersembunyi adalah satu-satunya jaminan kita untuk melihat matahari terbit esok hari."
Lin Chen menelan ludah dan mengangguk cepat. Ia bergegas memunguti bongkahan Batu Hitam yang hitam mengkilap itu, memasukkannya ke dalam dua keranjang bambu hingga penuh. Sepuluh bongkah untuk satu orang adalah kuota harian. Saat ini, mereka memiliki lebih dari tiga puluh bongkah batu berkualitas tinggi.
TENG! TENG! TENG!
Suara gong tembaga bergema dari mulut terowongan utama, menembus lorong-lorong sempit dan menggema di dinding-dinding gua. Itu adalah panggilan matahari terbenam. Waktu penyerahan kuota telah tiba.
Lin Tian memanggul keranjangnya yang berat seolah-olah benda itu seringan kapas, sementara Lin Chen berjalan tertatih di belakangnya dengan keranjangnya sendiri. Semakin dekat mereka ke mulut tambang, udara menjadi semakin dingin dan miasma beracun perlahan menebal.
Di luar terowongan, sisa-sisa cahaya merah fajar menyinari pelataran gersang yang dikelilingi pagar kayu berduri. Puluhan budak tambang berjalan terseok-seok, berbaris dengan wajah putus asa, batuk-batuk mengeluarkan darah kehitaman.
Di ujung barisan, duduk di atas kursi batu yang dilapisi kulit harimau, adalah Mandor Tie. Pria gempal bermuka codet itu sedang menenggak arak murahan dari kendi tanah liat. Di tangan kirinya, cambuk kulit berduri sepanjang dua meter melingkar seperti ular yang siap menerkam. Di sebelahnya berdiri dua penjaga bersenjata golok besar.
"Maju! Letakkan batu kalian di timbangan!" teriak salah satu penjaga.
Satu per satu budak maju. Mayoritas berhasil memenuhi kuota dengan batu-batu kecil yang kotor. Namun, bau darah segera menguar ketika budak ketiga gagal memenuhi kuota.
"Hanya tujuh batu?!" Mandor Tie mendengus, meletakkan kendinya.
CTAR!
Cambuk berdurinya melesat membelah udara, menghantam dada budak kurus itu. Pria itu menjerit histeris, kulit dan dagingnya robek, darah memuncrat mewarnai tanah berdebu.
"Kurang tiga batu! Malam ini kau tidur di luar barak. Biarkan kabut beracun membersihkan paru-parumu yang malas itu!" geram Mandor Tie. Budak malang itu diseret menjauh oleh penjaga, tangisannya perlahan tenggelam oleh deru angin lembah.
Lin Tian mengamati pemandangan itu dengan mata dingin. Di dunia kultivator, kelemahan adalah dosa terbesar.
Saat giliran Lin Tian dan Lin Chen tinggal beberapa orang lagi, seorang pria melangkah maju dari barisan samping dan berlutut di depan Mandor Tie. Itu adalah Ma San, pria veteran yang tadi mencoba merampas batu Lin Chen di dalam terowongan.
"Mandor Tie! Lapor, Mandor!" Ma San bersujud, keranjangnya kosong melompong. Beliungnya yang patah diletakkan di tanah.
"Ma San? Mana kuotamu, anjing pemalas?!" Mandor Tie mengangkat cambuknya, matanya berkilat marah.
"Ampun, Mandor! Saya sudah mengumpulkan lima belas batu hari ini, tetapi... tetapi batu saya dirampas!" Ma San menunjuk dengan jari gemetar ke arah barisan belakang, tepat ke wajah Lin Tian. "Anak baru itu! Lin Tian! Dia menggunakan semacam sihir licik untuk mematahkan beliung saya dan merampas semua hasil kerja keras saya!"
Semua mata di pelataran seketika tertuju pada Lin Tian. Bisik-bisik mulai terdengar.
Mandor Tie menyipitkan matanya yang seperti babi. Ia mengenali Lin Tian. Pemuda itu adalah mantan Murid Luar sekte yang Dantiannya dihancurkan pagi tadi. Seorang manusia cacat. Tidak mungkin manusia cacat bisa merampas batu dari Ma San, seorang preman tambang yang kuat.
Namun, saat pandangan Mandor Tie jatuh pada dua keranjang bambu yang dibawa Lin Tian dan Lin Chen—yang dipenuhi oleh Batu Hitam berukuran besar dan mengkilat indah—keserakahan melintas di matanya. Batu berkualitas tinggi ini bisa ia jual secara diam-diam di pasar gelap untuk menukar pil kultivasi tingkat rendah.
Mandor Tie tersenyum miring. Ia tidak peduli siapa yang mencuri atau siapa yang benar. Ia hanya melihat keuntungan.
"Begitu ya..." Mandor Tie bangkit dari kursi batunya, menyeret cambuknya di tanah. Ia berjalan mendekati Lin Tian. "Anak baru, berani sekali kau membuat onar di hari pertamamu. Merampas hasil kerja sesama penambang adalah pelanggaran berat."
"Dia berbohong!" Lin Chen berseru dari belakang punggung Lin Tian, wajahnya pucat pasi. "Ma San yang mencoba merampokku, lalu Kak Tian—"
"Diam, sampah!" bentak Mandor Tie. Energi spiritual Pengumpulan Qi Tingkat 5 meledak dari tubuhnya, menekan Lin Chen hingga remaja itu jatuh berlutut, batuk darah akibat tekanan tak kasat mata itu.
Lin Tian tetap berdiri tegak bak pohon pinus kuno yang tak goyah diterpa badai. Ekspresinya datar.
"Sebagai hukuman," Mandor Tie menyeringai, memamerkan giginya yang kuning, "Semua batu di keranjangmu akan disita. Dan kau, Lin Tian, akan menerima sepuluh cambukan sebagai peringatan agar kau tahu siapa penguasa di neraka ini."
Tanpa peringatan, lengan gempal Mandor Tie berayun. Energi Qi tingkat rendah melapisi cambuk berduri itu, membuatnya melesat dengan kecepatan kilat, membidik langsung ke arah wajah Lin Tian. Jika cambuk itu mengenai sasaran, wajah manusia fana biasa akan hancur lebur!
WUSH!
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat napas semua orang di pelataran terhenti.
PAAT!
Bukan suara daging yang robek, melainkan suara hantaman benda tumpul yang keras.
Lin Tian mengangkat tangan kirinya ke depan wajahnya. Jari-jarinya yang dipenuhi bekas luka dan debu mencengkeram erat ekor cambuk yang berlapis energi Qi tersebut. Duri-duri besi pada cambuk itu menembus kulit telapak tangannya, meneteskan darah merah segar ke tanah.
Namun, tangan itu tidak bergeser satu inci pun.
Mata Mandor Tie terbelalak. Ia mencoba menarik cambuknya kembali, namun rasanya seperti ia sedang berusaha mencabut pohon berumur ribuan tahun dengan tangan kosong. "Apa... bagaimana mungkin?!" batinnya berteriak kaget.
"Sepuluh cambukan?" suara Lin Tian memecah keheningan. Suaranya rendah, serak, nyaris seperti geraman binatang buas yang tertidur.
Lin Tian mengangkat kepalanya. Tatapan matanya yang sedingin es menusuk langsung ke mata Mandor Tie. Niat membunuh yang selama ini ia tekan meluap sekilas, bercampur dengan aura Niat Pedang purba dari tulang belulangnya.
Mandor Tie merasakan hawa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Selama sedetik, ia merasa tidak sedang menatap seorang budak tambang yang cacat, melainkan seekor dewa iblis pembantai yang baru merangkak keluar dari tumpukan mayat.
Lin Tian menarik cambuk itu ke arahnya dengan satu hentakan kasar. Kekuatan fisik murni yang mengerikan mengalir melaluinya.
Gubrak!
Mandor Tie, seorang kultivator tingkat 5, kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas lumpur, tepat di depan ujung kaki Lin Tian.
Pelataran itu mendadak sunyi senyap. Kengerian yang mencekam merayapi hati setiap budak dan penjaga yang melihat kejadian tersebut.
Lin Tian menunduk, melepaskan cengkeramannya dari cambuk yang kini ternoda darahnya sendiri. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Mandor Tie yang masih terpaku dalam ketakutan, dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh pria gempal itu.
"Ini kuota kami hari ini, tiga puluh batu kualitas tinggi. Cukup untuk jatah kami berdua selama tiga hari," bisik Lin Tian perlahan. "Jangan menggangguku, dan kau akan mendapatkan setoran terbaik di tambang ini setiap minggunya. Tetapi jika kau berani menyentuh sehelai rambut saja dari adik sepupuku... malam ini, aku akan merobek lehermu saat kau tidur, dan tidak ada tetua sekte yang akan peduli pada anjing penjaga tambang sepertimu yang mati."
Lin Tian menegakkan tubuhnya, kembali ke ekspresi datarnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia melangkah melewati tubuh Mandor Tie yang masih gemetar, menarik lengan Lin Chen untuk berdiri, dan berjalan menuju barak kotor yang disediakan untuk para budak.
Malam itu, di Tambang Batu Hitam yang dipenuhi penderitaan dan keputusasaan, tidak ada satu orang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun saat Lin Tian merebahkan dirinya di ranjang jerami.