NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Noda Cokelat dan Langkah yang Salah

Jam istirahat kedua membuat area kantin dan koridor SMA Pelita Bangsa dipadati siswa. Alisha berjalan tenang menyusuri koridor blok barat sambil membawa sebuah buku novel pinjaman dari perpustakaan. Langkahnya konstan, hingga sebuah bayangan tiba-tiba memotong jalannya tepat di depan mading sekolah yang sepi.

Ivanka. Kali ini dia tidak bersama dayang-dayangnya, melainkan memegang sebuah cup plastik besar berisi es cokelat yang masih penuh.

"Ups! Sori, gak sengaja!"

Byuuur!

Kalimat Ivanka terdengar sangat palsu, seringkih gerakan tangannya yang sengaja menyenggol bahu Alisha hingga cairan cokelat pekat itu tumpah, membasahi bagian depan seragam putih Alisha. Noda cokelat itu langsung melebar, membuat seragam Alisha terlihat kotor dan berantakan.

Alisha memejamkan mata sesaat. Rasa dingin dari es dan lengketnya gula langsung menusuk kulitnya di balik seragam. Novel di tangannya beruntung selamat, tapi seragamnya hancur total.

Ivanka menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut dengan senyum kemenangan yang berkilat di matanya. "Aduh, Alisha... sori banget ya! Tangan gue mendadak licin. Lagian lo jalan gak liat-liat, sih. Tapi gak apa-apa deng, noda cokelatnya kan senada sama warna kulit lo, jadi gak bakal terlalu kelihatan kotor, kan?"

Sindiran fisik yang murahan. Alisha membuka matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Ivanka. Alih-alih histeris atau menangis karena seragamnya rusak, Alisha justru melangkah maju satu tapak. Tatapannya begitu tajam, membuat senyum kemenangan Ivanka perlahan menyusut menjadi rasa tegang.

"Segitu putus asanya ya lo buat nyari perhatian, Van?" suara Alisha rendah namun penuh penekanan. "Kemarin kalah debat di koridor, sekarang main fisik pakai es cokelat. Level lo ternyata cuma mentok segini?"

"Lo—!"

"Ada apa nih ribut-ribut?"

Sebuah suara kasual yang familier memotong kalimat Ivanka. Dari belokan koridor, muncul Raihan—teman dekat Shaka yang terkenal ramah dan humoris—berjalan berdampingan dengan Reyshaka. Langkah kaki kedua cowok jangkung itu langsung melambat begitu melihat pemandangan di depan mereka.

Mata Shaka mendadak menggelap saat pandangannya jatuh pada seragam Alisha yang basah kuyup oleh cairan cokelat, lalu beralih pada cup plastik kosong di tangan Ivanka. Atmosfer di sekitar Shaka langsung berubah drastis, sedingin es.

"Wah, wah... ada drama es cokelat tumpah nih," celetuk Raihan, matanya melotot geli tapi nadanya terdengar menyindir Ivanka. "Ivanka, lo kalau mau jualan es gak usah diguyur ke baju orang juga kali."

"Sh-Shaka... Raihan... ini gak kayak yang kalian lihat," Ivanka langsung panik. Wajahnya pucat pasi. Ia tahu betul posisi Shaka di sekolah ini, dan ia tidak mau citranya hancur di depan cowok pujaannya itu. "Gue gak sengaja, tadi Alisha yang nabrak gue!"

Shaka melangkah maju, melewati Ivanka begitu saja seolah gadis itu hanya angin lalu. Ia berhenti tepat di depan Alisha, menatap noda di seragam Alisha dengan rahang yang mengeras menahan amarah.

Sret.

Tanpa sepatah kata pun, Shaka membuka kancing jaket almamater OSIS berwarna biru tua yang dikenakannya, melepasnya dengan gerakan cepat, lalu menyampirkan jaket besar itu ke bahu Alisha. Aroma wangi maskulin khas Shaka langsung membungkus tubuh Alisha, menutupi noda cokelat yang lengket.

"Pakai," perintah Shaka pendek, suaranya dingin tapi tegas tak terbantahkan.

Alisha tertegun, menatap Shaka dengan mata berkedip heran. "Tapi, Shak—"

"Gak usah banyak protes. Baju lo tembus pandang kalau basah begitu," potong Shaka cepat, matanya melirik ke arah lain demi menyembunyikan semburat merah yang sempat mampir di pipinya.

Setelah memastikan Alisha tertutup jaketnya, Shaka membalikkan badan, berhadapan langsung dengan Ivanka. Tatapan Shaka kali ini begitu mengintimidasi, membuat Ivanka refleks mundur hingga punggungnya menabrak mading.

"Gue gak peduli lo sengaja atau gak," ucap Shaka, setiap katanya terdengar penuh ancaman. "Tapi di mading atas itu ada CCTV yang mengarah ke sini. Mau gue minta anak jurnalis buat cek rekamannya dan dipasang di layar proyektor aula pas jam istirahat besok?"

"Shaka, jangan!" pekik Ivanka ketakutan. Jika rekaman itu tersebar, reputasinya sebagai siswi populer dan berkelas akan hancur seketika. Dia akan dicap sebagai bully murahan.

Raihan di belakang Shaka tertawa renyah, memanas-manasi keadaan. "Waduh, kalau disiarin di aula, bakal seru sih itu. Judulnya: Ratu Skincare dan Tragedi Es Cokelat."

"Minta maaf ke Alisha. Sekarang," desis Shaka, tidak memberi ruang untuk negosiasi.

Dengan tangan gemetar dan wajah merah padam karena malu yang luar biasa, Ivanka melirik Alisha yang berdiri tenang di balik jaket besar Shaka. "Al-Alisha... gue minta maaf."

Setelah mengucapkan itu, Ivanka langsung berbalik dan berlari kencang meninggalkan koridor dengan perasaan campur aduk antara malu, marah, dan takut.

Raihan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apes banget tuh anak. Makanya jangan nyari perkara sama pawangnya."

"Bacot, Rai," potong Shaka ketus, telinganya kembali memerah mendengar kata 'pawang'. Shaka berbalik menatap Alisha lagi, matanya kembali meneliti gadis itu. "Lo... ikut gue ke ruang materi. Bersihin baju lo di sana sebelum masuk jam pelajaran fisika."

Alisha memegang erat kerah jaket Shaka yang kebesaran di tubuhnya. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Iya, makasih ya... Pawang."

"Alisha, diem atau jaketnya gue ambil lagi?" ancam Shaka ketus, berjalan mendahului dengan langkah lebar untuk menyembunyikan debaran aneh di dadanya.

Raihan hanya tertawa terbahak-bahak mengikuti dari belakang, meninggalkan koridor yang kini menyisakan cerita baru yang siap menyebar ke seantero sekolah.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!