Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama itu disebut!
Sementara kedua adiknya sibuk menyelesaikan tugas menggunakan ponsel miliknya, Amira dan Farhan duduk berdampingan. Mereka mengobrol santai, membahas berbagai hal, hingga akhirnya pembicaraan mengarah pada rencana masa depan Amira dan kedua adiknya.
“Apa rencanamu selanjutnya, Amira? Kamu juga punya masa depan sendiri yang wajib kamu pikirkan, lho,” tanya Farhan dengan nada lembut namun serius.
Amira hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, seolah hal tersebut sudah sering ia dengar namun jawabannya tak pernah berubah.
“Rencanaku sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang tetap sama, Mas. Aku akan terus bekerja keras demi masa depan kedua adikku. Soal masa depanku sendiri... rasanya aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi. Mereka jauh lebih membutuhkan masa depan dibandingkan aku. Aku cukup menjalani hidup apa adanya dan mengikuti alurnya saja,” jawabnya pelan, sembari menatap kosong ke arah jalan di depan rumah, seolah pikirannya sedang melayang ke masa depan yang penuh ketidakpastian.
Farhan menghela napas pelan, lalu kembali bertanya dengan nada yang lebih lembut.
“Aku mengerti niatmu yang tulus itu. Tapi, apa sama sekali tidak ada keinginanmu untuk melanjutkan pendidikan atau mengejar cita-cita, sama seperti anak muda lainnya di usiamu? Jika kamu juga berjuang untuk dirimu sendiri, bukankah kehidupan kalian bertiga nantinya akan menjadi jauh lebih baik dan sejahtera?”
Sekali lagi, Amira hanya tersenyum, kali ini disertai tawa kecil yang terdengar pasrah namun ikhlas.
“Mas, aku bukanlah anak seorang pewaris. Ayah dan Ibu hanya meninggalkan rumah kecil ini sebagai peninggalan satu-satunya. Sebenarnya aku bisa saja melanjutkan sekolah atau kuliah, tapi kalau aku melakukannya, siapa yang akan membiayai dan mengurus kebutuhan adik-adikku? Niat itu sudah lama hilang . Sekarang cita-citaku hanya satu bekerja sekuat tenaga agar mereka bisa hidup layak dan meraih kesuksesan. Jika hal itu sudah tercapai kelak, aku sudah merasa sangat bersyukur dan puas.”
Farhan mengangguk perlahan, memahami keteguhan hati gadis di hadapannya. Namun, ia masih merasa perlu menyampaikan hal lain yang menurutnya penting. Ia pun mengubah topik pembicaraan menuju hal yang lebih pribadi.
“Suatu hari nanti, pasti ada waktunya kamu untuk membangun rumah tangga, bukan? Tidak mungkin kamu ingin hidup menyendiri selamanya. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan sampai kamu melupakan atau mengorbankan dirimu sendiri sepenuhnya. Ingat, kamu juga berhak menjadi prioritas.”
Wajah Amira sedikit memerah, ia kembali tersenyum sambil menggeleng pelan.
“Pertanyaan Mas ini terlalu jauh kedepan, lho. Aku baru berusia 22 tahun, rasanya masih terlalu dini untuk membahas hal seberat itu. Kalau nanti memang ada jodohku, aku hanya berharap dia bisa menerima segala kekuranganku dan keadaan keluargaku. Dia tidak hanya akan menjadi pendamping hidupku, tapi juga harus siap bertanggung jawab dan menyayangi kedua adikku sepenuh hati. Tapi rasanya hal itu sulit sekali terjadi, Mas. Mana ada orang yang mau menikah dan bersedia menanggung beban hidup orang lain dari awal?”
“Siapa tahu saja ada orang yang hatinya cukup besar untuk itu. Jangan pernah merasa putus asa dulu ya. Aku yakin, perempuan sebaik dan setulus kamu pasti akan dipertemukan dengan laki-laki yang bijaksana, bertanggung jawab, dan mampu membahagiakanmu sepenuhnya,” ucap Farhan meyakinkan.
“Aamiin... Semoga saja seperti itu ya, Mas,” jawab Amira dengan senyum yang lebih tenang. Lalu, ia pun membalikkan pertanyaan kepada Farhan. “Kalau begitu, gimana dengan Mas sendiri? Usia Mas sekarang sudah menginjak kepala tiga, waktunya sudah sangat pas untuk memikirkan pendamping hidup. Apa saat ini sudah ada seseorang yang mengisi hati, yang aku belum ketahui?”
Mendengar pertanyaan itu, Farhan hanya tersenyum, kisah percintaannya tidak semulus itu, dia tidak berniat membahasnya kepada siapapun. Cukup ia simpan rapat dalam hatinya saja.
“Sebenarnya aku masih belum terlalu yakin dengan perasaanku sendiri. Nanti kalau aku sudah benar-benar yakin dan mantap, pasti akan langsung aku bawa ke pelaminan kok, haha,” jawabnya sambil bercanda, hingga akhirnya keduanya tertawa bersama mencairkan suasana yang sempat menjadi serius.
**
Tak terasa, waktu sudah berlalu hingga menjelang sore. Farhan pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berkelana, dipenuhi berbagai pertimbangan dan kegelisahan. Beberapa hari yang lalu, ia menerima telepon dari ibunya yang mengatakan bahwa ia akan dijodohkan dengan anak dari kerabat dekat keluarga. Awalnya, ia tidak terlalu memikirkannya, namun ibunya terus mendesak hampir setiap hari lantaran Farhan tak kunjung memberikan kepastian, entah menerima atau menolak. Padahal, jika ia ingin menolak, ia harus memiliki alasan yang logis dan dapat diterima, misalnya jika ia sudah memiliki kekasih.
Namun kenyataannya, Farhan belum memiliki siapa pun. Hati kecilnya merasa tidak tega jika harus melibatkan Amira ke dalam persoalan dan kerumitan urusan percintaannya ini. Keadaan memang terasa rumit, namun apa daya? Ia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga, sementara adik perempuannya belum terlalu didesak untuk menikah karena dia baru saja menyelesaikan pendidikan tingginya.
Sesampainya di rumah, Farhan menghela napas panjang. Ini adalah rumah sederhana bergaya minimalis yang ia beli dan bangun sepenuhnya dengan hasil keringatnya sendiri, yang ia tabung sejak masih menjadi mahasiswa. Rumah ini adalah wujud dari mimpi dan cita-rasanya sendiri, dibangun sesuai dengan apa yang ia sukai. Bagi Farhan, tempat ini adalah pelabuhan paling nyaman untuknya pulang dan beristirahat. Di sini, tidak ada yang boleh berubah atau diganggu gugat, kecuali atas izinnya sendiri.
Ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar yang empuk. Belum lama ia memejamkan mata, ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Saat dibuka, ternyata pesan itu dikirimkan oleh ibunya.
“Farhan, jangan terus-terusan menghindari Mama ya. Bagaimanapun juga, kamu pasti akan tetap bertemu dengan Mama kan? Hari Minggu besok kalian harus bertemu. Mama sudah mengatur segalanya. Mama harap kamu tidak mengecewakan Mama kali ini.”
Membaca pesan itu, Farhan menyadari bahwa ia benar-benar tidak bisa lagi menghindari hal ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk segera pergi ke rumah orang tuanya dan membicarakan hal ini secara langsung. Ia berniat menjelaskan dengan cara yang baik dan sopan, bahwa dirinya saat ini belum memiliki ketertarikan maupun kesiapan untuk menikah.
Tepat pukul delapan malam, Farhan tiba di kediaman orang tuanya. Ia langsung bergabung duduk bersama ayah, ibu, serta adik perempuannya di ruang tengah.
“Akhirnya kamu ingat jalan pulang juga, ya,” ucap ibunya begitu melihat kedatangannya, dengan nada yang terdengar sedikit kesal namun lega.
Farhan hanya diam, memilih untuk tidak menanggapi sindiran itu.
“Bagaimana kabarmu, Han? Sehat semua kan?” tanya ayahnya, Arhan Hutama, yang menyambutnya dengan senyum hangat.
“Sebetulnya tadinya baik-baik saja, pah. Tapi belakangan ini rasanya jadi agak kurang enak, semenjak Mama terus-terusan ‘menghantui’ dan mendesakku soal perjodohan,” jawab Farhan sedikit ketus, tak bisa menyembunyikan rasa kesal yang ada di hatinya.
Arhan hanya menggeleng pelan melihat tingkah anak laki-lakinya itu.
“Nah kan, Mas Farhan jadi sakit dan tidak tenang gara-gara Mama,” sambar Farhana, adiknya, sambil tertawa kecil menggoda.
“Lho, kok Mama yang disalahkan? Kalau kakakmu ini bisa cari pasangan sendiri, untuk apa Mama susah payah mencarikan? Yang Mama cari itu sudah jelas asal-usulnya, baik latar belakang maupun pendidikannya, sama seperti kamu. Lihat saja, anak teman-teman mama yang seusia dengan kamu anak-anaknya sudah banyak yang punya buah hati, Han. Lha kamu ini kok masih sibuk kerja terus ?” bantah ibunya dengan nada yang mulai meninggi dan sewot.
“Masih dua puluh tujuh tahun lho, Mah! Belum tua-tua banget kok, kenapa harus dipusingkan dan diburu-buru begini? Buat apa coba?” bantah Farhan balik.
“Jangan-jangan kamu belum bisa melupakan Clarisa ya? Sudahlah, dia mungkin sudah menikah dan bahagia dengan hidupnya, Han. Sudah bertahun-tahun berlalu, dia pasti sudah punya kehidupannya sendiri,” ucap ibunya lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut namun menusuk tepat ke dalam hati.
Mendengar nama itu disebut kembali, emosi Farhan sedikit tersulut. Ia menatap tajam ke arah ibunya.
“Itu bukan urusan Mama! Dan jangan bicara sembarangan ya! Lagian aku sudah punya calon yang akan menjadi pendamping hidupku kok. Mama bersabarlah sedikit, nanti pasti aku kenalkan sama Mama,” jawab Farhan secara spontan, terucap begitu saja sebelum ia sempat berpikir panjang.