"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 (Dua garis merah dan kerikil tajam)
Waktu bergulir dengan cepat menuntun takdir baru bagi setiap insan. Satu bulan telah berlalu sejak badai sabotase korporasi yang digawangi oleh Paman Hardi berhasil ditumbangkan secara mutlak. Sentimen pasar saham Raharja Group tidak hanya pulih, tetapi justru melonjak tajam ke angka tertinggi dalam sejarah setelah dewan komisaris dibersihkan dari duri-duri dalam daging. Kehidupan di kediaman utama Menteng pun berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang dan penuh kehangatan yang nyata.
Pagi itu, sinar matahari musim kemarau menerobos masuk melalui celah jendela ruang makan yang mewah. Kakek Surya sudah duduk di kursi kebesarannya, tampak jauh lebih segar dan bertenaga. Di sisi kanannya, Mike duduk dengan setelan kerja formalnya yang rapi, sementara Alisha berada di samping suaminya, bersiap menyendokkan nasi goreng mentega ke piring Mike.
"Alisha, kamu harus banyak makan pagi ini," ujar Kakek Surya lembut, memperhatikan wajah menantu cucunya yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. "Kakek lihat seminggu ini porsi makanmu berkurang. Jangan sampai kecapekan mengurus yayasan pendidikan ibumu."
Alisha tersenyum tipis, mencoba mengenyahkan rasa pening yang tiba-tiba berputar di pelipisnya sejak ia bangun tidur tadi. "Iya, Kakek. Alisha hanya sedikit kurang tidur saja karena kemarin memeriksa laporan keuangan yayasan."
Mike yang menyadari perubahan raut wajah istrinya langsung meletakkan garpunya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh kening Alisha dengan gurat kecemasan yang kentara. "Badanmu agak hangat, Sayang. Hari ini tidak usah ke yayasan, ya? Aku akan meminta Kevin mengirimkan dokter pribadi ke sini."
"Tidak apa-apa, Mike. Aku hanya—"
Kata-kata Alisha terputus. Aroma nasi goreng mentega yang biasanya sangat ia sukai mendadak tercium begitu menyengat dan memicu rasa mual yang hebat di pangkal tenggorokannya. Alisha membekap mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat. Ia berniat bangkit dari kursi untuk berlari menuju kamar mandi, namun begitu ia berdiri, seluruh ruangan di sekitarnya mendadak berputar dengan cepat. Pandangannya menggelap sempurna.
*Bruk!*
"Alisha!" teriak Mike histeris.
Dengan refleks kilatnya, Mike berhasil menangkap tubuh ramping Alisha sebelum menghantam lantai marmer. Wajah Alisha pucat pasi dan matanya terpejam rapat dalam ketidaksadaran. Suasana ruang makan seketika berubah menjadi kekacauan yang mencekam. Kakek Surya langsung berdiri dengan panik, memanggil seluruh pelayan dan memerintahkan untuk segera menghubungi tim medis ambulans darurat rumah sakit terdekat. Mike menggendong tubuh istrinya dengan tangan yang gemetar—sebuah pemandangan langka di mana sang tirani korporat tampak begitu rapuh dan ketakutan kehilangan poros dunianya.
Satu jam kemudian, aroma antiseptik yang khas memenuhi kamar tidur utama Menteng. Dokter spesialis kandungan senior yang merupakan kolega keluarga Raharja baru saja menyelesaikan pemeriksaan ultrasonografi (USG) portabel pada tubuh Alisha yang kini sudah mulai siuman, meskipun masih tampak lemas di atas ranjang.
Mike duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan Alisha tanpa sedetik pun melepaskannya, sementara Kakek Surya berdiri di ujung tempat tidur dengan wajah penuh kecemasan yang tertahan.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Mike, suaranya terdengar tajam dan dingin karena ketegangan yang memuncak.
Dokter paruh baya itu meletakkan stetoskopnya, lalu mengulas sebuah senyuman yang sangat lebar, memecah atmosfer tegang di dalam kamar. "Tenang saja, Pak Mike. Tidak ada penyakit serius yang perlu dikhawatirkan. Nyonya Alisha hanya mengalami kelelahan akut ditambah dengan gejala *morning sickness* yang cukup intens."
"Maksud Dokter?" Kakek Surya menyela, matanya seketika berbinar mendengar istilah yang sangat ia kenali itu.
"Selamat, Pak Mike, Kakek Surya. Nyonya Alisha saat ini sedang mengandung. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu kelima," ungkap Dokter tersebut dengan nada penuh sukacita.
Ruangan itu seketika hening. Alisha tertegun, tangannya yang bebas perlahan bergerak menyentuh perut ratanya yang kini menyimpan benih cinta sejati dari suaminya. Air mata kebahagiaan seketika meleleh di sudut matanya.
Mike membeku selama beberapa detik. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban taktis atas segala masalah bisnis itu mendadak kehilangan kata-kata. Ia menatap Alisha, lalu merunduk untuk mencium kening istrinya dengan sangat lama dan penuh khidmat, menyalurkan rasa syukur yang luar biasa dalam dada maskulinnya.
"Cicitku..." Kakek Surya berseru parau, air mata haru menetes di pipi keriputnya. Pria tua itu menengadahkan kedua tangannya ke atas. "Terima kasih, Tuhan! Doaku akhirnya dikabulkan sebelum aku menutup mata. Raharja akan memiliki penerus sejati!"
Skenario rahasia yang dulu dibangun Mike dengan penuh kepedihan kini telah membuahkan hasil yang paling indah. Di atas ranjang tidur itu, di bawah tatapan haru sang kakek, Mike dan Alisha tahu bahwa lembaran baru kehidupan mereka kini telah disempurnakan oleh kehadiran malaikat kecil yang akan meneruskan takhta cinta mereka.
Namun, ketika kebahagiaan baru saja mengetuk pintu kediaman Menteng, di sebuah restoran privat sebuah hotel bintang lima di kota Surabaya, atmosfer yang bertolak belakang justru sedang terjadi. Suasana makan siang yang seharusnya menjadi momen perkenalan yang hangat bergeser menjadi medan interogasi yang dingin dan menegangkan.
Anita duduk dengan punggung tegak di kursi kayu jati yang kokoh. Jemarinya yang biasanya tenang saat memegang dokumen hukum kini saling meremas di bawah meja. Di sampingnya, Alvin duduk dengan rahang yang mengeras, matanya menatap lurus ke arah kedua orang tuanya yang duduk di seberang meja.
Ibunda Alvin, seorang wanita paruh baya ningrat berpenampilan sangat anggun namun memiliki tatapan mata yang tajam bagai silet, meletakkan cangkir teh porselennya dengan ketukan yang sengaja diperkeras. Di sampingnya, Ayah Alvin—seorang pengusaha properti terpandang di Jawa Timur—hanya melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi wajah yang masam.
"Jadi... kamu adalah Anita?" suara Ibunda Alvin membuka percakapan, nadanya terdengar begitu datar dan dingin. "Wanita yang sebulan lalu wajah dan dokumen kontraknya memenuhi seluruh stasiun televisi nasional karena skandal pernikahan fiktif dengan CEO Raharja Group?"
Anita menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan ketenangan profesionalnya. "Benar, Tante. Saya Anita. Mengenai pemberitaan itu—"
"Kami tidak butuh penjelasan kosmetik dari seorang pengacara, Anita," potong Ayah Alvin dengan kalimat yang telak dan kasar. "Keluarga kami memang bukan konglomerat sekelas Raharja, tapi kami sangat menjaga martabat dan harga diri. Bagaimana bisa Alvin membawa wanita yang sudah menjadi janda kontrak dari sahabatnya sendiri ke rumah ini untuk dikenalkan sebagai calon istri?"
"Ayah, jaga ucapan Ayah!" Alvin menyela dengan nada suara yang meninggi satu oktav. Kemarahannya sudah berada di ubun-ubun mendengar wanita yang dicintainya dihina secara terang-terangan. "Anita tidak melakukan kesalahan apa pun! Pernikahan itu murni bisnis dan Mike sendiri yang memintanya! Anita tidak pernah disentuh oleh Mike, dan dia adalah wanita terhormat!"
"Terhormat?!" Ibunda Alvin terkekeh sinis, menatap Anita dengan pandangan meremehkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Pria mana yang mau membuang waktu empat tahun dalam pernikahan kontrak jika tidak tergoda dengan jumlah nominal uang yang fantastis, Alvin? Di mata kami, wanita ini sengaja menjual statusnya demi uang untuk membangun firma hukumnya sendiri! Dan sekarang, setelah kontraknya selesai, dia beralih mendekatimu karena tahu kamu adalah asisten kepercayaan Mike yang juga memiliki aset melimpah? Menjijikkan sekali."
Kata-kata kasar itu menghantam tepat di ulu hati Anita. Wajahnya seketika pucat, dan matanya mulai memanas menahan air mata yang siap tumpah. Sepanjang kariernya, ia terbiasa dihargai dan dihormati karena kecerdasannya, namun hari ini, di depan orang tua pria yang ia cintai, seluruh harga dirinya diinjak-injak hanya karena masa lalu kontrak bisnisnya dengan Mike.
"Tante, Om..." suara Anita bergetar, namun ia tetap mencoba berbicara dengan kepala tegak. "Saya menerima kontrak itu karena murni alasan profesionalitas hukum saat itu. Saya tidak pernah berniat memanfaatkan Alvin atau siapa pun demi harta—"
"Cukup, Anita. Kami tidak merestui hubungan ini," putus Ayah Alvin dingin, lalu berdiri dari kursinya. "Alvin, jika kamu masih menganggap kami sebagai orang tuamu, tinggalkan wanita ini di Jakarta dan kembali ke Surabaya untuk dijodohkan dengan putri rekan bisnis Ayah. Kami tidak akan pernah menerima wanita dengan rekam jejak kotor seperti dia masuk ke dalam silsilah keluarga kita."
Setelah mengucapkan kalimat penolakan yang mutlak itu, kedua orang tua Alvin melangkah pergi meninggalkan ruang privat restoran tanpa menyentuh makanan mereka sedikit pun, menyisakan keheningan yang menyakitkan di antara Alvin dan Anita.
Anita akhirnya tidak mampu lagi membendung air matanya. Ia menundukkan kepala, bahunya terguncang hebat karena rasa sakit hati yang teramat dalam. Kerikil tajam masa lalunya kini benar-benar menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan masa depannya.
Melihat wanita yang dipujanya menangis sekorban itu, Alvin merasakan hatinya bagai diiris sembilu. Ia bergeser kursi, lalu menarik tubuh Anita ke dalam pelukan hangatnya, mendekapnya dengan sangat erat seolah ingin menghalau seluruh rasa sakit dunia dari tubuh wanita itu.
"Maafkan aku, Anita... Maafkan orang tuaku," bisik Alvin parau, matanya berkilat penuh tekad dan amarah yang tertahan. Ia mengecup puncak kepala Anita dengan penuh komitmen. "Dengarkan aku. Aku tidak peduli dengan restu mereka. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika mereka menolakmu, maka aku yang akan keluar dari keluarga itu demi bersamamu. Kita akan menghadapi ini bersama, Anita. Aku janjikan itu padamu."
Pertemuan di Surabaya hari itu memang tidak berjalan mulus, meninggalkan luka baru di tengah kebahagiaan yang baru saja mekar di Jakarta. Namun di balik air mata Anita dan ketegasan Alvin, sebuah perjuangan cinta yang sesungguhnya baru saja dimulai—sebuah pembuktian bahwa benang takdir yang nyata tidak akan pernah bisa diputuskan oleh ego manusia mana pun.