NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35: Gema Dari Luar Negeri

Malam hari di kawasan Menteng, kediaman mewah keluarga Santoso tampak sunyi di bawah guyuran hujan gerimis yang membasahi pelataran marmer teras depan.

Di dalam ruang kerja pribadinya yang dilapisi dinding kayu gelap, Devan Santoso duduk di balik meja tulisnya yang dipenuhi oleh berbagai dokumen legal.

Untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir, gurat kecemasan di wajah tua itu sedikit memudar.

Di hadapannya, sebuah cangkir kristal berisi wiski mahal berkilat memantulkan cahaya temaram lampu meja.

Tiga puluh miliar rupiah dana segar dari Pacific Blue Investment telah efektif masuk ke rekening penampung mereka sore tadi, menjadi napas buatan yang sangat krusial bagi kelangsungan proyek tol Sektor Selatan yang sempat di ambang kelumpuhan.

"Papa," Amanda melangkah masuk ke dalam ruangan, meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja.

Gaun malamnya berwarna biru dongker memancarkan kembali aura kemewahan seorang putri mahkota yang sempat meredup.

"Tim keuangan pusat baru saja mengonfirmasi bahwa seluruh vendor besi baja di Sektor Selatan telah menarik surat tuntutan PKPU mereka setelah menerima transfer tunai sore ini."

"Skenario terburuk di Pengadilan Niaga resmi berhasil kita batalkan."

Devan Santoso mengangguk perlahan, menyesap wiskinya dengan gerakan yang berwibawa.

"Pacific Blue... mereka bergerak dengan sangat profesional. Investor asing dari British Virgin Islands memang selalu tahu kapan harus mengambil aset berharga yang sedang terdiskount."

"Kehadiran mereka justru menguntungkan kita, Amanda. Mereka hanya investor portofolio pasif yang mencari keuntungan dari dividen jangka panjang, bukan pemeras lokal yang haus kekuasaan seperti Doni Salman."

Mendengar nama Doni Salman disebut, kilatan kemarahan dan harga diri yang terluka kembali melintas di mata tajam Amanda.

"Anak itu pasti sedang mengira kita akan berlutut di ruko Pluit-nya minggu ini, Papa."

"Dia tidak tahu kalau di dunia bisnis tingkat atas, selalu ada kekuatan modal internasional yang bisa kita gerakkan untuk memotong taktik licik kelas bawah seperti miliknya."

Devan terkekeh rendah, sebuah tawa kering yang sarat akan arogansi lama yang kembali bangkit.

"Biarkan dia memegang sepuluh persen saham kita untuk sementara waktu, Amanda. Begitu proyek tol Marunda ini selesai dan kita melakukan IPO di bursa efek tahun depan, kita bisa melakukan korporasi rights issue untuk mengencerkan persentase kepemilikan sahamnya hingga menjadi angka mati yang tidak berarti."

"Di Jakarta ini, kuli tetaplah kuli; mereka tidak akan pernah mengerti cara kerja mesin cetak uang milik para penguasa."

Keluarga Santoso begitu larut dalam euforia penyelamatan darurat ini.

Mereka sama sekali tidak pernah menyadari bahwa nama Pacific Blue Investment Nominees Ltd yang tertera pada dokumen kliring bursa mereka adalah sebuah nama samaran hukum yang seluruh tali kendalinya terhubung langsung ke meja kerja Doni Salman di ruko Pluit.

Dana tiga puluh miliar rupiah yang baru saja mereka gunakan untuk membayar para vendor, sejatinya adalah uang hasil jualan saham BUMI milik Doni yang sengaja dialirkan kembali untuk mengikat leher mereka dengan jerat hukum yang jauh lebih kuat.

Sementara itu, di lantai tiga ruko Salman H, keheningan malam dilingkupi oleh suara desis pendingin ruangan dan deru kipas CPU komputer yang bekerja tanpa henti.

Doni Salman duduk di balik meja kerjanya yang luas. Di bawah temaram lampu meja tunggal, ia sedang meneliti sebuah dokumen rahasia berbahasa Inggris yang baru saja dikirimkan oleh firma hukum internasional rekanannya di Singapura.

Dokumen itu adalah Declaration of Trust—sebuah akta otentik bawah tangan yang menyatakan secara mutlak bahwa Pacific Blue Investment adalah entitas cangkang yang bertindak untuk dan atas nama Salman Holdings sebagai pemilik manfaat akhir (Ultimate Beneficial Owner).

TOK! TOK! TOK!

Joko melangkah masuk setelah mengetuk pintu kayu ruangan, membawa sebuah map hijau baru yang berbau harum kertas cetak segar.

"Pak Doni, ini laporan mutasi harian dari rekening kustodian kita. Proses balik nama sisa lima persen saham treasury yang kita beli dari Artha Sekuritas kemarin sudah selesai diverifikasi oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)."

Doni menerima map tersebut tanpa mengalihkan pandangan matanya yang sedingin es.

"Sempurna, Joko. Berarti pergerakan total hak suara kita di PT Santoso Karya malam ini sudah terkunci di angka lima belas persen."

Joko duduk di kursi tamu di hadapan Doni, wajahnya dipenuhi oleh ekspresi ketegangan yang tertahan.

"Pak... aku masih tidak habis pikir. Kenapa kamu bersedia meminjamkan uang tiga puluh miliar itu secara tidak langsung kepada Devan Santoso? Bukankah dengan uang itu, dia bisa menenangkan para vendor dan membuat posisi perusahaannya kembali stabil di mata publik?"

Doni Salman meletakkan dokumen miliknya, lalu menyandarkan punggung mudanya ke sandaran kursi kulit.

Seulas senyuman kemenangan yang sangat tipis dan kejam terukir di wajah tirusnya, memancarkan aura seorang titan bursa yang sedang mengamati mangsanya dari puncak piramida takdir.

"Uang tiga puluh miliar itu bukan pelampung keselamatan untuk Devan, Joko," kata Doni, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan bergema mematikan di dalam ruangan sepi.

"Itu adalah umpan lemak yang sengaja kuberikan agar para vendor di Sektor Selatan mau menyelesaikan sisa struktur fisik jembatan penghubung Marunda minggu ini juga."

Doni memajukan tubuhnya, menatap Joko dengan sepasang mata sumur tuanya yang tajam.

"Jika Sektor Selatan mandek karena utang, nilai jaminan aset tanah Marunda yang kita incar akan jatuh di pasaran."

"Aku membutuhkan proyek itu tetap berjalan dalam status fisik sembilan puluh persen selesai, agar saat kita melakukan penyitaan aset nanti, kita mendapatkan sebuah infrastruktur yang hampir jadi dengan harga sampah, bukan sebuah proyek mangkrak yang penuh dengan masalah buruh."

Joko menelan ludahnya dengan berat, merasakan dinginnya kalkulasi masa depan Doni yang melampaui batas moral bisnis biasa.

"Lalu... bagaimana dengan situasi Bank Nusa Sentosa? Uang tiga puluh miliar itu sekarang sudah menyebar ke rekening para vendor, berarti kas PT Santoso Karya sendiri tetap kosong, bukan?"

"Benar," desis Doni Salman, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang konstan bagai detak jarum jam kematian.

"Kas internal mereka tetap nol mutlak. Dan malam ini... di kantor pusat Bank di Jalan Thamrin, draf surat keputusan bersama mengenai pembekuan total kegiatan usaha Bank Nusa Sentosa sedang ditandatangani oleh dewan gubernur."

Doni melirik jam dinding di ruang kerjanya. Pukul sebelas malam.

Di dalam ingatan lini masa masa depannya, esok pagi Jumat minggu kedua di bulan Juli 2006 adalah hari di mana sejarah perbankan Jakarta akan mencatat salah satu skandal likuiditas terbesar di dekade ini.

Bank Nusa Sentosa akan disegel secara resmi, garis polisi akan dipasang di seluruh kantor cabangnya, dan seluruh dana pihak ketiga yang tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan dinyatakan hangus dan masuk ke dalam status sitaan negara.

"Besok pagi, saat matahari terbit di atas Menara Thamrin, Devan Santoso akan menyadari bahwa tiga puluh miliar yang baru saja dia dapatkan dari Pacific Blue tidak lebih dari sekadar air setetes di tengah padang pasir yang membakar,"

kata Doni, matanya berkilat kejam membelah kegelapan malam Pluit.

"Dengan kekuatan lima belas persen saham yang kita pegang, kita akan langsung mengirimkan surat tuntutan pelaksanaan RUPS Luar Biasa ke kantor mereka tepat pada jam pembukaan bursa pukul sembilan pagi."

"Pertunjukan bawah tanah kita telah selesai, Joko. Besok pagi, saatnya kita menyeret seluruh dinasti keluarga Santoso ke atas panggung eksekusi terbuka di hadapan seluruh pelaku pasar modal Jakarta."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!