NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Tutup Mulut Tutup Kasus

*Satu bulan kemudian. Pukul 15.00. Yudhistira Tower, lantai 47.*

Ruangan itu luas. Didominasi warna hitam dan abu-abu. Kaca setinggi 4 meter membentang dari lantai sampai langit-langit, memperlihatkan seluruh ibukota Jakarta yang tampak kecil dari atas.

Di balik meja kerja dari kayu jati gelap, duduk seorang pria. Jas hitamnya tergantung di sandaran kursi. Dasi dilepas setengah. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku.

Arsenio Bagas Yudhistira. 40 tahun. CEO Yudhistira Group.

Wajahnya tampan, tapi dingin. Garis rahangnya tegas. Matanya tajam. Dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke meja dengan ritme pelan. Datar. Seolah sedang menghitung kesabaran orang lain.

Tok. Tok.

“Masuk.” Suaranya berat. Tanpa menoleh.

Pintu terbuka. Keenan masuk. Penampilannya rapi seperti biasa, kemeja biru navy, rambut disisir ke belakang. Tapi ada keringat tipis di pelipisnya. Gengsi seorang pria yang datang meminta tolong.

“Om.” Keenan menutup pintu pelan. Suaranya lebih rendah dari biasanya.

Arsen baru menoleh. Alisnya terangkat satu senti. “Duduk.”

Keenan duduk di kursi tamu di depan meja. Kursi itu sengaja dibuat sedikit lebih rendah dari kursi Arsen. Psikologi. Biar lawan bicara merasa tertekan.

“Gue langsung to the point aja, Om. Boleh?” Keenan menyenderkan punggung. Tapi bahunya kaku.

Arsen menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya menyelidik. “Silakan.”

Keenan menghela napas. “Berita soal Netha nganiaya Clara harus ketutup. Rapat. Gak boleh ada satu media pun yang berani angkat. Gue butuh bantuan Om buat matiin itu semua.”

Alis Arsen menyatu. “Kamu yakin istrimu gak sengaja? Atau emang udah niat?”

“Khilaf, Om.” Keenan mengangguk cepat. Terlalu cepat. “Netha emosi sesaat. Gak ada niat bunuh orang. Dia cuma... kecewa sama gue.”

Arsen tertawa kecil. Tanpa suara. Hanya sudut bibirnya yang naik setengah senti. “Khilaf? Sampai bikin Clara dua hari di UGD?”

Keenan menunduk. Harga dirinya terinjak, tapi dia tahan. “Om... tolong. Gue gak mau nama Netha hancur. Apalagi nama perusahaan Om ikut terseret. Gue jamin, keluarga Clara gak bakal lapor polisi. Semua gue yang urus.”

Arsen mencondongkan badan ke depan. Sikunya bertumpu di meja. Matanya mengunci mata Keenan. “Memangnya kamu bisa jamin? Keenan, dengar. Penganiayaan itu pidana. Gak ada kata beres kalau korban buka suara.”

Keenan mengangkat kepala. Tatapannya lurus. Memaksa dirinya yakin. “Gue jamin, Om. Gue udah bicara sama Clara. Dia ngerti posisinya. Dia gak akan nuntut. Asal semua orang diem.”

Hening. Hanya suara AC yang berdengung pelan.

Arsen berdiri. Gerakannya pelan tapi penuh wibawa. Dia berjalan memutari meja, berhenti tepat di samping kursi Keenan. Bayangan tubuhnya menutupi Keenan.

“Aku tanya sekali lagi.” Suara Arsen lebih pelan dari sebelumnya. Tapi justru itu yang bikin merinding. “Ini cuma soal kasus? Atau ada urusan asmara di baliknya?”

Deg.

Jantung Keenan berdetak lebih cepat. Dia menelan ludah. “Mmm... maksud Om?”

Arsen terkekeh. Kali ini ada suaranya. Dia kembali ke kursinya, duduk santai, menyilangkan kaki. “Aku memang belum pernah nikah, Keen. Tapi aku bisa nyium bau hubungan toxic dari jarak 10 meter.”

Keenan mengerutkan dahi. Berusaha defensif. “Gue gak ngerti Om ngomong apa. Muter-muter.”

Ctak.

Sebuah jitakan ringan mendarat di kening Keenan.

“Aduh!” Keenan memegangi keningnya, meringis. “Ngapain dijitak, Om?”

“Karena kamu udah kepala tiga, punya istri, punya anak satu. Tapi otakmu masih telat mikir.” Arsen menyender, senyum miringnya muncul. “Kebanyakan makan janji manis pelakor, ya?”

“Enak aja Om ngomong.” Keenan protes, tapi suaranya melemah. “Gue ini suami setia, Om. Gue cinta keluarga.”

“Masa?” Senyum Arsen makin lebar. Senyum yang bikin orang gak nyaman.

Keenan mendengus kesal. Emosinya terpancing. “Om cepetan nikah sana. Biar gak suuzon mulu sama ponakan sendiri. Biar gak nyandang predikat bujang lapuk terus.”

Seketika, senyum di wajah Arsen menghilang. Ruangan mendadak dingin.

“Apa kau bilang?”

Alih-alih takut, Keenan malah ketawa. Gugup, tapi mencoba menutupi. “Hahaha. Bener kan? Om tuh...”

Arsen mengangkat satu alis. Jiwa usilnya yang sudah lama tertidur kembali bangun. “Oke. Kalau aku cepet nikah, kamu dukung gak?”

“Dukung seratus persen, Om.” Keenan langsung membusungkan dada, merasa menang. “Tapi... emang ada cewek yang mau sama Om?”

Arsen diam selama dua detik. Lalu senyumnya berubah. Senyum iblis.

“Gimana kalau istri kamu aja?”

“Apaaaa?!” Keenan langsung meloncat dari kursi. Wajahnya merah padam. “Om gila ya?!”

Arsen tertawa puas. Tawa lepas yang jarang dia tunjukkan. “Lihat?Kamu Emosi. Berarti benar. Ada sesuatu antara kamu, istri mu, dan model itu.”

Keenan terdiam. Kalah telak. Dia duduk lagi pelan. “Gue... gue cuma kaget, Om.”

Arsen kembali ke posisi awal. Datar. “Berarti beresin dulu urusan rumah tanggamu, Keen. Baru minta gue nutup kasus. aku gak mau bersihin kotoran orang yang masih seneng main lumpur.”

Keenan mengangguk. Pelan. Suaranya serak. “Siap, Om. Makasih.”

Sebelum Keenan berdiri, Arsen mengetik sesuatu di laptopnya. Tanpa menoleh, dia bicara. “Dan satu lagi. semuanya gak gratis. Anggap ini utang budi. Suatu hari pasti ku tagih.”

Keenan keluar dari ruangan itu dengan kepala menunduk. Di otaknya hanya ada satu kalimat: _Utang budi ke Arsen_. Dia tidak tahu, itu adalah bom waktu.

 

*Tiga hari kemudian. Lokasi syuting di Studio Alam,Jakarta.*

Matahari siang menyengat. Netha duduk di bangku taman, kipas kecil di tangannya berputar pelan. Make up-nya sudah luntur. Wajahnya tetap cantik, tapi ada lingkaran hitam di bawah mata. Kurang tidur.

“Tha...” Inka datang membawa dua gelas es teh. Dia duduk di sebelah Netha, langsung bersandar lemas. “Gue capek.”

“Hmm.” Netha hanya menyahut, matanya masih menatap kosong ke depan.

Inka menatap Netha dari samping. “Lo tau gak kenapa berita lo nganiaya Clara gak nongol di infotainment?”

Netha mengedikkan bahu. Cuek. “Gak tau. Gak peduli juga.”

“Astaga Netha.” Inka menepuk jidatnya sendiri, frustrasi. “Lo gak sadar kalau masalah lo gak nyampe ke polisi sama sekali? Lo pikir Keenan doang yang beresin?”

Netha memutar bola matanya, malas. “Ya siapa lagi, Ka? Palingan dia ngandelin kenalan orang dalam. Dia kan fotografer. Kenal produser sana-sini. Udah, gak usah mikir yang ribet.”

Inka menunjuk kepala Netha dengan gemas. “Lo Tuh. Cakep doang. Tapi Peka zonk.”

“Apaan sih?” Netha menepis tangan Inka, lalu tertawa kecil.

Inka mendekatkan wajahnya. Berbisik. “Gue kasih tau ya. Ini bukan cuma kerjaan Keenan doang. Ada orang yang lebih tinggi tangannya. Lebih dingin. Lebih berkuasa. Orang yang kalau dia bilang ‘diem’, satu Indonesia bakal diem.”

Netha akhirnya menoleh. Penasaran. “Siapa?”

“Lo mau tau?” Inka tersenyum misterius. Matanya melirik ke arah belakang Netha.

Netha ikut menoleh. “Siapa sih Ka? Ngomong aj—”

Kalimatnya menggantung. Mati.

Dari kejauhan, di ujung jalan setapak studio, muncul sosok pria tinggi. Jas hitam. Kacamata hitam menutupi setengah wajahnya. Langkahnya pelan, tapi tegas. Setiap orang yang berpapasan dengannya otomatis minggir. Aura-nya berbeda. Berwibawa. Mencekam.

Inka berbisik di telinga Netha. “Itu dia. Orang yang nutup kasus lo.”

Netha menyipitkan mata. “Gak kenal.”

“Nanti juga kenal.” Inka terkekeh pelan.

Pria itu semakin dekat. Dia berhenti sejenak, melepas kacamata hitamnya dengan satu tangan.

Wajahnya terbuka. Tampan. Tegas. Garis rahang seperti dipahat. Usia 40-an, tapi karismanya melebihi pria 25 tahun.

Netha seketika kaku. Jari-jarinya berhenti memutar kipas. Napasnya tertahan di tenggorokan.

“Om... Arsen?” Gumamnya, hampir tidak terdengar.

Mata Arsen bertemu dengan mata Netha. Hanya sepersekian detik. Dingin. Kosong. Tidak ada senyum. Tidak ada pengakuan. Tidak ada apa-apa.

Dia hanya melanjutkan langkahnya. Melewati mereka berdua. Tanpa berhenti. Tanpa menoleh.

Tinggal aroma parfum mahal yang tersisa di udara.

Inka langsung melongo. “Gila. Gantengnya kebangetan. Pantesan bujang lapuk. Standarnya ketinggian.”

Netha masih diam. Otaknya kosong. Tapi dadanya terasa sesak.

_Om Arsen. Paman Keenan. CEO Yudhistira Group. Kenapa dia yang turun tangan untuk kasus gue?_

Seribu pertanyaan berlari di kepalanya. Tapi satu hal yang pasti: Laki-laki itu berbahaya.

 

*Malam harinya. Rumah Netha. Pukul 21.00.*

Suara kunci diputar. Keenan pulang. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada rasa lega yang tidak bisa dia sembunyikan.

“Tha.” Dia memanggil dari ruang tamu.

Netha keluar dari kamar. Wajahnya datar. Tanpa ekspresi. “Kenapa?”

Keenan duduk di sofa, melempar jasnya sembarangan. “Masalah lo udah beres. Aman. Gak ada berita. Gak ada polisi. Gue udah minta tolong Om Arsen.”

Netha berhenti di tengah tangga. “Om Arsen?”

“Iya. Om gue. CEO Yudhistira Group.” Keenan menyeringai, bangga. “Dia yang nutup semua akses media. Hebat kan Om gue?”

Netha turun dua anak tangga. Berhenti. Jarak mereka sekitar satu meter.

“Jadi kamu yang minta dia nutupin?” Suaranya datar. Tanpa emosi.

“Ya. Karena gue suami lo.” Keenan meraih tangan Netha. “Gue gak mau lo masuk penjara, Tha.”

Netha menarik tangannya cepat. Dingin. “aku gak minta kamu nolong mas. Apalagi minta tolong ke Om kamu”

Keenan terkejut. “Tapi ini demi kebaikan lo.”

“Kebaikan?” Netha tertawa. Tapi tawanya getir. “kamu pikir aku bakal berterima kasih karena kamu malah ngasih aku utang budi ke laki-laki lain?”

“Utang budi? Apaan sih?” Keenan bingung, mengerutkan dahi.

“kamu gak tau, ya?” Netha melipat tangan di dada. “Orang kayak Om Arsen gak pernah nolong cuma-cuma. Dia pasti minta bayaran. Dan bayarannya... aku takut bukan uang, Mas.”

Keenan terdiam. Baru menyadari. Wajahnya berubah pucat.

Netha berbalik, berjalan naik ke atas. Di anak tangga terakhir, dia menoleh.

“Mas. aku gak tau Om kamu niatnya apa. Tapi satu hal yang aku tau...” Matanya tajam, menusuk. “aku gak mau berutang sama siapapun. Apalagi sama Om dari suami yang udah ngancurin hidupku! "sambung Netha lagi dengan tegas

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki Netha menghilang di lantai atas.

Keenan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. “Sial. Kenapa gue jadi ngerasa masuk perangkap sendiri?”

Di dalam kamar, Netha mengunci pintu. Dia duduk di pinggir ranjang. Mengeluarkan HP dari saku.

Jemarinya mengetik: `Arsenio Bagas Yudhistira`.

Foto Arsen muncul. Jas hitam. Tatapan dingin. Di bawahnya ada caption: `CEO Muda, Workaholic, Anti Pernikahan`.

Netha membaca pelan. Bibirnya komat-kamit. “Laki-laki ini... kenapa bantu aku?”

Dia melempar HP ke kasur. Rebahan. Menatap langit-langit kamar.

Hatinya tidak tenang. Ada firasat buruk. Firasat yang bilang, hidupnya akan semakin rumit karena laki-laki itu.

Dan firasat Netha... jarang meleset.

TBC

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!