NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Di Bawah Otoritas Sang Chef

Suara bariton itu menggema, memantul di dinding ruang teater yang kedap suara, dan seketika membekukan aliran darah di pembuluh nadi Kiandra. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis, seolah-olah ruangan ini baru saja berubah menjadi ruang hampa udara.

Enzo Romano melangkah ke tengah podium dengan keanggunan seekor predator. Seragam Chef putihnya yang kaku tampak kontras dengan kulit olive-nya yang matang. Ia tidak membawa buku teks, hanya otoritas yang begitu pekat hingga membuat atmosfer ruangan terasa berat.

"Selamat datang di Teknik Dasar Kuliner," ucapnya datar, namun setiap kata yang keluar memiliki bobot yang menghimpit.

"Aku Enzo Romano. Dan di ruangan ini, aku adalah Tuhan kalian."

Hening. Tiga detik yang mencekam menyusul pernyataan itu. Tidak ada yang berani berbisik, bahkan suara napas pun seolah disembunyikan.

Kiandra menunduk sedalam mungkin. Ia mencoba melarikan diri, bersembunyi di balik punggung Mei Ling yang duduk di sebelahnya.

"Tuhan? Yang benar saja! Tuhan tidak akan membiarkan handuknya melorot di depan mahasiswinya sendiri!" batin Kiandra berteriak histeris, meski wajahnya tetap kaku seperti patung.

"Ki, dia beneran melihat ke arah kita!" Mei Ling menyikut lengan Kiandra, berbisik dengan nada panik yang tertahan.

"Kamu utang penjelasan ke aku! Kenapa dia bisa ngedipin kamu tadi?"

"Nanti, Mei. Aku rasanya mau menghilang saja sekarang," balas Kiandra dengan suara gemetar, nyaris tidak terdengar.

Tuk... tuk... tuk...

Suara ketukan jari Enzo pada meja kayu di depan kelas terdengar ritmis, lambat, dan penuh ancaman. Kiandra bisa merasakan sepasang mata hazel itu sedang memindai barisan depan, mencari mangsa pertama untuk dikuliti.

"Mademoiselle di barisan depan dengan rambut diikat rapi," suara Enzo tajam seperti mata pisau yang baru diasah.

Kiandra membeku. Seluruh saraf di tubuhnya berteriak bahaya. Ia tahu 'Mademoiselle' itu adalah dirinya. Dengan gerakan yang terasa seperti gerak lambat, ia mendongak dan mendapati Enzo sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara penghinaan profesional dan kilatan jahil yang hanya mereka berdua yang tahu.

"Bisa kamu sebutkan lima turunan mother sauce dalam bahasa Prancis?" tanya Enzo, melipat tangan di depan dadanya yang bidang.

Kiandra berdiri perlahan. Lututnya terasa seperti jeli yang hampir meleleh. Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali semua hafalan yang ia pelajari di Jakarta.

"Béchamel, Velouté, Espagnole, Sauce Tomate, dan... dan Hollandaise, Monsieur."

Enzo tidak langsung menjawab. Ia mulai melangkah menuruni podium, berjalan mendekat ke arah meja Kiandra. Setiap langkahnya membuat jantung Kiandra berdegup kencang hingga terasa ke pangkal tenggorokan.

Enzo berhenti tepat di depan meja Kiandra. Ia mencondongkan tubuh, menatap Kiandra dari atas ke bawah dengan intensitas yang membuat kulit Kiandra meremang.

"Pelafalanmu berantakan, tapi setidaknya otakmu tidak kosong," ucap Enzo rendah. Ada jeda dua detik yang terasa seperti penghinaan halus sebelum ia melanjutkan, "Duduk."

Kiandra meremas ujung bajunya di bawah meja, bibirnya terkatup rapat menahan kekesalan yang mulai mendidih. Sombong sekali pria ini!

"Kita akan langsung ke dapur praktik," Enzo berbalik, suaranya kembali menggelegar untuk seluruh kelas. "Aku ingin melihat apakah kalian bisa memegang pisau lebih baik daripada memegang ponsel."

***

Dapur Praktik Le Cordon Bleu adalah simfoni dari denting besi, uap air yang mulai mendidih, dan aroma tajam dari bawang yang dikupas. Kiandra berdiri di stasiun kerjanya, mengenakan apron putih bersih yang masih kaku. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia menata talenan di depannya.

"Dosen ini kayaknya punya dendam sama semua orang, ya?" Jaxson Cole, mahasiswa berotot di sebelah Kiandra, berbisik sambil menyiapkan pisaunya.

Kiandra hanya mengangguk singkat. Ia tidak berani bersuara, apalagi saat melihat bayangan Enzo mulai berkeliling dapur dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi.

"Tugas pertama: Mirepoix," suara Enzo memotong kebisingan dapur.

 

"Potongan harus presisi satu sentimeter. Jika meleset satu milimeter saja, kalian buang ke tempat sampah. Aku tidak menerima sampah di dapurku."

Kiandra mengambil wortel, mencoba fokus. Ia harus membuktikan bahwa ia berada di sini karena bakat, bukan karena nasib sial yang menjebaknya satu atap dengan pria di depannya. Ia mulai memotong dengan ritme cepat. Bakat alaminya yang terasah di Rumah Makan Lestari mulai mengambil alih. Gerakannya lincah, presisi, dan penuh konsentrasi.

Tiba-tiba, udara di sekitarnya terasa memanas. Sebuah kehadiran yang dominan muncul tepat di belakang punggungnya. Hembusan napas hangat menerpa tengkuk Kiandra, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

"Posisi tanganmu salah, Mademoiselle Zanitha," bisik Enzo. Suaranya begitu rendah, hanya bisa didengar oleh Kiandra di tengah kebisingan dapur.

Kiandra terlonjak sedikit. Ujung pisaunya nyaris mengiris jarinya sendiri jika Enzo tidak segera bertindak. Sebelum Kiandra sempat protes, tangan kanan Enzo sudah meraih tangannya. Telapak tangan pria itu besar, hangat, dan kasar karena kapalan khas seorang Chef kawakan.

Napas Kiandra tercekat. Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakan denyut nadinya sendiri di ujung jari yang sedang dibungkus oleh tangan Enzo. Kontak fisik itu terasa begitu intim, begitu kontras dengan dinginnya suasana dapur.

Enzo memandu tangan Kiandra, menyesuaikan posisi jemarinya di punggung pisau. "Gunakan berat pisaunya, jangan ditekan dengan tenaga. Kamu sedang memotong sayur, bukan sedang membunuh musuh."

Aroma tubuh Enzo yang maskulin menyelimuti Kiandra, membuatnya kehilangan fokus pada wortel di depannya. Ia bisa merasakan dada bidang Enzo yang nyaris bersentuhan dengan punggungnya.

Enzo mencondongkan wajahnya, bibirnya berada tepat di samping telinga Kiandra. "Di sini, aku dosenmu. Jangan membayangkan apa yang kamu lihat kemarin di apartemen ke dalam dapurku, Piccola."

Kiandra menoleh sedikit, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Enzo. Ia bisa melihat kilatan keemasan di mata hazel pria itu.

"Aku... aku tidak membayangkan itu, Monsieur," desis Kiandra, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.

Enzo menatap bibir Kiandra sesaat—sebuah tatapan lapar yang hanya berlangsung sekejap—sebelum melepaskan tangannya dengan kasar.

"Bagus. Karena kalau kamu gagal di kelasku, Clause de Solidarité itu tidak akan bisa menyelamatkanmu."

Pria itu melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kiandra yang berdiri gemetar dengan napas memburu. Di seberang stasiun, Mei Ling memberikan tatapan penuh tanya yang seolah berteriak: APA YANG BARUSAN TERJADI?!

***

Pukul 12:30, kelas praktik berakhir. Enzo memeriksa hasil potongan Kiandra dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menatap tumpukan wortel dan bawang yang tertata rapi di atas nampan stainless steel.

"Lumayan untuk seorang amatir," komentar Enzo dingin. "Tapi bawangmu terlalu banyak mengeluarkan air. Kamu terlalu emosional saat memotong. Pisau tidak pernah bohong tentang perasaan penggunanya."

Kiandra mengepalkan tangan di samping tubuhnya. "Terima kasih atas kritiknya, Monsieur."

"Kelas selesai. Mademoiselle Zanitha, tetap di sini. Ada dokumen sewa yang perlu kamu tanda tangani ulang," ucap Enzo sambil merapikan meja instruktur.

Satu per satu mahasiswa meninggalkan dapur. Mei Ling sempat memberikan tatapan khawatir, namun Kiandra hanya mengangguk lemah, meyakinkan sahabatnya bahwa ia akan baik-baik saja.

Kini, dapur yang tadinya bising mendadak sunyi, hanya menyisakan dengung lemari es dan ketegangan yang kembali memuncak.

Enzo duduk di pinggir meja marmer, melonggarkan kancing paling atas seragam Chef-nya. Tindakan sederhana itu memperlihatkan sedikit kulit olive-nya yang menggoda, mengingatkan Kiandra pada pemandangan semalam.

"Dokumen apa lagi, Monsieur? Monsieur Lefebvre bilang semuanya sudah beres," tanya Kiandra, berdiri kaku tiga meter di depan Enzo.

Enzo mengeluarkan selembar kertas dari saku seragamnya. "Aturan tambahan. Selama tinggal bersamaku, kamu dilarang membawa laki-laki ke apartemen. Siapa pun itu."

Kiandra mengernyitkan dahi, rasa tidak percaya mulai merayap. "Apa? Itu tidak ada di kontrak asli! Kamu tidak bisa menambah aturan seenaknya!"

"Ini kontrak pribadiku," Enzo bangkit berdiri, berjalan mendekati Kiandra perlahan dengan langkah yang mengintimidasi.

"Aku tidak mau konsentrasiku terganggu oleh suara-suara berisik dari kamar sebelah. Aku butuh ketenangan untuk bekerja."

"Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu juga tidak boleh membawa wanita!" tantang Kiandra, mendongak untuk menatap mata Enzo yang jauh lebih tinggi darinya.

Enzo tersenyum miring, sebuah senyum yang terlihat sangat berbahaya. Ia terus melangkah hingga Kiandra terpaksa mundur dan punggungnya menabrak meja marmer di belakangnya. Enzo mengurung tubuh mungil itu dengan kedua lengannya yang bertumpu pada meja, memerangkap Kiandra dalam ruang pribadinya.

"Apartemen itu milikku lebih lama darimu, Piccola. Aku yang membuat aturan, kamu yang mematuhinya," bisik Enzo, wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah Kiandra.

"Ini tidak adil! Kamu egois!" Kiandra bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Enzo.

"Dunia memang tidak adil," Enzo menatap mata cokelat gelap Kiandra dengan intensitas yang menghancurkan pertahanan gadis itu.

"Sekarang, tanda tangani, atau aku akan memastikan nilai praktikmu hari ini menjadi nol. Dan percayalah, aku tidak pernah main-main dengan ancamanku."

Kiandra menatap mata hazel Enzo dengan amarah yang meluap, namun ada rasa takut yang nyata di sana. Pria ini memegang kendali penuh atas mimpinya di Paris.

Dengan tangan gemetar karena emosi, Kiandra menyambar pulpen dari saku seragam Enzo—jarinya sempat bersentuhan dengan dada pria itu—dan menandatangani kertas itu dengan kasar.

Enzo mengambil kembali kertas itu dengan senyum kemenangan yang menyebalkan. "Pintar. Sampai jumpa di rumah... teman sekamar."

Enzo melangkah keluar dapur dengan angkuh, meninggalkan Kiandra yang berdiri sendirian dengan napas memburu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!