Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7: Bayang Masa Lalu Kembali
Udara sejuk malam itu terasa begitu menyesakkan dada Arkan. Tadi sore, saat ia akhirnya memberanikan diri mengakui rasa bersalah dan berjanji akan berubah, rasanya beban berat terangkat dari pundaknya. Ia pikir, perlahan tapi pasti, ia dan Nara akan bisa menjalin hubungan yang lebih baik, setidaknya sebagai teman yang saling mengerti dalam ikatan pernikahan terpaksa ini.
Namun surat singkat itu... berita yang baru saja dibacanya di ponselnya, seolah menjadi pukulan telak yang menghancurkan semua harapan kecil yang baru saja tumbuh di hatinya.
Kirana akan pulang.
Tiga kata itu berputar terus di kepalanya, lebih keras dari apa pun. Wanita yang bertahun-tahun ia rindukan, wanita yang menjadi alasan hatinya tertutup rapat, wanita yang rela ia korbankan kebahagiaannya demi keamanan wanita itu... kini akan kembali.
Arkan duduk di kursi kerjanya, menatap kosong ke arah gelap di luar jendela kaca besar ruangannya. Tangannya gemetar pelan. Di satu sisi, ada rasa bahagia yang meluap—bahagia karena wanita yang dicintainya akhirnya kembali ke tanah air, kembali ke jangkauannya. Tapi di sisi lain, ada rasa takut yang aneh, rasa bimbang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pikirannya tak bisa lepas dari wajah Nara. Gadis yang sore tadi menatapnya dengan mata berkaca-kaca, penuh harap dan pengertian.
Apa artinya kepulangan Kirana bagi Nara? Apa artinya bagi pernikahan ini?
Arkan mengusap wajahnya kasar. Ia merasa menjadi pria paling jahat dan pengecut saat ini. Baru saja ia berjanji akan lebih baik, baru saja ia mulai membuka diri, masa lalu datang mengetuk pintu dan meminta haknya kembali.
Di lantai bawah, Nara sedang menyiapkan teh hangat seperti biasa. Senyumnya tak lepas dari bibirnya. Perkataan Arkan tadi sore masih terngiang jelas di telinganya. "Kehadiranmu itu jauh lebih penting daripada yang kau pikirkan." Kalimat itu menjadi obat paling manis yang menyembuhkan luka di hatinya. Ia merasa bahagia, sederhana saja bahagia, karena akhirnya Arkan mulai menganggapnya ada.
Nara berjalan menaiki tangga, membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat. Ia berniat mengantar ke ruang kerja Arkan, ingin memulai kebiasaan baik lagi seperti dulu. Ia berharap, malam ini mereka bisa mengobrol santai, menghapus sisa-sisa kesalahpahaman yang tersisa.
Namun, saat ia hendak mengetuk pintu ruang kerja yang sedikit terbuka itu, suara lirih Arkan terdengar keluar, membuat tangan Nara terhenti di udara.
"Kirana... kenapa harus sekarang? Kenapa baru pulang sekarang, saat aku mulai... saat aku mulai terbiasa tanpa bayangmu?" suara Arkan terdengar berat, penuh kegalauan.
Nara mengerjap bingung. Nama itu lagi. Kirana.
Ia mendekatkan telinganya pelan, rasa penasaran bercampur takut mulai merayap di dada.
"Kalau kau pulang... apa aku harus mengakhiri semuanya? Apa aku harus menyuruh Nara pergi lebih cepat dari waktu yang disepakati? Dia tidak bersalah, dia gadis baik... tapi aku rasa, hatiku ini belum berubah. Aku masih mencintaimu, Kirana. Selama ini, alasan aku bertahan dan bekerja keras... semuanya demi menunggu momen kau kembali."
Kalimat demi kalimat itu masuk ke telinga Nara, menghantam dadanya berkali-kali lebih keras dari apa pun yang pernah ia dengar. Cangkir di nampan bergetar, suara denting kecil terdengar, cukup untuk membuat Arkan di dalam ruangan tersentak dan berbalik cepat.
Pintu terbuka lebar. Di sana, Nara berdiri mematung, wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca menatap Arkan dengan tatapan tak percaya dan sakit hati yang mendalam.
"Nara..." bisik Arkan kaget, wajahnya seketika berubah pucat. Ia tidak tahu Nara ada di sana, tidak tahu Nara mendengar semuanya.
Nara berusaha tersenyum, meski senyum itu terlihat lebih menyedihkan daripada tangisan. Ia menurunkan nampan dengan tangan gemetar di meja di dekat pintu. Air matanya jatuh satu butir, jatuh membasahi punggung tangannya.
"Maaf... mengganggu," suaranya terdengar parau dan bergetar hebat. "Saya cuma mau antar teh. Tapi ternyata... Mas Arkan sedang sibuk memikirkan hal yang jauh lebih penting."
"Nara, tunggu... bukan begitu maksudku," Arkan berjalan cepat mendekat, ingin menjelaskan, ingin menahan gadis itu yang mulai mundur perlahan.
Nara menggeleng kuat, mengusap kasar air matanya yang jatuh makin deras. "Tidak perlu dijelaskan, Mas. Saya dengar semuanya jelas sekali. Kirana akan pulang, kan? Wanita yang Mas cintai, wanita yang jadi pemilik hati Mas selama ini... dia mau kembali."
Ia tersenyum getir, menatap Arkan dengan pandangan yang penuh kepahitan namun juga pasrah.
"Mas tidak perlu bingung, Mas. Tidak perlu merasa bersalah atau bimbang. Apa yang Mas khawatirkan itu tidak akan terjadi. Saya tidak akan jadi penghalang. Saya tidak akan bikin Mas susah."
"Nara, dengarkan aku... perasaanku itu rumit, aku cuma kaget dia pulang, bukan berarti aku..." Arkan berusaha memegang bahu Nara, tapi gadis itu menepis pelan namun tegas.
"Mas janji sama saya sore tadi, kan? Bilang akan lebih jujur. Kalau begitu, jujurlah sama diri sendiri, Mas," potong Nara lembut namun tajam. "Mas masih mencintai dia, itu fakta. Mas menunggu dia selama ini, itu kenyataan. Lalu apa posisi saya? Tetap sama seperti awal, kan? Istri kontrak, pengisi kekosongan, orang asing yang kebetulan tidur di atap yang sama."
Nara menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, berusaha agar suaranya tidak terdengar terlalu hancur.
"Kalau dia pulang, kalau Mas mau dia jadi nyata, kalau Mas mau hidup sama dia... saya bisa pergi, Mas. Saya bisa pulang ke rumah Ayah lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Kontrak kita kan bisa diubah. Saya tidak akan menuntut apa pun, saya janji. Biar Mas bahagia sama orang yang Mas cintai."
"NARA! BERHENTI!" Arkan berteriak pelan, suaranya terdengar frustrasi dan marah—bukan marah pada Nara, tapi marah pada dirinya sendiri. "Kenapa kau selalu begitu? Kenapa kau selalu pasrah, selalu siap menyerahkan segalanya, selalu siap pergi begitu saja seolah keberadaanmu sama sekali tidak berharga di sini? Apa bagimu pernikahan ini cuma kertas? Apa bagiku cuma orang asing yang kau tunggu waktunya untuk ditinggalkan?"
Nara menatap Arkan lekat-lekat, air matanya makin deras mengalir. "Karena saya sadar diri, Mas! Karena sejak hari pertama Mas sendiri yang bilang, hati Mas bukan milik saya! Mas sendiri yang bilang saya cuma pengganti! Lalu kenapa sekarang Mas marah kalau saya bertindak sesuai apa yang Mas ajarkan ke saya selama ini?!"
Kalimat itu membungkam Arkan seketika. Lidahnya terasa kelu. Nara benar. Semua ini akibat perkataannya sendiri, akibat sikap dinginnya selama ini. Ia sendirilah yang menanamkan rasa tidak berharga itu di hati Nara, dan sekarang ia marah saat Nara benar-benar percaya hal itu.
"Maaf..." suara Arkan lirih, lututnya terasa lemas. Ia mundur selangkah, menatap Nara dengan tatapan hancur. "Aku... aku bingung, Nara. Aku benar-benar bingung."
"Pikirkan baik-baik saja, Mas," jawab Nara pelan, membalikkan badan hendak pergi. "Saya tidak mau jadi alasan Mas menunda kebahagiaan Mas. Kalau Kirana pulang, kalau dia butuh Mas, kalau Mas butuh dia... katakan saja. Saya akan minggir. Secepatnya."
Nara berlari menuruni tangga, masuk ke kamarnya dan mengunci pintu sekuat tenaganya. Ia bersandar di balik pintu, meluruh ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Hati yang baru saja diobati dengan kata-kata manis sore tadi, kini kembali terluka, lebih dalam dan lebih parah dari sebelumnya.
Di atas sana, Arkan masih berdiri diam di depan pintu ruang kerjanya. Keheningan kembali menyelimuti rumah itu, tapi kali ini heningnya terasa mencekam. Di satu sisi ada kabar bahagia dari masa lalu, di sisi lain ada rasa sakit yang ditimbulkan pada kenyataan yang sedang ada di depan mata.
Kepulangan Kirana bukan hanya sekadar kedatangan seseorang... tapi adalah awal dari perang besar di dalam hati Arkan sendiri. Perang antara kenangan dan kenyataan, antara janji lama dan rasa baru yang mulai tumbuh.
Dan di tengah semua itu, Nara kembali menempatkan dirinya di posisi paling aman sekaligus paling menyakitkan: bersiap untuk kalah dan pergi, demi kebahagiaan pria yang diam-diam mulai dicintainya, meski ia tahu hatinya akan hancur berkeping-keping nanti.
Bersambung...