NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Hadiah Ulang Tahun Pernikahan

Aroma gurih semur daging sapi menyeruak, memenuhi setiap sudut ruang makan yang tertata begitu rapi. Di atas meja, sebatang lilin aromaterapi beraroma lavender berpijar tenang, menebarkan cahaya kekuningan yang hangat. Andini melirik jam dinding digital di ruang tengah. Jarumnya menunjukkan pukul delapan malam.

Ia tersenyum tipis sembari merapikan letak sendok dan garpu. Hari ini adalah momen yang sangat istimewa—ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Andini untuk menanggalkan seluruh ego serta kariernya sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan swasta demi menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Baginya, berbakti kepada Reno, suaminya, adalah prioritas utama yang tak bisa ditawar.

"Mas Reno pasti suka. Ini masakan kesukaannya," gumam Andini pelan. Ia menatap gaun kasual berwarna krem yang dikenakannya, lalu menyentuh riasan wajahnya yang tipis namun tetap terlihat segar. Ia ingin tampak sempurna malam ini.

Tepat pukul setengah sembilan, deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah. Senyum Andini langsung merekah. Dengan langkah ringan, ia berjalan menuju pintu depan untuk menyambut sang suami. Namun, begitu pintu terbuka, senyuman itu perlahan memudar.

Reno melangkah masuk dengan gontai. Jasnya tersampir asal di lengan, simpul dasinya sudah longgar, dan raut wajahnya tampak begitu kusut. Tidak ada senyuman, tidak ada ucapan selamat, bahkan tatapan matanya sengaja menghindari Andini.

"Mas, sudah pulang? Bagaimana pekerjaan di kantor?" tanya Andini lembut, mencoba mencairkan suasana sembari mengulurkan tangan untuk menyalami suaminya.

Reno hanya menyerahkan jasnya tanpa membalas jabatan tangan Andini. "Capek, Ndin. Jangan banyak tanya dulu," jawabnya ketus, melengos melewati Andini begitu saja menuju ruang makan.

Andini menarik napas panjang, mencoba menelan kekecewaan yang tiba-tiba terasa mengganjal di tenggorokan. Ia mengikuti Reno dari belakang. "Mas belum makan malam, kan? Aku sudah masak semur daging kesukaanmu. Hari ini kan—"

"Aku sudah makan di luar tadi bersama klien," potong Reno dingin saat melihat meja makan yang sudah dihias rapi. Ia menghentikan langkahnya, lalu menatap Andini dengan pandangan jengah. "Lagi pula, kamu tidak perlu repot-repot membuat acara seperti ini. Hanya buang-buang uang saja. Bisnisku sedang tidak stabil, Ndin. Kamu harusnya prihatin, bukannya malah foya-foya membeli lilin dan hiasan tidak penting begini."

Kata-kata itu bagai tusukan jarum di hati Andini. Foya-foya? Ia memasak semua ini dengan sisa uang belanja yang ia hemat sedemikian rupa selama sebulan penuh.

"Aku tidak foya-foya, Mas. Ini hari ulang tahun pernikahan kita yang ketiga. Apa kamu lupa?" Suara Andini mulai bergetar, menahan air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya.

Reno memijat pelipisnya, tampak sangat tidak peduli. "Ulang tahun pernikahan apa yang mau dirayakan, Ndin? Tiga tahun kita menikah, rumah ini masih saja sepi. Ibu setiap hari meneleponku, menanyakan kapan dia bisa punya cucu. Kamu tahu sendiri kan beban yang kupikul sebagai anak tunggal?"

Lagi-lagi masalah anak. Andini mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Setiap kali ada masalah, Reno dan ibu mertuanya selalu menyudutkan Andini, mengecapnya sebagai wanita mandiri yang mandul hanya karena mereka belum dikaruniai keturunan, tanpa pernah mau mengajak Reno untuk ikut memeriksakan diri ke dokter secara medis.

"Mas, soal anak itu urusan Yang Maha Kuasa. Kita sudah berusaha—"

"Sudahlah! Aku mau mandi dan istirahat. Tolong bereskan meja ini, bikin mataku sakit saja," potong Reno lagi. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mandi di lantai bawah, meninggalkan Andini yang terpaku membeku di tengah ruangan.

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh juga. Andini menatap meja makan yang kini terasa begitu dingin dan sunyi. Dengan tangan gemetar, ia mulai membereskan piring-piring yang sama sekali belum tersentuh.

Saat ia hendak mengambil jas Reno yang diletakkan di atas sofa ruang tamu, ponsel Reno yang berada di dalam saku jas tersebut bergetar berulang kali. Layarnya menyala, menampilkan beberapa notifikasi pesan singkat yang masuk berturut-turut.

Andini biasanya tidak pernah mau tahu atau lancang membuka ponsel suaminya. Namun, sebuah nama kontak yang muncul di layar kunci membuat jantungnya berdegup kencang: Siska.

Siska adalah mantan kekasih Reno di masa kuliah, wanita yang dulu sempat membuat hubungan mereka goyah sebelum akhirnya Reno memilih menikahi Andini. Dengan perasaan waswas dan tangan yang gemetar hebat, Andini menyentuh layar. Beruntung, Reno tidak mengubah kata sandi lamanya.

Begitu ruang obrolan terbuka, dunia Andini rasanya runtuh seketika.

Siska: Mas, makasih ya buat makan malamnya tadi. Maaf tiba-tiba mual di restoran, kayaknya bawaan bayi kita deh. 😂

Siska: Kamu sudah sampai rumah? Jangan lupa besok temani aku cek kandungan ke dokter ya. Anak kamu sudah kangen katanya. ❤️

Siska: Ibu kamu tadi telepon aku, dia senang banget pas tahu aku hamil. Katanya dia tidak sabar mau punya menantu baru yang bisa kasih dia cucu, tidak seperti istri kamu yang mandul itu.

Andini mendadak merasa pasokan oksigen di sekitarnya menghilang. Dadanya sesak luar biasa, kepalanya berputar, dan kakinya terasa lemas hingga ia terduduk di lantai yang dingin. Di dalam ponsel itu, terpampang jelas foto hasil ultrasonografi (USG) kandungan yang dikirimkan oleh Siska, lengkap dengan balasan-balasan mesra dari Reno yang menyebut Siska dengan panggilan "Sayang".

Di saat ia mengorbankan seluruh hidup, karier, dan harga dirinya untuk bertahan di rumah ini demi dianggap sebagai istri yang berbakti, suaminya justru sedang merayakan kehidupan baru dengan wanita lain. Pengkhianatan ini tersusun begitu rapi, begitu kejam, dan dilakukan bersama ibu mertua yang selama ini selalu ia hormati.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengejutkan Andini. Ia mendongak, menatap Reno yang berjalan keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya.

Reno menyadari ponselnya ada di tangan Andini. Wajah pria itu langsung menegang, namun sedetik kemudian berubah menjadi dingin dan sinis. Ia tahu rahasianya telah terbongkar, dan ia sama sekali tidak berniat untuk bersembunyi lagi.

"Jadi, kamu sudah tahu?" tanya Reno tanpa nada bersalah sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!