NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Rapat yang Berantakan*

Senin pagi, meja panjang di ruang belakang cabang Sagan penuh.

Tim Kaliurang, tim Seturan, tim Sagan, semua kumpul.

Ada 14 orang, plus Senja yang dibawa Alya karena nggak ada yang jaga.

Rapat dimulai jam 9.

Rencananya cuma 1 jam: bahas jadwal baru, pembagian shift, sama evaluasi cabang Kaliurang.

Nyatanya, 10 menit pertama udah berantakan.

“Kak, shift malam di Kaliurang kekurangan barista!”

“Masalahnya bukan kekurangan, tapi Mbak Rani minta pindah ke Sagan!”

“Terus siapa yang gantiin? Aku nggak bisa, aku kuliah pagi!”

Senja tiba-tiba nangis kenceng karena kepeleset dari pangkuan Alya.

“Senja diem dulu sayang…”

Rapat makin berantakan.

Revan yang duduk di ujung meja cuma geleng-geleng.

Dia nggak ikut ngomong, biar Alya yang handle.

Tapi matanya nggak lepas dari Alya. Lihat istrinya lagi berusaha ngatur 14 orang sambil gendong anak 1 tahun itu bikin dia bangga… dan ngerasa nggak enak.

Alya akhirnya berdiri, tepuk meja pelan.

“Oke, stop. Tenang dulu semua.”

Ruangan langsung senyap.

Senja juga diem, kayak ngerti Mamanya lagi serius.

“Kita nggak bakal selesai kalau ngomong bareng-bareng,” kata Alya.

“Jadi gini. Satu-satu. Yang ada masalah angkat tangan.”

Perlahan, tangan naik.

Masalahnya macem-macem: shift bentrok, gaji telat 2 hari, AC Kaliurang bocor, stok biji kopi salah kirim.

Alya dengerin semua. Catat. Nggak marah. Nggak nyalahin.

Pas giliran Mbak Rani ngomong, suaranya pelan.

“Kak Alya… aku mau resign. Capek bolak-balik Kaliurang-Sagan. Anakku sakit-sakitan kalau aku nggak di rumah.”

Ruangan hening.

Alya ngangguk.

“Makasih udah jujur, Mbak. Anak dulu. Nanti HR bantu prosesnya ya.”

Revan ngeliat itu, terus bisik ke Mas Bayu di sebelahnya,

“Dia beda sekarang.”

Mas Bayu senyum.

“Dulu kalau ada yang mau resign, dia nangis dulu semalaman. Sekarang dia terima.”

Rapat selesai jam 11.

Hasilnya: jadwal baru, 2 barista baru direkrut, AC diperbaiki minggu ini, dan Mbak Rani dikasih opsi kerja part-time dari rumah buat urus admin.

Pas semua bubar, Alya langsung duduk lemes di kursi.

Senja udah tidur di gendongan.

Revan datang, ambil Senja pelan-pelan, terus duduk di sebelah Alya.

“Capek?” tanya Revan.

Alya angguk.

“Banget. Rasanya kayak ngurus 14 anak sekaligus.”

Revan ketawa. “Padahal satu aja udah bikin kita begadang.”

Alya senyum kecil.

“Van… makasih ya udah nggak ikut campur tadi. Biar aku yang pegang.”

Revan ngelus rambut Senja.

“Karena gue percaya kamu bisa. Dan gue nggak mau bikin kamu ngerasa nggak dipercaya.”

Alya ngeliat suaminya lama.

“Dulu kamu pernah bilang, kamu nggak mau jadi beban.”

“Iya.”

“Sekarang kamu udah jadi tempat gue pulang. Itu lebih dari cukup.”

Revan diem. Terus kecup kening Alya singkat.

“Kalau gitu, hadiahnya mana?”

Alya ketawa. “Hadiah apa?”

“Senja udah tidur. Kita punya 2 jam kosong. Mau nggak… kita kabur bentar ke Kaliurang? Nggak kerja. Bener-bener libur.”

Alya mikir 3 detik.

“Gas.”

---

Mereka ninggalin Senja sama Mama Revan yang kebetulan lagi main ke kafe.

Nggak bawa laptop. Nggak bawa HP kerja.

Cuma bawa jaket, kopi termos, dan satu kotak roti bakar.

Di Kaliurang, mereka nggak ke kafe.

Mereka parkir di pinggir jalan, duduk di rerumputan, lihat Merapi yang ketutup kabut tipis.

Dingin. Sepi. Enak.

Alya buka kotak roti bakar.

“Roti bakar coklat keju. Favoritmu.”

Revan ambil satu, gigit.

“Favorit gue itu kamu.”

Alya mukul pelan lengannya.

“Udah tua masih gombal.”

“Udah nikah 2 tahun masih malu digombalin?”

Mereka ketawa bareng.

Terus diem lagi, nikmatin suasana.

Tiba-tiba Alya nanya,

“Van… kalau dulu aku milih kabur, kamu bakal nyari aku nggak?”

Revan mikir.

“Mungkin nggak. Karena kalau kamu mau kabur, berarti kamu butuh ruang. Gue nggak mau maksa.”

“Terus?”

“Tapi gue bakal nunggu. Di meja 7. Sampai kamu siap pulang.”

Alya diem. Matanya basah.

“Nggak adil sih. Kenapa kamu selalu punya jawaban yang bikin gue nangis.”

Revan ketawa, peluk bahunya.

“Karena gue udah baca novel kamu 3 kali. Jadi gue tau cara ngomong ke kamu.”

Alya sandarin kepala ke bahu Revan.

“Senja yang Tinggal… kayaknya judulnya cocok buat kita.”

Revan ngangguk.

“Karena kita milih tinggal. Di tengah semua yang bikin pengen kabur.”

Angin Kaliurang dingin.

Tapi di antara mereka, hangat.

---

Balik ke Sagan jam 4 sore, mereka dapet kabar: cabang Kaliurang malah rame banget hari itu.

Tim yang baru dapet jadwal jelas kerja lebih semangat.

Penjualan naik 15% dibanding Senin minggu lalu.

“Lihat kan,” kata Revan sambil parkir motor.

“Kadang istirahat itu juga strategi.”

Alya senyum.

“Strategi suami romantis.”

Revan ketawa.

“Strategi biar kamu nggak kabur lagi.”

Malam itu, Alya buka file novel lagi.

Nulis satu paragraf:

_“Rapat yang berantakan itu ngajarin gue satu hal: orang yang jujur soal capeknya, biasanya yang paling kuat buat bertahan.”_

Revan yang lagi nyuapin Senja susu ngintip.

“Nulis lagi? Tentang rapat berantakan?”

Alya angguk.

“Iya. Biar orang tau, jadi dewasa itu nggak selalu keren. Kadang berantakan, tapi lucu.”

Revan senyum.

“Selama ada gue di sebelah kamu pas berantakan itu, gue nggak masalah.”

*[Bersambung: ]*

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!