Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: TERKUNCI DI KAMAR MANDI
Sedan hitam mewah milik Bima perlahan melewati pagar besi tinggi kediaman keluarga Bimantara, membelah halaman rumput yang tertata rapi sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras megah bergaya kolonial modern. Jantung Anaya yang sejak di perjalanan sudah berdegup tidak karuan, kini rasanya mau melompat keluar begitu melihat pintu utama rumah itu terbuka lebar.
"Wajahmu kenapa tegang begitu, Nay?. Kamu kan sudah sering ke sini sebelumnya?," tanya Bima santai sambil mematikan mesin mobil. Pria itu menoleh, menatap Anaya yang sibuk meremas-remas tas tangannya di kursi penumpang.
"Bapak bisa tenang karena ini rumah Bapak! Saya yang deg-degan, takut tiba-tiba Bu Ambar menodong tanggal pernikahan beneran!" ketus Anaya sambil melotot kecil.
Bima hanya terkekeh rendah—suara tawa menyebalkan yang belakangan ini sialnya terdengar makin seksi di telinga Anaya. Begitu mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah, aroma harum masakan rumah khas Indonesia langsung menyambut indra penciuman.
Ayah Bima, Pak Hartawan, yang sedang membaca koran bisnis di ruang tengah langsung mendongak. "Eh, Anaya sudah datang. Sini, langsung gabung ke ruang tengah saja," sapa pria paruh baya yang berwibawa namun selalu ramah itu.
Bima langsung menghampiri ayahnya, meninggalkan Anaya yang berdiri di dekat koridor masuk. Tak berselang lama, Bu Ambar muncul dari arah dapur dengan celemek rajut yang masih terpasang di badannya. Wajah wanita paruh baya itu langsung berbinar cerah begitu menangkap sosok sekretaris kesayangan anaknya.
"Ya ampun, Sayang! Akhirnya datang juga!" seru Bu Ambar riang, langsung menghambur memeluk Anaya dengan erat seolah-olah mereka sudah tidak bertemu selama tiga abad. "Kamu kurusan ya? Pasti gara-gara si Bima hobi ngasih kerjaan numpuk, kan? Tenang, malam ini Mama sudah masak banyak makanan enak buat kamu."
Anaya tersenyum manis, merasa hangat dengan sambutan tulus tersebut. "Nggak kok, Bu. Malah saya merasa agak banyakan makan belakangan ini. Ibu apa kabar?"
"Kabar baik dong! Ah, sup itu... dimakan gak sama Bima? Biar staminanya—"
"A-anu, Bu..." Anaya buru-buru memotong sebelum pembahasan sup kerang itu merembet ke draf vitalitas pria dewasa. Pipinya mulai terasa agak hangat. "Maaf, sebelum makan malam dimulai, saya boleh izin ke kamar mandi sebentar? Mau ke toilet sekalian cuci tangan, Bu."
"Oh, boleh banget dong! Kamu kayak sama siapa aja pakai izin segala," sahut Bu Ambar sambil menepuk lengan Anaya dengan lembut.
Karena sudah cukup hapal dengan denah rumah megah ini akibat beberapa kali mengantarkan dokumen dan beberapakali mengurus urusan pribadi sang bos ke sini, Anaya memilih untuk bersikap sopan. Dia tidak menggunakan kamar mandi keluarga yang berada di lantai atas, melainkan memilih melangkah menuju kamar mandi bawah yang posisinya agak di ujung koridor dekat halaman samping, yang memang biasanya diperuntukkan bagi tamu.
Melihat punggung Anaya yang berjalan menjauh menuju koridor bawah, sepasang mata Bu Ambar mendadak berbinar licik. Otak cerdas nan usil milik wanita paruh baya itu langsung berputar cepat, melahirkan sebuah ide cemerlang demi mempercepat usaha penyatuan anak laki-laki narsisnya dengan sang sekretaris.
Bu Ambar buru-buru berjalan setengah berlari menuju ruang tengah, tempat Bima dan ayahnya sedang asyik mendiskusikan masalah perkembangan saham properti terbaru.
"Bima! Sini sebentar!" panggil Bu Ambar dengan nada mendesak yang dibuat-buat.
Bima menoleh dengan dahi berkerut. "Kenapa, Ma? Saya lagi diskusi sama Papa."
"Halah, soal bisnis bisa nanti-nanti! Ini darurat," cetus Bu Ambar sambil menarik lengan kemeja anaknya. Begitu menjauh dari jangkauan dengar suaminya, Bu Ambar berbisik, "Kamu tolong ke kamar mandi bawah sekarang. Ambilin tisu gulung baru di lemari penyimpanan koridor bawah, terus anterin ke dalam. Tisu di kamar mandi atas habis, Mama kebelet tapi mager turun lagi nanti."
Bima mengernyitkan dahinya heran, menatap ibunya dengan tatapan penuh selidik. "Tumben Mama nyuruh saya urusan domestik begini? Biasanya kan ada Bik Sumi?"
"Bik Sumi lagi sibuk mindahin rendang ke piring saji, Bima! Sudah, jangan banyak tanya, buruan sana! Anak cowok kok malas banget dimintain tolong ibunya," omel Bu Ambar sambil mendorong-dorong punggung lebar Bima.
Meskipun merasa ada yang aneh dengan gelagat ibunya, Bima tidak menaruh curiga yang mendalam. Dia menghela napas pasrah, melangkah menuju lemari koridor, menyambar dua gulung tisu baru, lalu berjalan santai menuju pintu kamar mandi tamu di ujung lorong bawah.
Kamar mandi tamu di kediaman Bimantara ini memang tidak main-main ukurannya. Luasnya hampir menyamai ukuran satu kamar kos eksklusif, didesain mewah mirip fasilitas hotel bintang lima atau mal papan atas. Begitu membuka pintu utama kayu yang tebal, siapa pun akan disambut oleh area wastafel marmer besar dengan cermin raksasa. Di bagian dalam, ruangan itu terbagi lagi menjadi tiga kubikel terpisah: kubikel khusus toilet, area shower, dan area berendam. Karena konsepnya yang komunal untuk tamu, pintu kayu utama masuk ke ruangan besar ini memang biasanya dibiarkan tidak dikunci dari dalam jika ada orang di dalam kubikel.
Saat Bima melangkah masuk ke area wastafel, dia samar-samar mendengar suara gemercik air hangat yang mengalir dari salah satu kubikel di ujung. Di saat yang bersamaan, uap air hangat yang tipis mulai memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang agak kabur dan lembap.
Bima meletakkan tisu di atas konter marmer. "Ma, ini tisunya saya taruh di atas wastafel ya—"
CELEK.
KLIK!
Belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, suara anak kunci yang diputar dari arah luar pintu utama terdengar begitu nyaring, disusul oleh bunyi gembok rantai tambahan yang dipasang di bagian luar atas pintu.
Bima tersentak. Pria itu langsung berbalik, menyambar gagang pintu kayu besar itu dan mencoba memutarnya dengan kuat. Pintu itu sama sekali tidak bergerak, terkunci rapat dan kokoh dari luar.
"Ma?! Mama ngapain?! Kenapa pintunya dikunci dari luar?!" seru Bima sambil mengetuk pintu kayu itu beberapa kali dengan ekspresi wajah yang mulai panik sekaligus kesal.
Dari balik pintu, terdengar suara tawa renyah Bu Ambar yang terdengar sangat puas. "Mama sengaja kunci, Bima! Sup kerang tadi pagi harus segera ada hasilnya! Kalian berdua jangan harap bisa keluar dari situ sebelum ada kesepakatan tertulis soal tanggal pernikahan tahun depan! Selamat menikmati waktu berdua anak-anakku sayang!"
"Ma! Buka Ma! Ini gak lucu ya!" bentak Bima frustrasi.
Di saat Bima sedang sibuk berdebat dengan pintu kayu yang kokoh, pintu kubikel di ujung perlahan terbuka. Anaya melangkah keluar sambil memegang tisu kecil untuk mengeringkan wajahnya. Wanita itu membeku di tempat begitu melihat sosok Bima yang sedang berdiri panik di depan pintu utama kamar mandi.
"P-Pak Bima?! Ngapain Bapak masuk ke sini?!" pekik Anaya spontan, matanya membelalak sempurna karena terkejut, reflek menyilangkan kedua tangannya di depan dada karena merasa areanya diinvasi.
Bima berbalik, napasnya memburu kasar karena kesal dengan kelakuan ajaib ibunya. "Ini kamar mandi tamu, Anaya, sifatnya netral! Dan masalahnya sekarang bukan saya ngapain di sini, tapi kita berdua... baru saja dikunci dari luar sama Mama saya."
"Hah?! Dikunci?!" Anaya langsung berlari kecil menghampiri pintu, menggeser tubuh besar Bima, dan mencoba memutar gagang pintu itu sendiri. Nihil. Pintu itu bener-bener tidak bergeming sedikit pun. "Astaga... Bu Ambar beneran mengurung kita di sini?! Ini gila! Pak Bima, telepon Papa Bapak sekarang! Minta tolong dibukain!"
Bima meraba saku celana bahan abu-abunya, lalu mendesah pasrah dengan wajah yang mendadak berubah masam. "Ponsel saya ketinggalan di meja ruang tengah, Anaya. Ponsel kamu mana?"
Anaya meraba saku blusnya, lalu menepuk jidatnya sendiri dengan ekspresi frustrasi yang amat sangat. "Tinggal di dalam tas... dan tasnya saya taruh di sofa ruang tamu tadi."
Keheningan seketika melanda ruangan luas yang mulai dipenuhi oleh uap hangat dari sisa air wastafel tadi. Mereka berdua terjebak di dalam ruangan yang tertutup tanpa alat komunikasi apa pun.
Anaya bersandar di daun pintu, menatap Bima dengan pandangan ngeri. Suasana temaram dan kelembapan udara yang hangat mendadak membuat ingatan Anaya terlempar kembali pada kejadian di bawah meja marmer hari Sabtu malam kemarin. Detak jantungnya yang tadi sudah tenang, kini mendadak kembali berdegup kencang dengan ritme yang berantakan, membuat wajahnya kembali memerah padam dalam sekejap.
Bima yang menyadari perubahan ekspresi sekretarisnya perlahan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka di tengah ruangan yang dipenuhi uap hangat tersebut. "Kenapa mukamu merah begitu, Anaya? Kamu... mendadak kepikiran soal pelukan di bawah meja kemarin, hmm?" sindir Bima dengan senyuman licik yang kembali terukir di wajah tampannya.
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...