Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DATANG LAGI
Sepanjang jalan, perasaan Naya benar-benar tidak tenang, bukan hanya karena memikirkan kandungan nya, tetapi ada hal lain yang mulai mengusik ketenangannya sejak dia keluar dari apotek tadi.
Naya melirik kaca spion tengahnya untuk yang kesekian kali, di belakangnya, berjarak sekitar tiga mobil, ada sebuah mobil hitam, mobil itu seolah terus mengikuti ke mana pun mobil Naya berbelok.
"Perasaan aku aja atau emang diikuti sih?" gumam Naya sendirian di dalam mobil, alisnya bertaut rapat.
Sebagai seorang pebisnis yang sering menghadapi persaingan bisnis yang kejam, Naya memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi, dia sengaja mengambil jalur memutar untuk memastikan kecurigaannya.
Benar saja, begitu mobilnya memutar, hitam itu ikut memutar, mempertahankan jarak yang sama persis agar tidak terlalu mencolok.
"Sialan, siapa lagi sekarang? Apa ini orang-orangnya Catalina?" umpat Naya geram.
Naya mencengkeram setir lebih erat, tangannya sedikit berkeringat, dalam kondisi normal, dia mungkin akan langsung menghadapi orang-orang itu dengan kemampuan bela dirinya. Namun sekarang, kesadarannya tentang adanya janin di dalam perutnya membuat Naya menjadi lebih hati-hati terhadap dirinya sendiri, karena ada nyawa kecil yang sedang tumbuh di perut nya.
Naya buru-buru meraih ponselnya yang terhubung dengan bluetooth mobil, lalu menekan tombol panggilan cepat ke nomor Fanya.
Tut... Tut...
"Halo, Nay? Kamu udah sampai?" tanya Fanya di seberang sana, terdengar suara sayup-sayup perawat yang sedang memanggil nama pasien di latar belakang.
"Fan, aku kayaknya diikuti," ucap Naya langsung tanpa basa-basi.
"Hah? Diikuti siapa?" suara Fanya mendadak berubah panik, mengabaikan dokumen pasien di depannya.
"Aku nggak tahu, ada mobil hitam di belakang aku dari sejak keluar apotek tadi, aku udah coba mutar jalan, tapi mereka tetep ngikutin," jelas Naya sambil terus memantau pergerakan mobil di belakangnya melalui spion.
"Nay, kamu jangan pulang ke mansion mu dulu kalau gitu! Langsung masuk ke basemen apartemen aku aja, di sana penjagaannya ketat, pakai kartu akses khusus. Mereka nggak akan bisa sembarangan masuk," ucap Fanya terdengar menghela napas panik di seberang sana.
"Iya, ini aku udah deket area apartemen kamu. Aku bakal langsung masuk lewat pintu basemen khusus penghuni," ucap Naya, tidak jadi pulang ke mansion nya.
"Oke, oke. Kamu hati-hati, Nay, begitu sampai basemen, langsung naik ke unit aku, jangan tunggu di luar. Aku usahain cepet pulang sekarang," ucap Fanya sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon.
Naya menginjak pedal gas sedikit lebih dalam begitu melihat gerbang apartemen mewah milik Fanya sudah berada di depan mata, dia langsung mengarahkan mobilnya menuju jalur basemen khusus penghuni, menempelkan kartu akses cadangan yang pernah diberikan Fanya.
Begitu mobil Naya melesat turun ke dalam basemen, mobil hitam yang mengikutinya terpaksa melambat dan berhenti di dekat gerbang luar karena tidak memiliki kartu akses.
Di dalam mobil hitam itu, dua orang pria dengan pakaian kasual namun berwajah dingin tampak memperhatikan mobil Naya yang menghilang di kegelapan basemen.
"Bau darah suci itu... ada di dalam rahim wanita itu," bisik pria di kursi penumpang dengan mata yang sempat berkilat merah.
"Kita tidak bisa masuk ke dalam, areanya terlalu terbuka dan banyak manusia, kita tunggu sampai malam," jawab rekannya yang berada di kursi kemudi.
Namun, belum sempat mereka mematikan mesin mobil, dua orang pria berjas hitam, pengawal bayangan utusan Alexander, tiba-tiba muncul entah dari mana dan mengetuk kaca jendela mobil hitam tersebut dengan keras.
Tok
Tok
Tok
Kedua vampir liar di dalam mobil langsung tersentak kaget, ketika mereka menoleh, mereka melihat tatapan dingin dan mematikan dari pengawal sang Raja Vampir.
"Turun dari mobil, atau kami hancurkan kalian di tempat ini sekarang juga," ucap salah satu pengawal bayangan dengan suara rendah yang penuh dengan tekanan energi magis yang kuat.
Sementara itu, Naya menghela napas lega begitu pintu lift unit apartemen Fanya terbuka, dia melangkah masuk ke dalam unit yang terasa sunyi namun menenangkan itu.
"Akhirnya sampai juga," ucap Naya, menghela nafas nya lega.
Tubuhnya rasanya lemas sekali, efek dari ketegangan emosi yang terkuras habis sejak pagi tadi.
Setelah membersihkan diri seadanya dan mengganti pakaiannya dengan kaos oversize milik Fanya.
Naya merebahkan diri di atas ranjang, kamar tamu ini bernuansa abu-abu tenang, membuat matanya yang lelah perlahan-lahan mulai terasa berat.
"Capek banget... Semoga setelah tidur, semuanya bisa lebih baik dan masuk akal," gumam Naya pelan sebelum akhirnya benar-benar terlelap ke dalam mimpi.
Baru saja Naya terlelap, suasana kamar yang tadinya dingin karena pendingin ruangan, perlahan-lahan terasa berubah.
Udara di sekitar ranjang mendadak menjadi hangat dan dipenuhi oleh aroma kuat yang sangat maskulin yang menenangkan.
Pintu balkon kamar yang terkunci rapat dari dalam, tiba-tiba terbuka tanpa suara sedikit pun.
Gorden jendela tersibak pelan oleh embusan angin malam, menyambut langkah kaki seseorang yang bergerak sangat anggun mendekati ranjang tempat Naya tertidur.
Alexander Giorge datang lagi.
Sang Raja Vampir berdiri di sisi ranjang, menatap lekat-lekat wajah Naya yang sedang terpejam, manik mata hitamnya melembut, tidak ada lagi tatapan mengintimidasi yang biasa ia tunjukkan di depan bawahannya. Dengan perlahan, Alex mendudukkan dirinya di tepi kasur, membuat permukaan kasur sedikit amblas.
Naya bergerak gelisah dalam tidurnya, meraba sisi kasur yang mendadak terasa hangat.
"Alex... ander...?" racau Naya pelan suara serak, dengan mata masih terpejam.
Alexander tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang sekali diperlihatkan kepada siapa pun, dia mengulurkan tangan besarnya, dengan sangat hati-hati membelai rambut hitam Naya yang sedikit berantakan di atas bantal.
"Iya, ini aku, Sayang," bisik Alexander dengan suara beratnya yang terdengar begitu lembut, bergetar rendah menenangkan hati Naya yang sedang gelisah.
Naya melenguh pelan, kenyamanan yang luar biasa mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya, menghapus rasa pegal dan pening yang dia rasakan sejak siang.
Secara spontan, kepalanya bergerak mendekati telapak tangan Alexander, mencari kehangatan dari sentuhan pria itu.
"Kenapa kamu... dateng lagi? Aku capek..." gumam Naya dalam tidurnya, bibirnya mengerucut kecil tanpa sadar.
Melihat tingkah Naya yang sangat menggemaskan dan jauh dari citra CEO dinginnya di luar sana, Alexander terkekeh pelan, dia membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Naya hingga napas hangatnya berembus di kulit pipi gadis itu.
"Maaf, tapi aku harus datang untuk memastikan kondisi kamu dan anak kita..." ucap Alexander lirih.
Tangan Alex perlahan turun, beralih menyentuh perut Naya di balik selimut tipis.
Begitu telapak tangannya menempel di sana, sebuah cahaya merah keemasan yang sangat tipis mengalir dari jemarinya, menyalurkan energi pelindung langsung ke rahim Naya.
Janin di dalam sana seolah menyambut kehadiran sang ayah, membuat perut Naya terasa sangat nyaman.