NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadangan di Lembah Kematian, Mengigau yang Mematikan, dan Korban Salah Urutan

​Kabut tebal yang menyelimuti Lembah Kematian mendadak memadat menjadi aura pembunuhan yang pekat. Rute pegunungan terisolasi ini adalah tempat eksekusi paling sempurna yang telah dipilih oleh faksi utama Klan Ye Ibu Kota.

​Wush! Wush! Wush!

​Sepuluh bayangan hitam melompat dari tebing batu, mendarat dengan presisi di tengah jalan setapak. Dipimpin oleh seorang tetua bayangan Tingkat Fondasi Lapis ke-4, mereka serentak menghentakkan kaki ke tanah, mengaktifkan Formasi Pengikat Jiwa Serigala. Rantai-rantai energi berwarna merah darah melonjak dari bumi, melilit kaki dua Kuda Langit yang sedang menarik kereta spiritual Ji Huang.

​Hiiiiing!

​Dua Kuda Langit itu meringkik ketakutan, terpaksa melakukan pengereman mendadak yang memicu guncangan keras pada kabin kereta.

​Di dalam kereta yang kedap suara, guncangan itu adalah sebuah bencana domestik berskala besar. Ji Huang, yang saat itu sedang berada di fase terdalam tidur siang kuartal ketiganya—bermimpi sedang berbaring di atas awan kapas surgawi yang empuk—merasakan kasur Giok Es miliknya bergeser dua sentimeter ke kiri.

​Interupsi ini langsung memicu aktivasi mode defensif dari sisa-sisa jiwa Dewa Pedang-nya. Ji Huang tidak terbangun. Sepasang matanya tetap terpejam rapat. Namun, kesadarannya kini memasuki fase sleepwalking atau mengigau tingkat akut—sebuah kondisi psikologis berbahaya di mana tubuh fanya akan membersihkan segala jenis sumber kebisingan secara otomatis tanpa keterlibatan akal sehat.

​"Ji Huang! Garis keturunan haram dari perbatasan!" Pemimpin pembunuh berteriak dari luar kereta, mengacungkan pedang besarnya yang memancarkan aura serigala perak. "Keluar dari keretamu, serahkan Cincin Giok Bulan Sabit, dan bersujudlah menerima kematian dengan terhormat! Klan Ye tidak akan menyisakan tempat bagi—"

​Hoaaam...

​Di dalam kabin, Ji Huang menggeliat pelan dalam kondisi mata tertutup rapat. Telinganya menangis mendengar suara melengking dari luar yang merusak estetika mimpi indahnya. Mengira suara bising itu hanyalah seekor lalat raksasa yang terbang di sekitar kepalanya, tangan kanan Ji Huang bergerak secara refleks.

​Dia meraih ujung selimut bebek rajutan tangan ayahnya, lalu mengibaskannya ke arah jendela dengan gerakan menepis yang kelewat malas, lambat, dan tanpa tenaga.

​Wus.

​Gerakan sesederhana menepis lalat dengan selimut itu mendadak memicu distorsi spasial yang mengerikan. Niat Pedang Angin Malam yang teramat padat terlepas dari serat kain selimut bebek tersebut. Energi itu menembus dinding kereta tanpa merusaknya sedikit pun—sebuah kontrol manipulasi molekul tingkat kosmis—dan langsung melesat keluar menyapu seluruh Lembah Kematian dengan kecepatan cahaya.

​BOOMMM!

​Tidak ada ledakan cahaya yang megah, yang terdengar hanyalah bunyi hantaman angin yang teramat masif.

​Dalam satu kedipan mata, Formasi Pengikat Jiwa Serigala hancur berkeping-keping menjadi partikel debu. Sepuluh kultivator Tingkat Fondasi elit Klan Ye yang tadinya memasang wajah angkuh, mendadak merasakan zirar baja mereka robek menjadi serpihan kain perca. Tubuh mereka terlempar ke udara setinggi sepuluh meter akibat tekanan angin pedang, sebelum akhirnya meluncur jatuh kembali ke bumi dengan posisi vertikal yang absurd.

​Blub! Blub! Blub!

​Sepuluh pembunuh elit itu tertanam terbalik di dalam tanah lembah yang berlumpur. Hanya menyisakan sepasang kaki mereka yang mencuat ke atas, bergoyang-goyang di udara seperti deretan lobak raksasa yang siap dipanen di ladang.

​Keheningan yang mencekam seketika menguasai lembah. Dua Kuda Langit akademi yang tadinya gemetar ketakutan, kini melongo menatap barisan kaki manusia yang tertanam di depan mereka.

​Sret.

​Pintu kereta spiritual terbuka perlahan. Xiao Mei melangkah keluar membawa kantung anyaman bambu kecil berisi kulit buah persik dan sisa makanan piknik. Dia menatap deretan sepuluh pasang kaki yang bergoyang di tanah dengan ekspresi datar yang sudah sangat terlatih.

​Puk. Xiao Mei dengan santai membuang sampah kulit persik itu tepat di atas salah satu sepatu bot milik pemimpin pembunuh yang tertanam paling dalam.

​"Tuan... Tuan Muda..." Pemimpin pembunuh itu mencoba berbicara dari dalam tanah, suaranya teredam oleh lumpur dan tangisan ketakutan yang teramat mendalam. Seluruh jalur meridian spiritual di tubuhnya telah terkunci total oleh sisa Niat Pedang yang tertinggal di udara. Dia menyadari satu hal yang mengerikan: pemuda di dalam kereta ini bisa membunuh mereka semua kapan saja hanya dengan mengedipkan mata jika dia mau. "Klan Ye... kami salah urutan... Mohon ampuni—"

​Dari dalam kabin kereta yang gelap, terdengar suara gumaman mengantuk Ji Huang yang teramat malas, lambat, namun membawa hawa dingin yang mampu membekukan sumsum tulang.

​"Xiao Mei... suruh lalat-lalat di luar itu untuk mengecilkan volume suaranya sekarang juga..." Ji Huang membalikkan posisi tidurnya menjadi miring ke kanan, mempererat pelukan pada selimut bebeknya. "...atau aku terpaksa harus menghapus nama klan mereka dari peta geografi dunia bawah besok pagi karena mengganggu fase tidur malamku."

​Mendengar ancaman dingin yang keluar dari mulut seorang pemuda yang bahkan tidak sudi membuka matanya untuk bertarung, sepuluh pembunuh elit itu dirundung ketakutan massal yang luar biasa.

​Dengan sisa-sisa tenaga Qi yang ada, mereka serentak mencabut kepala mereka dari dalam tanah dengan bunyi plop yang beruntun. Tanpa berani menoleh ke belakang atau mengambil pedang mereka yang tertinggal, sepuluh kultivator Tingkat Fondasi itu langsung merangkak dan berlari tunggang-langgang menggunakan kedua tangan dan kaki mereka, melesat sekencang mungkin kembali ke Ibu Kota untuk melaporkan bahwa target mereka bukanlah seorang sampah pemalas, melainkan Dewa Kematian Kosmis yang sedang menyamar.

​"Kuda-kuda pintar, ayo jalan lagi. Tuan Muda ingin melanjutkan tidurnya," ucap Xiao Mei sembari menepuk punggung salah satu Kuda Langit.

​Dua kuda itu meringkik patuh, langsung menarik kereta spiritual melaju kembali dengan kecepatan maksimal namun dengan tingkat kestabilan yang luar biasa, seolah-olah mereka takut jika membuat kereta bergoyang, sandal kayu di dalam kabin akan melayang ke arah mereka.

​Di dalam kabin yang kembali damai, Ji Huang membetulkan posisi selimut bebeknya yang sempat berantakan akibat gerakan menepis tadi. Dengkurah halus dan teratur kembali memenuhi ruangan, mengiringi perjalanan kereta spiritual premium itu menembus kabut, melaju tanpa hambatan lebih lanjut menuju gerbang megah Ibu Kota Kekaisaran.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!