Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Cakrawala dan Sumpah Darah
*"Kau pikir dengan menuliskan kata 'Akhir', kau bisa menghapus esensi dari keberadaanku? Kau hanyalah cermin yang retak dari rasa takutku sendiri, Marie dari masa depan, dan aku tidak akan membiarkan bayang-bayangmu memadamkan api yang baru saja mulai menyala di dunia ini!"*
Suaraku menggelegar, memotong desing angin yang merobek realitas di sekitar kami. Marie dari masa depan—sosok yang mengenakan jubah abu-abu compang-camping, dengan mata yang menyimpan kepedihan ribuan tahun—tetap berdiri tenang di atas tanah yang kini mulai hancur menjadi serpihan kegelapan. Pena di tangannya bukan terbuat dari bulu atau kristal, melainkan dari tulang jari yang dipahat dengan sihir kuno, mengeluarkan tetesan tinta hitam yang seolah memiliki kehidupan sendiri.
Langit di atas kami—langit yang baru saja kujaga agar tetap biru—kini mulai terkelupas, menampakkan jurang hampa yang dingin. Julius berdiri di depanku, pedang emasnya bergetar hebat. Dia tidak hanya melawan musuh; dia melawan keberadaan yang sangat erat kaitannya dengan diriku.
*"Marie,"* suara Julius rendah, penuh peringatan. *"Jangan biarkan dia menarikmu masuk ke dalam logikanya. Dia bukan dirimu yang nyata. Dia adalah manifestasi dari penyesalan yang belum terjadi."*
Marie masa depan itu tertawa, suara tawa yang kering dan getir. *"Penyesalan? Oh, Julius. Apakah kau masih memanggilnya dengan nama itu setelah semua yang dia lakukan kepadamu di masa depan? Kau masih tidak tahu, bukan? Bahwa setiap langkah yang diambil Marie di sini, di setiap dunia yang kita injak, hanyalah mempercepat kematianmu."*
Dia mengayunkan penanya, menciptakan gelombang energi hitam yang meluncur tajam ke arah kami. Aku tidak menghindar. Aku memfokuskan sihir murni yang mengalir di nadiku, menariknya keluar, dan membentuk perisai dari cahaya matahari yang memadat. Benturan antara energi hitamnya dan cahayaku menciptakan gelombang kejut yang meratakan perbukitan di sekitar kami. Hutan yang tadinya subur kini gundul dalam sekejap, terbakar oleh gesekan sihir murni yang saling bertentangan.
*"Kau salah!"* teriakku sambil mendorong perisai itu ke depan, memaksa sosok itu mundur beberapa langkah. *"Mungkin kau kehilangan segalanya di duniamu, mungkin kau membiarkan dirimu hancur oleh beban itu, tapi aku bukan kau! Aku adalah Marie yang memiliki Julius, aku adalah Marie yang memiliki harapan, dan aku adalah Marie yang akan merobek naskahmu!"*
Aku tidak lagi sekadar bereaksi. Aku mulai menuliskan realitasku sendiri di udara dengan jemariku yang kini berpendar emas. Setiap goresan yang kubuat menciptakan realitas baru: akar-akar pohon kuno bangkit dari bawah tanah, menjalar dengan kecepatan luar biasa untuk mengunci kaki Marie masa depan. Tanah yang tadinya menghitam karena langkahku kini pulih seketika, bunga-bunga bermekaran dalam sekejap sebagai respons terhadap kemurnian sihirku.
Sosok itu membelalak, terkejut melihat sihirku tidak lagi hanya bertahan, tapi *menciptakan*. Dia berusaha memotong akar-akar itu dengan tinta hitamnya, namun sihir murniku jauh lebih tangguh.
*"Bagaimana mungkin?"* gumamnya. *"Aku sudah mencoba seribu cara! Aku sudah merobek ribuan takdir! Mengapa kau tetap bisa membangun kehidupan di atas kehancuran?!"*
*"Karena kau mencoba mengendalikan dunia, sementara aku membiarkan dunia ini bernapas bersamaku!"*
Aku melompat ke depan, mendekatinya dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa. Aku tidak menyerang dengan belati, aku tidak menyerang dengan kutukan. Aku mencengkeram tangan yang memegang pena tulang itu. Saat kulit kami bersentuhan, sebuah memori hebat menghantam kepalaku—sebuah visi tentang masa depan di mana dunia tidak hancur oleh Kronos atau sistem, tapi oleh *kebencian kita sendiri* terhadap masa lalu.
Aku melihat dia, Marie masa depan, yang mencoba menyelamatkan dunia dengan cara mengisolasi dirinya dari segalanya, termasuk dari Julius. Dia kesepian. Dia hancur karena dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri atas kematian orang-orang yang dicintainya di masa lalu.
*"Lepaskan dia, Marie,"* bisikku, kali ini suaraku lembut. *"Kau tidak perlu melakukan ini lagi. Bebanmu sudah selesai."*
Sosok itu gemetar. Air mata mengalir di wajahnya yang penuh goresan. *"Tapi jika aku berhenti... semuanya akan sia-sia. Semua pengorbananku..."*
*"Tidak ada yang sia-sia jika itu membuatmu bertahan sampai detik ini,"* kataku, lalu dengan sisa kekuatanku, aku memeluknya.
Bukan untuk membunuhnya, bukan untuk menaklukkannya. Aku memeluknya sebagai sesama jiwa yang lelah. Saat pelukan itu terjadi, dunia di sekitar kami yang retak perlahan mulai menyatu kembali. Langit berhenti terkelupas. Tinta hitam yang menyelimuti dunia luntur, berganti menjadi cahaya fajar yang hangat.
Marie masa depan itu perlahan berubah menjadi debu cahaya, wajahnya yang penuh penderitaan kini tampak damai. Sebelum dia menghilang sepenuhnya, dia membisikkan sesuatu di telingaku.
*"Hati-hati... musuh sebenarnya bukan kita. Musuh yang sebenarnya adalah mereka yang menganggap sihir adalah harta yang harus dicuri, bukan nafas yang harus dibagi."*
Lalu, dia lenyap. Benar-benar lenyap.
Keheningan kembali menyelimuti lembah itu. Namun, keheningan ini berbeda. Ini adalah keheningan yang penuh dengan kehidupan. Burung-burung mulai berkicau, dan aliran sungai di dekat kami kembali jernih.
Julius menghampiriku, wajahnya penuh dengan kelegaan. *"Kau melakukannya, Marie. Kau mengalahkan bayanganmu sendiri tanpa menumpahkan darah."*
Aku jatuh terduduk di atas rerumputan, napasku tersengal. *Buku Kosong* di tanganku kini tidak lagi terasa berat. Halaman-halamannya kini terisi dengan tulisan-tulisan yang terus berubah—tapi kali ini, tulisan itu tidak mengendalikan dunia. Tulisan itu hanyalah catatan dari perjalanan kami.
*"Kita aman sekarang?"* tanya Julius, duduk di sampingku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
Aku menatap langit yang kini bersih. *"Untuk saat ini, iya. Tapi dia menyebutkan sesuatu tentang 'mereka'. Seseorang yang menginginkan sihir ini."*
Tepat saat aku mengucapkan itu, langit kembali berubah. Namun kali ini bukan karena sihir hitam. Awan-awan di atas pegunungan ungu tiba-tiba terbelah oleh seberkas cahaya putih yang sangat murni—cahaya yang terlalu murni, terlalu tajam, seolah-olah sesuatu dari dimensi yang jauh lebih tinggi sedang mengamati kami.
Sesuatu yang besar, sesuatu yang abadi.
*"Sepertinya,"* Julius menatap langit dengan mata menyipit, *"mereka sudah tahu bahwa kita berhasil mendapatkan kembali kemurnian dunia ini."*
Tanah di bawah kaki kami tiba-tiba bergetar lagi, tapi kali ini bukan karena musuh, melainkan karena panggilan. Sebuah suara kuno, suara yang berasal dari jantung gunung Puncak Arash, memanggil namaku.
*"Marie Vance... waktunya telah tiba untuk menyerahkan kembali apa yang bukan milikmu."*
Aku berdiri, merasakan dorongan sihir yang luar biasa kuat menarikku ke arah puncak gunung. Julius ikut berdiri, memegang pedangnya dengan erat.
*"Kita pergi ke puncak?"* tanya Julius.
*"Kita pergi ke puncak,"* jawabku. *"Apapun yang ada di sana, aku akan menghadapinya. Aku tidak akan lagi menjadi alat, aku tidak akan lagi menjadi korban, dan aku tidak akan menjadi penulis untuk siapa pun kecuali diriku sendiri."*
Kami mulai mendaki gunung itu. Jalan setapaknya curam dan dipenuhi dengan tantangan sihir murni: pusaran angin yang bisa memotong kulit, api yang membeku, dan kabut yang memunculkan ilusi masa lalu. Namun, setiap kali kami melewati tantangan itu, sihir kami menjadi lebih kuat, lebih tajam, lebih... bebas.
Saat kami mencapai setengah perjalanan menuju puncak, kami menemukan sebuah kuil kuno yang tersembunyi di balik air terjun sihir. Di sana, di tengah-tengah aula kuil, terdapat sebuah kolam air yang memantulkan bukan wajah kami, melainkan sejarah dari seluruh dunia sihir murni.
Dan di dalam kolam itu, aku melihat mereka.
Kelompok penyihir berjubah putih yang sedang berdiri mengelilingi sebuah altar. Mereka bukan manusia buatan, mereka bukan robot. Mereka adalah penyihir murni dengan kekuatan yang melampaui logika, dan di tangan mereka, mereka memegang sesuatu yang membuat jantungku berhenti.
Mereka memegang *buku-buku lain*. Ribuan buku kosong yang sama dengan yang kupegang.
*"Mereka adalah para Kolektor,"* suara pria tua berjanggut yang tadi kami temui di awal perjalanan tiba-tiba muncul di belakang kami. Dia muncul dari balik air terjun, wajahnya kini terlihat lebih tua dan lelah. *"Mereka adalah kaum yang menganggap bahwa dunia ini adalah perpustakaan, dan setiap jiwa adalah sebuah cerita yang harus dicuri untuk memperkaya perpustakaan mereka sendiri."*
*"Apa yang harus kita lakukan?"* tanyaku, menatap bayangan para Kolektor itu dengan ngeri.
*"Kalian harus menghancurkan buku kalian di puncak gunung itu,"* jawab pria tua itu. *"Jika kalian menghancurkannya, kekuatan mereka tidak akan bisa menjangkau kalian. Tapi, kalian juga akan kehilangan semua ingatan kalian tentang dunia asal."*
Aku menatap Julius. Jika kami menghancurkan buku itu, kami akan menjadi orang baru di dunia ini. Kami akan melupakan semuanya—tentang Oakhaven, tentang kematian tokoh utama, tentang kontrak pernikahan, bahkan tentang bagaimana kami bertemu.
*"Apakah itu satu-satunya jalan?"* tanya Julius.
*"Itu adalah satu-satunya jalan untuk benar-benar bebas,"* jawab pria tua itu.
Kami menatap jalan yang tersisa menuju puncak. Pilihan itu berada di depan mata: tetap ingat dan terus diburu oleh para Kolektor, atau lupa dan hidup bahagia dalam ketidaktahuan yang murni.
Aku memandang Julius. Dia menggenggam tanganku. Aku melihat ketakutan di matanya, tapi juga keyakinan.
*"Apapun yang terjadi, Marie,"* bisiknya, *"aku akan tetap di sisimu, entah kita ingat atau tidak."*
Kami melangkah maju menuju puncak, sementara bayangan para Kolektor di kolam air itu mulai menyadari keberadaan kami. Mereka mulai merapal mantra yang membuat seluruh pegunungan berguncang.