NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:916
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA

Maharani sempat ragu. Ada sedikit getar di dadanya, antara lega karena ada orang yang muncul dan waspada karena ia sendirian di basement dengan pria asing. Tapi akhirnya ia mengangguk. "Silakan... kalau memang bisa."

Rakha melepas jasnya, melipatnya rapi, lalu menaruhnya di kap mobil. Gerakannya tenang, presisi. Ia membungkuk, memeriksa mesin dengan tatapan fokus, sementara jemarinya menyentuh beberapa kabel.

Maharani berdiri di samping, kedua tangannya saling menggenggam gugup. Sesekali ia meliriknya. Ada sesuatu dari pria ini—tenang, misterius, sekaligus menakutkan. Ia cepat-cepat memalingkan wajah setiap kali Rakha hampir menoleh.

"Coba nyalakan sekarang," ucap Rakha datar.

Maharani buru-buru masuk ke mobil. Ia tekan tombol start. Mesin meraung halus, dashboard menyala, dan suara khas mesin sport langsung memenuhi ruangan. Nafas lega terhembus dari bibirnya. "Akhirnya...!"

Ia keluar lagi, wajahnya berseri. "Ya Tuhan... terima kasih banget, Pak... eh—Mas? Saya harus panggil apa, ya?"

Rakha menegakkan tubuhnya, mengambil jasnya kembali, lalu menatapnya lurus. "Rakha Adiwangsa Wiratama. Panggil saja Rakha."

Maharani terdiam sejenak, mencoba mengingat. Matanya melebar samar. "Oh... pengacara itu? Pantas wajah Bapak tidak asing. Saya sering dengar nama Anda... kasus besar yang Bapak menangkan itu kan, sempat heboh sekali."

Rakha tidak bereaksi banyak, hanya anggukan tipis. "Mungkin." Tatapannya tak lepas dari wajah Maharani, sorot matanya dalam, seperti sedang membaca tiap detak jantungnya.

Maharani tersenyum canggung, menunduk sopan. "Sekali lagi, terima kasih. Kalau nggak ada Bapak, mungkin saya masih panik sendirian di basement ini."

Rakha diam sebentar. Lalu suaranya terdengar rendah, tapi tegas. "Basement ini sunyi. Tidak aman untuk seorang wanita sendirian. Lain kali, hati-hati, Nona Maharani."

Nama itu meluncur dari bibir Rakha begitu saja, membuat Maharani sempat tertegun. "Anda... tahu nama saya?"

Rakha hanya tersenyum samar. "Siapa yang tidak kenal Maharani Ayudia Soetomo?"

Maharani terdiam, lalu tersenyum kecil. "Heh... benar juga." Ada sedikit rona di pipinya, antara malu dan bingung.

Sejenak, suasana menjadi hening lagi. Hanya ada dengung mesin mobilnya yang masih menyala. Maharani memandang pria di depannya dengan rasa ingin tahu. Sementara Rakha, di balik ketenangan wajahnya, menyembunyikan bara dendam yang semakin menyala.

Pertemuan pertama mereka telah terjadi. Dan Maharani sama sekali tidak tahu... bahwa ini hanyalah awal dari permainan panjang yang sudah disusun Rakha selama bertahun-tahun.

Basement apartemen mewah itu masih saja sunyi. Mesin mobil Maharani sudah hidup stabil, tapi ia tak segera masuk ke dalam. Ada sesuatu yang membuatnya tetap berdiri, menatap pria asing yang baru saja menolongnya.

Ia menggigit bibir pelan, lalu memberanikan diri bersuara.

"Kalau... kalau Bapak tidak keberatan," suaranya agak ragu, "boleh saya traktir kopi sebagai ucapan terima kasih? Hanya sebentar saja."

Rakha menghentikan gerakannya yang hendak mengenakan jas. Matanya menoleh, menatap Maharani dengan sorot tajam yang membuat dada perempuan itu ikut berdebar. "Tidak perlu. Saya tidak menolong karena ingin imbalan."

Maharani tersenyum canggung, mengusap tengkuknya. "Saya tahu. Tapi saya tidak enak kalau hanya bilang terima kasih lalu pergi begitu saja. Lagi pula..." ia menatap ke lantai, lalu kembali mendongak dengan mata yang berbinar tulus, "saya punya kedai kopi favorit di lounge apartemen ini. Tempatnya tenang. Kalau Bapak ada waktu, mungkin hanya sepuluh menit."

Ada jeda hening. Suara AC sentral berdengung seolah mempertegas keheningan itu. Rakha menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu di balik sorot matanya yang dingin.

Akhirnya, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Keras kepala juga, ya, Nona Maharani."

Pipi Maharani merona. Ia tersenyum malu, menunduk sebentar. "Mungkin memang begitu."

Dengan ragu, ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. "Kalau boleh... saya simpan nomor Bapak. Jadi bisa saya kabari kapan kita bisa bertemu. Saya tidak ingin mengganggu kesibukan Bapak."

Rakha terdiam beberapa detik, lalu menyebutkan nomor ponselnya dengan suara datar. Maharani mengetik cepat, lalu tersenyum lega begitu selesai. "Sudah masuk. Terima kasih, Pak Rakha."

Rakha mengenakan kembali jas hitamnya, gerakannya tenang dan penuh wibawa. "Hati-hati di jalan, Nona Maharani."

***

Tiga hari setelah pertemuannya dengan Maharani di basement apartemen, Rakha menerima pesan singkat: Saya sudah di coffeestar. Kalau Bapak ada waktu, silakan turun. – Maharani.

Lounge apartemen itu elegan, dinding kaca besar menampilkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta di malam hari. Musik jazz lembut mengalun, aroma kopi segar bercampur dengan wangi kayu manis dan vanilla. Meski nyaman, suasananya cukup sepi—hanya ada dua pasangan lain yang duduk jauh di sudut.

Maharani sudah lebih dulu tiba di kafe itu, memilih meja dekat jendela besar yang menghadap ke taman kecil penuh tanaman hijau. Cahaya matahari sore menembus kaca, jatuh lembut ke wajahnya, membuat kulitnya tampak semakin bercahaya.

Hari itu ia tak tampil glamor seperti biasanya. Hanya blouse sederhana dengan motif kotak-kotak bernuansa cokelat gelap, dipadukan dengan celana panjang hitam yang nyaman. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai alami, menambah kesan anggun tapi santai.

Di hadapannya, dua gelas minuman sudah terhidang. Segelas es kopi hitam miliknya, dan satu gelas teh dingin yang ia pesan untuk seseorang yang sebentar lagi datang. Di sisi lain, ada sepiring kecil berisi garnish salad yang belum disentuh.

Maharani bersandar sedikit pada kursi kayu, lengannya disilangkan di atas meja. Senyumnya tipis, matanya berbinar, seakan sedang menunggu sesuatu—atau mungkin seseorang—dengan hati yang sedikit berdebar. Sesekali jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, tanda ia berusaha mengalihkan kegugupan dengan pura-pura santai.

Di luar jendela, dedaunan hijau bergoyang pelan diterpa angin. Suasana kafe itu relatif sepi, hanya terdengar samar suara barista meracik minuman dan denting sendok dari meja-meja lain.

Rakha berdiri tegak dengan aura dingin yang sulit diabaikan. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan, kemeja dalamnya juga hitam pekat tanpa motif, membuat siluet tubuhnya terlihat semakin tegas. Sebuah strap tas selempang berwarna hitam melintang rapi di bahunya, memberi sentuhan modern pada penampilannya yang formal.

Rambutnya hitam legam, sedikit basah dan ditata dengan gaya jatuh natural ke arah depan, sebagian helai menutupi keningnya, menambah kesan misterius. Wajahnya bersih dan simetris, kulitnya pucat cerah, seakan memancarkan cahaya sendiri di ruangan yang temaram. Tatapannya lurus, tenang, dan penuh wibawa, seolah mampu membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya.

Pencahayaan di sekelilingnya membuat bayangan halus menegaskan garis rahangnya yang tegas. Ia tampak seperti seseorang yang lahir untuk diperhatikan—dingin, berkelas, dan sedikit berjarak, namun justru itulah yang membuat orang-orang tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Langkah Rakha berhenti tepat di depan meja tempat Maharani duduk. Sesaat, keduanya hanya saling menatap tanpa kata. Aura dingin pria itu membuat Maharani harus menarik napas lebih dalam sebelum akhirnya membuka suara.

"Pak Rakha, terima kasih sudah mau datang," ucapnya pelan namun jelas.

Rakha hanya mengangguk singkat. Ia menarik kursi di depannya, lalu duduk dengan tenang. Jas hitam yang dikenakannya dilepas perlahan dan disampirkan ke sandaran kursi. "Saya tidak bisa lama," katanya dengan suara rendah dan tegas.

"Tidak apa-apa," Maharani tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana. Ia mendorong secangkir kopi ke hadapan Rakha. "Ini kopi favorit saya. Katanya cocok untuk orang-orang dengan pikiran berat. Saya rasa... Bapak termasuk salah satunya."

Rakha menatap cangkir itu sejenak. Matanya tidak menunjukkan banyak ekspresi, tapi ada sesuatu yang membuat Maharani merasa tatapan itu seakan menembus lebih dalam dari sekadar permukaan.

Rakha menatap cangkir itu sejenak, lalu mengangkatnya dengan tangan kokoh. Ia menyeruput perlahan, lalu mengangguk tipis. "Tidak buruk."

Maharani mengusap ujung rambutnya dengan gugup, lalu menatap Rakha sambil tersenyum kikuk.

"Sekali lagi maaf ya, Pak... saya jadi narik Bapak ke sini. Takutnya malah ganggu jadwal kerja Bapak yang sibuk."

Rakha menurunkan cangkir kopinya pelan, suara keramik beradu dengan piring kecil terdengar jelas di antara mereka. Tatapannya lurus ke arah Maharani, dingin tapi penuh wibawa.

"Kalau saya merasa terganggu," ucapnya tenang, "saya tidak akan datang."

Maharani sempat tertegun, lalu tertawa kecil, menunduk sebentar sambil menyentuh gelas minumnya. "Jawabannya... lugas banget, ya. Khas Bapak sekali."

Rakha hanya mengangkat bahu tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Saya terbiasa bicara langsung. Lagipula..."—ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan—"...siapa yang bisa menolak undangan Maharani Soetomo?"

Ucapan itu membuat Maharani kaget. Ia menutup mulutnya dengan tangan sambil terkekeh pelan, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!