NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita tua berwajah muda

Keesokan harinya, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan timur, membawa kehangatan tipis yang mengusir embun pagi. Kabut tipis masih menggantung di atas rumput halaman padepokan, membuat tanah basah dan udara terasa segar di paru-paru. Suara ayam hutan di kejauhan bersahut-sahutan, menandai bahwa dunia di luar tembok padepokan sudah mulai bergerak.

Yuse sudah berdiri di tengah halaman sejak lama. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalam. Bayangan pedang, jurus-jurus cepat, dan nama besar “Pendekar Nomor Satu” terus berputar di kepalanya. Begitu langit mulai terang, ia melompat dari tempat tidur, mengenakan baju latihan seadanya, lalu berlari ke halaman.

“Bibi, ayo kita mulai latihannya!” seru Yuse tidak sabar, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru diberi hadiah.

Bibi Liana baru saja keluar dari ruang latihan dalam. Rambutnya diikat sederhana, bajunya rapi, dan di pinggangnya tergantung sarung pedang kayu yang sudah lusuh. Ia menatap Yuse yang sudah siap dengan kuda-kuda kaku dan napas yang terlalu cepat.

Liana tersenyum. Senyum itu kecil, tapi hangat.

“Baiklah, ayo kita mulai. Pasang kudak-kudamu, Yuse!”

Tanpa menunggu dua kali, Yuse berteriak, “Hyaaat...!”

Tubuh kecilnya menerjang maju. Ia mengayunkan tangan kanannya sekuat tenaga, mencoba meniru gerakan Ayahnya yang dulu ia lihat dari celah pintu gudang. Pukulan pertama meleset. Pukulan kedua terlalu tinggi. Pukulan ketiga datang beruntun, cepat tapi berantakan.

Liana tidak bergerak banyak. Ia hanya menggeser kaki sedikit ke samping, memiringkan tubuh, lalu menangkis dengan telapak tangan kanannya. Suara “pak!” terdengar pelan tapi padat setiap kali tangan mereka bertemu. Gerakannya tenang, efisien, nyaris tanpa tenaga berlebih. Seolah-olah ia sudah tahu ke mana Yuse akan memukul sebelum Yuse sendiri menyadarinya.

“Hati-hati, Yuse. Jangan buang tenaga untuk ayunan kosong,” gumam Liana di sela-sela tangkisan.

“Kuda-kudamu terlalu tinggi. Kalau ada lawan sungguhan, sekali dorong saja kamu jatuh.”

Yuse tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dan menyerang lagi. Keringat mulai membasahi dahinya. Nafasnya makin cepat. Tapi ia menolak berhenti. Ada gengsi kecil di dalam dadanya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Bibi Liana.

Menit berganti menit. Halaman yang tadinya sepi kini dipenuhi suara benturan tangan, desir angin dari ayunan, dan napas Yuse yang makin berat. Liana masih menggunakan satu tangan saja. Wajahnya tetap datar, tapi matanya tidak pernah lepas dari pergerakan Yuse. Ia membaca. Menganalisis. Mencari celah yang tidak ada.

Setelah beberapa puluh menit, Liana mundur setengah langkah dan mengangkat tangan kanannya.

“Cukup untuk sesi pertama.”

Yuse langsung berhenti. Kakinya gemetar.

“Hah... hah...”

Ia mencoba berdiri tegak, tapi tubuhnya tidak mau diajak kompromi. Tanpa memedulikan bajunya yang kotor terkena tanah dan rumput, ia menjatuhkan diri. Tubuhnya terhempas ke atas tanah berumput yang sejuk. Matanya menatap langit-langit padepokan yang mulai biru terang. Dadanya naik turun. Ada rasa puas karena sudah berusaha, tapi juga ada kekecewaan yang mengganjal.

Liana berjalan pelan, lalu berhenti di samping tubuh Yuse yang telentang. Ia melipat kedua tangannya di dada, bayangannya menutupi sebagian wajah Yuse.

“Kenapa sepertinya kamu tidak senang, Yuse? Padahal fisikmu cukup bagus untuk pemula.”

Yuse menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping, menghindari tatapan bibinya.

“Padahal di pikiranku... aku akan langsung diajarkan teknik pedang yang hebat seperti Ayah. Jurus pemotong angin, tebasan kilat, yang sekali ayun bisa membelah batu.”

Suara Yuse pelan, hampir seperti bisikan.

“Ternyata latihannya cuma memukul dan menangkis seperti ini. Membosankan.”

Mendengar itu, Liana terkekeh pelan. Suaranya ringan, tapi ada nada mengerti di dalamnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh... jadi begitu alasannya.”

Ia berjongkok di samping Yuse, membuat tinggi wajah mereka sejajar. Tatapannya berubah serius, tapi tetap lembut.

“Yuse, dengarkan aku baik-baik.”

Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan ujung rambut Liana yang terurai.

“Latihan itu tidak boleh langsung ingin ini dan ingin itu. Semua ada prosesnya. Harus bertahap. Kau tahu kenapa para ksatria hebat jarang patah tulang saat menahan tebasan?”

Yuse diam. Ia menggeleng.

“Karena otot lengan mereka sudah ditempa ratusan hari hanya untuk menahan pukulan kayu,” jawab Liana pelan.

“Bagaimana kamu mau menggenggam pedang dengan benar jika otot tangan dan kuda-kudamu saja belum kuat? Pedang itu berat, Yuse. Bukan hanya berat fisiknya. Berat juga tanggung jawabnya.”

Kata-kata itu jatuh ke telinga Yuse seperti air dingin. Ia terdiam. Bayangan Ayahnya yang gagah tiba-tiba terasa jauh. Ia baru sadar, yang ia lihat dulu adalah hasil akhir. Bukan proses panjang yang ada di belakangnya.

Liana melihat perubahan di wajah Yuse. Ia berdiri kembali, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah keponakannya.

“Jadi, bagaimana? Sekarang mau melanjutkan latihan atau mau menyerah saja?”

Yuse menatap tangan itu lama. Tangan yang tadi menangkis semua pukulannya.

Ia menggenggam tangan itu erat.

“Jangan meremehkanku, wanita tua berwajah muda,” kata Yuse sambil bangkit dengan susah payah, tapi bibirnya menyungging senyum kecil.

“Aku belum selesai.”

Liana tertawa kecil mendengar ucapan itu.

“Wanita tua? Aku masih 28 tahun, Yuse.”

“28 tahun bahkan umurmu hampir sama dengan ibuku,tpi kenapa bisa mengalahkan 10 orang sekaligus,” sahut Yuse sambil mengusap debu di bajunya. “Itu namanya tua pengalaman.”

Kali ini Liana benar-benar tertawa. Tawanya lepas, membuat suasana pagi yang tadinya tegang jadi ringan lagi.

“Baiklah, bocah sok tahu. Kalau begitu kita lanjutkan. Kali ini, kita latih kuda-kuda dasar. Tanpa pukulan. Hanya berdiri. Selama setengah jam.”

Muka Yuse langsung berubah.

“Setengah jam? Cuma berdiri?”

“Cuma berdiri,” ulang Liana tegas. “Kalau kau bisa bertahan tanpa goyang, baru kita bicara soal pedang kayu.”

Yuse mengerang pelan, tapi ia tetap melangkah ke posisi yang ditunjuk Liana. Ia merendahkan tubuhnya, membentangkan kaki selebar bahu, dan mencoba menahan tubuhnya agar tidak goyah. Rasanya aneh. Membosankan. Tapi entah kenapa, ada rasa tenang yang datang saat ia fokus pada napasnya sendiri.

Liana berjalan mengelilinginya, sesekali membetulkan posisi kaki Yuse dengan dorongan ringan di lutut.

“Punggung lurus. Pandangan lurus ke depan. Jangan pikirkan waktu. Pikirkan tanah di bawah kakimu.”

“Tanah?” gumam Yuse bingung.

“Ya. Tanah itu yang menahanmu saat kau terjatuh. Kalau kau tidak mengenalnya, kau tidak akan pernah berdiri tegak,” jawab Liana pelan.

“Menjadi ksatria bukan soal seberapa cepat kau bisa membunuh. Tapi seberapa lama kau bisa berdiri untuk melindungi.”

Kalimat itu menggantung di udara. Yuse tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, mencoba meresapi.

Waktu berjalan lambat. Setiap detik terasa panjang. Kaki Yuse mulai gemetar, paha terasa terbakar, tapi ia tidak jatuh. Ia mengingat wajah Ibunya yang khawatir semalam. Mengingat tatapan Ayahnya di dinding ruang tamu. Mengingat janji yang ia buat pada dirinya sendiri.

Di kejauhan, burung mulai berkicau lebih ramai. Matahari naik semakin tinggi. Sesi latihan pagi itu berakhir bukan dengan sorak sorai, tapi dengan Yuse yang duduk bersila di tanah, napasnya teratur, dan matanya lebih jernih dari sebelumnya.

Liana duduk di sampingnya, memberikan botol air bambu.

“Bagus. Untuk hari pertama, kau lulus.”

Yuse menerima air itu, meneguknya dengan lahap.

“Besok... kita belajar pedang kayu, kan?”

Liana tersenyum misterius.

“Kita lihat saja. Kalau kuda-kudamu sudah bisa bicara tanpa bergetar.”

Yuse mendengus pelan, tapi ia tidak mengeluh lagi. Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa jalan menjadi ksatria tidak dimulai dari pedang. Tapi dari kesabaran untuk berdiri, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Halaman padepokan kembali sunyi. Hanya suara napas dua orang dan angin pagi yang menemani. Di bawah langit yang semakin terang, sebuah pondasi kecil mulai ditanam.

---

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!