Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka di Tanah Suci
Malam di pesantren terasa jauh lebih mencekam daripada hiruk-pikuk London yang tak pernah tidur. Setelah melihat noda darah di sapu tangan Najwa tadi sore, Lea merasa seolah ada tali tak kasatmata yang melilit lehernya, menariknya masuk ke dalam kehidupan yang paling ia hindari.
Lea mengunci pintu kamar tamu dari dalam. Ia tidak tahan lagi. Ruangan yang didominasi aroma kayu cendana dan buku-buku agama ini terasa seperti penjara bawah tanah. Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponselnya. Ia butuh suara yang mengenalnya sebagai Kalea, bukan sebagai "istri pengganti".
Ia mendial nomor Bunda adik dari ibunya yang selama dua puluh tahun ini merawatnya di London. Bagi Lea, Bunda adalah satu-satunya rumah yang ia punya.
"Bunda..." suara Lea pecah begitu wajah Bunda muncul di layar ponsel. "Pulangkan Lea, Bun. Jemput Lea sekarang. Mereka gila! Kak Najwa... dia mau Lea nikah sama suaminya!"
Bunda di seberang sana terdiam, matanya nampak sembab. "Lea, sayang... Bunda sudah bicara dengan Najwa seminggu yang lalu. Dia sangat ketakutan, Lea. Dia tidak percaya pada siapa pun untuk menjaga Arkan dan Mas Malik selain kamu."
"Tapi Lea nggak cinta sama dia, Bun! Dia benci sama Lea! Dia lihat Lea kayak lihat najis!" Lea berteriak tertahan. "Bunda tahu kan Lea punya Tom? Lea punya hidup di sana!"
"Lea, terkadang hidup menuntut pengorbanan yang tidak masuk akal," suara Bunda melemah. "Bunda tidak bisa menjemputmu. Ibumu... dia juga memohon pada Bunda agar kamu tetap di sana. Maafkan Bunda, Lea."
Sambungan diputus sepihak. Lea melempar ponselnya ke atas kasur. Ia merasa dikhianati oleh seluruh dunia. Untuk meredakan sesak, ia melakukan *video call* dengan Tom. Begitu wajah Tom muncul, air mata Lea jatuh lebih deras. Melihat apartemen mereka yang modern melalui layar ponsel membuat Lea semakin depresi.
Setelah menutup telepon, rasa frustrasi Lea mencapai puncaknya. Ia membutuhkan sesuatu untuk membungkam otaknya. Dengan nekat, ia membongkar bagian paling bawah kopernya, mengeluarkan sebotol kecil *Red Wine* yang ia beli di bandara. Ia tahu ini gila, tapi ia butuh mati rasa.
Lea melangkah ke balkon kamar yang menghadap ke taman belakang. Ia duduk di lantai balkon, bersandar pada pagar, lalu meneguk cairan merah itu langsung dari botolnya. Rasa hangat yang membakar tenggorokan sedikit membuatnya rileks.
"Kalian semua jahat..." gumamnya parau.
Ia kembali meneguk wine itu, membiarkan kepalanya sedikit melayang. Sampai sebuah suara bariton yang dingin menyeruak membelah malam dari arah bawah.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Kalea?"
Lea tersentak. Ia menoleh ke bawah. Di sana stands Gus Malik. Pria itu berdiri kaku, kepalanya menunduk dalam, menatap tanah di bawah kakinya. Tangannya menggenggam tasbih dengan erat, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Meski ia tidak menatap Lea secara langsung, auranya sangat mengintimidasi.
"A-apaan sih?" jawab Lea, mencoba berani meski lidahnya mulai kelu. "Gue cuma lagi minum. Haus."
"Turun sekarang," perintah Malik. Suaranya rendah namun tajam, tanpa sedikit pun mengangkat pandangannya ke arah balkon. "Buang benda najis itu dan segera temui saya di ruang tengah. Sekarang!"
Lea gemetar. Dengan langkah limbung, ia masuk ke kamar dan berjalan menuju ruang tengah. Gus Malik sudah di sana, berdiri membelakangi pintu masuk, menghadap jendela besar yang gelap.
Begitu Lea sampai di ruangan itu, Malik berbicara tanpa berbalik badan. Ia menolak menatap Lea yang saat ini masih mengenakan pakaian tidur minim.
"Kamu tahu di mana kamu berdiri saat ini?" tanya Malik, suaranya bergetar karena menahan amarah. "Ini pesantren. Dan kamu... dengan beraninya membawa najis ini ke dalam rumah saya?"
"Ini cara gue bertahan hidup di sini!" teriak Lea, egonya meledak. "Lo semua maksa gue! Kenapa lo nggak protes ke Kak Najwa? Kenapa lo cuma bisa nyalahin gue?"
Gus Malik beristighfar berkali-kali. Ia masih memunggungi Lea, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia sama sekali tidak menyentuh Lea, bahkan tidak sudi membalikkan badan untuk sekadar memastikan keadaan adik iparnya itu.
"Jangan pernah bawa-bawa nama istri saya dengan mulutmu yang kotor oleh khamr itu," desis Malik tajam. "Saya tidak pernah menginginkan rencana ini. Kamu adalah ujian paling berat bagi saya. Jika bukan karena wasiat Najwa, saya sudah mengusirmu detik ini juga!"
"Kalau gitu usir gue! Usir!" tantang Lea.
Malik melangkah maju menuju pintu keluar, tetap tanpa menatap Lea. Ia menjaga jarak sejauh mungkin, seolah mendekati Lea akan menodai prinsip hidupnya.
"Kamu akan tetap di sini sampai Najwa merasa tenang. Tapi camkan ini..." Malik berhenti di ambang pintu, masih memunggungi Lea. "Satu kali lagi kamu berbuat maksiat di rumah ini, saya sendiri yang akan memastikan kamu dikurung di dalam kamar tanpa akses ke dunia luar sampai kamu mengerti apa itu adab. Jangan coba-coba menguji kesabaran saya."
Malik pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh sedikit pun. Lea luruh di lantai, menangis meraung-raung dalam diam di tengah kegelapan rumah yang terasa semakin mencekik, sementara bau wine masih memenuhi ruangan itu sebagai saksi bisu kehancurannya.