Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Cermin yang Retak
Andra berdiri di dalam lift yang bergerak lambat menuju lantai 17. Bundel berkas kontrak di dalam pelukannya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya, seolah-olah kertas-kertas itu telah berubah menjadi lempengan timah yang menekan dadanya. Kalimat peringatan dari Gunawan masih berdengung konstan di pelipisnya, meninggalkan rasa getir yang pekat di tenggorokan.
Tugasmu hanya mengurus kertas-kertas di atas meja. Jangan pernah mencampuri urusan di luar dokumen kantor.
Kata-kata itu bukan sekadar instruksi kerja; itu adalah penegasan kasta. Sebuah pengingat brutal bahwa sekaya apa pun Nadia, sekeren apa pun gedung Apex Media, dan senyaman apa pun momen makan siang bersama yang mereka lalui, Andra tetaplah seorang buruh harian dari desa yang posisinya bisa bergeser dalam sekali jentikan jari. Ada rasa malu yang berbaur dengan rasa bersalah yang teramat sangat di dalam benak Andra. Ia merasa seolah-olah ketulusan prinsip yang ia banggakan selama ini telah ternoda oleh angan-angan kosong yang tidak seharusnya ia pelihara.
Denting lift berbunyi halus saat pintu bergeser terbuka di lantai 17. Andra melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Koridor utama tampak lengang, namun atmosfer di sekitar meja kerjanya terasa sangat menegangkan.
Pintu kaca ruang kerja Nadia terbuka lebar. Dari posisinya berdiri, Andra bisa mendengar suara bariton Pak Gunawan yang terdengar dingin, beradu dengan nada suara Nadia yang meninggi—sesuatu yang sangat jarang terjadi di lingkungan kantor yang biasanya serba profesional ini.
"Aku tidak peduli seberapa sibuk kampanye iklan kosmetikmu itu, Nadia. Dokumen pengalihan aset ini harus selesai hari ini juga!" suara Gunawan terdengar menggema hingga ke lobi luar. "Investor dari Singapura tidak mau menunggu jadwal presentasimu yang bertele-tele."
"Bertele-tele kamu bilang, Mas?" sahut Nadia, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak. "Ini proyek terbesar Apex Media tahun ini! Timku bekerja siang malam untuk memenangkannya. Dan kamu datang ke sini hanya untuk menuntut tanda tangan demi membiayai proyek resort pribadimu di Bali? Di mana otak bisnismu?"
Andra berjalan mendekati meja depannya dengan langkah sepelan mungkin. Ia meletakkan berkas kontrak dari lantai 15 di atas meja, tidak berani melangkah lebih dekat ke arah pintu kaca. Namun, posisi mejanya yang tepat di samping ruangan membuat setiap patah kata pertengkaran suami-istri itu terdengar tanpa bisa dibendung.
"Jaga bicaramu, Nadia! Aku suamimu, dan sebagian besar saham awal yang kamu gunakan untuk menstabilkan Apex ini juga berasal dari sirkulasi modal perusahaanku," bentak Gunawan, langkah kakinya terdengar mondar-mandir di atas lantai semen ekspos. "Jangan sok suci bertumpu pada profesionalisme kalau urusan rumah tanggamu sendiri kamu telantarkan. Kamu tahu kenapa aku lebih suka tinggal di Bali belakangan ini? Karena rumah kita itu dingin! Kamu tidak pernah bertingkah seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang. Kamu hanya peduli pada angka-angka di laptopmu!"
Hantaman kalimat itu tampaknya membuat Nadia bungkam selama beberapa saat. Di dalam ruangan, keheningan yang tercipta terasa sangat menyakitkan.
Andra mengepalkan tangannya di samping paha. Dadanya bergemuruh hebat. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk melangkah masuk, berdiri di depan Nadia, dan melindungi wanita itu dari intimidasi verbal suaminya. Namun, akal sehat dan bayangan peringatan Gunawan di lift tadi menahan kedua kakinya tetap terpaku di lantai. Siapa kamu, Andra? Kamu hanya asisten administrasi di sini. Pria di dalam sana adalah suami sahnya. Realitas itu memukul batin Andra hingga runtuh berkeping-keping.
"Tanda tangani ini, lalu aku akan langsung pergi ke bandara," ujar Gunawan lagi, nadanya kembali datar dan dingin, kehilangan seluruh emosinya seolah-olah pertengkaran tadi hanyalah sebuah transaksi bisnis yang melelahkan.
Bunyi goresan pulpen di atas kertas terdengar kasar, disusul oleh suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu keluar.
Andra segera memosisikan dirinya dengan tegap di balik meja kerja, menundukkan pandangannya lurus-lurus ke layar monitor yang menampilkan barisan angka digital yang buram. Pak Gunawan melangkah keluar dari ruangan dengan map tebal di tangan kirinya. Sebelum berjalan menuju lift, pria matang itu sempat menghentikan langkahnya tepat di samping meja Andra. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun sorot mata tajamnya yang melirik ke arah Andra memancarkan ancaman yang sangat jelas: Aku mengawasimu.
Setelah suara langkah sepatu Gunawan hilang di balik pintu lift, lantai 17 kembali sunyi seketika.
Andra menarik napas panjang yang terasa menyiksa di dadanya. Ia mengambil bundel berkas kontrak yang ia ambil dari lantai 15 tadi, lalu melangkah perlahan menuju pintu ruang kerja Nadia. Ia mengetuk kusen pintu kayu yang terbuka dua kali secara pelan.
"Mbak... maksud saya, Bu Nadia? Ini berkas dari lantai 15 yang Ibu minta," ujar Andra dengan nada suara yang sengaja dibuat serendah mungkin, penuh kehati-hatian.
Nadia sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca yang besar. Kedua tangannya bertumpu pada bingkai jendela, dan bahunya yang biasa tegak tampak sedikit berguncang perlahan. Ketika mendengar suara Andra, wanita itu buru-buru menyeka sudut matanya dengan jemari sebelum memutar tubuhnya.
Wajah Nadia tampak pucat. Maskara di sudut mata kanannya sedikit luntur, menyisakan gurat kesedihan yang teramat kontras dengan blazer gading mewahnya. Cermin ketangguhan yang ia bangun sejak pagi hari telah retak sepenuhnya oleh kedatangan suaminya.
"Letakkan saja di atas meja, Andra," kata Nadia, suaranya terdengar serak dan parau, kehilangan seluruh energi kepemimpinannya.
Andra melangkah masuk, meletakkan berkas tersebut di atas meja jati dengan posisi yang rapi. Ia menatap wajah Nadia yang rapuh dari jarak dua meter. Rasa iba yang mendalam kembali bergejolak di dalam dadanya, bertarung sengit dengan rasa bersalah dan peringatan dari Pak Gunawan yang baru saja ia terima.
Nadia berjalan mendekati meja, matanya menatap Andra dengan pandangan yang sarat akan permohonan, seolah mencari perlindungan yang sama seperti malam lembur kemarin. "Andra... kamu mendengar semuanya tadi?"
Andra terdiam sejenak. Ia menatap sepasang mata indah yang kini basah itu, lalu perlahan-lahan menundukkan kepalanya kembali. Perkataan Gunawan di lift lobi lantai 15 terngiang kembali bagai alarm bahaya. Andra tahu, jika ia membiarkan dirinya melangkah lebih jauh malam ini untuk menghibur Nadia, ia akan merusak seluruh tatanan hidupnya. Ia harus memasang kembali tembok pembatas itu, demi kebaikan mereka berdua.
"Saya tidak mendengar apa-apa, Bu," jawab Andra datar, suaranya terdengar kaku dan dingin di dalam ruangan yang sunyi itu. "Tugas saya hanya mengurus kertas-kertas di atas meja Ibu. Saya tidak berhak mencampuri urusan pribadi di luar dokumen kantor."
Nadia tersentak mendengar jawaban itu. Kalimat Andra yang begitu formal dan menjaga jarak terasa seperti sebuah penolakan yang dingin di tengah kerapuhannya yang membutuhkan kehangatan. Ia menatap Andra dengan tatapan tidak percaya, tidak menyangka bahwa pemuda desa yang kemarin malam menawarkan ketulusan saputangannya, kini berubah menjadi sekaku robot korporat.
"Begitu ya..." bisik Nadia, senyum tipis yang sangat getir terkembang di bibirnya. Wanita itu mengangguk pelan, merapatkan kembali blazernya seolah sedang melindungi dirinya dari hawa dingin yang mendadak menyerang ruangan. "Kamu benar, Andra. Terima kasih sudah mengingatkan posisi kita kembali."
Andra mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menahan rasa sakit yang mengiris hatinya karena harus membohongi nuraninya sendiri. "Jika tidak ada hal lain lagi, saya mohon izin untuk pulang, Bu."
"Silakan, Andra," jawab Nadia dingin, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela luar, memutus seluruh komunikasi emosional di antara mereka.
Andra berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan dengan hati yang hancur. Langkah kakinya terasa goyah membelah lobi lantai 17 yang kosong. Di bawah langit Jakarta yang perlahan mulai menggelap, pemuda desa itu menyadari bahwa menjaga ketulusan di tengah intrik kota besar ini ternyata membutuhkan pengorbanan perasaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kerja fisik di bawah terik matahari sawah kampung halamannya.