NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau Mawar

​Tiga hari sejak insiden dingin di mana Asher mengabaikan keahlian akuntansinya, atmosfer di dalam mansion mewah Sterling masih terasa membeku bagi Chloe. Pria itu jarang pulang, dan jika pulang pun, dia hanya akan menghabiskan waktu di dalam ruang kerja bawah tanahnya atau masuk ke kamar utama saat malam sudah terlampau larut hanya untuk tidur dalam keheningan yang kaku. Chloe sudah mulai terbiasa dengan pola itu; dia mengabaikan keberadaan Asher, sebagaimana pria itu mengabaikan keberadaannya sebagai manusia.

​Namun, kejenuhan dan kesunyian yang mengurung Chloe seketika pecah ketika sebuah panggilan video dari Eleanor masuk pada suatu pagi. Tidak sekadar menyapa seperti biasa, sore harinya Eleanor tiba-tiba sudah menampakkan batang hidungnya di depan gerbang mansion, melangkah masuk dengan gaun kasual desainer yang anggun dan senyuman secerah musim semi.

​"Chloe sayang!" Eleanor langsung menghambur memeluk tubuh mungil Chloe begitu gadis itu turun ke ruang tamu. Aroma parfum melati yang mewah dan segar langsung memenuhi rongga dada Chloe, membawa kehangatan yang instan.

​"Kak Eleanor? Kenapa mendadak sekali? Bukankah Kakak seharusnya berada di Jenewa?" tanya Chloe, terkejut sekaligus bahagia melihat kehadiran salah satu kakak ipar yang paling memanjakannya itu.

​Eleanor melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tangan Chloe menuju sofa. "Urusanku di Jenewa sudah selesai dua hari lalu. Dan hari ini, aku sengaja terbang ke kota ini khusus untuk menghadiri Acara Tahunan Gala Yayasan Kemanusiaan Sterling. Acara itu diadakan malam ini di Grand Ballroom Hotel Splendide."

​Chloe mengangguk paham. Dia ingat Eleanor pernah menceritakan tentang yayasan amal internasional yang dikelolanya. "Semoga acaranya berjalan lancar, Kak."

​Eleanor tersenyum misterius, sepasang mata kelabunya yang ramah menatap Chloe dengan binar penuh rencana. "Tentu saja akan lancar, apalagi jika kau ikut hadir bersamaku malam ini, Mawar Kecil."

​Chloe seketika membeku. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa panik yang mendadak merayap. "A-Aku? Ikut ke acara resmi seperti itu?"

​"Ya! Di sana akan ada acara lelang amal terbesar tahun ini. Pengusaha, diplomat, dan bangsawan dari berbagai negara akan hadir," jelas Eleanor bersemangat. "Dan yang paling penting, aku ingin kau datang ke sana untuk mewakili Asher."

​"Mewakili... Asher?" Chloe terbata, menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar.

​"Benar. Asher adalah penyumbang dana terbesar untuk yayasanku, tetapi si beruang kutub itu tidak pernah sekalipun mau menginjakkan kakinya di acara perayaan seperti ini. Dia benci keramaian, benci jepretan kamera, dan benci berpura-pura ramah di depan publik," Eleanor mendengus kesal mengingat kedegilan adiknya. "Selama ini, kursi kehormatan atas nama 'Asher Sterling' selalu kosong. Tapi tahun ini berbeda. Dia sudah memiliki istri yang sangat cantik. Jadi, kau adalah perwakilan resmi yang paling sah untuk duduk di kursi itu malam ini."

​Rasa takut seketika menguasai benak Chloe. Dia membayangkan kilatan lampu kamera, tatapan menilai dari kalangan kelas atas, dan yang paling menakutkan: bagaimana jika Asher tahu dan marah besar karena dia berani tampil di depan publik menggunakan namanya?

​"M-Maaf, Kak Eleanor... tapi sepertinya aku tidak bisa," Chloe menggelengkan kepalanya dengan cepat, suaranya mencicit ketakutan. "Aku tidak terbiasa dengan acara mewah seperti itu. Latar belakangku... aku tidak tahu cara bersosialisasi dengan orang-orang penting. Lagipula, Asher... Asher tidak memberiku izin untuk keluar mansion untuk acara publik. Statusku di sini..." Chloe menggantung kalimatnya, tidak ingin merusak suasana dengan mengingatkan Eleanor bahwa dia hanyalah seorang tawanan tebusan.

​Mendengar penolakan Chloe, Eleanor tidak menyerah. Dia justru memajukan duduknya dan menggenggam kedua tangan Chloe dengan erat, memberikan tatapan mata yang penuh penekanan namun sangat lembut.

​"Jangan sebut-sebut nama anak bodoh itu, Chloe. Di rumah ini, dia mungkin berkuasa. Tapi jika menyangkut urusan luar dan keluarga, kata-kataku sebagai kakaknya memiliki bobot yang sama," tegas Eleanor, tidak menerima bantahan. "Kau tidak perlu takut pada apa pun. Kau adalah Nyonya Sterling. Kau memiliki hak penuh untuk berdiri di sana. Aku yang memaksamu, dan aku yang akan bertanggung jawab jika si kaku itu berani memproprotesnya nanti."

​Eleanor berdiri, lalu menarik tangan Chloe agar ikut bangkit. "Tidak ada penolakan lagi, Sayang. Waktu kita tidak banyak. Aku sudah menyiapkan segalanya untukmu malam ini."

​Sebelum Chloe sempat mencerna situasi, Eleanor telah memanggil tim penata rias dan rambut profesional yang sengaja dia bawa dari agensi papan atas. Kamar utama yang biasanya sepi kini mendadak sibuk. Bi Mirna bahkan ikut membantu dengan senyuman lebar di wajah tuanya, merasa bahagia melihat nyonya mudanya akhirnya akan keluar dari kurungan mansion.

​Eleanor membawa sebuah kotak pakaian raksasa berlogo rumah mode haute couture ternama di Milan. Ketika penutup kotak itu dibuka, Chloe menahan napasnya. Di dalamnya terletak sehelai gaun malam (evening gown) khusus yang sangat luar biasa indah.

​Gaun itu berbahan sutra organza berwarna merah marun gelap (deep burgundy), warna yang sangat agung dan elegan. Potongan gaunnya bertipe off-shoulder yang akan mengekspos garis bahu mungil dan tulang selangka Chloe yang seputih porselen. Bagian pinggangnya dibuat menyempit, sementara bagian bawahnya menjuntai indah dengan aksen lipatan yang memberikan kesan anggun bak seorang putri kerajaan sejati. Tidak ada manik-manik yang berlebihan, kemewahannya justru terpancar dari kesederhanaan potongan dan kualitas kainnya yang luar biasa tinggi.

​Selama hampir dua jam, Chloe pasrah di bawah jemari lihai para penata rias. Rambut cokelat panjangnya yang biasanya dibiarkan terurai kini ditata dengan gaya updo modern yang sangat rapi, menyisakan beberapa helai anak rambut yang sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajah cantiknya dengan manis. Riasan wajahnya dibuat natural namun berkelas; matanya yang bulat bak rusa dipertegas dengan sentuhan eyeliner tipis, dan bibir mungilnya dipulas dengan lipstik berwarna merah senada dengan gaunnya, menciptakan kesan berani namun tetap memancarkan kemurnian jiwanya.

​"Nah, sekarang buka matamu, Chloe," bisik Eleanor lembut di dekat telinganya.

​Chloe perlahan membuka matanya dan mematut dirinya di depan cermin besar setinggi tubuh di dalam kamar. Jantungnya berdetak kencang, menatap pantulan sosok di dalam kaca dengan pandangan tidak percaya.

​Apakah itu benar-benar diriku? tanya Chloe dalam hati.

​Gadis di dalam cermin tampak begitu luar biasa cantik, anggun, dan memukau. Gaun merah marun itu melekat sempurna di tubuh mungilnya, membuat kulit putih porselennya tampak seolah bersinar. Dia terlihat seperti setangkai mawar merah yang paling langka dan berharga, memancarkan pesona magis yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona dalam sekali lirik.

​Di belakangnya, Eleanor menatap pantulan Chloe dengan kedua mata yang berkaca-kaca karena rasa kagum yang luar biasa. "Oh Tuhan... kau benar-benar mawar kecilku yang paling indah, Chloe. Asher benar-benar pria paling beruntung di dunia, meskipun dia terlalu bodoh untuk menyadarinya saat ini."

​Sementara Chloe masih terpaku menatap dirinya sendiri di depan cermin, mengagumi keahlian para penata rias, Eleanor diam-diam melangkah mundur beberapa langkah. Dengan gerakan yang sangat pelan dan terlatih, dia mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam tas.

​Cekrek.

​Tanpa suara blitz, Eleanor memotret sosok Chloe dari sudut samping yang sempurna—menampilkan siluet wajah cantiknya dari samping, leher jenjangnya yang indah, dan bagaimana gaun merah marun itu membalut tubuh mungilnya dengan sangat spektakuler.

​Eleanor tersenyum puas melihat hasil foto tersebut. Tanpa membuang waktu, dia langsung membuka aplikasi pesan singkat dan mengirimkan foto itu ke nomor pribadi Asher, lengkap dengan sebuah pesan provokatif di bawahnya:

​"Lihat apa yang kau tinggalkan di rumah selama dua hari ini, Bodoh. Istrimu malam ini akan menjadi pusat perhatian seluruh dunia di acaraku. Kursi atas namamu tidak akan kosong lagi, karena Mawar Kecil ini yang akan mewakilimu. Jangan menyesal jika ada pria lain yang mencoba mendekatinya malam ini."

​Setelah menekan tombol kirim, Eleanor melirik status pesan tersebut. Seperti yang sudah dia duga, pesan itu tidak langsung dibaca, bahkan centang satu, menandakan bahwa ponsel Asher masih dalam mode terisolasi atau di luar jangkauan seperti biasa.

​Eleanor memutar kedua matanya dengan malas, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tanpa peduli. "Dasar keras kepala. Rasakan sendiri akibatnya nanti jika kau terlambat menyadarinya," gumam Eleanor pelan dengan seringai jenaka.

​Dia kemudian melangkah kembali mendekati Chloe, mengulurkan sepasang sarung tangan satin putih dan sebuah tas tangan kecil berlapis berlian tiruan untuk melengkapi penampilan Chloe.

​"Sudah siap, Nyonya Sterling?" tanya Eleanor dengan senyuman bangga yang merekah lebar.

​Chloe menoleh, menatap Eleanor dengan sisa-sisa rasa gugup yang masih membayang di mata rusanya. Dia meremas tas tangan kecilnya dengan kuat. "K-Kak Eleanor... aku benar-benar gugup. Bagaimana jika aku melakukan kesalahan nanti?"

​Eleanor tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru maju dan langsung menggandeng lengan mungil Chloe dengan sangat erat, menyalurkan seluruh rasa percaya diri dan kekuatan yang dimilikinya ke dalam tubuh Chloe.

​"Kau tidak akan melakukan kesalahan apa pun, Sayang. Cukup berjalan di sampingku, tegakkan dagumu, dan biarkan kecantikanmu yang membungkam mulut mereka semua," ujar Eleanor mantap.

​Dengan langkah yang penuh dengan kebanggaan seorang kakak, Eleanor menuntun Chloe keluar dari kamar utama. Mereka menuruni tangga marmer melingkar bersama-sama, di mana Bi Mirna dan beberapa pelayan senior sudah berdiri berjejer di aula dasar, menatap kepindahan Chloe dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa takjub dan haru.

​Di luar mansion, sebuah mobil limosin mewah berwarna hitam legam berlogo Sterling sudah menunggu dengan pintu belakang yang telah dibukakan oleh seorang sopir berseragam resmi. Eleanor menggandeng Chloe masuk ke dalam kabin mobil yang luas dan nyaman tersebut. Begitu pintu ditutup dengan bunyi kedap yang mewah, mobil itu perlahan mulai bergerak, membelah jalanan malam menuju pusat kota, membawa Chloe keluar dari sangkar emasnya untuk pertama kali menuju sebuah panggung dunia yang penuh dengan kilau kemewahan sekaligus bahaya yang tak kasat mata.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!