Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
"Aku William"
"....."
"Kita memang nggak kenal, Tapi aku tahu kamu"
Aruna bersidekap dada dengan kedua tangannya, ia mengubah duduknya menjadi sedikit menyerong untuk menatap laki-laki disampingnya ini. Mari kita lihat apa tujuan laki-laki yang sok kenal dan sok dekat ini mengajaknya berbicara.
"Waow menarik sekali yah" Aruna tersenyum miring, sedikit kesan meremehkan ia berikan.
"Informasi yang aku berikan padamu lebih menarik sebentar lagi "
Sialan! Aruna jadi penasaran. Entah kenapa sikap bodoh amatnya hilang begitu saja, kini Malah sikap kepo dan penasarannya yang terus melonjak naik, "Tell me Mr. William. Apa yang akan anda beritahukan kepada saya. Saya harap bukan informasi murahan"
Laki-laki bernama William itu terkekeh sedikit keras, Namun dengan cepat dihentikan. Ia meminum cairan merah pada gelas yang dibawanya sebelum bibirnya kembali mengeluarkan suaranya, "Aku hanya penasaran seperti apa gadis yang dikencani Rinos. And i see you very interested seperti yang dia bilang"
Kini Aruna semakin menajamkan pendengarannya, Apalagi ketika nama sang kekasih ikut andil didalamnya. Apakah ia akan mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cari-cari dari lelaki didepannya ini? Ataukah malah sebaliknya? Laki-laki ini yang mencari-cari seperti apa dirinya. Sial! itu tidak penting. Yang penting ia harus pura-pura tenang sambil mendengarkan apa yang akan dibicarakan laki-laki ini. Semoga saja Rinos masih lama.
"Cukup menarik kamu bisa menjalin hubungan dengan Rinos hampir dua tahun. Pencapaian yang luar biasa. Dan kamu juga sangat berani ambil keputusan itu"
"Kenapa harus tidak berani?"
"Kamu harusnya sadar, banyak perbedaan yang masih belum kamu tahu? Gimana kalau tiba-tiba Marinos pergi meninggalkan kamu begitu saja?"
"Pertanyaan tolol! Aku bisa menyusulnya"
"Sepertinya kamu amat sangat mencintainya ya"
"....."
"Tapi masih ada perbedaan yang--"
"Perbedaan apalagi? Soal umur?"
"No! Ini bukan hanya tentang umur. I know kamu pasti belum tahu bagaimana Rinos dan masa lalunya. Karena dia bukan tipe orang yang suka mengumbar masa lalunya"
Double shit, Aruna benar-benar tertarik dan mungkin ia akan menemukan sedikit jawaban dari apa yang ia cari selama ini, "Sebenarnya tujuanmu bicara ini semua padaku apa?"
"Ayolah Aruna, kamu bukan orang tolol. Dan tujuan ku? Tentu saja untuk kebaikan kita semua, Kita satu team dan sudah tugas kita semua untuk saling bantu, support dan menjaga. Karena sedikit kesalahan yang terjadi pada masing-masing pemain akan berpengaruh pada kinerja kita. Kamu sudah jelas memahaminya kan?"
Okey, Aruna sedikit paham dan tahu itu. Tapi disini Runa sama sekali tidak menganggu Rinos. Ia juga tahu waktu dan keadaan jika Rinos sedang sibuk-sibuknya.
"Tujuan ku sebenarnya bukan hanya itu. Kurasa kamu juga perlu tahu siapa, apa dan bagaimana Rinos. Jika tidak aku beritahu maka sampai kapanpun Rinos tidak akan pernah memberitahu mu. Dan sudah jelas akan ada pertikaian baru, Bukan hanya antara kamu dan Rinos. Tapi juga kakakmu, Dan itu akan berakibat pada kinerja kita semua"
Waow profesionalitas sekali!
Batin Aruna menjerit, sedikit kesal.
"....."
"Sebenarnya aku nggak terlalu berhak berkata seperti ini. Tapi aku rasa kamu perlu tahu. Aku, Rinos dan pemain pendatang lainnya itu berbeda dengan kamu, Kamu belum tahu kebiasaan --"
"Stop bertele-tele! Aku bukan perempuan naif dan tolol. Aku paham betul kultur dan kebiasaan kalian. So, menurutku itu bukan alasan ataupun penghalang hubungan ku dengan Rinos"
"Ya ya kamu benar. Aku lupa kamu orang yang pintar "
"....."
"Kalau begitu, aku hanya akan memberi tahu mu kalau Rinos itu masih terlibat dengan masa lalunya. Kamu mungkin wanita yang paling dicintai dirinya saat ini percayalah. Tapi masa lalunya masih bersarang hebat di otaknya. Ia juga tidak bisa meninggalkan masa lalunya begitu saja meski kamu adalah satu-satunya wanita dihidupnya"
"....."
"Selebihnya kamu bisa tanya itu dengan Rinos sendiri. Kalau kamu tulus mencintai nya kamu pasti bisa menerima keadaannya"
.
.
.
.
.
Masih di Villa yang sama, Aruna kini terlihat berdiri menjulang dibelakang Villa. Ada kolam renang disana dan beberapa tanaman hias yang indah. Namun itu tidak membuat Aruna tertarik sama sekali sebagai seseorang yang suka tanaman. Kali ini, kesendirian dan suasana yang sunyi lebih menarik serta mampu membuat pikiran Aruna sedikit tenang.
Tadinya ia tidak sendirian. Ia bersama Rinos sang kekasih, Namun lagi-lagi laki-laki itu meninggalkan dirinya karena ia pamit untuk mengangkat telfon yang entah dari siapa dan harus repot menjauh darinya.
"Sorry lama" Laki-laki itu kembali dan Aruna berbalik menatapnya.
"I'ts okey. Disini nyaman"
"Kamu mau pulang sekarang? Aku antar"
"Enggak. Nanti aja"
"Yakin?"
"Aku masih pengen disini sama kamu"
"Suddenly? Bukannya kamu yang nggak mau disini lama-lama"
"Nggak papa. Itu kan tadi, Sekarang aku jadi pengen disini aja sama kamu"
"Are you sure? Ibu sama ayah nggak--"
"Kali ini nggak papa. Rehan bisa aku jadikan alasan nanti "
Rinos terdiam. Ia menatap sang kekasih dengan sedikit aneh. Ia merasa ada yang ditutupi oleh Aruna, "Ada yang ingin kamu bicarakan ya?"
"Nggak ada. Just i Miss you"
Pelukan yang ia terima membenarkan firasatnya kalau Aruna tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Namun ia tidak ingin bertanya lebih dalam karena ia tahu secepatnya Aruna akan bicara sendiri terhadapnya. Jadi ia hanya membalas pelukan itu dengan sama eratnya.
"Miss you too"
"Marinos?"
"Hmm?
"Sayang?"
"Kenapa Run?"
"Ada yang pengen kamu katakan padaku? Atau kamu mau cerita sesuatu ke aku?"
"Cerita apa?"
"Anything. About you??"
"About me? Tentang apa? Kamu udah tahu aku Run"
"Oh ya?? Aku rasa masih belum"
"Maksud kamu?"
"Emmm seperti mantan pacar kamu misalnya"
Sedetik kemudian Aruna benar-benar merasakan kosong dan hampa. Rinos melepaskan pelukannya begitu saja. Laki-laki itu memberi jarak dua langkah padanya. Apa ini? Apa perkataan William tadi benar?
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa kamu tiba-tiba membahas itu? Aku udah pernah bilang ke kamu kan kalau aku ngga terlalu suka bicarakan masa lalu. Maksudnya yang lalu biar aja berlalu"
"Oh ya?"
"I swear Run. Apa yang mau kamu tahu sebenarnya?"
"Semuanya Rinos. Everything about you"
"Aku yang bagaimana? Bukannya kita udah pernah saling bicara tentang aku dan kamu dulu?"
"Tapi aku merasa masih ada yang kamu sembunyikan dari aku"
"Nggak ada yang aku sembunyikan"
"Kamu tahu kan aku benci dibohongi?"
"Aku nggak bohong Run"
Aruna mendekus kasar, Kemudian ia maju mendekati Rinos lalu menunjuk laki-laki itu dengan jarinya tepat didadanya, "Dasar brengsek!"
Aruna yang sudah menggerakkan tubuhnya untuk pergi, harus tertahan kembali ketika Rinos menarik lengannya pelan. Hingga ia kembali berdiri dihadapannya.
"Run, tarik lagi kalimat kamu barusan. Aku tidak mengerti apa maksudnya"
"Udahlah nggak usah di perpanjang. Lebih baik kamu antar aku pulang sekarang!"
"Nggak! Kamu harus jelasin dulu apa maksud kamu barusan"
"Yang mana hah?! Yang bilang kamu brengsek?! Memang kamu brengsek kan?!"
"Run jangan main tebak-tebakan seperti ini, Ayolah i really don't understand "
"Kalau gitu mana ponsel mu"
"Kamu mau cek aku selingkuh atau nggak?"
"Ponselmu Rinos!"
"Run ayolah kita udah sama-sama sepakat untuk saling menjaga -- ARUNA!!"
Aruna yang berhasil mendapatkan ponsel milik Rinos setelah merebutnya paksa dari kantong bajunya semakin melebarkan kekehan sumbangnya. Ia menatap Rinos sambil menggoyangkan benda pipih itu kehadapan wajah Rinos, "See? Kalau emang nggak ada apa-apa kenapa harus se-khawatir itu sayang?"
"Kamu --"
Marinos benar-benar pasrah ketika dilihatnya Aruna tidak mengindahkan kalimatnya. Gadis itu mulai membuka ponselnya yang memang kebetulan tidak ia privasi. Ia tidak tahu apa yang tengah Aruna lakukan dengan ponselnya sekarang. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu berhenti men-scroll ponselnya dan dengan kasar melemparkan ponselnya begitu saja padanya.
Dan beruntung ia reflek cepat hingga ponselnya tetap bisa ia tangkap.
"Urus mantan pacarmu itu! Dan jangan coba-coba menghubungi aku!"
"Aruna please... Kamu salah paham. I can explain to you"
"Jelasin apa?! Dua tahun kamu bohongi aku! Kamu keterlaluan! Kalau kamu memang belum selesai dengan masa lalu jangan pernah tarik aku masuk dalam hidupmu!"
"Bukan begitu Run. Listen to me"
"Aku kurang apalagi menjadi pendengar kamu selama ini hah?! Kamu yang nggak pernah terbuka sama aku, Kamu yang selalu menciptakan jarak dan batasan sama aku dan kamu membuat seolah-olah aku hanya teman ngobrol mu bukan tempat pulang mu!"
"I'm sorry Run. Really sorry "
"Aku nggak butuh kata maaf kamu! Kalau kamu masih -- oh ya ampun aku bahkan nggak bisa berkata-kata lagi" Runa merosot begitu saja, Ia sudah tidak mampu lagi untuk berdiri. Aruna terduduk diatas rumput villa yang basah dengan kedua telapak tangannya yang menutupi seluruh wajahnya.
Aruna .. dia terisak pelan. Dan itu membuat Marinos terkejut bukan main. Bagaimana tidak, selama mengenal seorang Aruna Candra ia tidak pernah sekalipun melihat Aruna menangis barang sedikitpun. Sesulit apapun gadis itu menjalani harinya, Aruna akan datang padanya dengan senyum lebar sebelum gadis itu bercerita tentang keluh kesahnya.
Marinos ... Cinta Aruna setulus ini?
"Hey!! Aruna ... Hey stop jangan menangis. Aruna kita bicara di dalam okay? Please jangan nangis Run" sepertinya mulai saat ini tangisan Aruna adalah kelemahan Marinos.
"Kita nggak bisa begini terus Rinos. Sebaiknya kita --"
"NGGAK!! Aku tahu apa yang akan kamu katakan! Jangan sekali-kali kamu katakan kalimat sialan itu ya Run. Sampai kapanpun aku nggak mau dengar itu dari mulut kamu!"
Aruna mulai melepaskan kedua tangannya lalu menatap Sang kekasih lekat-lekat. Dan benar saja pertama kali yang Rinos dapati adalah wajah sembab Aruna. Hatinya seperti tercubit ribuan kali.
"Dasar brengsek! I hate you!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...